Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keheningan malam merayap menakutkan di seluruh penjuru perbukitan mansion Samudra. Dinding-dinding beton yang megah itu seolah menyerap seluruh suara dari luar, menyisakan gesekan halus angin malam yang menerpa pepohonan pinus di sekitar pekarangan.
Di dalam kamar tidur utamanya di lantai dua, Alvan belum juga memejamkan mata.
Pria itu berdiri kaku di dekat jendela kaca berukuran setinggi langit-langit, memandangi bayangan pepohonan yang bergoyang dililit kegelapan.
Kemeja putih yang dikenakannya sejak sore tadi sudah terbuka tiga kancing teratas, lengan bajunya tergulung acak hingga pertengahan lengan. Di tangannya, selop gelas berisi whisky tanpa es berembun dingin, namun tak sedikit pun ia sentuh.
Pikirannya sepenuhnya tertambat pada kejadian di ruang tengah beberapa jam lalu.
"Karena aku mencintai kebenaran lebih dari diriku sendiri, dan aku ingin suami yang kunikahi tahu bahwa ia tidak sedang mengurung seorang pembunuh."
Kata-kata Andira terus bergema di benaknya bagaikan lonceng tua yang ditabuh bertubi-tubi. Nada suara wanita itu, keteguhan di matanya, serta ketiadaan rasa gentar saat menatap lurus ke dalam manik matanya, semua itu terus meretakkan bangunan dendam yang selama ini ia pelihara.
Alvan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Siapa kamu sebenarnya, Andira?" bisiknya pada keheningan. Keraguan di dadanya kini bukan lagi sekadar benih tipis, melainkan badai yang siap meruntuhkan seluruh keyakinannya tentang malam kematian Roy.
~
Sementara Alvan tenggelam dalam perdebatan batin yang menyiksa, di sudut lain lantai dua, tepatnya di kamar tamu baru yang dihuni Andira, kegelapan membawa ancaman yang jauh lebih nyata.
Andira terbaring di atas tempat tidur empuknya, namun matanya terbuka lebar. Pengalaman traumatis dari tuduhan pembunuhan, luka bakar di tangannya yang terus berdenyut perih, serta rasa dingin dari logam flashdisk yang tersembunyi rapat di balik kain kassa perban pergelangan tangannya membuat tidur menjadi hal yang mustahil.
Flashdisk berinisial 'R' itu menekan kulitnya yang melepuh, memberikan rasa nyeri sekaligus keberanian. Benda kecil itulah satu-satunya harapan untuk membongkar kebenaran.
Tiba-tiba, pendengaran Andira yang tajam menangkap suara ganjil dari arah balkon kamar.
Klek... Srrrt.
Bukan suara angin. Itu adalah gesekan halus kait besi pada rel pintu kaca balkon.
Andira membeku di bawah selimut. Jantungnya seketika berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh liar. Ia memiringkan kepalanya secara perlahan, menatap ke arah pintu kaca balkon yang tertutup tirai tipis semi transparan.
Di balik pendar temaram cahaya bulan malam itu, sebuah siluet tegap seorang pria berpenutup wajah hitam tampak berdiri mematung di luar balkon.
Napas Andira tercekat. Sebelum ia sempat berteriak atau bergerak, pintu kaca balkon yang terkunci dari dalam mendadak bergetar pelan.
Sesosok alat pemotong kaca canggih bekerja cepat, membuat lingkaran sempurna di permukaan kaca. Hanya dalam hitungan detik, jemari bersarung tangan hitam menerobos masuk melalui lubang tersebut, memutar kunci dari dalam dengan sangat cepat.
Klek.
Pintu balkon terdorong terbuka. Udara dingin malam merangsek masuk, membawa serta bayangan sesosok pria berbadan kekar yang memegang sebotol cairan kimia tanpa label serta sebuah suntikan medis berukuran besar.
Itu adalah eksekusi rencana Elena. Sebuah racun dosis tinggi yang dirancang untuk menghentikan detak jantung secara instan tanpa meninggalkan jejak otopsi yang mencurigakan, sebuah skenario 'bunuh diri karena rasa bersalah' yang sempurna.
Pria bertopeng itu melangkah tanpa suara, bagaikan siluman yang mendekati tempat tidur.
Andira tahu ia tidak punya waktu untuk melarikan diri menuju pintu depan. Dengan ketangkasan yang didorong oleh adrenaline bertahan hidup, Andira sengaja menunggu hingga pria itu berjarak satu meter dari ranjang, lalu menyambar lampu tidur berbahan porselen berat di atas meja sisi tempat tidur dan melemparkannya sekuat tenaga!
