Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:200.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Takdir Tak Bisa Dijebak

Petugas keamanan dan operator cctv melihat Saras keluar sendirian dari kamar Bryan. Beberapa menit berselang, pintu kamar kembali terbuka. Chantika keluar seorang diri dengan langkah terhuyung. Beberapa kali ia berpegangan pada dinding koridor agar tidak terjatuh.

"Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja," gumam petugas keamanan.

Tatapan keduanya terus mengikuti pergerakan wanita tersebut melalui kamera yang terpasang di sepanjang koridor.

Mereka melihat wanita itu membuka tasnya, seolah mencari sesuatu. Namun, setelah beberapa saat, ia kembali menutupnya dengan wajah panik.

"Lihat... dia seperti kehilangan sesuatu," ujar operator.

"Mungkin ia mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang," sahut petugas keamanan pelan.

Wanita itu terus berjalan menyusuri lorong hotel dengan langkah yang semakin goyah. Tangannya meraba dinding, lalu berpindah dari satu pintu ke pintu lainnya.

Hingga akhirnya...

Klik.

Sebuah pintu terbuka. Wanita itu terhuyung masuk ke dalam kamar tersebut.

Operator spontan membelalakkan mata. "Astaga...."

Petugas keamanan ikut menatap layar monitor, lalu wajahnya langsung berubah tegang.

"Itu... kamar Tuan Enzo."

Ruangan kontrol mendadak sunyi. Tak seorang pun berani berkata-kata.

Semua staf hotel mengetahui satu aturan yang berlaku sejak hotel itu berdiri.

Tidak ada seorang wanita pun yang diizinkan memasuki kamar pribadi Tuan Enzo tanpa izin darinya.

Petugas keamanan dan operator saling berpandangan.

"Bagaimana ini?" tanya operator pelan.

Petugas keamanan menghela napas panjang. "Jangan bertindak gegabah. Hubungi kepala keamanan dulu."

Ia kembali menatap monitor. Namun hingga beberapa menit berlalu, pintu kamar itu tetap tertutup. Tak terlihat seorang pun keluar.

Tak lama kemudian, kepala keamanan memasuki ruang kontrol CCTV.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Petugas keamanan segera menghampiri. "Pak, ada seorang wanita di lobby yang sedang mencari saudarinya. Menurut pengakuannya, mereka masuk ke hotel bersama, tetapi wanita itu keluar sendirian. Sekarang nomor saudarinya juga tidak bisa dihubungi. Silakan Bapak lihat sendiri rekaman CCTV-nya."

Operator segera memutar kembali rekaman, mulai dari saat Saras dan Chantika memasuki kamar VIP milik Bryan hingga momen Chantika keluar dalam keadaan sempoyongan dan akhirnya masuk ke kamar Tuan Enzo.

Wajah kepala keamanan langsung menegang.

"Bagaimana ini, Pak?" tanya petugas keamanan. "Sudah cukup lama wanita itu berada di dalam kamar Tuan Enzo. Saya tidak berani mengambil tindakan tanpa izin."

Kepala keamanan mengangguk pelan. "Jangan gegabah. Saya akan menghubungi Manajer Hotel."

Ia segera mengambil ponselnya. "Pak, ada situasi yang berkaitan dengan kamar Tuan Enzo. Mohon segera datang ke ruang kontrol CCTV."

"Baik. Saya ke sana sekarang," jawab sang manajer dari seberang telepon.

Tak lama kemudian, Manajer Hotel memasuki ruang kontrol. "Apa yang terjadi?"

Tanpa banyak bicara, operator kembali memutar rekaman CCTV.

Manajer Hotel memerhatikan layar monitor dengan saksama. Rekaman memperlihatkan Chantika keluar dari kamar Bryan dalam kondisi sempoyongan, lalu berjalan menyusuri lorong sebelum akhirnya memasuki kamar Tuan Enzo.

Ekspresinya berubah serius. "Apakah ada yang melihat wanita itu keluar dari kamar Tuan Enzo?"

"Belum ada, Pak," jawab operator. "Sejak masuk, pintu kamar itu belum pernah terbuka lagi."

Ruangan terasa semakin tegang.

Manajer Hotel mengembuskan napas panjang. "Jangan ada satu pun yang mendatangi kamar Tuan Enzo."

"Lalu bagaimana dengan wanita yang sedang menunggu di lobby, Pak?" tanya petugas keamanan.

"Suruh dia menunggu. Katakan kita masih melakukan pengecekan."

"Baik, Pak."

Manajer Hotel kembali menatap monitor. "Selama bertahun-tahun bekerja di hotel ini, belum pernah ada seorang wanita yang memasuki kamar pribadi Tuan Enzo. Jangan bertindak sembarangan. Kita tunggu instruksi beliau."

"Baik, Pak."

***

Di lobby hotel, Saras mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali ia melirik pintu lift, berharap petugas keamanan segera turun membawa kabar tentang Chantika. Namun, yang memenuhi kepalanya bukanlah keselamatan sang kakak.

"Kalau Bryan sampai murka, habislah proyek ini. Investasinya pasti batal."

Ia menggigit bibir bawahnya. "Kalaupun Chantika ditemukan... apa yang akan kukatakan? Bagaimana kalau dia sadar bahwa wine itu sudah dicampur obat? Bagaimana kalau dia melaporkan Bryan... lalu menyeret namaku?"

Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak.

Ting!

Pintu lift akhirnya terbuka. Seorang petugas keamanan melangkah keluar.

Saras segera menghampirinya. "Bagaimana, Pak? Apa kakak saya sudah ditemukan?"

Petugas itu menggeleng pelan. "Mohon bersabar, Bu. Kami masih melakukan pengecekan."

"Tapi ini sudah lama, Pak." Nada suara Saras mulai meninggi. "Kalau memang sudah tahu dia masuk ke mana, kenapa belum juga dijemput?"

Petugas keamanan menarik napas pelan sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Bu. Ada prosedur yang harus kami ikuti."

"Prosedur apa? Kakak saya bisa saja dalam bahaya!"

"Kami memahami kekhawatiran Ibu." Petugas keamanan bicara dengan nada terkontrol. "Namun, lokasi terakhir yang terekam CCTV merupakan area privat. Kami tidak dapat memasukinya tanpa izin."

Saras mengernyit. "Maksud Bapak?"

Petugas keamanan tampak ragu selama beberapa detik. "Maaf, Bu. Untuk sementara kami belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Pihak manajemen sedang menangani masalah ini."

Jawaban itu membuat Saras semakin tidak sabar. "Kalau begitu saya yang akan mencarinya sendiri."

Saras baru saja hendak melangkah menuju lift ketika petugas keamanan buru-buru menghalangi jalannya.

"Maaf, Bu. Demi keamanan, kami tidak bisa mengizinkan Ibu naik ke area tersebut sebelum mendapat arahan dari pihak manajemen."

Saras mengepalkan kedua tangannya. Mau tak mau ia kembali menahan diri, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang semakin membuatnya gelisah.

Beberapa meter setelah petugas keamanan pergi, ponsel di dalam tas Saras kembali berdering.

Nama Bryan muncul di layar.

Saras terdiam menatap nama itu. Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit gemetar. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan tersebut.

"Halo, Tuan."

"Mana kakakmu? Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Bryan tak sabar.

"Saya masih mencarinya. Tolong Tuan bersabar dulu."

"Kamu pikir aku ini pengangguran?" bentak Bryan. "Waktuku sangat berharga."

"Tuan..."

"Sepuluh menit," potong Bryan tegas. "Kalau dalam sepuluh menit kakakmu belum juga ditemukan, kamu yang akan menggantikannya."

Mata Saras langsung membulat. "Apa?!"

Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak...

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon kembali terputus. Saras menggenggam ponselnya erat. Hampir saja ia memekik dan membanting benda itu ke lantai karena panik, kesal, sekaligus marah.

Namun, menyadari ada resepsionis dan beberapa tamu hotel yang berlalu-lalang, ia memaksa menahan emosinya. Meski begitu, wajahnya yang tegang tak mampu menyembunyikan kepanikan yang mulai menguasai dirinya.

"Menggantikan Kak Chantika? Menghabiskan malam bersama playboy itu?"

Napas Saras memburu. Semua ini benar-benar di luar rencananya.

Detik demi detik terasa begitu menyesakkan. Petugas keamanan belum juga kembali, sementara waktu sepuluh menit yang diberikan Bryan terus berkurang.

"Bagaimana ini...?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Manusia bisa merancang jebakan untuk orang lain, tetapi takdir selalu memiliki cara untuk membalikkan keadaan."...

