Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Momen Berdua

"Mas, habis ini mau ke mana lagi, hm?" tanya Naresta kepada sang suami.

Mereka sudah selesai membeli berbagai perlengkapan bayi dan kini berjalan keluar dari toko sambil membawa beberapa kantong belanja.

Elvan menoleh kepada Naresta.

"M-mau p-pulang?"

Naresta langsung menggeleng.

"Jangan pulang dulu."

Elvan terlihat bingung.

"K-kenapa?"

"Kita jarang keluar berdua seperti ini."

Naresta tersenyum kecil sambil menggandeng lengannya.

"Aku ingin jalan-jalan sebentar sama Mas."

Elvan mengangguk pelan.

"M-mau k-kemana?"

"Hm..."

Naresta berpikir sejenak.

"Bagaimana kalau kita makan dulu?"

Elvan langsung mengangguk.

"B-boleh."

"Tapi jangan makanan yang aneh-aneh."

Elvan tersenyum kecil.

"A-aku tahu."

Naresta langsung menatapnya curiga.

"Mas tahu dari mana?"

"K-kamu s-selalu m-minta m-makanan yang s-sama."

Naresta tertawa kecil.

"Iya juga."

Mereka pun berjalan menuju mobil. Elvan membuka pintu untuk istrinya dan memastikan Naresta duduk dengan nyaman sebelum memasukkan semua barang belanjaan ke bagasi.

Setelah itu, Elvan masuk ke kursi pengemudi.

Naresta menatap suaminya sambil tersenyum.

"Mas."

"I-iya?"

"Terima kasih."

Elvan menoleh.

"U-untuk a-apa?"

"Untuk hari ini."

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Sudah mau menemani aku membeli perlengkapan bayi, sabar menghadapi aku yang banyak maunya, dan selalu menjaga aku."

Elvan terdiam beberapa saat.

Kemudian ia menggenggam tangan Naresta.

"A-aku s-sayang k-kamu."

Naresta tersenyum.

"Aku juga sayang Mas."

Elvan menatapnya sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.

Hari itu mungkin sederhana.

Mereka hanya membeli perlengkapan bayi, makan bersama, dan menghabiskan waktu berdua.

Namun bagi Naresta, momen seperti ini terasa sangat berharga.

Setelah melewati begitu banyak hinaan, tekanan, dan masalah selama bertahun-tahun, akhirnya mereka bisa menikmati sedikit ketenangan sebagai pasangan yang sedang menantikan kelahiran buah hati mereka.

**

Beberapa menit kemudian.

Mereka tiba di sebuah warung makan. Elvan turun lebih dulu, lalu segera membukakan pintu untuk Naresta dan membantu istrinya turun dengan hati-hati.

Walaupun Elvan memiliki autisme, ia sangat protektif dan posesif kepada Naresta. Ia selalu memastikan istrinya berada di dekatnya dan tidak melakukan sesuatu yang menurutnya bisa membahayakan Naresta.

"Mas, ayo makan dulu," ucap Naresta kepada sopir mobil yang mereka sewa.

Sopir itu tampak sedikit terkejut.

"Nggak usah, Mbak. Saya tunggu di mobil saja."

Naresta menggeleng.

"Jangan begitu. Kita sudah cukup lama perjalanan, Mas juga pasti lapar."

Elvan yang berdiri di samping Naresta langsung mengangguk.

"I-iya. M-makan."

Sopir itu akhirnya tersenyum.

"Kalau begitu, baiklah, Mbak. Terima kasih."

Naresta menggandeng tangan Elvan.

"Ayo, Mas."

Elvan langsung berjalan di samping istrinya.

Namun, ketika mereka hendak masuk ke dalam warung, Elvan tiba-tiba berhenti.

"S-sayang."

"Hm?"

"D-duduknya s-samping aku."

Naresta tersenyum geli.

"Iya, Mas. Aku memang mau duduk di samping Mas."

Elvan baru terlihat tenang.

Mereka bertiga kemudian memilih meja yang cukup nyaman. Naresta duduk di samping Elvan, sementara sopir mobil duduk di seberang mereka.

Seorang pelayan datang membawa daftar menu.

"Mau pesan apa, Kak?"

Naresta mengambil menu.

"Hmm... Mas mau makan apa?"

Elvan memperhatikan menu tersebut dengan serius.

"N-nasi g-goreng."

Naresta mengangguk.

"Nasi goreng satu. Aku mau soto saja."

Ia kemudian menoleh kepada sopir.

"Mas sendiri mau makan apa?"

Sopir tersenyum.

"Saya ikut nasi goreng saja, Mbak."

"Baik, Mbak. Tiga minumannya sekalian?"

Naresta mengangguk.

"Es teh satu untuk saya, air putih untuk Mas Elvan, sama es teh satu untuk Mas."

