karya ini mengandung cerita luar, dan murni imajinasi author sendiri, jadi bijaklah dalam membaca . 👇
Almeta Annora dan Aric Marson Edbert adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. hubungan mereka sudah lama berjalan dan selalu terlihat baik baik saja, namun sebuah kejadian membuat hubungan mereka hancur. Aric memutuskan Annora dan mencoba menjauh dari Annora, sedangkan Annora sendiri selalu berusaha ingin bertemu dengan Aric, karena ingin menjelaskan kejadian yang diapun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan membuat jalina kasih mereka harus terputus. hingga sampai dimana sebuah kebenaran datang kepada mereka.
apakah yang terjadi? ayo ikuti kisah mereka😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liyahv07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Tugas Simpanan
kucuran air dingin membasahi tubuh tegap Aric. Memijat pangkal hidungnya dengan pelan merasakan kepalanya yang berdenyut apalagi pusat intinya yang lebih berdenyut sakit akibat ulah Annora yang memancingnya, dan kini dia malah tidur tanpa memikirkan koneksi dari perbuatannya.
Setengah jam yang lalu Annora terus menggoda Aric bahkan Annora dengan berani memegang milik Aric saat mereka berdua tengah saling mencerup bibir masing-masing. Namun, tak lama kemudian Annora jatuh tertidur meninggalkan Aric yang sudah terlanjur di penuhi gairah dan mengakibatkan dirinya kini basah kuyup di bawah air yang mengalir dari shower. Mungkin, Aric bisa saja melampiaskan rasa inginya itu dengan menyentuh Annora yang sedang tertidur. Namun, Aric bukanlah pria brengsek yang akan melakukan hal semacam itu.
Kini Aric sudah keluar dari kamar mandi dan segera masuk kedalam ruang ganti untuk memakai bajunya. Setelahnya dia kembali ke tempat tidur dimana Annora kini telah tertidur dengan nyenyak sehingga tubuhnya meringkuk.
Aric mendekat secara perlahan menarik selimut hingga sepundak Annora yang terbuka, dan setelahnya dia hanya diam terus memandangi wajah Annora yang sedikit sembab. Dia tadi tidak begitu memerhatikan wajah Annora, hingga kini dapat di lihatnya bahwa Annora sepertinya habis menangis.
"Aku ingin memilikimu dengan cara melukaimu lebih dulu Annora." guman Aric, lalu setelahnya dia merebahkan dirinya dan masuk kedalam selimut yang sama, menarik tubuh Annora, mendekapnya penuh kehangatan.
"Selamat tidur," ucapnya mencium kening Annora.
******
Annora kembali bekerja ke toko buku dan disana dia hanya termenung membuat teman temannya yang melihat jadi saling melirik seakan bertanya-tanya ada apa dengan Annora.
"Annora, apa kau baik baik saja?" tanya teman laki lakinya sembari meletakan buku di rak lemari buku.
"Ya, aku baik baik aja Ar." jawab Annora kepada teman laki-lakinya yang bernama Aran.
"Tapi wajahmu kusut sekali." tunjuk Aran kepada wajah Annora.
"Aku hanya kelelahan, kau tahu sendiri kan, dari sini aku harus bekerja di hotel." ucap Annora menghela napasnya dengan kasar.
"Ya, aku tahu Annora. Jangan terlalu lelah dan makanlah tepat waktu! Kau terlihat semakin kurus." ucap Aran membuat Annora mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Setelah itu Annora berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah buku untuk memastikan bahwa buku buku terlihat rapi.
Setelah seharian di toko buku, pada sore harinya Annora pulang dan seperti biasa dia akan langsung ke hotel untuk mengerjakan pekerjaan keduanya. Disana dia sudah bertemu dengan teman temannya dan mengerjakan tugasnya dengan baik. Hingga pukul sepuluh malam Annora keluar dari gedung hotel .
Ketika dirinya hendak mencari taxi, mobil yang sangat di kendalanya tiba-tiba berhenti di depannya, dan tanpa menunggu perintah Annora masuk kedalam mobil itu mendudukkan dirinya di samping kursi kemudi. Setelah mengenakan sabuk pengaman Annora memandang keluar dan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.
"Cape?" tanya Aric menoleh ke arah Annora yang sedari tadi terus terdiam. Bahkan, Annora sebenarnya mendiaminya sedari pagi.
"Tidak, hanya mengantuk." jawab Annora dan memejamkan matanya, membuat Aric kembali terdiam dan fokus mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di apartemen mereka berdua masuk. Annora langsung menuju dapur dan mengeluarkan bahan bahan masakan dari dalam lemari es, sedangkan Aric mendudukkan dirinya di sofa dan sesekali memerhatikan pergerakan Annora hingga tak lama dia menghampiri Annora.
"Kau belum makan?" tanya Aric, membuat Annora menoleh ke arahnya.
