Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — JAMU PENAWAR UNTUK TANAH
Pagi itu, pukul lima, aku terbangun bukan karena suara bambu terbakar atau bau arang seperti kemarin. Bukan pula karena atap gubuk yang bocor meneteskan air tepat di dekat kepalaku.
Penyebabnya jauh lebih menyengat.
Bau kunyit.
Bau asam jawa.
Dan aroma manis gula aren yang bercampur menjadi satu, memenuhi udara di dalam gubuk sampai-sampai aku merasa sedang kembali ke Paviliun Mawar.
Aku membuka mata perlahan.
Untuk beberapa detik, aku hanya memandangi atap bambu yang kusam. Kemudian ingatanku kembali pada kenyataan bahwa aku tidak sedang berada di kamarku sendiri, apalagi di laboratorium kampus abad ke-21.
Aku masih berada di Kerajaan Langit.
Di sebuah gubuk bocor di perbatasan utara.
Dan tanah sawah di luar sana masih menyimpan masalah yang belum kami selesaikan.
Aku bangkit dari tikar pandan, lalu mengucek mata. Di sebelahku, Segara El-Bhumi masih terlelap dengan posisi miring. Bajunya yang menyerupai pakaian petani sudah beberapa hari belum benar-benar bersih. Wajahnya memang telah dicuci semalam, tetapi noda arang masih tertinggal di ujung hidungnya, membentuk garis hitam tipis yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang gagal membersihkan kumis.
Tangannya juga belum sepenuhnya bersih. Ada noda hitam di sela-sela jarinya akibat memegang arang kemarin.
Aku menahan tawa.
Kaisar yang biasanya membuat seluruh penghuni istana menundukkan kepala itu sekarang bahkan tidak sanggup mengalahkan noda arang di hidungnya sendiri.
Namun, tawaku segera terhenti ketika melihat barang-barang yang memenuhi sudut gubuk.
Di sana tersimpan dua mangkuk benih palsu—satu berisi benih keras yang kami temukan sebelumnya, satu lagi berisi benih baru yang masih lembap. Ada pula buku catatan kulit kambing dengan tanda tangan palsu yang menyeret nama Patih Agung ke dalam penyelidikan kami. Di sampingnya, catatan gambar jejak sepatu berujung runcing dan cincin batu merah menjadi pengingat bahwa orang yang kami cari belum tentu hanya seorang pencuri benih.
Botol kecil dari hutan bambu masih tersimpan bersama bukti lainnya.
Di belakang gubuk, dua setengah karung arang hitam yang kami hasilkan kemarin menunggu untuk digunakan.
Semua benda itu seperti potongan-potongan teka-teki yang belum membentuk gambar utuh.
Dan pagi ini, rupanya kami kedatangan satu potongan baru.
Aku menoleh ke arah pintu.
Di luar, Mbok sedang jongkok di depan tungku kecil yang terbuat dari batu kali. Sebuah panci besar diletakkan di atasnya. Di samping panci terdapat ulekan batu, beberapa kantong kunyit, asam jawa, gula aren, dan sebuah wadah besar berisi air cucian beras.
Mbok datang jauh sebelum matahari terbit.
Entah bagaimana, perempuan itu selalu berhasil menemukan cara untuk muncul di tempat yang tidak terduga, lengkap dengan barang-barang yang menurutnya pasti kami butuhkan.
“Gusti Permaisuri, sudah bangun?” sapanya ketika melihatku muncul di pintu. Suaranya sengaja dipelankan. “Bagus, Gusti. Mari ke sini. Saya membawa sesuatu untuk membantu tanah sawah kita.”
Aku mengerutkan kening.
“Untuk tanah sawah?”
Mbok mengangguk mantap.
“Jamu penawar untuk tanah, Gusti.”
Aku terdiam.
Bukan karena tidak memahami perkataannya, melainkan karena aku sedang berusaha menerima kenyataan bahwa seseorang baru saja membawa resep jamu dari dapur istana untuk menangani tanah yang diduga tercemar serbuk teratai hitam.
Aku melangkah keluar, lalu duduk berjongkok di sampingnya.
“Mbok, sejak kapan tanah bisa diberi jamu?”
“Sejak tanahnya sakit, Gusti.”
Jawabannya begitu cepat sampai aku kehilangan kesempatan untuk membalas.
Mbok mengambil sepotong kunyit, lalu mulai menguleknya. Batu bertemu batu, menghasilkan bunyi berulang yang memenuhi pagi.
