Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Teluh

Hujan Teluh

Status: tamat
Genre:Fantasi / Horor / Cintapertama / Supernatural / Pembunuhan / Kumpulan Cerita Horror / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:253.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alexza Kim

Cerita ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang harus mati berkali-kali, untuk menebus dosa-dosa di kehidupan masa lampaunya.

Melin adalah pemilik Jiwa Suci, jiwa Malaikat Penjaga yang mati ribuan tahun lalu.

Dia diberi kesempatan untuk lahir sebagai manusia sebanyak 7 kali. Dia harus bertahan hidup sampai melewati Bulan Merah pertamanya.

Bulan Merah hanya muncul selama 20 tahun sekali.

Melin adalah Jiwa Suci ke 7 yang harus melewati Bulan Merah pertamanya.

Tapi para Siluman menginginkan kematiannya agar mereka bisa hidup bebas di dunia manusia.

Akankah Melin bisa bertahan dari semua serangan Siluman yang ternyata sudah merencanakan sebuah ritual untuk menghancurkan Jiwanya tepat saat Bulan Merah terjadi, untuk merusak perbatasan antar Dunia Manusia, Dunia Ghoib dan Dunia Siluman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alexza Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tudung Merah

Langkah kaki kurus itu terus berjalan tanpa alas kaki, tapaknya menyentuh aspal yang dingin dan basah.

Sosok itu mengenakan tudung merah yang aneh dan terus berjalan di belakang Pak Kades dan Jendral.

Jendral merasa seseorang telah mengikuti mereka, dan anak itu segera berbalik dan mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.

"Ada apa Ndral?" tanya Pak Kades.

"Nggak papa kok, Pak!" jawab Jendral, tapi manik matanya masih berusaha menelisik.

Dia yakin ada seseorang yang mengikuti mereka tadi, tapi kenapa langsung tak ada. Apa ini hanya khayalan Jendral saja.

"Ayo, Nak Jendral!" Pak Kades kembali memanggil Jendral.

"Iya Pak!" Jendral pun segera berjalan lagi ke arah pos ronda.

Bayangan hitam bertudung merah itu pun menampakkan dirinya dari balik pohon. Tudung merahnya mengarah ke dua lelaki yang berjalan di tengah hujan itu.

Tapi langkah kaki telanjang itu tak mengikuti kedua pria tadi. Langkah kaki itu menuju rumah papan yang belum lama dikunjungi oleh Pak Kades dan Jendral.

Saat sampai di depan pintu rumah papan itu, si mahluk bertudung itu tampak merapalkan mantra dan semua kunci yang berada di pintu itu terbuka. Bahkan pintu itu terbuka sendiri untuk menyambutnya.

Langkah kaki dengan tetesan air hujan di jubah merahnya itu menuju ke dapur Mbah Jumiem.

Jemari tangan yang penuh luka bakar menghitam dan kotor itu muncul dari balik lengan tudung merah. Sebilah pisau dapur diraih jemari itu.

Manik mata Mbah Jumiem kembali berpijar saat telinganya mendengar sesuatu yang aneh. Sebuah pergerakan di lantai rumanya, dentuman ringan dari langkah kaki yang kasar.

Mata Mbah Jumiem terbelalak, dia meringkuk dalam tidurnya. Raut takut sudah menguasai parasnya, tapi dia tak mau kabur atau menghindar.

Entah apa yang wanita tua itu pikirkan, dia sepertinya pasrah dan sudah tau. Jika malam ini ajalnya akan datang. Tentu saja buka Malaikat Jibril yang mengabarinya sebelumnya.

Derap langkah itu semakin mendekat dan mengecam setiap sel di tubuh renta Mbah Jumiem.

"Aku sudah bilang, kembalikan anakku!" kata suara lirih dari balik pintu kamar.

"Aku tak tau dimana anakmu, kenapa kau bisa bebas?!" tanya Mbah Jumiem, dia memberanikan dirinya untuk bangun dari posisi berbaringnya.