PRAANG!
Lampu porselen itu menghantam dada si penyusup, hancur berkeping-keping.
"Cih! Wanita sialan!" maki pria itu dengan suara berat yang diredam topeng.
Pria itu bergerak cepat menyergap ke depan. Jemarinya yang kasar dan berotot seketika mencekik leher Andira, menghempaskan tubuh wanita itu kembali ke atas tempat tidur hingga kasur bergetar hebat.
"Ugh... Mmph!" Andira meronta secara histeris.
Tangannya yang terbalut perban memukul dan mencakar wajah si pembunuh, namun perbedaan tenaga yang drastis membuat napas Andira terputus dengan cepat. Pandangannya mulai memburam, bintik-bintik hitam menutupi penglihatannya saat pria itu mulai mengangkat jarum suntik berisi cairan mematikan menuju pembuluh darah lehernya.
"Mati kamu!" desis si penyusup, siap menancapkan jarum tersebut.
Brak!
Pintu kamar mandi/koridor utama kamar tamu itu terdorong hancur!
Alvan yang tadinya berada di kamar utama mendengar suara dentuman porselen pecah yang bergema halus melintasi dinding. Naluri bahayanya yang terasah tajam membuatnya tidak meragukan instingnya sedikit pun, ia berlari kencang dan menerjang pintu tersebut tanpa ragu.
Pemandangan di depan matanya membuat darah Alvan seketika membeku menjadi es, lalu membakar menjadi lahar amarah yang tak tertahankan.
Melihat istrinya tercekik parah di bawah ancaman jarum suntik, Alvan raungan kemurkaan memecah keheningan malam.
"Lepaskan dia!"
Alvan menerjang bagaikan harimau kelaparan. Ia memegang bahu si penyusup dari belakang, menariknya secara brutal hingga pegangan pria itu pada leher Andira terlepas.
Bugh!
Pukulan mentah berkecepatan tinggi dari kepalan tangan Alvan menghantam rahang si penyusup hingga tubuh pria tegap itu terpental menabrak meja rias kayu. Cermin meja rias retak menakutkan.
Andira jatuh terjerembab ke lantai di samping tempat tidur, terbatuk-batuk secara histeris seraya memegang lehernya yang memerah parah. "Uhuk! Hukh... Hukh..."
Pria bertopeng itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah di balik kain, menyadari keberadaan Alvan akan merusak seluruh skenario. Dengan cepat, si penyusup mengayunkan pisau lipat taktis yang diambil dari pinggangnya, menyerang Alvan secara kalap.
Bilah pisau berkilat tajam di bawah pendar cahaya bulan. Alvan menghindar secara presisi, menggeser tubuhnya ke kiri saat mata pisau menyambar udara tipis di samping telinganya.
Dengan gerakan bela diri jarak dekat yang cepat, Alvan mencengkeram pergelangan tangan si penyusup, memutarnya secara brutal ke arah belakang hingga suara tulang terkilir berbunyi nyaring.
Krek!
"Aarrghh!" si penyusup mengerang kesakitan, pisaunya terjatuh ke atas karpet.
Alvan memanfaatkan momentum itu untuk menghantamkan lututnya tepat ke perut pria tersebut, dilanjutkan dengan sikut tajam yang mendarat keras di tengkuk si pelaku. Pria bertopeng itu roboh berlutut di atas lantai.
Alvan berlutut di atas punggung si penyusup, mengunci kedua tangannya ke belakang dengan sangat ketat. Tangannya yang bebas menyambar topeng hitam pria itu dan merenggutnya secara paksa.
"Siapa yang menyuruhmu?!" bentak Alvan, suaranya bagaikan petir yang menggelegar di dalam ruangan sempit itu. "Bicara sebelum aku patahkan lehermu di sini!"
Pria itu memuntahkan darah ke atas karpet, matanya liar memandang ke arah jendela balkon yang terbuka. Pria itu menyadari ia telah gagal. Dalam sebuah gerakan nekat yang tak terduga, pria itu menghentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung Alvan hingga Alvan terhuyung sedikit ke belakang.
Memanfaatkan celah pecahan detik tersebut, si penyusup melompat berdiri, menerobos pintu kaca balkon yang pecah, lalu melompat tanpa ragu melompati pagar balkon lantai dua menuju kegelapan taman bawah!
Bruk!
Suara tubuh mendarat tebal di atas semak-semak bawah terdengar, diikuti oleh langkah kaki yang berlari kencang menghilang di antara kegelapan pepohonan luar pagar.
