Malam itu adalah malam gila. Reani melewati garis akal sehat pikirannya dan menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak ia kenal disebuah penginapan karena Reani sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya dan mabuk. Hingga dua bulan kemudian ia menyadari dirinya hamil dan tidak tahu siapa yang bersamanya malam itu. Disaat ia sudah melupakan luka masa lalu dan kembali menyusun hidupnya, seorang pria muncul tepat di saat Reani kehilangan seseorang yang berharga. Terlebih pria itu mengaku sebagai pria yang menghabiskan malam dan sebagai ayah dari putra Reani.
Lantas, benarkah pria itu? kenapa ia muncul ketika Reani sedang berada di dalam duka?
Meski demikian, apa Reani dan anaknya dapat hidup normal tanpa ada masalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeojawriting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Cara Berdamai Yang Aneh
Nampaknya suasana hati Felix sedikit membaik ketika ia sudah menerima genggaman tangan hangat ibunya mengajak pergi bersama. Saat ini Felix sudah berada di bangku belakang mobil yang dikemudikan oleh Dominic. Reani sendiri ada di sebelah pria itu sedang melihat barang-barang yang mereka bawa. Rencananya, Dominic akan mengajak mereka pergi ke taman air di kota Acqua yang mana taman airnya terkenal sangat besar dan menyenangkan.
“Baiklah… kita akan bersenang-senang…” ucap Reani tak akan kalah dalam hal semangat kali ini ketika mobil yang membawanya sudah memasuki area wisata.
“Kolam berenang! Kolam berenang!” seru Felix dari belakang.
“Kenapa kamu terlihat yang paling menikmatinya?” tanya Dominic tak habis pikir.
Reani melirik Dominic dan tersenyum dengan arti ‘kamu ingin merusak suasana gembira ini?’.
Seolah mengerti, Dominic memilih diam saja dan menuruti.
Tiga orang dengan berbeda-beda suasana hati itu langsung masuk melalui gerbang dan melihat keramaian di depan mata mereka. Karena merupakan taman air, lokasi itu tak jauh dari lautan yang berjarak beberapa kilometer dari tempat itu.
“Bahkan mereka memiliki perosotan tinggi.” ucap Reani kagum pada seluruh permainan di dalamnya.
“Jika penyangga itu terlepas, maka seluruh perosotan akan rubuh.” ucap Felix menunjuk salah satu penyangga perosotan disertai dugaan yang cukup mengerikan.
“Haa… pikiranmu cukup ekstrim Felix… tapi lupakan tentang penyangga. Saatnya kamu ganti baju jika ingin bermain.” Ucap Reani menyerahkan tas berisi pakaian ganti Felix ke Dominic.
Dominic terlihat bingung dan menunjuk dirinya sendiri.
“Kamar ganti hanya ada dua jenis… aku tidak mungkin masuk ke dalam kamar ganti pria.” ucap Reani yang menunjuk ke arah kamar ganti. Ia sendiri juga ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian renang agar mudah bergerak.
Reani sebenarnya bisa saja membawa Felix ke kamar ganti wanita, karena ia adalah anak kecil. Tapi Reani ingin hubungan Felix dan Dominic segera membaik, terlebih di lain sisi, Reani tidak tahu apa yang akan Felix celotehkan dengan kapasitas otak yang diluar batas normal itu.
“Jadi… cepatlah ganti pakaian kalian!!” ucap Reani meninggalkan Dominic dan Felix untuk berganti pakaian.
Enaknya Reani mengatakan hal tersebut. Tapi Dominic dan Felix tidak merasa situasi di antara mereka terasa ringan.
Tidak, tidak bisa seperti ini. bagaimanapun juga Dominic harus lebih dulu bergerak.
“Jadi, ayo ganti baju.” ajak Dominic sedikit canggung.
“Hm.” Respon Felix singkat lalu keduanya bersama-sama pergi menuju ruang ganti.
Tak lama bagi Dominic dan Felix mengganti pakaian mereka dengan pakaian renang. Felix hanya menggunakan celana renang pendek berwarna hitam, sementara ayahnya mengenakan celana renang berwarna putih dan baju kemeja lengan pendek berwarna biru yang tidak di kancing, hal itu membuat mata para wanita muda tak bisa lepas dari bentuk proposional tubuh Dominic yang cukup menyegarkan mata.
Bahkan Felix sendiri tak menyangka dengan fisik ayahnya yang membuatnya bingung sekaligus kagum.
Tubuh orang dewasa memang penuh misteri, pikir Felix di usianya yang menginjak 7 tahun itu.
Keduanya sudah berganti baju dan mencari keberadaan Reani di depan kamar ganti. Nampaknya wanita itu belum keluar dari kamar ganti.
Perempuan memang membutuhkan waktu yang sedikit lama dari laki-laki untuk bersiap-siap, pikir ayah-anak itu kompak.