“Kalau manusia sakit, kita berusaha merawatnya. Kalau tanah yang memberi makan manusia ikut sakit, masa kita biarkan saja?” katanya. “Petani di sini hidup dari sawah. Kalau tanahnya rusak, mereka kehilangan makanan. Kalau mereka kehilangan makanan, keluarga mereka ikut susah.”
Kali ini, aku tidak langsung menjawab.
Di balik cara bicaranya yang sederhana, Mbok menyimpan pemahaman yang tidak bisa kuanggap remeh. Ia mungkin tidak mengenal istilah pencemaran tanah atau pemulihan lahan, tetapi ia mengerti bahwa tanah bukan sekadar lumpur yang diinjak petani.
Tanah adalah sumber kehidupan mereka.
“Lalu, apa saja yang Mbok campurkan?” tanyaku.
“Kunyit, asam jawa, gula aren, dan air cucian beras.” Mbok menunjuk satu per satu bahan di sampingnya. “Kunyit untuk ramuan tradisional, asam jawa supaya rasanya tidak terlalu menyengat, gula aren sebagai campuran, dan air cucian beras yang biasa dipakai orang desa untuk menyiram tanaman.”
Aku memperhatikan cairan kuning yang mulai terbentuk di dalam ulekan.
“Mbok yakin ramuan ini bisa menghilangkan racun di tanah?”
Gerakan tangannya melambat.
“Kalau Gusti bertanya apakah saya yakin tanah itu langsung bersih, saya tidak berani menjawab begitu.” Ia menatapku. “Saya hanya ingin mencoba sesuatu yang biasa dipakai orang desa untuk merawat tanaman. Kalau tidak berhasil, kita harus mencari cara lain.”
Aku terdiam sesaat, kemudian mengangguk.
Setidaknya, Mbok tidak menganggap ramuannya sebagai keajaiban.
Di abad ke-21, aku pernah mempelajari berbagai persoalan lingkungan dalam kaitannya dengan sejarah pertanian dan kehidupan masyarakat. Aku tahu bahwa penanganan tanah tercemar tidak bisa ditentukan hanya dari perubahan warna atau bau. Apalagi kami belum mengetahui secara pasti kandungan serbuk teratai hitam yang mencemari benih palsu itu.
Arang yang kami buat kemarin pun belum membuktikan bahwa tanah sudah aman.
Begitu pula ramuan Mbok.
Namun, jika kami hendak mencoba perawatan tradisional untuk membantu tanah dan tanaman, kami tetap harus berhati-hati. Kami tidak boleh langsung menaburkan benih pangan ke lahan yang belum jelas kondisinya.
“Baiklah, Mbok,” kataku. “Kita boleh mencoba, tetapi kita tetap harus mengamati hasilnya. Jangan sampai petani mengira tanah itu sudah aman hanya karena warnanya berubah.”
Mbok mengangguk meskipun wajahnya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya memahami semua istilahku.
“Yang penting, kita tidak gegabah, Gusti.”
Aku tersenyum tipis.
“Betul.”
Kami melanjutkan pekerjaan. Aku membantu menghaluskan kunyit, sementara Mbok menyiapkan asam jawa dan gula aren. Sesekali ia mengomel karena aku dianggap terlalu pelan menggerakkan ulekan.
Menurutnya, kalau tanganku terus bergerak seperti itu, ramuan baru selesai ketika matahari sudah tenggelam.
Aku tidak membantah.
Setelah beberapa jam berada di samping tungku, telapak tanganku mulai menguning. Aroma kunyit melekat di jari-jariku, sedangkan uap dari panci membuat wajahku terasa hangat.
Sekitar pukul tujuh, terdengar suara gerakan dari dalam gubuk.
Segara akhirnya bangun.
Ia muncul di ambang pintu dengan rambut berantakan dan mata yang masih menyimpan sisa kantuk. Tatapannya berpindah dari aku ke Mbok, kemudian berhenti pada panci besar di atas tungku.
“Apa yang kalian lakukan sejak pagi?”
“Membuat jamu, Gusti,” jawab Mbok.
Segara mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Ia mendekati panci, mengendus aromanya, lalu mengambil cangkir bambu yang terletak di dekat tungku.
“Baunya seperti jamu kunyit asam.”
“Memang, Gusti,” jawabku.
