"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 30 satu bulan kemudian
Salju masih menyelimuti Slovenia. Pepohonan di luar rumah berdiri putih, sementara cahaya matahari musim dingin menembus jendela besar ruang keluarga, menghadirkan kehangatan yang lembut.
Sudah satu bulan berlalu sejak Kaia diam-diam pulang ke Indonesia untuk menghadiri pemakaman Hardja.
Namun sejak kepulangannya ke Slovenia... Tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak. Beberapa malam terakhir ia kembali terbangun karena mimpi yang sama.
Suara Elio dan tatapan dingin pria itu. Kalimat yang selama empat tahun tak pernah berhasil ia lupakan.
"Minum pil itu sekarang, cepat! Aku tidak ingin punya anak darimu. Kalau itu terjadi... aku sendiri yang akan melenyapkannya."
Kaia spontan memeluk kedua anaknya lebih erat. Seolah memastikan Ocean dan Sea benar-benar aman berada di dalam dekapannya. Tidak akan ada siapa pun yang mengambil mereka.
"Tapi... Mama..." Suara kecil Sea terdengar lirih dari balik pelukan. "Mama... Sea nggak bisa napas."
Kaia tersadar. Matanya langsung membesar. "Oh, astaga..." Ia buru-buru melonggarkan pelukannya. "Maaf, Sayang... Mama nggak sengaja." Tangannya mengusap pipi Sea berulang kali, seolah ingin meminta maaf.
Ocean yang duduk di karpet hanya memperhatikan ibunya. "Mama sedih ya... Karena nanti kita pisah lagi?"
Pertanyaan polos itu membuat Kaia tersenyum tipis.Meski matanya kembali berkaca-kaca. Lusa ia memang harus kembali ke Indonesia, keputusan itu memenuhi wasiat terakhir Hardja.
Ia akan ke Indonesia seorang diri, memastikan semuanya benar-benar siap sebelum menjemput Ocean dan Sea.
Di Bali, Hardja telah meninggalkan sebuah resort dan villa yang akan dikelola Kaia.
Lokasinya berada di kawasan yang cukup dikenal wisatawan, sehingga tetap menghasilkan pemasukan.
Namun... Rumah yang akan ditinggali Kaia bersama kedua anaknya berada di tempat yang berbeda.
Jauh dari resort dan dari keramaian. Sebuah rumah bergaya tropis yang berdiri di tengah perbukitan Sidemen, dikelilingi sawah bertingkat dan pepohonan rindang.
Jalan menuju ke sana hanya diketahui segelintir orang kepercayaan keluarga Hadinata. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Melainkan tempat perlindungan.
Hardja telah merancang semuanya sejak awal. Beberapa bodyguard akan berjaga secara bergantian tanpa menarik perhatian. Ia hanya ingin memastikan... Tak seorang pun dapat menemukan mereka.
Mereka tidak akan selalu berada di sisi Ocean dan Sea, tetapi cukup dekat untuk memastikan kedua anak itu tetap aman, bebas bermain di halaman luas, berlari di tengah hamparan rumput, atau menjelajahi kebun kecil di belakang rumah tanpa merasa sedang diawasi.
Hardja tidak ingin kedua cicitnya tumbuh di balik pagar ketakutan.
Kaia mengusap rambut Ocean lembut. "Selama Mama pergi... Ocean harus jadi kakak yang baik buat Sea ya."
Ocean langsung mengangguk mantap. "Aku bakal jagain Sea."
Sea ikut mengangkat tangan kecilnya. "Sea juga nggak nakal."
Ucapan itu membuat Kaia tertawa pelan. "Janji."
"Janjiii..." Kedua bocah itu saling mengaitkan jari kelingking mereka sendiri, membuat Kaia semakin gemas.
"Nanti kalau Mama sudah selesai menyiapkan rumah... Kalian Mama jemput. Kita tinggal di Bali."
Mata Ocean langsung berbinar. "Kata Opa... Di Bali pantainya banyak ya, Ma?"
Kaia mengangguk. "Banyak sekali. Tapi rumah kita bukan di pinggir pantai. Rumah kita ada di desa."
Sea langsung memonyongkan bibir. "Sea mau belenang..."
Kaia terkekeh. "Boleh. Kita bisa ke pantai kapan saja."
"Yeaaay!" Kedua anak itu bersorak bersamaan. Ocean bahkan melompat kecil. Sementara Sea ikut bertepuk tangan sambil tertawa riang.
Tawa itu... Membuat senyum Kaia perlahan memudar. Entah kenapa setiap kali Sea tertawa, ia selalu mendengar bayangan tawa Elio.
Begitu pula sorot mata Ocean. Tatapan itu... Sangat mirip dengan ayah mereka. Dadanya kembali sesak.
"Kenapa... Anak-anak ini begitu mirip dengannya... Padahal... bahkan sejak mereka belum hadir di perutku...Ia sudah menolak kehadiran mereka."
Lamunannya buyar saat nada dering ponsel terdengar. Nama Papa muncul di layar.
"Mama! Itu Opa!" Sea langsung menunjuk layar ponsel sambil melompat-lompat.