“Bagaimana jika kita menunggu di sana.” tunjuk Dominic pada sebuah bangku yang ada di dekat kamar ganti dan terlihat teduh itu.
Felix mengangguk, karena dari pada berdiri seperti orang bodoh di depan kamar ganti, lebih baik mereka menunggu dengan duduk.
“Apa ayah Dominic masih ingat janji kita?” tanya Felix saat keduanya sudah duduk berteduh di bawah pohon sembari menunggu Reani mengganti baju.
Mungkin mau menuju musim gugur, namun kebiasaan berlibur seperti ini tidak membuat mereka kedinginan karena sudah terbiasa.
“Tentang apa?” tanya Dominic.
“Tentang menjadi seseorang yang berkuasa.”
Ah, Dominic jadi ingat saat Felix jatuh sakit kemarin, ketika putranya itu ingin menjadi seseorang yang kuat dan bisa melindungi ibunya.
“Ayah Dominic, apa itu benci?” tanya Felix secara acak.
Entah mengapa, nampaknya pikiran anak itu seperti mengacak pikirannya lalu bertanya hal-hal yang random pada Dominic.
“Benci? Apa kamu merasakan hal seperti itu?” tanya Dominic heran.
Felix nampak diam dan hanya menunduk menatap permukaan tanah.
“Aku menterjemahkannya dan membaca isi terjemahan itu… tapi ayah Dominic nampak tak menyukainya. Apakah ayah Dominic tidak suka?” tanya Felix mengingat kejadian yang terjadi pagi ini.
Dominic tidak tahu jika Felix bisa sensitif ini.
“Itu hanyalah masa lalu, bukan begitu?” tanya Felix sekali lagi lalu menatap Dominic dengan polosnya.
Mungkin jika orang dewasa yang bertanya, Dominic akan cepat tersulut emosi. Namun yang bertanya saat ini adalah anaknya sendiri, yang mana maksudnya bertanya karena ingin tahu jawabannya dan belum mengerti perasaan Dominic.
“Kamu benar, itu memang masa lalu. Tapi ayah tidak membencimu yang melakukannya. Yang menjadi masalah adalah isi dan keberadaan benda itu.”
“Itu seperti yang ibu jelaskan.” timpal Felix.
“Ya… memang seperti itu adanya.” ucap Dominic.
Angin segar musim gugur yang cukup dingin itu nampaknya tidak membuat kedua ayah-anak itu kedinginan. Situasi entah mengapa menjadi ringan dengan sendirinya.
“Tapi paman Michael sangat bersemangat bersamaku saat menterjemahkannya.” Timpal Felix masih ingat wajah Michael yang senyum-senyum ketika membaca hasil terjemahan surat itu.
“Ahh… ia memang suka usil dan keusilannya itu sangatlah keterlaluan.”
Dibalik sifat Michael yang tenang dan berpikir dewasa itu terdapa sifat usil yang Dominic sendiri tidak tahan melihatnya ketika kambuh.
Ia berniat usil, namun keusilannya itu kadang menjadi sesuatu yang sangat serius.
“Tapi, kenapa ibu lama sekali.” ucap Felix yang tak sabar untuk bermain tapi ia tidak bisa karena harus menunggu ibunya kembali.
Sekali lagi, keduanya kompak mengitari keseluruhan wilayah hingga menemukan satu titik dimana wanita yang mereka cari itu berada.
Tak jauh dari kamar ganti, langkah kaki wanita itu terhenti atau lebih dikatakan dihentikan oleh beberapa pemuda yang mencegatnya.
Tentu saja ekspresi Reani saat itu tidak nyaman, bahkan Felix sendiri menyadarinya.
“Ibu sedang diganggu.” ucap Felix.
Iya, benar. Reani baru saja keluar dari ruang ganti dan ingin mencari keberadaan putranya. Namun wanita yang sudah mengganti pakaiannya dengan celana longgar pendek dan baju kaos itu tidak melihat keberadaan anaknya dimanapun karena keramaian, terlebih saat ia ingin melangkah lebih jauh tiba-tiba saja ia di datangi dua orang pria muda.
“Hei, apa kamu datang sendiri?”
“Maaf… aku harus pergi.” bahkan Reani sendiri tidak ingin berada di situasi seperti ini.
“Kami mengajak beberapa teman kami di sana, apa kamu mau bergabung?” bahkan salah satu pemuda menunjuk keberadaan teman-temannya yang nampaknya masih merupakan mahasiswa.
“Ahh… tidak bisa. Aku harus pergi menemui seseorang.” ucap Reani menolak secara halus.
“Benarkah? kamu membawa teman? Kamu bisa mengajaknya bergabung juga.”
“Ahahaa… aku tidak yakin…” Bagaimana mungkin Reani bisa mengajak Dominic dan Felix ke pesta anak-anak muda seperti itu.