"Aku bangun karena kobaran cinta kami kembali memercik, aku akan mecari pasanganku dan juga anak kami!" kata makhluk bertudung itu.

"Kinan, jika kau mengulang masa lalu. Maka masa lalu itu akan terulang kembali.

"Masa lalu akan sama, tak ada yang bisa kau lakukan wahai iblis jahanam!" teriak Mbah Jumiem.

Teriakan wanita tua itu disambut oleh petir yang mengelegar dan juga robohnya pintu kayu kamarnya.

Sosok bertudung itu sudah ada di depannya, mata merah dibingkai kulit mengelupas menerah dan darah yang mengental.

"Hujan Teluh itu telah kembali, tak ada yang bisa menghindariku!" pekik suara perempuan yang serak dan berat itu.

Mbah Jumiem tampak tak kaget dengan penampilan mahluk di depannya, dia malah mendekat ke arah mahluk menakutkan itu.

"Maafkan aku Kinan, jika nyawaku bisa meredakan amarahmu. Maka ambillah sekarang!

"Tapi jangan bunuh, orang-orang yang tak bersalah lagi!

"Aku mohon!!!" kata Mbah Jumiem.

Dengan tubuh yang bergetar hebat, dan langkah kaki yang bergetar. Mbah Jumiem maju dan memeluk sosok menakutkan itu.

Pisau di tangan sosok bertudung itu pun melayang ke arah punggung Mbah Jumiem. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali.

.

.

.

.

Pagi itu semua orang berkerumun, di sekitar rumah Mbah Jumiem, semua orang tampak memasang ekspresi ngeri dan bergidik.

"Yaaaa ampun apa yang terjadi pada Desa kita yaaa?" Mas Paijo bertanya pada istrinya yang berdiri di sebelahnya.

"Mas, gimana kalau kita pulang ke rumah orang tuamu saja. Takut aku Mas!" kata Sopiah, istri Paijo.

"Katanya ibuku lebih nakutin dari pada hantu, aku nurut kamu ajak tinggal di sini.

"Kalau kita balik ke rumah orang tuaku, gimana omongan mereka?

"Emang kamu bisa tahan dengernya?!" ujar Paijo.

"Nggak sih, tapi makin hari. Desa ini makin seram!" kata Sopiah.

"Kamu betul Sopi, saya juga pengen pindah. Tapi kalo mau jual rumah kita yang di sini.

"Siapa yang mau beli?" ujar Ajeng tetangga Mbah Juminem.

Tim forensik dan kepolisian masih sibuk mengidentifikasi TKP dan menanyai beberapa saksi.

Pak Kades dan Jendral, selaku manusia terakhir yang melakukan kontak dengan Mbah Jumiem sedang ditanyai di tempat terpisah.

Pak kades dan Jendral memgatakan apa yang mereka lakukan dan rasakan saat itu. Tapi Jendral tak mengatakan jika dia merasa ada seseorang yang membuntuti mereka malam itu.

Dia merasa itu tak penting untuk dikatakan kepada polisi. Dia tak mau introgasi ini berjalan lebih lama karena dia harus berangkat ke sekolah.

"Apa kamu nggak takut Dek Jendral?" tanya Pak Polisi itu.

Jendral terdiam, dia memang tak merasakan apa pun. Bahkan saat melihat lima kepala keluarga Arinda yang tergeletak bersimbah darah. Jendral tak merasakan takut atau ngeri.

"Tidak Pak!" kata Jendral.

"Pak, anak ini mengidap kelainan Sociopath sejak bayi. Dia tak sesensitif itu pada lingkungan!" bela Pak Kades.

Jendral tampak, tak peduli dengan karangan dari Pak Kades itu. Karena dia bahkan tak pernah ke Dokter. Jika sakit yang dia andalkan hanyalah sebutir koin logam dan ibunya.

Kerokan, bisa menyembuhkan segala macam penyakit yang pernah dia derita selama ini. Lalu untuk apa jauh-jauh ke Dokter.

"Ohhhh begitu yaaa, Pak!

