Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Selamat Datang, Nyonya Vion — Mantanmu Menunggu di Lobi
Sinar matahari pagi September 2026 merayap naik di atas cakrawala kota. Cahaya keemasan menembus dinding kaca setinggi empat meter di lantai empat puluh gedung pusat Konsorsium Vion.
Di ruangan paling mewah itu, Alesha berdiri tegak menghadap jendela raksasa.
Tidak ada lagi gaun pengantin putih bernoda air mata. Tidak ada lagi mahkota mutiara yang ia buang ke dalam tas.
Yang ada kini adalah setelan jas eksekutif charcoal grey berpotongan tegas karya desainer Italia. Celana bahan senada. Sepatu hak tinggi lancip sepuluh sentimeter yang bunyinya bisa membuat lantai marmer bergetar.
Pantulan dirinya di kaca itu bukan lagi wanita rapuh yang menangis di atas kelopak mawar merah.
Itu adalah seorang pemimpin berdarah dingin.
Semalam, di bawah perlindungan mutlak Vion, dokumen pengambilalihan aset Vantec telah ditandatangani. Perusahaan rintisan yang ia bangun dari garasi dengan keringat dan kode-kode yang ia tulis hingga jam tiga pagi, yang sempat dirampas Rian, kini resmi kembali ke tangannya. Sepenuhnya. Tanpa celah.
Tok, tok, tok.
Pintu diketuk tiga kali.
Sekretaris pribadi berpenampilan rapi masuk dengan tablet dan map tebal berlogo V. Wajahnya pucat karena gugup.
"Selamat pagi, Nyonya Vion," sapa sekretaris itu. Panggilan tersebut membuat Alesha sedikit tertegun. Nyonya Vion. "Seluruh dewan direksi Vantec sudah menunggu Anda di ruang rapat lantai dua belas sejak jam tujuh pagi. Mereka... mereka terlihat sangat takut, Nyonya."
Alesha berbalik perlahan, lalu merapikan jasnya.
"Bagus. Biarkan mereka menunggu lima menit lagi," ucap Alesha dingin. Kalimat yang kemarin masih ia dengar dari Vion, kini keluar dari mulutnya sendiri dengan wibawa yang sama. "Seorang pemimpin tidak pernah datang terlambat. Ia datang tepat pada detik di mana semua orang menyadari arti kehadirannya."
Sekretaris itu mengangguk cepat dan mundur dengan kepala tertunduk.
Alesha melirik ke meja kerja marmer putihnya. Di atasnya, sebuah ponsel pintar baru yang Vion berikan semalam terus menyala tanpa henti.
Puluhan panggilan tak terjawab. Pesan teks putus asa. Semua berasal dari satu nama: RIAN MAHARDIKA.
Isinya bukan lagi arogansi seperti kemarin di ballroom.
[Nona Alesha, angkat teleponku, aku mohon... Aku bisa jelaskan semuanya soal Clarissa, ini salah paham...]
[Les, bank memblokir semua rekening Vantec! Investor menarik modal! Kau harus bantu aku, Les! Kita bisa bicara baik-baik!]
[ALESHA! JAWAB! Kau pikir kau bisa seenaknya setelah tidur dengan Vion?! Kau wanita murahan!]
Alesha meraih ponsel itu dengan gerakan lambat. Ia membaca pesan terakhir itu dengan tatapan kosong, tanpa rasa iba sedikit pun, tanpa getar sedikit pun di jarinya. Kemudian, ia menekan tombol blokir. Lalu, ia melempar ponsel itu kembali ke meja dengan bunyi yang keras.
Sampah tidak perlu disimpan di ruang kerja seorang ratu.
Ia melangkah keluar. Koridor panjang berkarpet tebal menyambutnya. Setiap pegawai yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani menatap mata tajamnya. Aroma parfumnya yang mahal meninggalkan jejak wibawa di udara.
Pintu ganda ruang rapat lantai dua belas dibuka oleh dua petugas keamanan bersetelan hitam.
Di dalam, belasan orang duduk dengan wajah pucat pasi. Para direktur senior, manajer pemasaran, kepala keuangan. Orang-orang yang dulu diam saja saat idenya dicuri Rian. Orang-orang yang dulu ikut menertawakan posisinya sebagai pacar numpang hidup di garasi.
Keringat dingin membasahi pelipis mereka. Tidak ada satu pun yang berani menyentuh gelas air di depan mereka.
Alesha berjalan tenang menuju kursi utama di ujung meja. Kursi kulit hitam legam yang dulunya diduduki Rian dengan segala keangkuhannya, dengan kaki disilangkan di atas meja.
Ia tidak langsung duduk. Ia berdiri tegak di belakang kursi itu, menyapu pandangan ke seluruh ruangan satu per satu. Menatap mata mereka.
Sunyi. Mencekam. Pendingin ruangan terdengar berdengung keras.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Alesha. Suaranya tenang, rendah, namun menusuk tulang hingga membuat beberapa manajer tersentak.
Tidak ada yang berani menjawab. Hanya anggukan kaku.
"Saya yakin kalian sudah mendengar berita di lantai bursa pagi ini," lanjut Alesha, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kaca yang dingin. "Mantan direktur utama kalian, Rian Mahardika, saat ini sedang menanggung akibat atas kebusukan finansial yang ia buat sendiri. Saham Vantec anjlok empat puluh persen dalam dua jam. Rekening perusahaan dibekukan OJK karena dugaan penggelapan paten."
