Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pembalasan Sang Putri Tunggal

Matahari pagi belum sepenuhnya membakar hawa dingin kota ketika sebuah taksi berhenti beberapa puluh meter dari gerbang masuk kompleks apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.

Pintu taksi terbuka, dan seorang gadis remaja melangkah turun. Natasha berdiri di trotoar, membetulkan posisi jaket oversized berwarna hitam pekat yang ia kenakan. Sebuah topi bisbol berwarna senada ditarik rendah hingga menutupi sebagian besar dahi dan matanya, sementara masker hitam menutupi separuh wajah bahagian bawahnya.

Pagi ini, Natasha sengaja tidak mengenakan seragam sekolahnya. Tanpa sepengetahuan Kinanti, Bi Asih, maupun pengawal rumah, gadis remaja itu telah menyusun rencananya sendiri secara rapi. Informasi mengenai alamat apartemen mewah dan nomor unit yang diberikan Baskara kepada Valerie berhasil ia dapatkan malam tadi dengan meretas secara sembunyi-sembunyi riwayat histori navigasi dan transaksi kartu kredit cadangan milik papanya yang tertinggal di ruang kerja.

Natasha mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Di dalam kantong plastik tebal yang tersimpan di dalam saku jaketnya, terasa bobot beberapa butir telur busuk yang sengaja ia siapkan dan busukkan sejak dua hari lalu.

"Kau pikir kau bisa menang dan berkuasa di atas penderitaan Ibuku, wanita ular?" bisik Natasha dingin pada udara pagi. "Kau belum tahu saja siapa anak dari Baskara Dirgantara jika sedang mengamuk."

Dengan langkah santai namun penuh kewaspadaan, Natasha menerobos masuk ke area lobby utama apartemen berlantai marmer itu. Dia mengambil posisi duduk di sudut area ruang tunggu yang remang-remang, berpura-pura sibuk membolak-balik majalah sembari matanya terus menatap tajam ke arah deretan pintu lift utama.

Satu jam berlalu. Jam di pergelangan tangan Natasha menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.

Ting!

Suara denting lift lantai dasar bergema. Pintu stainless steel itu terbuka meluncur.

Seorang wanita bergaun dress sutra merah muda dipadu blazer putih melangkah keluar dengan gaya yang amat sangat anggun dan penuh percaya diri. Riasan wajahnya dipoles sempurna, rambut panjangnya yang diwarnai cokelat keemasan terurai indah di atas bahu, dan jemari lentiknya memegang sebuah tas desainer berharga ratusan juta rupiah.

Valerie.

Wanita licik itu berjalan melintasi lobby dengan senyuman tipis di bibirnya, menuju keluar pintu kaca otomatis menuju area parkir VIP. Dia melangkah santai menuju mobil sedan mewah berwarna putih sebuah mobil hadiah bernilai miliaran yang baru saja dibelikan oleh Baskara dua minggu lalu.

Tanpa Valerie sadari sedikit pun, sosok berjaket hitam dari sudut ruangan telah berdiri dan melangkah cepat mengekor tepat di belakang posisinya.

Valerie merogoh tasnya, menekan tombol remote kunci mobil. Lampu mobil putih itu berkedip dua kali. Tepat saat jemari Valerie yang dipoles kuteks merah hendak menjangkau gagang pintu mobil...

Sret!

Sreeekkk!

"AAAGHHH!"

Sebuah cengkeraman tangan yang teramat kuat dan tanpa ampun mendadak menyambar rambut panjang Valerie dari arah belakang. Tarikan itu begitu keras, mendadak, dan penuh dengan tenaga amarah yang membara.

Kepala Valerie terlempar ke belakang dengan sentakan hebat. Tubuh anggun bergaun mewahnya kehilangan keseimbangan seketika, dan Brak! Valerie terjungkal keras ke atas lantai semen area parkir dengan posisi terlentang yang teramat menyedihkan. Tas mewahnya terlempar jauh, sementara rambut sambungannya terasa hendak tercabut dari kulit kepalanya.

"Aduh! Sakit! Siapa kau—"

Belum sempat Valerie menyelesaikan teriakan histerisnya atau melihat siapa pelakunya, sosok berjaket hitam itu sudah bergerak secepat kilat. Natasha berlutut kasar di atas dada Valerie, mengunci pergerakan wanita itu.

Dengan tangan kirinya, Natasha tetap mencengkeram erat akar rambut Valerie hingga wanita itu menjerit-jerit kesakitan, sementara tangan kanannya merogoh saku jaket dan mengeluarkan dua butir telur busuk yang sudah retak.

PLAK! CRACK!

Tanpa ragu sedikit pun, Natasha memecahkan telur busuk itu tepat di atas wajah Valerie yang penuh dengan riasan tebal mahal.

Cairan kuning dan putih telur yang sudah membusuk, berbau sengatan busuk yang amat menyengat, menyembur membasahi mata, hidung, dan pipi Valerie.

"Rasakan ini! Makan ini, perempuan gila!" bentak Natasha berang, matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam.