Segara menuangkan sedikit cairan ke dalam cangkir. Ia baru saja hendak mengangkatnya ketika Mbok menepuk punggung tangannya.
“Jangan diminum!”
Segara membeku.
Aku buru-buru menutup mulut, berusaha menahan tawa ketika melihat ekspresinya.
“Kenapa?” tanyanya datar.
“Itu jamu untuk tanah, Gusti! Bukan untuk manusia!”
Segara menatap cangkir di tangannya, kemudian memandang panci.
“Jadi, kalian membuat jamu yang tidak boleh diminum?”
“Bukan begitu, Gusti,” sahut Mbok. “Ramuan ini memang bukan untuk diminum. Saya membawanya untuk dicoba pada tanah sawah yang bermasalah.”
Segara menurunkan cangkir perlahan.
“Aku baru bangun tidur dan sudah harus menerima kenyataan bahwa tanah di wilayah kekuasaanku mendapat jamu sebelum aku sendiri sempat sarapan.”
Aku tidak bisa menahan tawa lagi.
Segara menoleh kepadaku.
“Ada yang lucu, Kahiyang?”
“Tidak, Gusti.”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Aku menunduk, pura-pura sibuk membersihkan kunyit yang menempel di tanganku.
“Kalau Gusti ingin minum sesuatu, Mbok masih bisa menyiapkan teh.”
“Teh yang tidak asin?”
Pertanyaan itu membuatku langsung teringat pada kejadian sebelumnya ketika aku mencoba membuat minuman dengan takaran yang berantakan.
“Gusti masih mengingatnya?”
“Sayangnya, iya.”
Mbok menghela napas panjang.
“Sudahlah, Gusti. Daripada mengingat teh gagal, lebih baik bantu kami membawa panci ini nanti.”
Segara menatap Mbok beberapa saat.
Kemudian, tanpa membantah, ia meletakkan cangkir bambu dan menggulung lengan bajunya.
Aku memperhatikan gerakannya dengan heran.
Seorang kaisar yang biasanya memerintah orang lain kini bersedia membantu mengangkat panci jamu di depan gubuk bocor.
Barangkali keadaan memang memiliki caranya sendiri untuk mengubah kebiasaan seseorang. Bukan dengan membuatnya menjadi orang yang berbeda dalam semalam, melainkan dengan memaksanya menghadapi pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Pukul sembilan pagi, ramuan itu selesai disiapkan.
Cairannya berwarna kuning kecokelatan. Aroma kunyit dan asam jawa cukup kuat, tetapi tidak sampai menghapus bau tanah basah yang terbawa angin dari sawah.
Kami mengangkat panci tersebut bersama-sama menuju petak kedua.
Jalan menuju sawah masih licin. Aku harus berhati-hati melangkah karena sandal yang kupakai beberapa kali hampir terlepas akibat lumpur. Segara berjalan di depan sambil membawa sebagian perlengkapan, sedangkan Mbok mengikuti dari belakang dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada kami berdua.
Begitu tiba, kami kembali dihadapkan pada pemandangan yang membuat perutku terasa tidak nyaman.
Petak kedua berukuran sekitar dua kali dua meter itu masih tampak jauh lebih gelap daripada tanah di sekitarnya. Benih-benih palsu yang ditemukan kemarin tergeletak di permukaan lumpur. Di beberapa bagian terlihat cairan gelap yang membuat permukaan tanah tampak seperti terkena tinta.
Bau logam yang mengganggu masih tercium.
Aku berjongkok di tepi petak, tetapi tidak langsung menyentuh lumpurnya.
“Jangan menginjak bagian yang belum kita periksa sembarangan,” kataku. “Kita juga jangan menyentuh cairan itu dengan tangan telanjang.”
Segara menoleh.
“Bahkan setelah kita membawa ramuan ini?”
“Justru karena kita belum tahu apa yang terkandung di dalamnya, Gusti. Kita tidak boleh menganggapnya aman.”
Mbok mengangguk, lalu mengeluarkan kain yang bisa digunakan untuk membantu pekerjaan tanpa harus terlalu banyak menyentuh lumpur.
Kami memulai dengan menuangkan ramuan dalam jumlah terbatas ke sebagian kecil petak, bukan langsung menghabiskan semuanya. Aku ingin melihat bagaimana cairan itu bereaksi terhadap tanah. Tidak ada alat pengukur yang memadai, tetapi setidaknya kami bisa membandingkan bagian yang diberi ramuan dengan bagian lain yang belum disentuh.