“Ibu!!”
Reani dan dua pemuda itu langsung terkejut ketika mendengar seruan anak kecil dari belakang dua pemuda itu. Reani kaget melihat Felix datang dan berada di dalam gendongan Dominic berjalan menghampirinya.
“Sayang kenapa kamu lama sekali?” tanya Dominic dengan suara yang dihaluskan itu, terdengar sedikit menggelikan di telinga Reani.
Dominic pun menatap dua pemuda yang mengajak Reani dengan tajam, hingga membuat dua orang asing itu terlihat tak nyaman.
“Sayang, apa kamu mengenal mereka?” tanya Dominic dengan nada tak suka.
“Apa? Ah… tidak… mereka hanya datang…” Reani sendiri masing bingung.
“Ah!! Tidak… kami hanya berpas-pasan… kami permisi!!”
Kedua pemuda itu langsung berbalik pergi menuju kelompoknya ketika tahu bahwa Reani sudah menikah dan memiliki anak.
Setelah orang-orang itu pergi, barulah Dominic menurunkan Felix dan menatap Reani bingung.
“Lama sekali… apa sulitnya pergi dari orang-orang tidak jelas seperti itu?” tanya Dominic heran.
“Daripada mereka, kamu juga tak jelas… lagipula aku mencari kalian.” jawab Reani membela dirinya.
“Cih… apa sulitnya memberitahu bahwa sudah memiliki suami dan anak. Jika kamu bilang begitu, mereka sudah pasti pergi.” timpal Dominic heran.
Ya, itu mungkin merupakan pilihan terakhir Reani jika Dominic dan Felix tidak muncul tiba-tiba.
“Ayah Dominic hanya tak bisa menunggu ibu lama-lama.” Bisik Felix masih bisa Dominic dengar.
“Ohhh… begitu… jika ibu mengaku masih lajang, mungkin ibu bermain dengan mereka dan membiarkan Felix bermain dengan ayah Dominic saja ya.” ucap Reani menggoda anaknya.
“Mana mungkin Felix biarkan! Mereka tidak boleh bermain dengan ibu! Hanya Felix yang boleh!”
Baiklah, itu adalah permintaan dari anaknya. Mana mungkin Reani tidak kabulkan.
“Baik… baik… ibu hanya bermain bersamamu. Lagipula, sejak awal memang tidak ada niat untuk bergabung dengan mereka…” ucap Reani yang tangannya sudah Felix tarik untuk maju ke arah kolam renang.
“Nampaknya Felix sedikit cemas ya…” timpal Reani.
“Jika tahu begitu kenapa tidak cepat kamu pergi saja tadi… aku bahkan harus menenangkannya dulu baru bertindak.” sambut Dominic yang kini menjadi tukang bawa barang-barang mereka.
Mendengarnya membuat Reani tertawa karena ia tidak tahu bahwa Felix akan cukup protektif pada dirinya.
Tentu saja demikian, Felix langsung panik begitu saja ketika melihat ibunya diganggu oleh dua pria dewasa. Ingin rasanya Felix berlari dan menyerang kedua orang asing saat ini. Namun dengan cepat Dominic melarang dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik dari pada menyerang secara brutal.
Felix benar-benar tak percaya bahwa hanya dengan pengakuan dan tatapan tajam, Dominic bisa langsung mengusir keberadaan orang-orang itu tanpa mengeluarkan tenaga secara berlebihan. Cara penyelesaian Dominic jelas berbeda dengan apa yang Felix pikirkan.
Karena itu, pengalaman hari ini Felix tersadar akan sesuatu.
Bahwa ia tidak mau kalah dari ayahnya dalam hal melindungi ibunya.
Nampaknya tindakan sepele Dominic membuat api persaingan dalam hati seseorang menyala begitu saja tanpa Dominic sadari.
*
*
*
Karena libur telah usai, semua orang mulai kembali aktifitasnya termasuk Reani dan Felix. Hari ini Reani juga ikut berangkat bersama Felix, mengantar putranya sampai ke sekolah sebelum ia pergi bekerja.
“Baiklah, tidak ada lagi yang kamu lupakan.” ucap Reani sembari memeriksa tas milik Felix.
Namun,s ebelum Felix keluar, ia nampak terdiam menatap depan gerbang sekolahnya.
“Ibu, nampaknya paman itu datang lagi.”
Tentu saja Reani bingung, setahunya paman yang Felix kenal hanyalah orang-orang yang ada di kediaman Dominic dan jelas saja paman Felix yang paling dekat adalah Michael itu sendiri. Reani tidak merasa Felix memiliki paman lain di luar kediaman, hingga saat ia melihat objek paman yang ditunjuk itu, mata Reani membesar dan kaget bahwa ia tidak menyangka Coragiosso yang Felix maksud paman itu.
To Be Continued.