"Mmmh... Aaaghh! Bau! Tolong! Ugh!" Valerie berteriak kencang kesakitan karena rambutnya terus ditarik tanpa ampun, dan naasnya, saat ia membuka mulut untuk berteriak, sebagian cairan telur busuk yang lengket itu masuk menyumpal mulutnya. Valerie hampir tersedak hebat, batuk-batuk dengan raut wajah yang amat sangat mual dan jijik.

"Bagaimana?! Enak tidak makan telur busuk ini, hah?!" cerca Natasha tanpa belas kasihan sedikit pun, terus meremas dan menyumpalkan sisa cangkang dan cairan busuk itu ke area mulut dan leher Valerie. "Makan sepuasmu, dasar wanita ular pelakor tak tahu malu!"

"Tolong! Mmmh... Pembunuhan! Tolong!" jerit Valerie tersedak-sedak, tangannya yang berkuteks merah menggapai-gapai udara dengan panik, mencoba mendorong tubuh Natasha namun tenaganya tak sebanding dengan amarah remaja yang sedang meledak itu.

Keributan hebat dan jeritan histeris dari area parkir VIP seketika memecah keheningan kompleks apartemen. Dua orang petugas keamanan (satpam) berseragam biru tua yang sedang bertugas di dekat pintu gerbang langsung berlari terburu-buru menghampiri lokasi kejadian.

"Hei! Berhenti! Ada apa ini?!" teriak salah satu satpam dengan wajah panik.

Dua satpam itu memegang kedua lengan Natasha, mencoba memisahkan dan menarik tubuh remaja itu menjauh dari Valerie. Cengkeraman kuat Natasha pada rambut Valerie akhirnya terlepas, menyisakan segumpal helai rambut yang tersangkut di jemari Natasha.

Valerie terbaring di atas semen, batuk-batuk hebat sembari meludahkan cairan busuk dari mulutnya. Wajah mewahnya kini hancur berantakan tertutup cairan telur busuk yang kental, maskara yang luntur meluber ke mana-mana, dan rambut acak-acakan bagai orang gila.

"Apa kau gila?! Siapa kamu, hah?!" teriak Valerie histeris dengan suara melengking tinggi, tubuhnya gemetar hebat akibat rasa sakit, mual, dan malu yang teramat sangat. "Aku akan melaporkanmu ke polisi! Aku akan memenjarakanmu sampai membusuk!"

Saat percekcokan itu terjadi, ikatan topi hitam dan masker yang dipakai Natasha terlepas akibat dorongan dari petugas satpam.

Wajah cantik khas remaja keluarga Dirgantara seketika terekspos sempurna di bawah sinar matahari pagi.

Valerie yang sedang mengusap matanya yang perih dari cairan telur seketika membelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mengenali garis wajah tegas dan sepasang mata elang yang teramat sangat ia kenali itu.

"Na... Natasha?!" desis Valerie gagap, rasa syok yang luar biasa seketika menyengat kesadarannya.

Natasha menghentakkan tangannya dengan kasar, melepaskan cengkeraman kedua petugas satpam yang menahannya. Gadis remaja itu merapikan jaket hitamnya dengan gerakan yang amat sangat tenang, berdiri tegap membusungkan dada tanpa ada sejengkal pun rasa takut atau rasa bersalah di wajahnya.

"Silahkan kalau kau mau melaporkanku ke polisi!" tantang Natasha dengan nada suara yang nyaring, mantap, dan berkilat menantang. "Lakukan sekarang! Kau yang justru akan kulaporkan balik dan kubuat membusuk di penjara, dasar pelakor tak tahu malu!"

Natasha memutarkan tubuhnya, menatap lurus ke arah dua petugas satpam dan beberapa penghuni apartemen yang mulai berkumpul menonton keributan tersebut.

"Kalian semua dengar ya!" seru Natasha dengan suara keras membelah area parkir. "Wanita busuk yang sedang tengkurap di tanah ini adalah wanita ular yang ingin menghancurkan keluarga kami! Dia ini pelakor murahan yang sibuk memakai cara kotor untuk merebut papaku dari ibuku! Hati-hati kalian kalau tetanggaan sama dia, wajahnya saja yang bergaya sok baik-baik, padahal dalamnya licik dan menjijikkan!"

Beberapa penghuni apartemen yang melintas seketika berbisik-bisik riuh, mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah Valerie yang terbaring kaku.

"Kenapa?! Tidak terima kau kusebut pelakor?!" ceplos Natasha menatap Valerie yang pucat pasi menahan malu yang teramat sangat. "Silahkan laporkan aku ke polisi! Dan sekalian ajak pria yang bernama Baskara Dirgantara itu! Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat anak kandungnya sendiri menghancurkan wanita simpanannya, atau bagaimana reaksi media saat tahu pengusaha terpandang memelihara pelakor di apartemen ini!"

Ancaman Natasha mengenai media dan nama besar Baskara seketika membungkam mulut Valerie seutuhnya. Wanita licik itu membeku bagai patung di atas tanah. Valerie sadar betul, jika kasus labrakan ini sampai masuk ke ranah hukum atau media massa, namanya dan kedudukannya akan hancur lebur sebelum ia sempat menikmati harta Baskara.