Alvan berlari ke tepi balkon, memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar. Ia menatap ke bawah, namun si penyerang sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
"Pak... Pak Alvan..."
Suara bisikan halus yang gemetar hebat itu menarik Alvan kembali dari amarahnya.
Alvan berpaling cepat. Di sudut kamar dekat tempat tidur, Andira duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.
Tubuhnya gemetar hebat, kedua tangannya memeluk lututnya sendiri. Wajahnya yang pucat pasi mandi keringat dingin, napasnya memburu cepat akibat rasa panik yang traumatis. Lehernya yang putih dihiasi oleh bekas cengkeraman jari kemerahan yang mengerikan.
Aura kejam dan kemurkaan yang tadinya memenuhi tubuh Alvan seketika lenyap, digantikan oleh rasa cemas yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Alvan melangkah cepat mendekati Andira. Ia berlutut di hadapan wanita itu, mengabaikan darah yang menetes dari hidungnya sendiri.
"Andira..." kata Alvan, suaranya mendadak berubah menjadi teramat lembut dan cemas. "Kamu bisa mendengarku? Kamu aman sekarang."
Andira mendongak pelan. Matanya yang berair menatap Alvan dengan ketakutan yang tak tertahan. Ketika pandangan mereka bertemu, benteng pertahanan mental Andira yang selama ini ia bangun kuat-kuat akhirnya runtuh total. Ia bukan lagi sosok wanita yang tegar di depan hinaan, ia hanyalah seorang manusia biasa yang baru saja lolos dari cengkeraman maut.
Tanpa sadar, Andira menjatuhkan tubuhnya ke depan, menyembunyikan wajahnya di dada tegap Alvan. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat lipatan kemeja pria itu.
"Dia... dia mau membunuhku, Pak... dia bawa suntikan..." isak Andira, tangisnya pecah dalam keheningan malam. Tubuhnya berguncang hebat di dalam pelukan Alvan.
Alvan membeku sejenak saat tubuh halus Andira bersandar padanya. Namun, melihat betapa rapuhnya wanita ini saat ini, naluri protektif di dalam dada Alvan bangkit sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah di bawah dendam, Alvan melingkarkan kedua tangannya yang kekar di sekeliling tubuh Andira, merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif.
tangannya yang lain membelai lembut bagian belakang kepala Andira, menenangkan badai ketakutan di jiwa wanita itu.
"Aku tahu... aku tahu," bisik Alvan di dekat telinga Andira, suaranya begitu dalam dan menenangkan. "Aku di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi malam ini. Aku berjanji."
Alvan memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan pelukannya. Rasa penyesalan yang mendalam membakar dadanya.
Jika saja ia tertidur lelap malam ini... jika saja ia mengabaikan suara keributan itu... wanita tak berdosa ini pasti sudah tewas di kamar ini, dan ia akan kembali ditipu oleh konspirasi jahat yang merenggut adiknya.
Alvan menyapu pandangannya ke sekeliling kamar yang berantakan, cermin pecah, pintu balkon yang terobos, dan lantai yang dingin. Kamar ini tidak lagi aman. Mansion ini telah disusupi.
Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Alvan menyusupkan tangan kirinya di bawah lutut Andira dan tangan kanannya di balik punggung wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, Alvan mengangkat tubuh Andira ke dalam gendongannya.
Andira terkejut kecil, reflek mengalungkan tangan kirinya ke leher Alvan. "Pak... Pak Alvan?"
"Kamar ini tidak aman," tegas Alvan seraya melangkah lebar keluar dari kamar tamu tersebut. "Mulai detik ini, kamu tidur di kamarku."
Alvan membawa Andira melintasi koridor lantai dua yang gelap, masuk ke dalam kamar tidur utamanya yang luas dan hangat. Ia meletakkan Andira secara perlahan di atas tempat tidur berukuran king-size miliknya, menyelimuti tubuh gemetar wanita itu hingga ke dada dengan selimut bulu yang tebal.
Alvan kemudian berjalan menuju pintu kamar utama, memutar kunci ganda dari dalam, lalu mengaktifkan sistem alarm keamanan elektronik internal kamar yang langsung terhubung ke ponsel pribadinya.
Andira duduk bersandar di kepala ranjang, memperhatikan setiap gerak-gerik Alvan dengan mata yang masih basah oleh air mata. Kamar utama Alvan beraroma kayu cendana dan kehangatan yang familiar, aroma yang sama dengan pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.
Alvan melangkah ke kamar mandi sebentar, lalu kembali dengan membawa baskom berisi air hangat, handuk bersih, dan kotak P3K lengkap. Pria itu menarik sebuah kursi kayu berukir dan duduk tepat di samping tempat tidur, di sebelah Andira.