Kaia tersenyum geli. "Bentar ya... Mama angkat telepon Opa dulu."
Ia berjalan mendekati jendela besar. Di luar, butiran salju masih turun perlahan. "Ya, halo, Pa."
"Kai." Suara Fadlan terdengar tenang dari seberang. "Dokumen Ocean dan Sea sudah selesai Papa urus. Semuanya memakai identitas baru. Tidak ada data yang menghubungkan mereka dengan keluarga Meganthara juga kita."
Kelopak mata Kaia perlahan menutup. Beban di dadanya sedikit berkurang. "Makasih, Pa..."
Fadlan terdiam sesaat. Lalu kembali berkata, "Tempat tinggal kalian di Sidemen sudah siap. Untuk sementara... Papa rasa akan lebih aman kalau identitas kalian dipisahkan."
Kaia mengernyit pelan. "Maksud Papa...?"
"Papa juga sudah menyelesaikan pengamanan rumah di Sidemen. Resort dan rumah kalian dipisahkan. Resort tetap kamu kelola seperti biasa. Tapi Ocean dan Sea tidak akan tinggal di sana. Rumah kalian berada beberapa kilometer dari resort. Jalurnya tertutup dan hanya diketahui orang-orang kepercayaan Papa."
Fadlan berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Papa juga sudah menempatkan tim keamanan. Mereka berjaga bergantian selama dua puluh empat jam. Tapi mereka tidak akan membuat Ocean dan Sea merasa dikurung. Mereka tetap bisa bermain, bersepeda, berkebun, atau berlari sesuka hati. Mereka hanya tidak akan pernah sadar... kalau selalu ada orang yang memastikan mereka tetap aman."
Kaia memejamkan mata. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Kali ini, ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah yang diam-diam mempersiapkan segalanya.
"Terima kasih, Pa..."
Suaranya lirih.Terdengar helaan napas panjang dari seberang.
"Kaia..." Suara Fadlan terdengar lebih dalam dari biasanya.
Kaia langsung terdiam.Setiap kali ayahnya berbicara seperti ini, berarti ada sesuatu yang penting.
"Lusa kamu pulang, bawa Ocean, Sea, juga Mbak Rini sekalian saja. Tapi kalian berangkat dengan jam dan pesawat yang berbeda."
Dahi Kaia semakin berkerut. "Kenapa, Pa?"
Hening sesaat. Lalu suara Fadlan kembali terdengar, tenang namun tegas. "Karena Elio semakin gencar mencari mu."
Deg.
Jantung Kaia seperti berhenti berdetak sesaat. Tanpa sadar pandangannya beralih kepada Ocean dan Sea yang sedang tertawa riang di atas karpet ruang keluarga.
Mereka sibuk menyusun balok warna-warni, sesekali saling berebut lalu kembali tertawa seolah tak memiliki beban sedikit pun.
Kaia menggenggam ponselnya semakin erat. Rasa dingin perlahan menjalar hingga ke ujung jarinya.
Empat tahun berlalu...
Namun ketakutan itu ternyata masih sama. Bayangan Elio, kata-kata yang pernah diucapkannya, semuanya kembali memenuhi kepalanya.
Napas Kaia mulai memburu. "Papa..." Suaranya lirih. "Apa... mereka sudah tahu tentang Ocean dan Sea?"
"Belum." Jawaban Fadlan terdengar mantap. "Dan Papa pastikan mereka tidak akan tahu."
Kalimat itu membuat Kaia perlahan memejamkan mata.
"Kamu tidak usah khawatir.Papa sudah menempatkan orang-orang kepercayaan untuk mendampingi mu sejak berangkat dari Slovenia sampai kalian tiba di Bali. Setelah itu, tim keamanan lain akan berjaga di rumah Sidemen. Mereka bekerja bergantian dua puluh empat jam."
Air mata Kaia perlahan menggenang. Selama bertahun-tahun... Ia selalu hidup dengan perasaan harus melindungi dirinya sendiri.
Kini... Ada seseorang yang berdiri di depannya. Menjadi pelindung bagi anak-anaknya. "Apa yang harus Kaia lakukan, Pa?" Suaranya bergetar pelan.
"Lakukan seperti biasa.Kerjakan pekerjaanmu. Rawat Ocean dan Sea. Biar Papa yang mengurus sisanya."Fadlan berhenti sejenak. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. Selama Papa masih hidup... Tidak akan ada seorang pun yang menyentuh cucu-cucu Papa."
Air mata Kaia akhirnya jatuh. Kalimat itu benar-benar membuatnya merasa tidak sendirian. "Terima kasih, Pa... Kaia titip Ocean dan Sea selama perjalanan nanti."
Sambungan telepon terputus. Kaia masih memandangi layar ponselnya beberapa detik.
Lalu ia menoleh ke arah dua anaknya yang sedang tertawa tanpa tahu betapa banyak orang yang diam-diam sedang berjuang menjaga masa depan mereka.
Senyum tipis terbit di bibir Kaia. Sekalipun masa lalu terus mengejarnya.
Ia berjanji... Tak akan pernah membiarkan siapa pun merebut kebahagiaan kecil milik Ocean dan Sea.
********
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih 🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara