Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tersembunyikan
"Katakan, apa yang membawamu kemari, Bik Sum?" ujarnya Gabriel dingin seraya menutup laptop di meja kerjanya. Pria itu menyandarkan punggung, menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan raut tegang.
"Itu, Tuan... dari salah satu pelayan yang membantu Nona mandi. Dia mengatakan sesuatu kepada saya," jawab Bik Sum dengan suara bergetar pelan.
"Mengatakan sesuatu apa?" alis Gabriel menyatu tajam.
"Pelayan itu mengatakan, saat membantu Nona mandi... di belakang tubuhnya terdapat memar dan bekasan luka sayatan, Tuan. Ada juga bekas luka bakar, Tuan," bisik Bik Sum dengan mata berkaca-kaca menahan iba.
Brak!
Gabriel mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras seketika, dan tato mawar di lehernya seolah memancarkan aura kemarahan yang pekat.
"Luka bakar?" ulang Gabriel dengan suara berat yang dipenuhi amarah terpendam. "Sebanyak apa?"
"Hampir di seluruh punggung dan bahunya, Tuan... Pelayan sampai menangis saat mengeringkan tubuh Nona. Nona Amara bahkan tampak takut dan kesakitan saat disentuh," terang Bik Sum terburu-buru.
Gabriel bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.
"Mana dokter pribadi yang kupanggil?"
"Dokter sudah sampai, Tuan. Saat ini sedang menunggu di luar kamar Nona," jawab Bik Sum patuh.
"Suruh dia masuk sekarang juga," perintah Gabriel tegas.
Pria itu melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Amara. Amarahnya meluap membayangkan betapa kejam perlakuan keluarga Valerie pada gadis sekurus dan sehalus Amara.
Saat Gabriel mendorong pintu kamar, ia melihat Amara sedang duduk di tepi ranjang dengan piyama kebesaran. Gadis itu tampak kaget dan buru-buru memeluk tubuhnya sendiri saat melihat Gabriel masuk.
Gabriel meredam amarah di wajahnya, lalu berlutut perlahan di depan Amara agar tingginya sejajar.
"Jangan takut," ucap Gabriel pelan dengan artikulasi bibir yang sangat lembut dan jelas. "Dokter hanya akan memeriksamu, mengobati sakitmu."
Amara memegang alat bantu dengarnya, menatap mata Gabriel yang memancarkan rasa bersalah dan perlindungan yang teramat besar. Dengan jemari gemetar, Amara meraih buku catatan kecil di sampingnya dan mulai menulis.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," tulis Amara di buku catatan kecilnya, lalu memperlihatkannya pada Gabriel dengan tatapan memohon.
Gabriel membaca tulisan itu. Tatapannya melebut, namun raut tegas di wajahnya sama sekali tak berkurang. Ia berlutut makin dekat, memastikan Amara bisa membaca gerak bibirnya dengan sangat jelas.
"Kau tidak baik-baik saja, Amara," ucap Gabriel pelan dan lembut. "Tubuhmu terluka, dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
Amara menggeleng pelan, jemarinya bergerak panik di pangkuan. Ia menunduk, takut jika lukanya dilihat orang lain.
Gabriel perlahan mengulurkan tangan, menyentuh lembut jemari Amara yang gemetar.
"Dokternya seorang wanita," lanjut Gabriel menenangkan. "Aku tidak akan ada di dalam kamar saat dia memeriksamu. Kau akan aman."
Amara mendongak menatap mata Gabriel. Di balik aura dingin dan tato mawar yang terpatri di leher pria itu, Amara hanya menemukan rasa peduli yang tulus—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri.
Dengan mata berkaca-kaca, Amara akhirnya mengangguk pelan menandakan persetujuannya.
Gabriel tersenyum tipis.
"Pintar," bisiknya, lalu berdiri dan berbalik menatap Bik Sum di dekat pintu. "Panggil dokternya masuk sekarang."
Saat Dokter wanita masuk, Gabriel berdiri. Dia mengangguk kepada Dokter itu, lalu menatap Amara.
"Aku tunggu di luar, hanya Dokter dan Bik Sum di sini," ucap Gabriel dengan gerakan bibir yang jelas agar Amara paham.
Gabriel langsung melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari kamar Amara.
"Reno, Reno," panggil Gabriel dengan suara beratnya, namun tidak ada jawaban dari asisten pribadinya itu.
Dia melihat ke arah sekelilingnya, namun yang tampak hanya pelayan yang lalu lalang.
"Di mana Reno?" tanya Gabriel tegas pada salah satu pelayan yang melintas.