Cairan kuning kecokelatan mengalir perlahan di atas permukaan lumpur.
Warna kuningnya bercampur dengan hitam, membentuk lapisan cokelat gelap yang tampak berbeda dari sebelumnya. Aroma kunyit semakin terasa, sementara bau logam masih muncul sesekali ketika lumpur terganggu.
Aku memperhatikan perubahan itu dengan saksama.
Warna berubah.
Bau juga terasa berbeda.
Namun, dua hal itu belum cukup untuk membuktikan bahwa racun sudah hilang.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Segara.
“Untuk saat ini, kita baru tahu ramuan ini mengubah penampilan dan aroma permukaan tanah. Kita belum tahu apakah kandungan berbahayanya berkurang.”
Segara memandang petak tersebut.
“Berarti pekerjaan kita belum selesai.”
“Belum, Gusti.”
Ia mengangguk tanpa berusaha membantah.
Mbok kemudian membantu menaburkan arang hitam di atas bagian yang telah diberi ramuan. Arang itu menyebar tidak merata, membentuk lapisan gelap di atas tanah. Sebagian arang menyerap cairan, sedangkan sebagian lainnya bercampur dengan lumpur ketika kami meratakan permukaannya menggunakan alat sederhana.
Kami tidak langsung mengaduk seluruh petak dengan kaki telanjang seperti yang semula disarankan Mbok. Setelah mempertimbangkan bahwa tanah itu mungkin masih mengandung bahan berbahaya, aku memilih menggunakan batang kayu dan alat pengaduk yang tersedia agar kontak langsung dengan lumpur bisa dikurangi.
Mbok sempat mengerutkan kening.
“Kalau tidak diinjak, bagaimana ramuan ini bisa masuk ke tanah, Gusti?”
“Kita coba cara yang lebih hati-hati dulu, Mbok. Kita tidak tahu apakah mengaduknya terlalu dalam justru akan menyebarkan bahan yang berbahaya ke bagian tanah lain.”
Mbok menatapku beberapa saat, kemudian mengangguk.
“Baiklah, Gusti. Asalkan kita tetap berusaha.”
Segara mengambil satu batang kayu yang ujungnya bercabang. Ia mulai mengaduk bagian yang telah diberi ramuan, perlahan dan tidak terlalu dalam. Aku membantu dari sisi lain, sedangkan Mbok meratakan arang yang tersisa.
Pekerjaan itu tetap melelahkan.
Punggungku terasa pegal karena harus terus membungkuk. Tangan yang sejak pagi terkena kunyit mulai terasa lengket. Sesekali, angin membawa aroma campuran ramuan dan lumpur yang membuatku ingin menjauh sebentar.
Namun, tidak seorang pun meninggalkan pekerjaan.
Menjelang tengah hari, kami berhenti untuk makan.
Mbok mengeluarkan rantang berisi nasi, tempe, dan sambal terasi. Kami duduk di pematang dengan jarak beberapa langkah dari petak yang sedang ditangani. Segara masih mengenakan pakaian petaninya yang kusam, tetapi kali ini ia setidaknya mencuci tangannya sebelum menyentuh makanan.
Aku meliriknya ketika ia menyuapkan nasi.
“Bagaimana, Gusti? Jamu tanahnya lebih menarik daripada makanan Mbok?”
Segara mengangkat pandangan.
“Kalau makanan ini membuatku harus berdiri di lumpur selama enam jam, aku akan mempertimbangkan untuk kembali ke istana.”
Mbok langsung menyahut, “Kalau Gusti kembali ke istana sekarang, siapa yang membantu kami mengaduk tanah?”
Segara terdiam.
Aku menahan senyum di balik rantangku.
Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di perbatasan, pekerjaan berat ini diselingi percakapan yang tidak selalu berakhir dengan perintah atau tatapan dingin. Meski demikian, aku tahu hal itu tidak berarti Segara telah berubah sepenuhnya.
Di balik sikapnya yang sesekali melunak, masih ada seorang kaisar yang menyimpan banyak rahasia.
Dan aku belum tahu seberapa jauh ia bersedia membiarkanku masuk ke dalam kehidupannya.
Setelah makan, kami kembali bekerja.
