Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback part 3
Setelah melalui malam yang panjang penuh rintihan dan kewaspadaan, akhirnya pagi menyingsing. Bagai tersapu oleh cahaya menyilaukan, semua rasa sakit, perih, dan penderitaan yang dialami Dania terasa tak begitu penting dibandingkan tugasnya untuk menghangatkan Bumi.
Di ranjangnya, Dania masih menatap Ibunya lekat, semua guratan halus pada wajahnya menggambarkan betapa keras kehidupannya. Dengan suami yang suka pukul itu, tidak ada hari tanpa memar di badannya. Lalu, di tengah kesakitannya, ia juga harus bekerja sebagai buruh Tani untuk menghidupi Dania, sedangkan orang yang tak layak dipanggil suami itu malah menghabiskan harinya berjudi dan minum-minum.
Selain Ibunya, Dania juga tak jauh berbeda nasibnya. Setiap hari ia harus merasakan kerasnya pukulan dan cambukan saat laki-laki jahanam itu kalah judi. Perut kelaparan juga menjadi langganan, karena setiap Ibunya pulang membawa uang, Ayahnya selalu merampasnya.
Lalu mengapa Ibu Dania memilih bertahan?
Apakah karena cinta? Setelah semua yang menimpanya?
Tentu saja tidak.
Semua cinta yang ia miliki telah habis sejak pukulan pertama dilayangkan. Hanya Dania satu-satunya alasan. Ia tak ingin anaknya merasakan kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya. Itu yang awalnya menjadi pertimbangan.
Namun ketika ia melihat suaminya memukul Dania dengan mata kepalanya sendiri, semua pertimbangan itu pun sirna. Menyisakan penyesalan akan pertahanan yang seharusnya tidak ia lakukan dari awal.
Berulang kali, Ibu Dania meminta perceraian namun suaminya selalu menolak. Bahkan setelah ia berusaha meminjam uang kesana-kemari untuk membuka perkara di Pengadilan, laki-laki jahat itu malah semakin gencar menyiksa dan merampas uang itu.
"Dania..."
"Iya, Bu?"
"Apa sudah tidak sakit?"
Lalu Dania bangun menegakkan punggungnya sebagai bukti kalau dirinya baik-baik saja.
"Kalu Ibu?"
Dengan tubuh yang masih lemas dan wajah pucat, ibu Dani tersenyum simpul.
"Ibu baik nak..."
Namun kata itu terdengar sangat palsu. Yang jelas terlihat saat ini Ibunya sedang merintih menahan semua kesakitan dengan tubuh yang susah digerakkan.
"Maaf ya Nak, sepertinya kamu belum bisa bersekolah hari ini. Padahal kamu baru saja diterima ke SMP yang kamu idamkan."
Dania menggeleng untuk mengurangi kekhawatiran Ibunya.
"Untung saja anakku ini sangat pandai. Ibu yakin, nantinya kamu punya kehidupan yang jauh lebih baik dariku." Titik-titik air mata mengalir deras meski masih pagi. Namun Sang mentari tak menghiraukannya, sinarnya masih saja menyilaukan.
"Dan Ibu juga akan ikut merasakan hidup itu. Dania janji..." Ucap gadis manis bermata hijau cerah, membuat Ibunya seketika tersenyum melihat kilatan indah itu.
"Aku mencintaimu, Dania." Ibu membelai lembut pipi yang masih merah bekas tamparan.
Di tengah kedamaian penuh cinta itu, seseorang datang menginterupsi.
Dia Liam.
Dengan kedua tangan yang penuh membawa rantang makanan, ia tersenyum ketika matanya bertemu dengan Dania.
"Ayah memintaku membawakan sarapan," ucapnya sambil meletakkan rantangnya di atas meja diantara dua ranjang Puskesmas.
"Terimakasih Liam, ucapkan terimakasihku pada Pak Kepala Desa ya."
Liam mengangguk dengan lirikan mata yang masih terkunci pada temannya.
Ia langsung duduk di kursi plastik yang dikhususkan untuk para penjenguk. Dengan wajah yang terang-terangan tersipu, Liam ragu untuk menanyakan keadaan Dania.
"Aku baik-baik saja," belum juga Liam membuka mulutnya, Dania sudah menyambar dengan jawaban yang entah benar atau tidak.