Natasha melangkah satu titik mendekati Valerie yang masih terduduk lemas menutupi wajah busuknya. Gadis remaja itu membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Valerie yang gemetar.

"Ini baru peringatan pertama..." bisik Natasha dengan suara rendah yang amat sangat dingin dan berbahaya, menyiratkan ancaman yang jauh lebih mengerikan dari sekadar telur busuk. "Dan ini belum berakhir. Aku bisa melakukan hal yang jauh lebih gila dari ini jika kau masih lancang."

Natasha mencengkeram rahang Valerie dengan jemarinya yang kuat, memaksa wanita itu menatap tepat ke dalam matanya.

"Dan kuperingatkan kau sekali lagi..." desis Natasha dengan penuh penekanan. "Jangan pernah tangan sampahmu itu menyentuh atau meracuni pikiran tentang Ibuku lagi... kalau kau tidak ingin kedua tangan murahanmu ini kupatahkan dengan tanganku sendiri!"

Natasha menghempaskan rahang Valerie dengan kasar. Dia membalikkan tubuhnya dengan anggun, meraih tasnya yang tergeletak di tanah, lalu melangkah pergi membelah kerumunan orang di area lobby tanpa ada rasa bersalah atau penyesalan sedikit pun.

Valerie menangis histeris di atas tanah, menutupi wajahnya yang berbau busuk di tengah jepretan kamera ponsel para tetangga apartemennya. Kemenangan palsu yang baru ia nikmati semalam seketika hancur berkeping-keping menjadi sebuah kehinaan terbesar dalam hidupnya.

Sementara itu, dua jam kemudian di kediaman keluarga Dirgantara.

Baskara baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya di ruang kerja lantai atas. Pening di kepalanya masih tersisa, namun ingatan akan kekalahannya dari Kinanti dan Natasha kemarin sore masih menyisakan kekesalan yang tebal di dadanya.

Pria tegap itu melangkah turun ke lantai dasar dengan kemeja yang sudah dirapikan, berniat mengambil minum di dapur.

Saat melintasi ruang keluarga, Baskara menghentikan langkahnya. Di sana, Kinanti sedang duduk tenang di sofa, membaca sebuah buku pola baju bayi. Suasana rumah terasa begitu damai dan tentram.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Natasha melangkah masuk dengan santai. Pakaian jaket hitamnya sudah dilepas, menyisakan kaus polos kasual. Wajah gadis remaja itu tampak begitu segar, puas, dan memancarkan keceriaan yang sudah lama tidak Baskara lihat.

"Ibu! Natasha pulang!" panggil Natasha ramah dengan nada suara yang begitu manis dan penuh kehangatan.

Kinanti menurunkan bukunya, menyunggingkan senyum hangat yang teramat tulus. "Sudah pulang, Nak? Dari mana saja pagi-pagi begini? Ibu khawatir kau tidak masuk sekolah."

Natasha melangkah menghampiri Kinanti, mencium pipi ibu tirinya dengan sayang. "Cuma menyelesaikan sedikit 'urusan kecil' di luar, Bu. Sekarang masalahnya sudah selesai dan bersih."

Baskara yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan itu dengan dada yang berdenyut panas dan cemburu. Dia mengepalkan tangannya, merasa diabaikan seutuhnya di rumahnya sendiri.

Namun, sebelum Baskara sempat membuka mulutnya untuk menegur Natasha, ponsel pintarnya di dalam saku celana mendadak bergetar hebat secara terus-menerus.

Baskara merogoh ponselnya. Nama Valerie tertera di layar dengan puluhan panggilan tidak terjawab dan belasan pesan suara.

Baskara berdehem pelan, membelakangi Kinanti dan Natasha lalu mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Val? Ada apa panggil berulang kali—"

"BASKARA! TOLONG AKU! ANGKAT TELEPONKU!"

Suara raungan histeris dan tangisan berderai dari Valerie seketika meledak di seberang telepon, begitu keras hingga sedikit terdengar keluar dari gagang telepon.

"Anakmu! Anak kurang ajar itu! Natasha datang ke apartemenku! Dia menyerangku, menarik rambutku, dan menyiram wajahku dengan telur busuk di depan semua orang!" jerit Valerie dengan nada suara yang teramat sangat histeris dan penuh dendam. "Dia mempermalukanku, Bas! Kau harus balas dia! Kau harus hukum anakmu itu sekarang juga.

Deg!

Seketika, darah di tubuh Baskara mengalir dingin. Mata elangnya membelalak sempurna dalam guncangan rasa terkejut yang luar biasa. Pria matang itu perlahan memutarkan tubuhnya, menatap ke arah Natasha yang sedang duduk santai di sebelah Kinanti sembari meminum segelas jus jeruk segar.

Natasha yang menyadari tatapan papanya hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang amat sangat dingin, lalu mengangkat gelasnya sedikit ke arah Baskara sebuah gestur penegasan bahwa perang terbuka telah resmi dimulai, dan dia tidak akan pernah mundur selangkah pun.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!