Indonesia
NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: DI BAWAH KENDALI RIZKY SYAH

​Aroma maskulin yang hangat bercampur dengan wangi kelopak bunga mawar merayapi seluruh sudut kamar suite VVIP hotel bintang lima itu. Di dalam ruangan yang temaram oleh pendar lampu dinding berwarna keemasan, ketegangan romantis di antara Kamila dan Rizky Syah makin membakar udara.

​Bisikan manis dan penuh godaan dari Rizky yang meminta tanda di lehernya membuat jantung Kamila berdegup gila-gilaan, bagaikan kepakan sayap burung yang terperangkap dalam sangkar. Pesta ulang tahunnya yang megah di aula bawah masih berlangsung riuh dengan denting gelas kristal dan gelak tawa para tamu elit, namun di ruangan lantai atas ini, dunia seolah berhenti hanya untuk mereka berdua.

​Kamila menatap manik mata Rizky Syah yang berkilat tajam di bawah pendar redup lampu. Napas pria tegap itu berhembus hangat di atas permukaan kulit wajahnya, membawa hawa panas yang membakar seluruh kesadaran Kamila.

​Apakah ini baik? Bukankah aku hanya membantunya mengatasi efek obat perangsang jahat yang diberikan Sanum tadi? Tapi... aku benar-benar menginginkannya, kata Kamila dalam hati. Hanya melalui rasa sakit, gejolak yang membakar, dan sensasi kepasrahan seperti ini, Kamila yang rapuh bisa merasakan cinta yang nyata dan terbebas dari bayang-bayang ketakutan masa lalu...

​Sementara itu, Rizky Syah yang mengurung tubuh Kamila di atas ranjang empuk menatap manik mata gadis itu dengan pendar asmara yang teramat tulus, dalam, dan sarat akan dominasi yang memabukkan.

​Tentu saja aku juga berharap kamu bisa mengendalikan sekali ini, Kamila... kata Rizky dalam hati, memasrahkan seluruh jiwa dan harga dirinya pada gadis yang telah mencuri hatinya sejak masa kecil mereka.

​"Kamila... aku tunduk padamu dengan sukarela," bisik Rizky Syah dengan nada suara rendah nan seksi yang bergetar penuh kepasrahan.

​Tanpa ragu sedikit pun, Rizky Syah berlutut di atas kasur empuk itu. Pria yang ditakuti oleh seluruh kalangan bisnis di kota ini menundukkan kepalanya yang tegap, lalu menciumi telapak tangan Kamila satu per satu dengan kelembutan yang menyengat hingga ke ulu hati.

​Sensasi sentuhan bibir Rizky di kulit mulusnya membuat dada Kamila bergemuruh hebat. Kehangatan itu merayapi alir darahnya. Dengan dorongan gairah dan keberanian yang membakar, Kamila memajukan tubuhnya, merengkuh leher tegap Rizky dengan kedua tangannya, lalu menggigit leher pria itu—meninggalkan jejak kepemilikan yang merah dan merona.

​Otot-otot tubuh Rizky Syah seketika mengeras kenikmatan menerima gigitan penuh tanda kepemilikan tersebut. Sebuah erangan rendah nan seksi terlepas dari tenggorokannya, memecah kesunyian kamar.

​Merasakan ketegangan tubuh Rizky yang kaku di bawah sentuhannya, Kamila menahan napasnya cemas, matanya bergetar lembut. "Aku... apakah gigitanku tadi menyakitimu?" tanya Kamila pelan dengan raut polos.

​Rizky Syah mendongakkan wajahnya yang tampan, menyunggingkan senyum miring yang teramat memikat dan penuh pesona. Ia menggenggam erat jemari halus Kamila, menempelkannya tepat di atas dadanya yang berdebar kencang.

​"Aku hanya milikmu dan kamu hanya milik dirimu sendiri. Terserah padamu mau menulis atau tidak," kata Rizky Syah dengan suara bernada teka-teki yang menghanyutkan jiwa Kamila.

​Rizky Syah yang seperti ini... bagaimana bisa kutolak? kata Kamila dalam hati, membiarkan seluruh benteng pertahanannya runtuh total dalam dekupan pria itu.

​Hati Kamila merosot makin dalam ke dalam pusaran pesona Rizky. Lalu Kamila mencium leher Rizky, merapatkan bibirnya dan berlahan turun menyusuri bidang dada Rizky yang hangat, tegap, dan berotot sempurna.

​Melihat kepatuhan nan gairah manis dari Kamila yang pasrah dalam dekapannya, Rizky Syah menyunggingkan senyum miring yang penuh kepuasan. Dengan gerakan yang teratur dan penuh ketenangan, Rizky Syah membuka ikat pinggang celananya lalu mengikat tangan Kamila ke atas kepala.

​"Kamu suka?" kata Rizky sambil menatap mata Kamila yang bergetar dipenuhi pendar gairah.

​Kamila merona merah padam hingga ke lehernya, mendongakkan wajahnya yang penuh kepasrahan. "Lebih erat lagi..."

​Kamila menyembunyikan wajah mewahnya yang terasa membara di atas bantal putih. Pasti efek obat Rizky Syah menular padaku, makanya aku jadi tidak tahu malu begini, kata Kamila dalam hati, mencoba menutupi rasa canggung atas keberaniannya sendiri.

