Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Tempaan Zirah Bencana
Asap tebal berwarna kehitaman membubung tinggi dari cerobong lima bengkel tempa raksasa di sepanjang Lembah Besi Lingnan. Dentangan palu baja beradu kaku dengan batangan besi meteorit yang membara merah. Bau belerang, minyak jelaga, dan uap air garam menyengat hidung. Seratus tukang tempa terbaik Kota Yunjiang bersama dua ratus buruh tambang lokal bekerja tanpa henti di bawah pengawasan ketat Lu Gang.
Ma Huang melangkah menelusuri lorong utama pabrik tempa pusat. Jubah kulit serigala kelabunya melambai tipis tersapu hawa panas dari tungku pembakaran. Di pinggang kirinya, Pedang Tulang Hitam tersandar rapat, memancarkan pendar dingin yang mengembunkan uap panas di sekitarnya.
Di tengah pelataran tempa, tumpukan batangan besi meteorit kelabu dan lempengan tembaga hitam menggunung tinggi. Besi mentah peninggalan Sekte Cakar Iblis itu kini telah dilebur ulang, dicampur dengan serbuk batu racun rawa yang dibawa Lu Gang dari Rawa Tengkorak.
Lu Gang menghampiri Ma Huang seraya mengangkat sebuah pelindung dada zirah baja berukirkan kepala serigala. Permukaan zirah itu memancarkan warna kehitaman bergaris keemasan, licin dan dingin meski baru saja diangkat dari bak perendam minyak racun.
"Tuan Muda," kata Lu Gang dengan suara parau yang tertutup masker kulit. Tangannya menyerahkan pelindung dada itu ke hadapan Ma Huang. "Campuran besi meteorit dan serbuk batu racun rawa membuat baja ini dua kali lebih ringan dari zirah biasa, namun sanggup menahan tebasan pedang perunggu dan tusukan panah mesin."
Ma Huang menyentuhkan jemari tangan kirinya ke permukaan zirah kehitaman tersebut. Ia menyalurkan tipis gelombang tenaga dalam Inti Bencana ke dalam serat baja.
Srettt!
Lapisan baja bergetar kecil, menyerap energi racun dingin Ma Huang tanpa mengalami keretakan sedikit pun. Pendar keemasan redup berkilat kencang di balik ukiran kepala serigala sebelum perlahan menghilang ke dalam serat logam.
Ma Huang menganggukkan kepalanya pelan. "Satu lapis racun dingin di serat baja ini cukup untuk melumpuhkan saraf otot musuh saat senjata mereka menghantam zirah prajurit kita."
"Benar, Tuan Muda," sahut Lu Gang dengan mata berbinar bangga. "Lima ribu zirah baja racun dan lima belas ribu mata panah meteorit telah selesai ditempa. Seluruh Pasukan Serigala Hitam kini terlapisi Zirah Bencana."
Derap langkah kaki berzirah tebal bergema keras dari arah tangga batu barat. Tie Shan melangkah masuk dengan dada tegap. Kampak kembar baja hitam di punggungnya telah dilapisi ulang dengan gerigi besi meteorit yang tajam. Di belakangnya, Feng Ni berjalan anggun membawa gulungan peta wilayah barat Provinsi Lingnan.
Tie Shan menghentakkan lutut kirinya ke atas lantai batu yang hangat. "Lapor Tuan Muda! Lima kota tambang di seluruh Lembah Lingnan telah dikuasai total! Seluruh sisa murid Sekte Cakar Iblis dan pengawal lokal telah menyerahkan diri atau tuntas dibantai di tempat!"
Ma Huang memutar badannya menatap Tie Shan. "Bagaimana dengan kondisi lima ribu prajurit kita?"
"Prajurit berada dalam kondisi fisik puncak!" teriak Tie Shan kencang. Tangan kirinya memukul pelindung dada Zirah Bencana barunya hingga menimbulkan dentangan kencang yang membahana di aula tempa. "Tiga ribu kavaleri zirah berat dan dua ribu prajurit panah siap meratakan benteng mana pun di provinsi ini!"
Feng Ni membuka gulungan peta kulit domba di atas meja tempa yang terbuat dari kayu jati tua. Jemari tangannya merujuk pada tiga titik Kota Benteng yang mengelilingi jalur utama menuju Ibu Kota Provinsi Lingnan.
"Tuan Muda," ujar Feng Ni dengan nada suara dingin mendatar. "Berita kejatuhan Sekte Cakar Iblis dan lima kota tambang telah mencapai telinga Pangeran Zhao Xu di Ibu Kota Provinsi. Tiga garnisun benteng luar Istana Naga Merah telah bersiap menutup seluruh akses logistik kita."
Ma Huang melangkah mendekati meja batu. Matanya menyipit menatap garis merah yang menghubungkan Kota Tambang Lingnan dengan benteng utama Istana Naga Merah di Pegunungan Merah.
