`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7_Permainan Baru Sang Tiran
BAB 7_Permainan Baru Sang Tiran
Malam baru saja jatuh menyelimuti area perumahan elit di kawasan Selatan Jakarta. Di dalam kamar bernuansa minimalis modern seluas penthouse milik Teo Ozawa, lampu utama dibiarkan mati total. Hanya ada pantulan cahaya biru yang dingin dari layar televisi berukuran 85 inci di dinding utama, menampilkan deretan gambar serta rekaman dari kamera pengawas internal Ozawa School.
Teo berdiri mematung di tengah ruangan dengan segelas air dingin di tangan kanannya. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, dengan dua kancing atas yang sengaja dibuka.
Layar besar di hadapannya memutar ulang foto-foto serta potongan gambar tanpa suara dari sudut perpustakaan sore tadi. Gambar-gambar yang dikirimkan oleh siswi suruhannya terpampang begitu jelas dan tajam: 'Alia' sedang duduk berhadapan dengan Gavin Adhitama. Jarak mereka begitu dekat, terpisah hanya oleh lebar meja kayu perpustakaan.
Terlihat jelas bagaimana Gavin memajukan tubuhnya, menatap Alia dengan pandangan intens—seseorang yang penuh perhatian—yang tidak pernah laki-laki itu tunjukkan pada siswi mana pun di sekolah.
Lebih dari itu, Alia—gadis yang biasanya gemetar, menundukkan kepala, dan menangis hanya dengan mendengar gema langkah kaki Teo—tampak sangat tenang. Wajahnya begitu tegas, bahkan mengukir senyuman tipis yang sarat misteri saat berbicara dengan Ketua OSIS itu. Tidak ada sisa-sisa kepanikan. Tidak ada kelemahan.
`PRANG!`
Gelas kristal di tangan Teo terhempas keras ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. Air dingin dan pecahan kaca yang tajam berserakan di mana-mana, membentur kaki telanjangnya. Namun, Teo bahkan tidak berkedip serambut pun.
Rahangnya mengeras hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menegang hebat. Napasnya memburu kasar, naik-turun menahan denyut di dadanya.
Ada rasa panas yang membakar dan meletup-letup di dalam nadinya—sebuah adonan emosi beracun antara amarah yang memuncak, ego narsisistik yang terluka, dan cemburu liar yang tidak sanggup ia terima apalagi kendalikan. Teo membenci kenyataan bahwa mata jernih yang dulu selalu menatapnya dengan pemujaan serba takut, kini justru menatap Gavin dengan ketenangan yang begitu memikat.
Lebih dari itu, Teo membenci fakta bahwa barang yang ia anggap sudah ia rusak kini berani berpaling, berdiri tegap, dan mencari perlindungan pada musuh buyutnya tepat di depan hidungnya.
`Gavin Adhitama... Alia Anggita...` nama kedua orang itu bergema bagaikan racun di benaknya.
Ponsel pintar milik Teo yang tergeletak di atas meja bundar berdering nyaring, memecah keheningan kamar yang mencekam. Nama `Reno` tertera di layar yang menyala.
Teo menyambar ponsel itu dan menggeser ikon hijau tanpa memberikan sapaan. `"Ada apa?"` suara Teo terdengar sangat rendah, parau, dan dipenuhi muatan bahaya yang sanggup membuat siapa pun di ujung telepon menahan napas.
`"Teo, anak-anak geng baru saja membagikan foto dari anggota suruhan kita di grup internal,"` ujar Reno di ujung telepon. Intonasi suaranya terdengar ragu, cemas, dan agak tegang. `"Si Alia... dia benar-benar makin berani dan tidak terkontrol. Setelah dari perpustakaan bersama Gavin, dia pulang naik taksi tanpa kelihatan sedih atau tertekan sama sekali. Anak-anak bertanya, apakah besok pagi kita perlu membuat jebakan baru di tempat parkir atau menyiram tasnya untuk mempermalukannya lagi di depan kelas 11?"`
`"Tidak usah,"` potong Teo cepat.
