Dilarang untuk yang berusia *. Ini kisah kehidupan ala barat. Jadi bijaklah dalam memilih bacaan sesuai usia... 🙏
Karina Rossa merupakan contoh dari seorang wanita yang sempurna. Dia adalah wanita yang pintar, cakap, pekerja keras, dan penuh ketenangan.... kecuali untuk si tampan dan bos arogannya. Pria itu terus saja mendorongnya melewati batas.
Rossa membenci boss nya itu, dan boss nya juga membalas apa yang dirasakan oleh Rossa itu, atau setidaknya Rossa berpikir bahwa bos nya seperti itu.
"Jika aku ingin secangkir lumpur untuk diminum, aku akan menyeret cangkir ku ke arah taman yang penuh dengan tanah, Nona Rossa." Ucap bos nya itu.
"Anda tahu Pak, jika anda bisa diam sekali saja maka anda pasti akan menjadi sempurna." Ucap Rossa.
Bagaimanakah kisah mereka? Apakah mereka akan bisa bersatu dengan karakter mereka yang begitu berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Orang Kaya
PoV Ryan Abraham
Aku melihat kearah Rossa yang tampak seperti remaja yang ketahuan melakukan sesuatu yang salah.
"Rossa kita harus pergi sekarang." Ucapku dengan kemarahan yang aku rasakan dalam diriku saat aku melihat pria yang mengobrol dengannya itu terus menatap dirinya.
"Ayo kita pergi Pak Ryan." Ucapnya seraya bangun dari posisi duduknya.
Kami lalu hendak berjalan tiba-tiba...
"Kakak." Ucap putra dari Tuan Demian Lucas yang berlari kearah Rossa.
"Kerja bagus Kak. Aku tidak menyangka kakak bisa melakukannya dengan baik. Papa tampak terpukau. Kelihatannya aku perlu untuk membuat langkah maju dengan permainanku." Ucapnya seraya memukul punggung Rossa dengan perlahan.
Aku menatap ke arah mereka dengan bingung.
'Kakak, Papa?'
Rossa menatapku dengan gugup.
"Andrew, aku akan menemui mu di rumah sakit nanti." Ucap Rossa dan aku melihat keringat mengucur deras dari keningnya.
Andrew terlihat tampak kebingungan kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Baik." Ucapnya lalu berjalan ke arah pria yang mengobrol dengan Rossa sebelumnya.
Rossa lalu berbalik menatap ku dan ada ekspresi bersalah di wajahnya.
"Apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi?" Tanyaku kepadanya.
...****************...
PoV Karina Rossa
Aku tertawa dengan canggung saat aku melihat kearah Ryan mencoba memberikan tatapan paling menggemaskan yang bisa kulakukan padanya.
"Itu tidak akan berhasil, dasar wanita nakal." Ucapnya menarik ku dan dia tidak mau bicara kepadaku sampai kami tiba di mobil.
"Katakan sekarang!" Ucapnya dan akupun menelan ludahku.
Aku bahkan tidak tahu kenapa aku malah merasa bersalah.
"Sebenarnya Mama ku menikah lagi dengan Papa tiri ku.... Mmmm.... maksudku Demian Lucas. Jadi Andrew adalah saudaraku dan....."
Aku menghentikan ucapan ku saat Ryan mengangkat tangannya ke udara.
"Siapa pria yang bicara denganmu di mini bar itu?" Ucapnya yang membuatku sedikit terkejut.
"Apakah dia begitu penting?" Ucap ku dengan suaraku yang sedikit gemetar.
"Yang benar saja Rossa?" Ucap Ryan langsung memegang kepalaku.
"Dia mantan kekasihku." Ucapku dengan suara yang perlahan.
Ryan tampak marah lalu melonggarkan dasinya.
"Kau lupa untuk mengatakan kepadaku bahwa kau adalah Nona muda dari keluarga terkaya dari kota x." Ucapnya padaku.
Mobil pun mulai berjalan dan kami bergerak menjauh dari perusahaan itu dengan kemarahan yang ada dalam diri Ryan.
"Kau tidak bertanya." Ucapku kepadanya.
Ryan menghempaskan tangannya di pintu mobil yang membuatku melompat terkejut.
"Tidak bertanya? Ya Tuhan, ini semua merubah banyak hal Rossa." Ucapnya dengan suara yang penuh kekecewaan.
"Bagaimana mungkin ini bisa merubah apapun?" Tanyaku frustrasi dan juga bingung.
"Apa kau bercanda?" Ucapnya melihat ke arahku dengan matanya yang penuh kemarahan.
"Tidak!" Ucap ku bingung dengan apa yang sebenarnya dia bicarakan.
Aku lalu menaruh tanganku dengan lembut di pundaknya.
"Ryan...." Ucapku menariknya mendekat ke arahku lalu mencium keningnya.
Aku melihat sopir yang melirik kearah kami dari kursi depan, tapi aku langsung menatapnya dengan begitu tajam.
Ryan menghela napas menekan kepalanya di dadaku. Akupun menghela nafas lega, nafas yang sudah aku tahan sejak tadi.
"Kenapa ini bisa menjadi masalah yang sangat besar bagimu? Apakah karena aku kaya?" Tanyaku kepadanya dengan suara yang sedikit takut.
"Tentu saja tidak." Ucap Ryan dengan suara yang pelan, di mana dia masih tetap berada di dadaku.
"Apa yang..... MENUNDUK....!" Teriakku seraya mendorong Ryan dengan keras saat sebuah truk besar menghantam ke arah mobil kami.
"Rossa...."
Bersambung....