"Pangeran Zhao Xu menempatkan delapan ribu prajurit zirah emas dan sepuluh perwira elit di tiga benteng luar itu," lanjut Feng Ni. "Mereka memiliki lima ratus pasukan panah minyak belerang dan ratusan meriam besi tempa raksasa."
Tie Shan terkekeh dingin. Suara tawa parau membakar dadanya yang lebar. "Biarkan mereka menumpuk puluhan ribu meriam! Zirah Bencana dan mata panah meteorit kita sanggup menembus tameng emas mereka dalam seratus hembusan napas!"
"Kita tidak akan menyerang tiga benteng luar itu sekaligus," kata Ma Huang datar.
Tie Shan dan Feng Ni saling bertukar pandang, menyimak dengan cermat setiap patah kata pimpinan muda mereka.
Ma Huang menyentuh titik perbukitan batu di sebelah timur benteng pertama. "Feng Ni, gerakkan seribu pemanah Zirah Bencana ke Puncak Tengkorak. Gunakan panah meteorit berlapis racun Ular Hijau untuk mengeliminasi seluruh pengintai menara musuh di malam hari."
Feng Ni menundukkan kepalanya kaku. "Hamba mengerti. Tidak ada satu pun pengintai musuh yang akan sanggup membunyikan genta bahaya."
Ma Huang memutar pandangannya ke arah Tie Shan. "Tie Shan memimpin dua ribu kavaleri zirah berat di jalur lembah bawah. Lakukan manuver penyergapan cepat saat menara pengawas musuh telah lumpuh total."
Tie Shan mengepal jemarinya kencang hingga sendi-sendi jari zirahnya berderak nyaring. "Hamba akan memotong leher komandan benteng pertama sebelum matahari terbit!"
Master Han melangkah masuk dari pintu samping aula tempa, membawa kotak kayu berlapis perunggu. Tangan tuanya menyerahkan kotak tersebut ke hadapan Ma Huang.
"Tuan Muda," panggil Master Han dengan raut wajah penuh keseriusan. "Prajurit pengintai kita menemukan ramuan racun pusaka dan buku catatan teknik bertarung milik Master Yan Leng di dalam ruang rahasia bawah tanah."
Ma Huang membuka tutup kotak perunggu tersebut. Di dalamnya, terbaring dua botol kristal berisi cairan hijau pekat dan kain sutra hitam berisikan ukiran Jurus Cakar Iblis Pemutus Urat.
Ma Huang memegang salah satu botol kristal tersebut. Hawa racun dingin dari cairan di dalamnya terasa menyengat kuat, memicu reaksi spontan dari Dantian Hitam-Keemasan di dalam tubuhnya.
Jalur Darah Pemakan Bencana milik Ma Huang bergetar kencang. Sirkulasi tenaga dalam di meridian utamanya memompa cepat, menyerap hawa racun yang memancar dari luar botol kristal tanpa perlu membuka tutupnya.
Pendar keemasan di sekeliling pupil mata merah Ma Huang memancar kian tajam dan bening. Konsentrasi racun di Dantiannya meningkat pesat, menyempurnakan fondasi kultivasi tingkat menengahnya.
Ma Huang menutup kembali kotak perunggu tersebut dan menyerahkannya kepada Master Han. "Simpan ramuan ini untuk campuran minyak panah Feng Ni."
Master Han menangkupkan kedua tangannya tinggi-tinggi. "Perintah Tuan Muda dilaksanakan!"
Ma Huang berjalan melangkah keluar dari aula tempa menuju puncak bukit Lembah Besi. Angin malam yang dingin berhembus kencang, memain-mainkan jubah serigala kelabunya. Dari atas bukit, ia menatap barisan lima ribu prajurit Pasukan Serigala Hitam yang berbaris rapi di pelataran bawah.
Seluruh prajurit berdiri kaku mengenakan Zirah Bencana kehitaman bergaris emas. Mata tombak dan panah baja meteorit mereka memancarkan kilatan dingin di bawah siraman cahaya rembulan malam.
Tie Shan, Feng Ni, Lu Gang, dan Master Han berdiri berjejer lima langkah di belakang Ma Huang.
"Malam ini konsolidasi kekuatan kita telah sempurna," kata Ma Huang dengan suara berat yang membekukan udara di sekitarnya. "Besok subuh, Pasukan Serigala Hitam bergerak meratakan benteng luar Istana Naga Merah."
"Ratakan Istana Naga Merah!" raung Tie Shan kencang melintasi bukit.
Pekikan perang serentak membahana dari mulut lima ribu prajurit Zirah Bencana di pelataran bawah. Dentangan senjata besi meteorit yang dihantamkan ke dada zirah menggetarkan tanah Lembah Besi Lingnan.
Ma Huang menyarungkan tangan kirinya ke dalam lipatan jubah kelabu. Tangannya memegang rapat Segel Besi Hitam yang tersimpan di dalam dada. Tatapannya terkunci dingin ke arah Ibu Kota Provinsi Lingnan, menanti saat pertempuran terbesar dalam sejarah pembalasan dendam Keluarga Ma meledak.