Matahari bergerak perlahan melewati puncak pepohonan. Kami menghabiskan waktu untuk meratakan arang, mengaduk bagian tanah yang telah diberi ramuan, dan memastikan cairan tidak mengalir keluar menuju petak lain. Beberapa kali aku meminta Segara berhenti agar kami dapat mengamati perubahan yang terjadi.
Menjelang pukul tiga sore, pekerjaan hari itu akhirnya kami hentikan.
Petak kedua memang tampak berbeda. Sebagian permukaannya tidak lagi menunjukkan warna hitam pekat yang sama seperti pagi tadi. Aroma kunyit dan asam jawa masih tertinggal, sementara bau logam terasa lebih samar di beberapa bagian.
Namun, aku tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa tanah itu telah pulih.
Aku berjongkok di pematang dan mengambil sedikit tanah dari bagian yang sudah kami tangani menggunakan sepotong kayu.
“Menurut kalian, apakah tanah ini sudah aman untuk ditanami?” tanyaku.
Mbok mengamati permukaannya.
“Kelihatannya lebih baik, Gusti.”
“Kelihatannya,” ulangku pelan. “Itu belum cukup.”
Segara berdiri di sampingku, menatap tanah yang terbentang di hadapan kami.
“Jadi, kita belum boleh menggunakan benih asli dari lumbung?”
“Belum. Kita perlu mengamati tanah ini lebih lama dan mencari cara untuk memastikan apakah masih ada bahan berbahaya. Kita juga harus melihat apakah tanaman yang tumbuh nantinya menunjukkan tanda-tanda kerusakan.”
Segara tidak langsung menjawab.
Angin sore menyapu pematang, membawa aroma tanah basah yang kini bercampur dengan kunyit.
“Kalau begitu, kita tunggu,” katanya akhirnya. “Aku tidak ingin petani di desa ini kembali memakan hasil panen yang membahayakan mereka.”
Aku menoleh kepadanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aku tahu keputusan tersebut berarti menunda sesuatu yang sangat dibutuhkan penduduk desa. Mereka membutuhkan lahan yang bisa ditanami, benih yang layak, dan kepastian bahwa hasil panen mereka tidak akan membuat keluarga mereka jatuh sakit.
Menunggu bukan pilihan yang mudah.
Namun, memaksakan hasil yang belum pasti jauh lebih berbahaya.
“Terima kasih, Gusti,” kata Mbok lirih.
Segara hanya mengangguk, lalu berbalik untuk membantu membawa peralatan kembali ke gubuk.
Aku mengikuti mereka sambil memikirkan petak kedua.
Ramuan Mbok mungkin tidak mampu menetralkan serbuk teratai hitam. Arang yang kami buat pun belum tentu menyelesaikan masalah. Akan tetapi, hari ini kami telah melakukan sesuatu yang berbeda: kami mencoba, mengamati, dan tidak langsung menganggap perubahan yang terlihat sebagai tanda keberhasilan mutlak.
Di tengah keterbatasan pengetahuan dan peralatan, sikap berhati-hati itu menjadi satu-satunya pegangan yang bisa kami pertahankan.
Ketika kami tiba di gubuk, aku segera memeriksa kembali barang bukti.
Dua mangkuk benih palsu masih berada di tempatnya. Buku catatan kulit kambing dengan tanda tangan palsu Patih Agung juga tidak berpindah. Botol kecil dari hutan bambu tetap tersimpan bersama catatan mengenai jejak sepatu dan cincin batu merah.
Aku menghitung sisa arang.
Dari dua setengah karung yang kami miliki, dua karung telah digunakan untuk menangani petak kedua. Setengah karung masih tersisa untuk pekerjaan berikutnya.
Jumlah itu tidak banyak, tetapi setidaknya kami tidak menghabiskan seluruh persediaan.
Mbok membersihkan panci yang kini hanya menyisakan aroma kunyit asam. Sementara itu, Segara duduk di dekat pintu, memperhatikan langit yang perlahan berubah jingga.
“Kahiyang,” panggilnya.
Aku menoleh.
“Besok kita kembali memeriksa petak kedua. Setelah itu, kita cari tahu apakah ada cara yang lebih meyakinkan untuk memastikan tanahnya aman.”
Aku mengangguk.
“Dan kita masih harus mencari pemilik cincin batu merah itu.”
Tatapan Segara berubah serius.
“Benar. Orang itu belum selesai dengan kita.”
Suasana yang semula tenang mendadak terasa lebih berat.