Setelah pelayan pergi, Elvan langsung menggenggam tangan Naresta di bawah meja.

Naresta menoleh.

"Kenapa, Mas?"

"A-aku s-senang."

"Senang kenapa?"

"K-kita b-bisa m-makan b-bersama."

Naresta tersenyum hangat.

"Iya. Hari ini memang waktunya kita bersantai."

Elvan mengangguk kecil, lalu tetap menggenggam tangan istrinya erat.

Sopir yang melihat keduanya hanya tersenyum.

"Kelihatan sekali Mas Elvan sayang sama Mbak Naresta."

Naresta tertawa kecil.

"Iya. Kadang terlalu khawatir malah."

Elvan langsung menatap sopir itu.

"T-tidak b-boleh jauh d-dari Naresta."

Sopir tersebut tertawa kecil.

"Iya, iya. Saya paham."

Naresta hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Mas Elvan memang begitu."

Sopir itu terkekeh.

"Habis ini Mbak mau ke mana?"

Naresta mengusap perutnya yang mulai terasa berat.

"Pulang aja, Mas. Soalnya sudah mulai lelah saya."

Elvan yang mendengar itu langsung menoleh.

"L-lelah?"

"Iya, Mas. Sedikit."

Elvan langsung terlihat khawatir.

"P-pulang s-sekarang."

Naresta tersenyum kecil.

"Iya, Mas. Setelah makan."

Sopir itu mengangguk.

"Baik, Mbak. Nanti setelah selesai makan, kita langsung pulang."

"Terima kasih, Mas."

Elvan kembali menggenggam tangan Naresta.

"I-istirahat d-di rumah."

"Iya."

Naresta tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya sedikit ke bahu Elvan.

"Tenang saja, Mas. Aku baik-baik saja."

Elvan mengangguk, tetapi tatapannya masih terus memperhatikan istrinya.

Sopir itu hanya tersenyum melihat keduanya.

"Mas Elvan benar-benar perhatian sekali sama Mbak."

Naresta terkekeh.

"Kalau sudah soal saya, dia memang begitu."

Elvan mengangguk tanpa ragu.

"A-aku s-sayang Naresta."

Naresta langsung tersenyum hangat.

"Aku juga sayang Mas."

**

Lima belas menit kemudian.

Akhirnya mereka sudah selesai makan. Kini waktunya kembali pulang.

Namun, saat ingin berjalan menuju mobil, tiba-tiba saja Naresta berhenti lalu duduk di kursi yang berada di depan warung makan itu.

"S-sayang?" Elvan langsung menghampirinya dengan wajah khawatir.

"Mas, rasanya aku tidak sanggup lagi untuk berjalan," ucap Naresta sambil memegangi perutnya.

Elvan langsung berjongkok di hadapan istrinya.

"M-mau g-gendong?"

Naresta menatapnya.

"Mas sanggup?"

Elvan mengangguk cepat.

"S-sanggup."

"Tapi aku berat."

"T-tidak."

Elvan kemudian berdiri dan mendekat ke arah Naresta.

"N-naik."

Naresta perlahan mengulurkan kedua tangannya kepada Elvan.

Elvan membungkukkan tubuh sedikit, lalu mengangkat Naresta dengan kedua tangannya. Satu tangannya menopang punggung Naresta, sementara tangan lainnya menopang bagian bawah tubuh istrinya.

"A-aman?" tanya Elvan dengan wajah cemas.

"Iya, Mas."

Naresta kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Elvan dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

Elvan berjalan perlahan menuju mobil.

Sopir yang melihat mereka langsung tersenyum.

"Lho, Mbak kenapa?"

Naresta tersenyum malu.

"Nggak apa-apa, Mas. Cuma sudah terlalu lelah untuk berjalan."

"Oh, begitu. Pelan-pelan saja, Mas Elvan."

Elvan mengangguk.

"I-iya."

Ia terus menggendong Naresta dengan hati-hati sampai tiba di dekat mobil.

"S-sayang, m-masih nyaman?"

"Iya, Mas."

"J-jangan turun d-dulu."

Naresta terkekeh kecil.

"Memangnya aku mau turun?"

Elvan menggeleng.

"T-tidak."

Naresta tersenyum sambil menatap wajah suaminya.

"Mas perhatian banget."

Elvan hanya mengeratkan pegangannya.

"A-aku s-sayang."

"Aku juga sayang Mas."

Sesampainya di mobil, Elvan menurunkan Naresta perlahan dan membantunya masuk ke dalam mobil.

Ia memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ikut masuk.

Sopir kemudian menutup pintu mobil.

"Sudah nyaman, Mbak?"

"Iya, Mas. Kita pulang saja."

"Baik, Mbak."

Elvan kembali menggenggam tangan Naresta.

"P-pulang."

"Iya, Mas. Kita pulang."

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!