..."Setiap pengkhianatan selalu meninggalkan jejak, dan setiap jejak akan membawa seseorang pada kebenaran."...

..."Orang yang berniat menjatuhkan orang lain sering kali lupa bahwa takdir dapat memutar arah dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo mendapat kiriman foto wajah pria yang menyandera Chantika dari Vito, di ponselnya.

Vito menghubungi Enzo. Memberitahu sudah dapat indentitas pria yang menyandera Chantika.

Enzo hanya diam. Dia menatap foto itu.

Orangnya sudah menghilang, tapi anak buah Vito sedang mengikuti jejaknya

Teruskan. Hanya itu yang terucap dari Enzo.
Anonim
Mendengar suara mobil memasuki halaman rumah, Rahardja langsung berdiri bergegaa menuju pintu.

Pintu utama terbuka, muncul Chantika.

Langkah Rahardja terhenti, ketika melihat putrinya dengan seragam dinas yang dikenakan jauh lebih kacau daripada saat operasi perdagangan manusia beberapa lalu.

Melihat kondisi putrinya saat ini, bisa kebayang bagaimana perasaan Rahardja.

Chantika berusaha menenangkan Ayahnya, dengan mengatakan - cuma luka ringan. Padahal Chantika baru saja lolos dari maut untuk kedua kalinya.

Wajahnya pucat. Rambut berantakan. Langkahnya sedikit goyah karena kelelahan.
Anonim
Rahardja sampai larut malam setia menunggu putrinya yang belum pulang karena tugas. Rasa khawatirnya bertambah dengan menantunya yang juga belum pulang.

Melihat menantunya sudah pulang, ada perasaan lega dan bersyukur.

Enzo melihat Rahardja menatap ke arah jendela.

Enzo tahu Rahardja mengkhawatirkan Chantika. Apalagi dia sendiri tahu persis istrinya tadi sedang bertaruh nyawa.

Ekspresinya tetap tenang, bicara dengan kalimat yang menenangkan hati Rahardja.

Tapi firasat Rahardja belum juga menghilang.
Anonim
Skull ini memang dibayar cukup tinggi untuk menangkap The Ghost hidup atau mati. Lima puluh juta dolar.

Pinter juga hasil pengamatannya. Kalau ingin menemukan The Ghost cukup ikuti Chantika.

Skull bisa dibunuh Enzo kalau mengusik Chantika.

Kini target baru Skull - Chantika.
Anonim
Chantika tidak tahu siapa yang muncul di saat nyawanya berada di ujung tanduk. Dua kali menolong dirinya.

Selalu ada Skull jika terjadi aksi bentrok dalam kejadian penyelundupan barang ilegal
Anonim
Chantika menggunakan kesempatan dengan berguling menjauh. Keren juga nih aksinya Bu Polwan.

Para pria bersenjata mulai panik, mencari sumber tembakan.

Situasi semakin kacau dengan munculnya asap yang menyelimuti lorong-lorong diantara kontainer.

Para pria bersenjata menyerah ada yang minta jabgan tembak kami.

Situasi sudah mulai kondusif.
Anonim
Saatnya ibu jari Chantika menekan mekanisme tersembunyi pada cincin di jari manisnya.

Di atas crane Enzo sudah siap untuk menarik pelatuk.

Gelombang suar berfrekuensi tinggi meledak dari cincin.

Suara yang menyiksa telinga menjadikan penyandera kehilangan fokus. Reflek memejamkan mats. Tangan yang memegang pistol ikut bergetar.

Chantika menggunakan kesempatan itu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke depan.

Peluru penyandera meletus.

Rizal khawatir dengan Chantika.

Enzo menembak tepat menembus tangan penyandera mengakibatkan pistolnya terlepas.
Anonim
Seorang Ayah yang gelisah menunggu putri dan menantunya yang sudah laut malam belum pulang.

Rahardja tidak mengerti kenapa dadanya serasa sesak.

Chantika sudah mengabari akan pulang lebih larut karena masih bertugas.

Enzo juga memberi kabar melalui Marco kalau pulang sedikit lebih malam.

Rahardja mempunyai firasat. Namun berharap Enzo dan Chantika baik-baik saja.

Firasat seorang Ayah - yang kenyataannya dia tidak tahu kalau nyawa putrinya sedang terancam.
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!