Reno terdiam sejenak di ujung telepon, terkejut dengan jawaban yang sama sekali di luar kebiasaan sahabatnya. `"Maksudmu? Kamu mau membiarkannya begitu saja? Setelah dia menginjak dokumenmu dan membuatmu malu di aula tadi siang? Teo, reputation kita di mata anak-anak kelas 12—"`
`"Mempermalukannya dengan cara-cara murah seperti itu sudah tidak menarik lagi, Ren,"` ucap Teo pelan, memotong ucapan Reno dengan nada dingin yang lambat namun diisi intonasi yang begitu berat. `"Biarkan dia merasa menang untuk saat ini. Biarkan dia berpikir bahwa Gavin bisa menjadi tempat bersandar atau tameng perlindungannya."`
Teo berjalan pelan mendekati jendela kaca tebal setinggi langit-langit yang menampilkan panorama gemerlap lampu-lampu kota Jakarta dari ketinggian. Senyuman miring yang gelap, culas, dan dipenuhi obsesi perlahan-lahan terukir di wajah tampannya.
Cara-cara perundungan fisik, menyiram air, melempar sampah, atau merusak barang-barang sekolah Alia kini terasa sangat kerdil. Gadis yang berdiri di aula tadi siang tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan intimidasi dangkal seperti itu.
Teo mengepalkan jemarinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, membayangkan kembali detik-detik saat jemari Alia dengan tangkas dan keras menepis tangannya di aula. Tatapan mata karamel yang dingin, tajam, dan penuh penghinaan itu... tatapan yang sukses mengusik seluruh pikiran, merusak konsentrasi, dan mengusir tidur nyenyaknya malam ini.
Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Ozawa School, semuanya terasa terlalu mudah bagi Teo. Semua murid tunduk, guru-guru segan, dan setiap gadis bertekuk lutut memohon perhatiannya. Hari-harinya di sekolah elit itu selama ini terasa begitu hampa, dapat ditebak, dan membosankan.
Namun sekarang, semuanya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang—seorang gadis beasiswa yang dulu dianggapnya sampah—yang sanggup memancing amarah, memicu adrenalin, dan menyedot perhatian penuh dari seorang Teo Ozawa. Sekolah yang dulunya monoton kini mendadak terasa seperti arena permainan yang jauh lebih menantang dan berbahaya.
`"Teo? Kamu masih di sana?"` panggil Reno ragu dari balik telepon karena keheningan yang terlalu lama.
`"Mulai besok pagi... beritahu seluruh anak kelas 12 dan anggota geng,"` bisik Teo dengan nada suara yang amat dingin namun dipenuhi hasrat berburu yang membara. `"Jangan ada satu pun orang yang berani menyentuh atau mengganggu Alia Anggita satu jari pun. Siapa pun yang melanggar, akan berurusan langsung denganku."`
Reno menahan napasnya di ujung telepon. `"Teo, kamu... kamu serius?"`
`"Dia... adalah permainanku seorang,"` tegaskan Teo, menekankan setiap kata dengan dominasi mutlak. `"Aku sendiri yang akan menurunkan kesombongannya. Aku sendiri yang akan melihat mata dingin itu berubah kembali menjadi tatapan putus asa."`
Teo mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu balasan Reno. Ia melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur busa berukuran king-size, lalu kembali menyilangkan dada, menatap pantulan dirinya dan rekaman foto Alia di jendela kaca yang gelap.
Hasrat untuk menundukkan Alia kini bukan lagi sekadar mempertahankan reputasi keluarga Ozawa, melainkan telah bergeser menjadi sebuah obsesi pribadi yang gelap. Ia tidak ingin sekadar mengeluarkan Alia dari sekolah; ia ingin melihat gadis itu berlutut di hadapannya, mengakui kekalahannya, dan memohon ampun padanya—bukan pada Gavin.
`Alia Anggita...` batin Teo sambil memicingkan matanya tajam, mengukir senyum predator yang mengerikan di balik kegelapan kamar. `Kamu ingin memegang kendali dan berpura-pura menjadi pahlawan, kan? Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan di dalam cengkeramanku sebelum kamu sendiri yang memohon untuk dihancurkan.`