"Tuan Reno—" ucap pelayan itu gugup sambil melihat ke sekelilingnya.
"Jika kau menemukan Reno, katakan kepadanya. Cepat bawa alat bantu pendengar yang baru itu kepadaku," potong Gabriel dingin tanpa mau mendengar alasan, lalu menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar Amara sambil menyilangkan kedua lengan di dada.
Sementara itu di dalam kamar, Dokter wanita tersebut tersenyum lembut ke arah Amara. "Nona Amara, usahakan tenang ya. Saya hanya akan memeriksa dan mengobati luka-luka di punggung Nona."
Bik Sum membantu memegang tangan Amara yang bergetar ketakutan saat baju piyamanya diturunkan perlahan.
Begitu kain itu tersingkap, Dokter wanita tersebut seketika menahan napasnya terkejut bukan main melihat deretan memar kebiruan, luka sayatan, dan bekas sundutan rokok yang memenuhi punggung mulus gadis muda itu.
"B-bagaiman dok?" tanya Bik Sum kepada Dokter wanita itu.
"Luka-lukanya sangat parah, Bik..." bisik Dokter wanita itu dengan suara bergetar iba. Ia mengambil salep khusus dan kain kassa dari tas medisnya dengan sangat hati-hati. "Memarnya sudah ada yang agak lama, tapi luka sayatan dan bekas terbakar ini... sepertinya baru beberapa hari yang lalu. Pasti rasanya amat menyakitkan," lanjut sang Dokter sambil mengoleskan salep secara perlahan ke punggung Amara.
Amara meringis pelan, jemarinya meremas kain seprai ranjang dengan erat. Air mata menetes melewati pipinya tanpa suara.
"Sabar ya, Nona manis... Tahan sebentar," bujuk Bik Sum lembut sambil mengusap-usap telapak tangan Amara untuk menyalurkan rasa tenang. "Dokter sedang mengobatinya supaya Nona tidak merasa sakit lagi."
Setelah selesai membersihkan dan membalut luka-luka tersebut, Dokter wanita itu membenahi kembali piyama Amara dengan sangat lembut.
"Saya sudah mengobati lukanya dan memberi salep antinyeri. Nona Amara butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk mempercepat pemulihan," ujar Dokter seraya merapikan peralatan medisnya.
Bik Sum mengangguk lega.
"Terima kasih banyak, Dok. Mari saya antar keluar."
Saat pintu kamar terbuka, Gabriel yang sejak tadi berdiri bersandar di luar langsung menegakkan tubuhnya.
Tatapannya yang tajam menatap lurus ke arah Dokter wanita itu.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Gabriel dengan suara berat yang dipenuhi kekhawatiran dan amarah yang tertahan.
Dokter wanita itu menunduk sebentar, menghela napas berat sebelum menatap Gabriel.
"Kondisinya cukup memprihatinkan, Tuan Gabriel," jawab Dokter dengan raut wajah prihatin. "Luka-luka di punggungnya bukan sekadar luka biasa. Ada bekas sayatan, memar parah, dan bekas luka bakar yang tampaknya disebabkan oleh sundutan rokok. Beberapa luka bahkan masih tergolong baru."
Gabriel mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rahangnya mengeras, dan mata elangnya memancarkan amarah yang sangat pekat.
Tato mawar di lehernya seolah makin menegaskan aura berbahaya yang menguar dari tubuhnya.
"Apakah ada risiko infeksi?" tanya Gabriel, berusaha menahan suaranya agar tetap dingin dan tenang.
"Sudah saya bersihkan dan saya beri salep antinyeri serta antibiotik, Tuan," terang Dokter. "Namun Nona butuh istirahat total, nutrisi yang cukup, dan suasana yang tenang agar pemulihannya cepat."
"Baik. Terima kasih, Dok," sahut Gabriel singkat.
Tepat saat Dokter pamit melangkah pergi diantar Bik Sum, dari ujung koridor terdengar langkah kaki tergesa-gesa.
"T-Tuan! Maafkan saya!" panggil Reno yang berlari kecil menghampiri Gabriel sambil memegang sebuah kotak eksklusif berlogo merek alat kesehatan ternama dunia. "Saya baru saja menyelesaikan pesanan alat bantu pendengar ini langsung dari distributor resminya. Kualitasnya yang terbaik di pasar saat ini."
Gabriel menatap Reno dengan picingan mata tajam.
"Lain kali jangan membuatku mencari."
"Baik, Tuan. Maafkan saya," sesal Reno menunduk dalam.
Gabriel mengambil kotak itu dari tangan Reno, lalu melangkah mendorong pintu kamar Amara secara perlahan.