Alvan memeras handuk hangat itu dengan tangannya, lalu menyapukannya secara perlahan ke wajah Andira yang ternoda keringat dan air mata. Gerakan tangan pria yang biasanya terkenal kaku dan dingin di dunia bisnis itu kini menjadi begitu lembut dan berhati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh barang kaca yang amat rapuh.
"Tahan sedikit," bisik Alvan pelan saat mengusap memar kemerahan di leher Andira dengan kain hangat.
Andira menahan napas, menatap wajah Alvan yang jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter darinya. Ia melihat tetesan darah kering di bawah hidung Alvan akibat pukulan penyerang tadi.
Dengan tangan kirinya yang bebas, Andira secara refleks terulur mengusap sudut bibir dan hidung Alvan dengan ujung lengan baju panjangnya.
"Hidung Anda... berdarah," kata Andira halus, suaranya masih agak parau akibat cekikan.
Alvan menghentikan pergerakan tangannya sejenak. Ia menatap jemari halus Andira yang menyentuh wajahnya. Sentuhan itu tidak membawa kepura-puraan, hanya ada kepedulian yang jujur dari seorang wanita yang baru saja diselamatkan.
"Ini bukan apa-apa," jawab Alvan pelan, namun ia tidak menjauhkan wajahnya dari sentuhan Andira.
Suasana kamar tidur utama itu berubah menjadi teramat hening dan intim. Suara detik jam dinding terasa melambat. Di dalam ruangan ini, dendam dan kebencian yang selama ini membentang di antara mereka mendadak lebur, digantikan oleh ikatan baru yang terjalin dari bahaya dan perlindungan.
"Ulurkan tangan kananmu," minta Alvan seraya membuka salep antiseptik dari kotak P3K. "Perbanmu basah oleh keringat, aku harus menggantinya agar lukamu tidak infeksi."
Andira seketika terperanjat. Jantungnya kembali meloncat kaget.
Flashdisk!
Di balik perban kassa yang melingkari pergelangan tangan kanannya itu, flashdisk perak berinisial 'R' milik Roy masih tersembunyi rapat! Dalam kekacauan serangan tadi, Andira sama sekali tidak sempat memindahkan benda berharga itu ke tempat aman!
"Tidak... tidak perlu, Pak Alvan," jawab Andira terburu-buru, mencoba menarik tangan kanannya ke balik punggung. "Saya... saya bisa menggantinya sendiri besok pagi."
Alvan menyipitkan matanya. Sikap panik Andira yang mendadak terasa teramat janggal di matanya. Perubahan gestur dari ketakutan menjadi kecemasan bersalah itu tidak luput dari pengamatan tajam seorang Alvan Samudra.
"Andira, tanganmu baru saja terhantam dalam perkelahian tadi," suara Alvan kembali mengalun tegas, tidak membiarkan penolakan. "Jangan keras kepala. Biarkan aku memeriksanya."
Sebelum Andira sempat menyembunyikan tangannya lebih jauh, Alvan meraih pergelangan tangan kanan Andira dengan cengkeraman yang mantap namun lembut. Pria itu mulai membuka balutan kassa putih yang sudah sedikit berantakan itu lipatan demi lipatan.
Andira menahan napasnya rapat-rapat, memejamkan mata seraya berdoa dalam hati agar rahasianya tidak terbongkar dengan cara seperti ini.
Saat lipatan kassa ketiga terlepas dari kulit pergelangan tangan Andira yang kemerahan akibat luka bakar, ibu jari Alvan secara tidak sengaja menekan sebuah permukaan yang keras dan kaku di balik lapisan kassa terakhir.
Tuk.
Ibu jari Alvan terhenti kaku.
Sensasi dingin dan bentuk persegi panjang yang tajam dari benda logam itu terasa sangat nyata di bawah rabaan jarinya. Itu jelas bukan salep, sanitas, ataupun lipatan kasa medis. Itu adalah sebuah benjolan keras dari sebuah benda asing yang sengaja disembunyikan Andira di dalam lukanya sendiri.
Alvan mengangkat pandangannya secara perlahan. Matanya yang tajam dan tajam kini mengunci wajah Andira dengan kilatan rasa ingin tahu yang mendalam dan kecurigaan yang kembali membuncah.
"Apa yang kamu sembunyikan di balik perbanmu ini, Andira?" bisik Alvan dengan suara berat yang menggetarkan keheningan malam.
...----------------...
To Be Continue ....