Seorang direktur senior keuangan yang sudah tua dan berkacamata mencoba mengangkat wajahnya. Suaranya bergetar hebat.
"N-Nyonya Alesha... kami hanya menjalankan perintah... Kami harap... kami harap Nyonya bisa mengerti posisi kami... kami hanya pegawai..."
"Jangan pernah mencoba mencari pembelaan di hadapanku dengan membawa-bawa status pegawai lama," potong Alesha cepat. Suaranya meninggi, memancarkan otoritas mutlak yang membungkam ruangan itu seketika. Direktur tua itu langsung terdiam dan menunduk dalam.
"Selama lima tahun aku membanting tulang merintis dari bawah, kalian diam saja ketika paten kode sumberku dicuri dan dijual atas nama perusahaan! Kalian adalah orang-orang yang ikut menertawakan posisiku di pantry! Dan kalian adalah pengecut-pengecut yang menjilat kaki Rian ketika ia membuangku di altar kemarin!"
Beberapa manajer wanita mulai gemetar di kursi mereka, menahan isak tangis.
Alesha menarik napas, menegakkan punggungnya kembali dengan elegan. Emosinya kembali terkontrol sempurna dalam satu detik.
"Tetapi... aku bukan pemimpin yang dikendalikan dendam murahan. Perusahaan ini butuh efisiensi, dan aku butuh loyalitas murni, bukan penjilat yang hanya pandai menepuk punggung atasan."
Ia menoleh ke sekretarisnya yang berdiri di sudut.
"Bagikan dokumen restrukturisasi."
Map-map hitam legam berlogo V dibagikan ke setiap tangan yang gemetar. Isinya adalah perombakan total, pemangkasan divisi yang tidak efisien, serta evaluasi besar-besaran dengan masa percobaan tiga puluh hari.
"Mulai hari ini, divisi pemasaran dirombak total. Divisi audit internal lapor langsung kepadaku, bukan kepada direktur keuangan lagi," tegas Alesha. "Semua proyek fiktif yang disetujui Rian bulan lalu saya bekukan. Barang siapa yang bermain-main di belakangku seperti pendahulu kalian, pintu keluar di lantai bawah selalu terbuka untuk mengantar kalian menyusul Rian ke jurang kebangkrutan. Pertemuan selesai."
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pertanyaan.
Alesha berbalik meninggalkan ruang rapat dalam keheningan mutlak. Sepatu hak tingginya beradu dengan lantai marmer. Tok, tok, tok. Bunyi yang kini menjadi lonceng kematian bagi mereka.
Di balik dinding kaca koridor luar, bayangan tinggi tegap berdiri menyandar dengan tangan terlipat di dada.
Vion.
Pria itu menatap Alesha yang berjalan mendekat, dengan senyum tulus penuh kekaguman yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun. Tatapannya tidak lagi dingin seperti semalam, melainkan bangga.
"Bagaimana ratuku memimpin kerajaannya pagi ini?" bisik Vion rendah saat Alesha berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat.
Alesha mendongak, membalas tatapan itu dengan senyum paling mematikan dan memesona yang pernah ia miliki.
"Sempurna, Tuan Vion. Dan permainan ini baru saja dimulai. Mereka lebih pengecut daripada yang kukira."
Vion terkekeh pelan. Ia hendak mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut Alesha yang sedikit berantakan karena ketegangan di ruang rapat.
Namun, langkahnya terhenti.
Karena dari ujung koridor, terdengar suara keributan dari arah lobi bawah yang menggema hingga ke lantai empat puluh melalui interkom darurat yang menyala merah.
"NYONYA VION! ADA SESEORANG MENEROBOS MASUK! DIA MENGAKU MANTAN SUAMI ANDA! DIA MEMBAWA BUNGA DAN BERTERIAK INGIN BERTEMU ANDA! SECURITY TIDAK BISA MENAHANNYA!"
Suara resepsionis itu terdengar panik dan terengah-engah, bercampur dengan suara alarm.
Alesha dan Vion saling menatap. Wajah Alesha yang tadinya penuh kemenangan kini mengeras menjadi es yang lebih dingin daripada marmer di bawah kakinya.
Di layar CCTV besar di koridor, terlihat jelas sosok Rian Mahardika. Jas putihnya yang kemarin gagah kini kusut dan kotor terkena lumpur hujan semalam. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dan penuh keringat. Di tangannya, ia memegang buket mawar merah yang sudah layu dan rontok, buket yang seharusnya diberikan kepada Alesha kemarin di altar.
Dan di belakang Rian, Clarissa Mahardika berdiri dengan wajah merah padam karena malu, mencoba menarik-narik lengan Rian sambil dimaki oleh satpam.
Rian mendongak ke arah kamera CCTV di langit-langit lobi, seolah tahu Alesha sedang melihatnya dari lantai empat puluh. Matanya merah.
"ALESHA! AKU TAHU KAU DI ATAS! TURUN DAN TEMUI AKU! AKU MOHON! JANGAN HANCURKAN AKU! AKU SALAH! AKU MINTA MAAF!"