"Kamu nggak berangkat sekolah? Udah jam segini lho. Jangan bilang kamu mau bolos."
Keahlian menasehati dengan tempo cepat layaknya Rapper sudah terlihat sejak kecil. Liam yang semula ingin menghabiskan waktunya bersama Dania itu, akhirnya menyerah dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Iya deh iya," jawab Liam.
"Ayo, aku antar sebentar ke depan," tawar Dania.
"Tidak usah, kamu masih sakit."
"Ck, nggak usah banyak protes!"
Meski sempat menolak, tapi Liam sangat senang dengan perlakuan Dania kepadanya. Ia jadi tidak perlu mencari-cari alasan untuk sedikit lebih lama bersama temannya.
"Daah... Yang rajin belajarnya!" Dania sedikit melambaikan tangannya ketika Liam mengayuh sepedanya di jalanan Desa menuju Sekolah.
Melihat Liam sudah tak terlihat lagi, Dania beranjak dari tempatnya berdiri dan berbalik.
Namun, hatinya langsung mencelos ketika di belakangnya ada seorang anak kecil mengemut permen lolipop, tersenyum padanya.
"Jax? Sedang apa kamu di sini?"
"Hai kak Dania..." Pipi gembulnya membuat siapapun ingin mencubitnya.
Dania tak langsung menjawab, ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari Ibu Jax atau orang lain yang mungkin menemani Jax.
"Kamu bareng siapa?"
Lalu senyumnya turun, ia menunduk menatap jemari kakinya.
"Kamu tersesat?" Suara Dania terdengar gemetar karena rasa khawatirnya.
"Aku bareng mama, tapi... Mama hilang," ucap Jax dengan segala perbendaharaan kata yang terbatas.
"Loh? Tadi kamu dan mama pergi kemana?"
"Mmm...." Jax melihat keatas dengan masih menjilat lolipopnya.
Setelah sepuluh detik berpikir, Jax hanya mengedikkan bahu.
Dania menghembuskan napasnya kasar.
Ia bisa saja langsung mengantarkan Jax kembali ke Panti, tapi sekarang keadaannya tidak memungkinkan. Ditambah lagi dengan Ibunya yang masih membutuhkannya.
"Haaah..." Dania memijit keningnya. "Baiklah, kita tunggu saja di sini, semoga mama kamu tidak terlalu jauh dari sini."
Jax mengangguk ceria layaknya anak berumur lima tahun. Sepertinya tidak ada kekhawatiran di kepalanya, mungkinkah karena jiwa bebas anak-anak manja yang belum mengetahui maksud dari kata tersesat. Tidak seperti Dania yang sudah harus merasakan perihnya penderitaan gara-gara si biadab.
"Oke, duduklah disini," ucap Dania menepuk bangku di depan Puskesmas.
"Oh iya, aku punya kartu nama mama kamu. Sebentar... Aku minta tolong Bu Perawat untuk menelponnya."
Jax lagi-lagi mengangguk.
"Ingat jangan kemana-mana! Duduk disini, jangan bergerak!" Jax menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum yang sedikit membuat Dania khawatir.
Tanpa melepaskan pandangannya dari Jax, Dania menghampiri perawat yang sedang menjaga meja depan.
Setelah beberapa saat meminta bantuan, akhirnya Dania bisa menghubungi mama Jax untuk menjemput.
Namun karena mata yang teralihkan, Jax tiba-tiba tidak berada di bangkunya.
"Loh!! Jax? Kamu kemana?"
Bergegas Dania berlari ke halaman depan Puskesmas. Napasnya berburu dan pandangan matanya bergerak liar
"Jax dimana kamu?"
"Ada apa kak?"
Ternyata Jax sedang duduk di Lantai pojokan yang terhalang dengan papan pengumuman yang besarnya melebihi badannya.
"Kamu ini! Bikin khawatir aja. Kan kakak udah bilang, kamu harus diam disini."
Tidak ada perlawanan tapi jawaban polos Jax membuat hatinya ringan, tapi masih jengkel.
"Lha ini aku disini diam."
"Ya sudahlah, yang penting kamu nggak hilang."
Jax malah menepuk bahu Dania yang duduk untuk merilekskan tubuhnya.
"Yang sabar ya kak, hehe."
'Ini anak benar-benar menjengkelkan. Gara-gara siapa juga aku kayak gini, dasar!'