Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN UNTUK HANS
Setelah lebih dari satu jam menempuh perjalanan, Puri dan Alex akhirnya tiba di apartemen milik Vanka. Penthouse Adora. Mobil mereka parkirkan tepat di lobi.
Tanpa membuang waktu, keduanya bergegas menuju lift. Tujuan mereka lantai delapan, nomor kamar 105.
Pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar menyusuri lorong apartemen yang temaram. Mata mereka awas mencari kamar bernomor 105, menengok ke kanan dan kiri. Di ujung lorong, terlihat dua penjaga berpostur tegap berdiri di depan sebuah pintu. Keberadaan penjaga itu sangat meyakinkan bahwa kamar tersebut milik Vanka.
Puri melangkah cepat dengan tas ransel menggantung di bahunya, diikuti Alex di belakangnya. Mereka menghampiri dua pengawal bersetelan jas hitam di depan pintu.
"Siapa kalian?" tanya salah satu pengawal dengan nada tegas.
"Kami Alex dan Puri, teman Naya. Kami kemari atas perintah Vanka," jawab Alex tidak kalah tegas.
Belum sempat pengawal itu menjawab, terdengar bunyi pintu dibuka. _Ceklek._ Vanka muncul di ambang pintu.
"Mari masuk, Puri, Alex."
Puri dan Alex melangkah masuk ke dalam. Di dalam apartemen mewah itu, mereka melihat Naya, Pengacara Frans, serta Tuan Ajimo sudah menunggu.
Aku beranjak dari lembutnya sofa. Langkahku cepat menghambur memeluk dua sahabat yang sangat kurindukan, Puri dan Alex.
"Syukurlah kalian baik-baik saja. Setiap memikirkan kalian, hatiku tidak pernah tenang," ucapku lirih.
Puri membalas pelukanku secara perlahan.
"Kami juga merindukanmu, Naya," balasnya.
Kami kemudian duduk di atas sofa yang saling berhadapan. Puri meletakkan tas ranselnya. Ia membukanya dengan cekatan, mengeluarkan laptop, sebuah flashdisk, serta beberapa foto dokumentasi artis yang terlibat dalam perdagangan manusia.
Puri menyalakan laptopnya, lalu memasang benda kecil itu. Satu per satu, ia memperlihatkan isi flashdisk yang diberikan Alea. Ia memutar video, termasuk rekaman saat aku mengetahui bahwa ayahku masih hidup, bahwa ia adalah Tuan Ajimo.
Suasana ruangan mendadak senyap. Hanya suara dari video itu yang terdengar.
"Semua bukti sudah cukup kuat untuk kita publikasikan," ujar Pengacara Frans memecah keheningan.
"Buat berita bahwa aku masih hidup. Dan tanyakan keberadaan Alea, istri Manajer Hans. Aku rasa itu akan membuat orang bertanya-tanya," usul Tuan Ajimo.
"Biar aku yang mempublikasikan. Itu keahlianku," sahut Alex dengan mata menyala.
"Kita harus menjebaknya," ujar Vanka seraya menyandarkan tubuhnya di tepi sofa. Suaranya tenang namun penuh perhitungan.
"Biar aku dan Ayah yang keluar dengan sengaja. Mencari di mana letak anak buah Hans mengawasi kami," aku mengeluarkan ide yang cukup berani.
"Naya, itu bisa membahayakanmu," ujar Puri, nada khawatir begitu jelas.
"Tidak, Puri. Di sini kita akan menjebak Hans. Tugasmu dan Alex pergi ke siaran acara milik Mely. Tampilkan percakapan ia dengan Mely, serta rekaman suara ia dan Hans saat berhubungan. Aku dan Ayah akan memancing Hans untuk menangkap kami. Tugasmu, Vanka, ikuti kami dari jarak yang cukup jauh bersama agen-agen CIA. Ketika Hans mulai ingin membunuh aku dan Ayah, kau datang bersama mereka," paparku, mengeluarkan seluruh rencana yang telah kususun. Semoga berhasil.
"Bagaimana jika gagal, Naya?" tanya Pengacara Frans, wajahnya tegang.
"Mau tidak mau, aku sendiri yang akan membunuh Hans. Membalaskan rasa bersalahku kepada Alea," ucapku sambil meremas ujung meja hingga buku-buku jariku memutih.
Semua orang terdiam. Tatapan mereka terkejut mendengar perkataanku. Ruangan membeku. Bagaimana bisa aku berpikir senekat itu untuk membunuh Hans dan menghancurkannya.
Setelah berdiskusi panjang tentang rencana tersebut, kami akhirnya memutuskan beristirahat di apartemen milik Vanka. Pengawal sudah berganti sif.
Aku dan Puri tidur di kamar yang telah disiapkan Vanka. Tuan Ajimo serta Pengacara Frans tidur di kamar utama milik Vanka yang dipinjamkan. Sementara Alex dan Vanka tidur di ruang tengah, satu di atas sofa dan satu menggelar kasur lantai.
Alex yang sudah terbiasa tidur di mana saja sudah terlelap. Sedangkan Vanka masih gelisah. Ia mondar-mandir hingga akhirnya beranjak menuju balkon. Ia menikmati angin malam dengan kemeja terbuka memperlihatkan dada bidang serta secangkir wine di tangannya.
Aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi rencana yang kami susun. Berharap semuanya berjalan lancar. Mataku menolak terpejam. Aku keluar dari kamar. Lampu ruang tengah sudah dimatikan, kurasa oleh Vanka.
Aku melangkah perlahan menuju balkon dengan kaki jinjit, tanpa melihat ke depan, sampai tubuhku menabrak seseorang. Aku mendongak. Dia Vanka. Tubuhku menabrak dadanya yang gagah. Bidang dada kekar itu terlihat jelas membuatku gugup saat menyentuhnya. Wajahku memerah seketika.
"Vanka, kau belum tidur?" ucapku gugup.
"Kau sendiri kenapa belum tidur?" Ia balik bertanya.
Aku menghindari tubuh Vanka yang menghalangi pintu, lalu duduk di kursi balkon. Angin malam berembus sepoi, kendaraan di bawah tidak terlalu ramai. Setidaknya membuatku sedikit lega. Kutarik napas panjang. _Huft._
"Aku berharap rencana kita besok akan lancar dan berhasil," ucapku menatap langit kota.
Vanka duduk di kursi sebelah, meletakkan cangkir wine-nya di atas meja bundar.
"Aku yakin kita akan berhasil," ujar Vanka memberi keyakinan. Suaranya dalam, menenangkan.
"Naya, apakah kau masih membenci ayahmu?" Tatapan Vanka penuh selidik.
"Aku sudah memaafkannya. Hanya saja semuanya tidak mudah, Vanka," jawabku tanpa menatapnya. Luka itu masih basah.
Obrolan malam yang senyap itu terus berlanjut. Saat semua orang sudah terlelap dalam tidurnya, aku dan Vanka masih menikmati segarnya udara malam di atas balkon, sampai sesuatu terjadi.
Bersambung..