"Maaf ya Dek, soalnya kami juga merasa bingung Pak Kades. Pembunuhan terus terjadi di Desa ini.

"Sebagai kepala kepolisian di daerah ini, saya merasa malu. Karena tak dapat menyelesaikan masalah ini dengan cepat!" kata Pak Polisi itu

"Saya faham Pak, ini sulit untuk dijelaskan.

"Saya juga bingung, harus bagaimana. Karena semenjak saya menjabat, kejadian ini beruntun terjadi!" kata Pak Kades dengan nada nelangsa penuh penyesalan.

"Ini bukan salah Pak Jacson,mungkin ini adalah Hujan Teluh!" kata Pak Polisi itu.

"Hujan Teluh?" tanya Jacson bingung.

"Iya Pak, takutnya kejadian 60 tahun silam itu datang lagi dan meneror masyarakat Desa Air Keruh ini!" kata Pak Polisi.

"Pak, emang mitos Hujan Teluh itu ada?" tanya Jacson pada Pak Polisi itu.

"Tentu itu nyata Pak, bahkan kantor kami punya arsip tentang kejadian itu!" kata Pak Polisi.

"Boleh saya melihat arsip itu?" tanya Pak Kades.

"Boleh Pak, besok datang saja ke kantor saya.

"Sebenarnya ini tak boleh diperlihatkan pada masyarakat awam.

"Tapi karena kejadian sudah separah ini, jadi bapak selaku pemimpin Desa ini harus tau dan faham.

"Tentang kejadian 60 tahun lalu, legenda kutukan Hujan Teluh yang mencekam Desa Air Keruh ini!" jelas Pak Polisi.

"Baik Pak, saya akan ke kantor bapak besok!" Pak Kades pun tampak antusias sekali dengan berita baik itu.

Paling tidak dia harus tau alasan orang-orang itu mati. Karena jika kau faham alasannya itu sama halnya dengan kau sudah memecahkan kasus itu setengahnya.

"Pak saya harus ke sekolah!" kata Jendral.

Tanpa sadar kedua pria itu malah bicara ngalor-ngidul, tanpa peduli pada Jendral yang pasti sudah terlambat.

"Sebaiknya saya antar kamu kesekolah, Jendral! Biar gurumu tak menghukummu!" kata Jacson.

___________BERSAMBUNG_____________

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

1
Shinta Teja
kasih terjemahan ke bahasa Indonesia lah Thor. soalnya aku ga ngerti bahasa Palembang itu...
Raditya Fathir
org desa,nama metropolitan.
ga sesuai dg latar
Arra
katanya full serem min ngga ada haha hihi. 🤭 ini bikin senyum loh
Arra
Malaikat izrail apa ya kak? 🤔
Arra
arinda atau si pembunuh ya
Arra
semangat thor. keren. meskipun aku bacanya pusing kalau berbau bunuh2an tapi kok kepo. hadeh 🤭 semoga ngga kebawa mimpi
Arra
ngeri kali 😱
Arra
okay lanjut kak
Dee Adee
terkejut aku Thor 😲
autophia
Ilmu teknologi dan psikologi membuktikan melinda punya jiwa iblis? Kok agak gak make sense ya
autophia
Nyampe sini Agak bosen ya ceritanya
autophia
Kenapa kalo kerumah arinda jadi sial?
PaiZem LopeKITA💘
pertama kali baca,seremnya langsung dapet👻
autophia
Ternyata asia
Winna
Jenk kok gak up up lagi? Dah ku vote lagi loh.. biar naik ceritanya..
Winna: Siaaap🤣👍🏻
total 2 replies
Winna
Gak sabar nungguin niiih jeenk🤭
Winna
Sakit banget ya mencintai itu.. 😭
Winna
Siip jendral.. tp sayang nya aku cinta nya sm adrian😛
Winna
Wooww wooww manteeeb planing nya.. gk ngira👍🏻
Winna
Aaahhh.. sesediih ini kah cintaa? Baper deh😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!