Jasmine tidak tahu jika Ayahnya akan menjadikan dirinya jaminan karena Ayahnya korupsi di perusahaan tempatnya bekerja.
Dan Jasmine juga tidak tahu, jika ternyata bos Ayahnya adalah Edward Lucas Hamington, mantan kekasihnya saat sekolah.
Edward yang Jasmine kenal adalah pria baik dan lemah lembut tapi sekarang, Pria itu sangat berubah, sikapnya dingin dan kejam membuat Jasmine lari di hari pernikahan mereka.
Tapi sayangnya, Edward berhasil mengejar Jasmine dan membuat gadis itu terikat pernikahan bersama mantan kekasihnya sendiri.
Jasmine selalu ingin kabur ketika tahu Edward adalah pria berbahaya. Mampukah Jasmine lari dari Edward?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenia12 Nurhalimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Di Negara yang berbeda, April tengah antusias menyiapkan acara pertunangannya yang mungkin akan dilaksanakan bulan depan.
Ia terus berhubung dengan desainer yang membuatkan gaun tunangannya. Bahkan ia sudah berjanji pada dirinya jika nanti menikah, desainer yang sama yang akan membuatkan gaun pernikahan yang lebih mewah untuknya nanti.
April juga mengabari beberapa teman terdekatnya yang harus datang di acara pertunangannya.
Setelah menghubungi semua teman dekatnya. Ia menatap foto dirinya dan Edward yang dijadikan walpaper ponselnya, ujung bibirnya tersenyum. Selangkah demi selangkah hubungannya dan Edward akan semakin serius.
"Menyiapkan acara pertunangan saja sudah seribet ini. Apalagi acara nikahanku nanti," gumamnya dengan terkekeh.
Ponselnya tiba-tiba menampilkan sebuah telpon masuk dari sang Ibu ---- Arini.
"Hallo, Mah."
"Sudah kembali ke korea kamu, April?"
"Sudah, Mah."
"Baguslah. Fokuslah dengan pendidikanmu ya, jangan pikirkan yang lain. Lupakan kakekmu di Indonesia dan pria tidak baik itu."
April mendengus kasar, sang Ibu tidak pernah berubah, selalu menghalangi hubungannya dengan Edward. Bukan hanya Edward saja tetapi dengan Aron juga.
Arini tidak suka April dekat dengan sang kakek yang menjalankan bisnis tidak baik dan menurutnya Edward juga tidak baik karena berada di bawah pengaruh Lucas dan Aron. Apalagi mendengar kabar Edward akan meneruskan bisnis Lucas.
Lebih parahnya lagi, Arini belum tahu jika April sudah diajarkan mengelola bisnis Aron kedepannya. Yang ia tahu April dekat dengan sang kakek agar mudah bertemu dengan Edward.
Dua pria tua yang kelakuannya mirip sekali mafia itu sangat amat dibenci Arini.
Arini berharap April menemukan pria yang tepat dan lepas dari ikatan kakeknya. Tapi April hanya mencintai Edward dan lagi sang ibu belum diberi tahu jika April hendak bertunangan dengan Edward.
Sangat sulit untuk memberitahu Arini. April pun masih belum tahu bagaimana memberitahu sang Ibu nanti.
"April, kenapa kamu diam?"
"Engga apa-apa Mah."
"Bulan depan, Mamah mau kenalin kamu sama anak teman Mama. Dia ---"
"April udah punya Edward, Mah. Mamah tau itu kan," keluh April tak terima dengan keinginan Ibunya.
"Cuman kenalan. Apa salahnya?"
"Ya gak bisa dong. Kecuali kalau April masih sendiri, ngapain juga Mamah kenalin April sama pria lain disaat April udah punya pacar."
"Jodoh gak ada yang tau April. Bisa saja kamu sama Edward gak berjodoh. Kenalan sama beberapa pria itu wajar untuk kamu sadar di atas langit masih ada langit." Arini merasa pria yang akan dikenalkan pada putrinya jauh lebih hebat dibandingkan Edward.
"Mah ---"
"Kamu gak boleh nolak!" potong Arini.
"Mah, April --"
"April!!" sentak Arini di telpon. "Mamah mau yang terbaik buat kamu, buat masa depan kamu dan anak-anakmu. Bisnis terlarang yang dijalani kakekmu dan Edward bisa saja merusak masa depan keturunanmu. Kamu gak takut anakmu jadi bandit kaya si Edward itu!!"
"Mah, Edward gak kaya gitu. Edward bukan bandit, gak sejahat pikiran Mamah!!" April bersikeras membela karena kata Bandit yang dilontarkan sang Ibu menurutnya sangat keterlaluan.
Bagaimana bisa pria sebaik Edward dibandingkan dengan Bandit yang menurutnya mirip preman pasar kelas kakap.
"Tapi ---"
"April mau tunangan sama Edward bulan depan."
Akhirnya kalimat itu keluar karena terlalu kesal dengan sang Ibu. Padahal beberapa menit yang lalu April sedang memikirkan cara bagaimana memberitahu sang Ibu dengan lembut agar memberikan restu untuk pertunangannya.
"A-apa?" di seberang sana Arini bergeming tak percaya. Otaknya dan telinganya seakan bekerja sama untuk mencerna ucapan yang dilontarkan putrinya tadi.
Tunangan?
"April sama Edward akan tunangan bulan depan, Mah. Kakek sudah setuju."
Arini mencengkram kuat ponselnya. "Persetujuan Aron lebih penting dari Mamah, April?" Arini seakan tak habis pikir. Dianggap apa dirinya sampai ia merasa April tidak memerlukan izinkannya.
"B-bukan gitu, Mah. Tapi ---"
"Mama kecewa sama kamu, April. Kamu durhaka, lebih nurut sama Kakekmu yang jahat itu dibandingkan Ibu yang melahirkanmu!!"
"Mah, bukan gitu maksud April ---"
Tut.
"Mah, hallo, Mama ..." April menggeram kesal dengan membanting ponselnya ke ranjang. Ia tahu sang Ibu selalu berusaha memisahkan dirinya dan Edward.
April pun mencoba menghubungi Edward. Edward yang tengah menonton Jasmine makan nasi goreng pun segera mengangkat telponnya sementara Jasmine memilih fokus pada makanannya saja. Ia tahu April yang menelpon.
April menceritakan kemarahan Ibunya pada Edward. Edward diam mendengarkan cerita April sampai diujung cerita Edward pun menanggapi.
"Biarkan aku yang menjelaskan pada Ibumu," katanya membuat April merasa tenang.
"Kamu fokus saja dengan kuliahmu, April. Aku akan menemui Ibumu nanti."
"Ya, Edward." Kegelisahan April seakan menghilang tiba-tiba, senyuman kembali merekah di wajahnya. April rasa Edward benar-benar seorang pria sejati yang baik untuknya.
Setelah panggilan tersebut berakhir, Edward mendapati mata Jasmine yang terus menatapnya dengan menggigit ujung sendok.
"Kenapa? Penasaran dengan obrolanku dan April?"
Jasmine menggeleng cepat dan kembali makan. "Bukan urusanku," jawab Jasmine sambil menunduk menyendok nasi gorengnya dan menyuapkannya ke mulut.
"Memang bukan urusanmu!" kata Edward sambil melengos pergi membuat Jasmine sontak bergeming menatap kepergian Edward dengan pipi mengembung penuh dengan nasi goreng.
"Menyebalkan!"
Ya, menyebalkan karena sebenarnya Jasmine penasaran tapi tidak mungkin ia mengakuinya.