​"Lengan Kamila... sesuai keinginanmu," bisik Rizky memanjakan.

​Lalu Rizky mengikat lebih kencang dan meniduri Kamila dengan lengan Kamila ke atas. Kepala mencium Kamila dan seterusnya, menyatukan rasa, gairah, dan emosi mereka dalam pergolakan asmara yang teramat manis. Di kamar VVIP yang jauh dari riuk pikuk dunia luar, keduanya terhanyut dalam kehangatan yang tak terpisahkan.

​Beberapa jam kemudian...

​Di aula utama lantai bawah hotel, alunan musik pesta dan denting gelas masih bergema meriah. Para tamu undangan, termasuk klan-klan elit, masih menikmati jamuan ulang tahun Kamilah. Namun, kecemasan mulai merayapi hati Roya Ye karena adiknya sudah terlalu lama menghilang dari panggung pesta.

​Sementara itu, di dalam kamar hotel VVIP, suasana yang tadinya membara perlahan-lahan mereda. Keheningan kembali melingkupi ruangan, hanya diselingi suara hembusan napas mereka yang teratur.

​Kamila yang terkulai lemas di atas ranjang dengan pakaian yang sedikit berantakan mendadak tersentak saat terdengar dering suara ponselnya yang bergetar nyaring di atas meja nakas.

​KRRRRINGGG! KRRRRINGGG!

​Dengan tubuh yang masih terasa lemas dan jemari yang gemetar, Kamila meraih ponsel tersebut. Layar menyala terang memancarkan nama panggilan dari sang kakak.

​"Halo, Kak," Kamila mengangkat telepon, berusaha menetralkan napasnya yang masih agak tidak teratur.

​"Halo, Kamila! Kamu di mana?! Kenapa... kenapa semalaman ini—bahkan sejak tadi di tengah pesta—aku sama sekali tidak melihatmu?!" jawab Roya di seberang telepon dengan nada yang sangat tegang, panik, dan penuh tekanan.

​Kamila kaget setengah mati. Matanya membelalak lebar melirik jam dinding. Pesta di bawah ternyata masih berjalan, dan durasi keberadaannya di kamar ini sudah berlangsung beberapa jam!

​"Aku... aku agak lelah, jadi aku pulang duluan ke kamar atas untuk istirahat sebentar," kata Kamila berusaha berbohong dan menyusun alasan seakan tidak terjadi apa-apa.

​"Parah tidak?! Aku akan ke sana sekarang ke kamarmu, melihat keadaanmu!" tegas Roya di seberang telepon tanpa bisa dibantah.

​Kamila langsung terbangun dari tempat tidur dengan panik luar biasa. Pikirannya melayang membayangkan ketegangan yang akan pecah jika kakaknya melihat kondisi kamar dan keberadaan Rizky Syah di sini.

​"Tidak usah! Tidak usah, Kak!" seru Kamila tergesa-gesa.

​Namun, sebelum Kamila sempat berdiri tegak membetulkan gaunnya, dari arah belakang, dua lengan tegap yang hangat tiba-tiba melingkar di pinggang mulusnya. Lalu Rizky Syah memeluk Kamila dari belakang, menyandarkan dagunya yang kasar ke bahu Kamila dengan santai tanpa beban.

​"Oh!" Kamila teriak kaget, refleks menahan napasnya akibat sentuhan mendadak yang mengagetkan itu.

​"Ada apa?!" kata Kamila ketakutan setengah mati, menutup lubang mikrofon ponselnya.

​Namun, teriakan kaget Kamila rupanya terdengar jelas oleh Roya di seberang telepon. Suara pria protektif itu seketika berubah menjadi sangat histeris, emosional, dan kalap.

​"Kamila! Apa yang terjadi di dalam kamar?! Cepat buka pintunya, aku sangat khawatir padamu!" teriak Roya di telepon.

​Hanya dalam hitungan belasan detik, langkah kaki berat berlari kencang di sepanjang karpet koridor luar hotel. Roya Ye yang membawa kartu akses cadangan dari resepsionis ternyata sudah berdiri tepat di depan kamar hotel VVIP tersebut.

​BRAK! TOK! TOK! TOK!

​Roya Ye langsung ke kamar Kamila, gedor-gedor pintu Kamila dengan kepalan tangannya yang keras.

​"Cepat! Cepat sembunyi!" kata Kamila ke Rizky Syah untuk sembunyi, sambil panik mendorong-dorong tubuh tegap pria itu agar masuk ke dalam lemari atau ke balik pintu kamar mandi.

​Kamila mengumpulkan sisa keberaniannya, melangkah perlahan mendekati pintu sambil membetulkan gaun dan rambutnya yang berantakan.

​"Kak, aku tidak apa-apa! Aku akan segera keluar!" kata Kamila dengan suara bergetar berusaha menenangkan kakaknya dari balik pintu.

​Namun, rasa curiga dan sifat protektif Roya Ye sudah membakar akal sehatnya. Pria itu langsung menyentuhkan kartu kunci cadangan ke sensor pintu elektronik.

​"Kakak tidak tenang, Kakak masuk ya!" tegas Roya saat bunyi sensor pintu berdenting nyaring—KLIK!—dan gagang pintu mulai terdorong masuk...

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!