"Belum." jawab Annora. Tangannya mencuci brokoli lalu setelah bersih memasukkan kedalam air yang sudah mendidih.
"Bukankah di hotel selalu menyediakan makanan untuk pelayan, kenapa kau tidak makan?" tanya Aric lagi.
Annora terdiam dan sedikit mengela napas. "Aku sengaja tidak makan, karena aku ingin makan masakanku sendiri." jawab Annora berbohong. Karena kebenarannya tadi dia tidak sempat makan karena terus melakukan perintah dari pelayan senior yang sangat tidak menyukainya.
"Kalau begitu masak sedikit banyak, karena aku juga belum makan." ucap Aric menyandarkan tubuhnya di kabinet dan memandangi wajah Annora yang kini fokus memasak setelah menganggukan kepalanya.
Saat memandangi wajah Annora Aric selalu teringat masalalu mereka berdua. Betapa bahagianya dulu mereka. Saling mencintai dan mempercayai hingga adanya kejadian itu semuanya benar-benar hanya menjadi kenangan. Namun, saat ini Aric ingin itu kembali terulang, tapi dengan dirinya membuat Annora merasakan sakit yang dirasakan dirinya telebih dahulu.
"Annora." panggil Aric. Dia lebih mendekat kepada Annora dan kini memeluk pinggang Annora dari arah belakang yang mana membuat Annora kaget.
"Aric aku sedang memasak." ucap Annora.
"Tidak apa apa, lanjutkan saja!" perintah Aric. Sedangkan dirinya kini masih memeluk Annora bahkan meletakkan dagunya di pundak Annora dan sesekali menciumnya.
"Apa kau tidak gerah di depan kompor menggunkan ini?" tanya Aric, dan dengan perlahan dia membuka cardigan yang di kenakan Annora, hingga kini Annora hanya mengenakan tanktop.
"Aric kalau begini aku malah kedinginan." ucap Annora merasa risih dengan penampilannya sekarang, apalagi Aric terus memeluknya bahkan kini Annora merasakan bibir Aric terus menciumi leher dan pundaknya yang terbuka, hingga membuat napasnya tak menentu.
"A-arichh, lepas!" ucap Annora mendorong kepala Aric dari lehernya.
"Lanjutkan saja memasaknya! Aku akan diam." ucap Aric dia menghentikan ciumannya namun tidak dengan pelukannya.
Sedangakan Annora kembali melanjutkan masaknya walaupun sedikit kerepotan karena Aric terus menempeli dirinya hingga maskan yang di buatnya selesai, dan kini mereka berdua sudah duduk di kursi meja makan dan memakan masakan yang telah di masak Annora.
Mata Aric sedari tadi tak bisa lepas dari Annora. Apalagi Annora hanya mengenakan tanktop hingga belahan dada Annora yang membusung terlihat, membuat dirinya merasakan hasrat kelelakiannya. Sedangkan Annora memakan makannya dengan diam tanpa melihat Aric hingga kini makanan itu habis, dan saat hendak berdiri ucapan Aric membuatnya tertegun.
"Kau tahu tugas seorang simpanan yang sebenarnya itu seperti apakan Annora. Mereka bisa memuaskan orang yang menyimpannya!" ucap Aric.
"Annora menoleh kepada Aric dan menatap mata pria yang masih sangat dicintainya.
"Apa kau mau melakukan itu dengan wanita bekas sepertiku?" tanya Annora. Namun, di dalam hatinya terdapat gumpalan rasa sakit yang sedang menusuk nusuk detak dadanya.
"Kau hanya simpanan kenapa aku tidak mau" jawab Aric. "Lagipula aku hanya butuh kenikmatan bukan cinta," ucapnya lagi. " Jadi berikan itu untuku," lanjutnya.
Annora mantap mata Aric yang juga sedang menatapnya. Dia ingin menangis, namun menahanya tidak ingin terlihat lemah. Karena memang benar dirinya sekarang hanya simpanan yang akan selalu dekat dengan Aric walaupun itu hanya semantara.
"Aku akan memberikan itu semua untukmu Aric. Aku akan menjadi pemuas napsumu. Tapi, nanti stelah aku siapa. Aku butuh persiapan dan stelah aku siap aku sendiri yang akan mendatangi dirimu dan memberikan tubuhku." ucap Annora.
Aric tertegun saat mendengar ucapan Annora, hingga kini matanya bergulir melihat kedua mata Annora yang terlihat berembun.
"Aku sangat menunggunya." ucap Aric.
"Terimakasih." ucap Annora dan setelah itu dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur untuk mencuci piring dan peralatan masak. Sedangakan matanya sudah berair, menjatuhkan air matanya yang sudah tak bisa lagi di tahannya.
Bersambung......
lebih greget, lebih nyebelin aricnya 🤣