Di luar sana, seseorang telah membawa benih palsu ke desa ini, menyebarkan bahan berbahaya, dan mengancam keluarga seorang tabib agar penduduk tetap bungkam. Orang itu mengetahui cara menyusup tanpa meninggalkan banyak jejak, serta memiliki keberanian untuk menantang kekuasaan istana.
Aku memandang buku catatan kulit kambing di sudut ruangan.
Tanda tangan palsu Patih Agung.
Jejak sepatu berujung runcing.
Cincin batu merah.
Semua bukti itu belum menjawab pertanyaan terpenting: siapa yang sebenarnya mengatur semuanya?
Malam turun perlahan.
Setelah makan, aku duduk di atas tikar pandan sambil membersihkan sisa kunyit dari jari-jariku. Noda kuning itu tidak mudah hilang. Aku menggosoknya beberapa kali, tetapi sebagian masih tertinggal di sela kuku.
Segara memperhatikanku dari seberang tikar.
“Masih mencoba membersihkan tanganmu?”
“Kalau tidak dibersihkan, besok tangan saya akan terlihat seperti kunyit berjalan, Gusti.”
Ia memandang tangannya sendiri yang masih menyisakan noda arang.
“Setidaknya kau tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari cerobong asap.”
Aku menatap ujung hidungnya.
“Gusti juga belum berhasil membersihkan semuanya.”
Segara mengusap hidungnya secara refleks.
Aku segera memalingkan wajah, menahan tawa.
“Sudah bersih,” kataku cepat.
“Bohong.”
“Sedikit saja, Gusti.”
Ia menghela napas, tetapi kali ini tidak menegurku.
Beberapa saat kemudian, kami bersiap tidur. Atap gubuk masih bocor, udara malam terasa lembap, dan bau arang dari belakang bangunan belum sepenuhnya hilang. Di antara kami, jarak satu jengkal masih terjaga seperti malam-malam sebelumnya.
Segara berbaring dengan satu tangan di bawah kepalanya.
“Kahiyang.”
“Ya, Gusti?”
“Kalau manusia sakit, kita merawatnya. Kalau tanah sakit, kita juga berusaha merawatnya.” Ia berhenti sejenak. “Tapi bagaimana kalau yang membuatnya sakit justru manusia?”
Aku menatap atap bambu di atas kami.
“Kalau begitu, kita harus mencari siapa yang melakukannya dan menghentikannya agar tidak merusak lebih banyak kehidupan.”
Tidak ada jawaban setelah itu.
Hanya suara serangga malam dan tetesan air dari atap yang bocor.
Aku memejamkan mata, tetapi pikiranku masih tertuju pada petak kedua. Perubahan warna tanah sore tadi belum membuktikan bahwa pencemaran telah hilang. Besok, kami harus memeriksanya kembali dan mencari jalan agar penduduk desa tidak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Di sudut gubuk, barang-barang bukti menunggu untuk mengungkap rahasianya.
Lalu, tepat ketika kesadaranku mulai tenggelam dalam kantuk, suara yang kukenal terdengar di dalam kepala.
[DING!]
[MISI BAB 32 SELESAI: JAMU PENAWAR UNTUK TANAH]
[HASIL MISI: PERAWATAN AWAL PETAK KEDUA TELAH DILAKUKAN.]
[HADIAH: RESEP RAMUAN TANAH TRADISIONAL VERSI MBOK.]
[PERINGATAN: PERUBAHAN WARNA DAN BAU TIDAK MEMBUKTIKAN BAHWA TANAH TELAH BEBAS DARI BAHAN BERBAHAYA. PEMERIKSAAN LANJUTAN DIPERLUKAN SEBELUM LAHAN DIGUNAKAN UNTUK MENANAM PANGAN.]
Aku mengembuskan napas pelan.
Setidaknya, Sistem kali ini tidak menyuruhku merayakan keberhasilan yang belum benar-benar kami capai.
Petak kedua sudah mendapatkan perawatan awal. Akan tetapi, masalah tanah di perbatasan belum selesai, dan orang yang menyebarkan benih palsu masih berkeliaran.
Besok, kami harus kembali bekerja.
Dan kali ini, ada satu hal lain yang tidak boleh kami lupakan.
Kotak kayu cendana berisi mahkota emas yang kami bawa dari lumbung masih menyimpan sesuatu yang belum sempat kami periksa dengan saksama.
Sesuatu yang mungkin menghubungkan semua bukti ini dengan rahasia yang lebih besar.
Bersambung...