Indonesia
NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Kejauhan

Di dalam gedung teater, suasana terasa terpecah. Angel dan Barteil duduk saling berjauhan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka tidak ingin melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mereka—Grey dan Ressa yang duduk bersama dengan hangat, menikmati teh dan kebersamaan yang membuat hati mereka perih.

Angel menatap Grey yang sedang tersenyum pada Ressa, dan hatinya mendidih. Jari-jarinya menggenggam erat ujung gaunnya, hampir merobek kain sutra itu.

"Dia seharusnya bersamaku," pikirnya, matanya menyala cemburu. "Bukan dengan pelayan rendahan itu."

Ia ingin menjauhkan Ressa dari Grey, tetapi setiap kali ia teringat ancaman Grey—"Kepalamu akan tergantung di alun-alun kota Ragonves"—ia langsung ciut.

"Tuan Muda Grey..." gumamnya lirih, suaranya bergetar karena takut. Ia tidak berani mendekat, tidak berani menatap mata Grey yang tajam itu.

Di seberang ruangan, Barteil duduk dengan wajah lemas, bahunya merosot. Buku latihan teater terbuka di pangkuannya, tetapi matanya tidak fokus pada tulisan. Pikirannya melayang ke tempat lain.

"Vega," pikirnya, menghela napas panjang. "Dia benar-benar bermesraan dengan Nyonya Belinda. Mereka membuatku iri saja."

Ia menggigit bibirnya, menahan rasa kesal.

"Aku di sini sendirian, tidak disukai oleh siapa pun. Sementara Vega mendapatkan wanita secantik Belinda, dan Grey mendapatkan Ressa yang setia."

Barteil menggelengkan kepala, lalu memilih membaca buku latihan daripada melihat pemandangan yang menyakitkan di depannya.

---

Di Luar Wilayah Ragonves - Bukit Berbatu

Jauh dari keramaian, di atas bukit berbatu yang dikelilingi pepohonan gelap, seorang pemuda duduk dengan tenang. Kulitnya pucat seperti mayat, dan wajahnya tidak mengenal ekspresi—hampa, kosong, seperti patung yang diberi nyawa. Di pinggangnya, terselip dua pedang melengkung yang sudah berlumuran darah kering.

Arvos Eight.

Pembunuh bayaran paling kejam yang pernah melintasi wilayah Dirvente.

Ia mengamati hamparan di bawahnya—wilayah luar Ragonves yang kini sunyi. Mayat-mayat prajurit bergelimpangan di tanah, darah mereka meresap ke dalam bumi yang dingin.

"Tuan Muda Grey bilang aku harus menunggu bulan purnama penuh untuk membantai keluarga Sienta," pikirnya, matanya yang kosong menatap ke langit. "Dia memperingatkanku agar tidak langsung bergerak."

Arvos mengingat perintah Grey dengan jelas.

"Tunggu bulan purnama penuh yang akan terjadi satu bulan lagi. Saat itu, bulan akan berubah menjadi bulan darah—darah dari keluarga Sienta."

Arvos tersenyum—senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

"Tuan Muda Grey memang orang yang kejam," gumamnya, suaranya serak dan dingin. "Tapi itulah yang membuatnya menarik."

Sebelumnya, ia tidak pernah mendapat misi semengerikan ini. Namun, Grey memberikan ratusan peti emas sebagai bayaran—dan itu cukup untuk membuatnya tertarik.

Arvos menatap ke arah kediaman keluarga Sienta yang terlihat samar di kejauhan, di balik bukit dan hutan.

"Keluarga Sienta..." bisiknya, suaranya seperti angin malam. "Nikmati waktu kalian sebelum malaikat kematian kalian tiba."

Ia duduk di atas bebatuan besar, pedangnya tergeletak di pangkuannya. Angin malam berhembus dingin, membuat jubah hitamnya berkibar.

"Aku hanya perlu menunggu," pikirnya, matanya tetap tertuju pada kediaman Sienta. "Hingga waktu itu tiba. Ketika waktunya tiba, keluarga Sienta akan menghilang dari dunia ini."

Ia menutup matanya, tetapi telinganya tetap waspada mendengar setiap suara di sekitarnya.

Di kejauhan, burung gagak hitam terbang melintasi langit malam, membawa serta kabar kematian yang belum tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!