Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Hangat Itu Kembali

Keesokan harinya, tepat pukul satu siang, Vivien sudah berdiri di area parkir sekolah Juvan. Matahari bersinar terik di atas kepala, membuat keringat mulai menetes di pelipisnya. Beberapa siswa mulai berjalan keluar gerbang, tertawa dan bercerita dengan riang, namun sosok yang ditunggunya tak kunjung tampak.

"Mana sih itu bocah, lama banget keluarnya mana panas lagi!" gerutu Vivien sambil mengipasi dirinya dengan tangan, wajahnya mulai terlihat tak sabar.

Belum lama menunggu, gerbang sekolah kembali ramai. Dan di sana, berjalan santai di antara kerumunan siswa, tampaklah Juvan. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, namun justru itu membuatnya terlihat semakin menawan.

"Juvan!" teriak Vivien sambil melambaikan tangan.

Langkah kaki Juvan terhenti seketika. Ia menatap ke arah sumber suara, dan ketika melihat sosok Vivien, matanya sedikit membelalak.

 "Loh? Itu kan kakak yang kemarin ketemu aku di bengkel. Dia ngapain ke sini?"batinnya bingung.

Vivien segera berjalan menghampirinya dengan langkah cepat. Semakin dekat ia melihat remaja itu, semakin ia tak bisa menolak fakta — seragam sekolah yang dikenakannya itu... entah kenapa justru membuatnya terlihat makin tampan dari biasanya.

"Duh, dia pakai seragam sekolah kayak gini kok jadi tambah ganteng ya... Eh astaga Vivien, sadar!" serunya dalam hati sambil menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran tak seharusnya itu.

"Kakak kok ada di sini? Ada perlu apa?" tanya Juvan duluan, menatapnya dengan tatapan bingung namun tetap sopan.

Vivien langsung masuk ke inti pembicaraan tanpa bertele-tele.

"Aku kemarin udah kasih tau semua tentang kebenaran yang sebenarnya, tapi kok kamu gak temuin Yena sih?" tanyanya langsung, nada bicaranya penuh keheranan.

Juvan menunduk sejenak, ujung sepatunya menggesek pelan aspal di bawah kakinya. Wajahnya berubah murung.

"Hmm... soal itu ya," jawabnya pelan, lalu menatap lurus ke mata Vivien. "Kakak sebenarnya bohong kan?"

"Bohong apaan bocah?" sahut Vivien yang langsung sedikit emosi, alisnya bertaut rapat.

"Kakak bilang Kak Yena jauhin aku karena dia diancam sama mantannya..." Juvan menelan ludah, suaranya terdengar getir. "Tapi sebenarnya... dia ngejauhin aku itu karena sudah punya orang baru, kan?"

Mendengar itu, Vivien langsung menepuk keningnya sendiri dengan keras.

"Hadeh Juvan, Juvan..." keluhnya sambil menggeleng tak habis pikir. "Asal tahu saja, yang kamu kira pacarnya itu... itu adalah mantannya Yena. Setau aku, Yena itu jarang banget deket sama cowok, kecuali sama mantan pacarnya... dan kamu."

Seketika mata Juvan terbelalak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dadanya terasa berdegup kencang tak karuan.

"Berarti selama ini aku salah paham dong?!"teriaknya dalam hati, merasa begitu bodoh dan menyesal. Selama ini ia menyimpan rasa sakit, merasa dikhianati, merasa dibuang... padahal semuanya hanyalah kesalahpahaman yang ia buat sendiri.

"Eh, malah melamun nih bocah..." Vivien melambaikan tangan tepat di depan wajahnya, membuyarkan lamunan Juvan.

"Eh... iya, Kak," jawab Juvan tersentak, pipinya sedikit memerah. "Sekali lagi... terima kasih ya atas informasinya."

"Jangan cuma terima kasih doang!" tegur Vivien sambil menunjuk pelan dada bidang remaja itu. "Samperin tuh si Yena! Jangan saling jaga jarak kayak gini. Dengan kalian jaga jarak, bukannya memperbaiki situasi, malah bikin rumit aja. Udah itu aja yang mau aku sampaikan. Aku mau pulang, panas banget ini!" ucap Vivien sambil berbalik berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Juvan yang masih terpaku mematung di tempat parkir.

Langkah kaki Vivien perlahan menjauh, namun kata-katanya masih berputar kencang di kepala Juvan.

Salah paham... semua ini salah paham...

Juvan menatap langit biru di atasnya, rasa sesak yang selama ini mengikat dadanya perlahan terlepas, digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa besar. Ia menatap kedua telapak tangannya yang terkepal erat.

"Kak Yena... selama ini kamu menderita sendirian... takut mantan kakak menyakiti aku... menyuruh aku menjauh padahal sebenarnya kakak... kakak mungkin saja membutuhkanku ... dan aku? Aku malah diam saja. Aku malah membiarkan kakak berjuang sendirian."

Jantungnya berpacu cepat — bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena tekad yang membara. Ia tak akan membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut lagi. Ia tak akan membiarkan Yena menangis sendirian lagi.

"Kak Yena..." bisiknya lirih, matanya menatap lurus ke depan dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku datang sekarang. Tunggu aku."

Sore itu, rasa bosan menyerang Yena di rumah. Kakinya memang masih terasa nyeri, namun ia tak bisa terus berdiam diri di kamar menatap langit-langit. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke toko kuenya — tempat yang selalu menjadi pelarian terbaiknya saat hati sedang kalut.

Sesampainya di sana, ia terkejut melihat betapa ramainya pengunjung sore itu. Deretan pelanggan mengantre dengan tertib, wajah-wajah cerah menatap aneka kue cantik di etalase.

"Eh, ada Kak Yena!" seru salah satu karyawan yang baru saja menoleh dan melihat kedatangannya.

Yena tersenyum lebar, rasa lelah seketika hilang melihat semangat mereka.

"Hari ini toko rame banget ya... aku bantuin ya," ucapnya sambil hendak melangkah ke belakang meja.

"Eeh, gak usah Kak! Kita bisa kok, Kakak duduk aja dulu hehe," tolak karyawan itu dengan ramah namun tegas.

Yena pun akhirnya menurut. Lagipula, kakinya memang masih terasa ngilu jika dipakai berdiri terlalu lama. Ia duduk di bangku kayu di sudut ruangan, memperhatikan karyawannya bekerja dengan sigap dan penuh semangat. Hati Yena terasa hangat melihatnya.

Waktu berlalu begitu cepat. Langit di luar berubah warna menjadi ungu kebiruan, lalu gelap. Jarum jam menunjuk pukul 18:55 — waktu penutupan toko. Pengunjung terakhir pun telah pergi, dan pintu kaca ditutup rapat.

"Kakak belum mau pulang?" tanya karyawan yang sedang bersiap-siap untuk pulang.

"Belum," jawab Yena singkat, matanya menatap kosong ke arah etalase kue yang kini sepi.

"Oh, kalau gitu kita pulang duluan ya, Kak!"

Yena hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, pintu tertutup. Kini tinggal ia seorang diri di dalam toko yang hangat dan penuh aroma manis itu.

Keheningan menyelimuti ruangan. Yena melamun, pandangannya jatuh ke lantai. Semua kejadian belakangan ini berputar di kepalanya — Arga, ancamannya, kebohongannya, rasa takut, rasa bersalah... dan satu nama yang tak pernah berhenti menghantui pikirannya.

"Juvan..." gumamnya lirih, suaranya memecah keheningan. "Di mana ya kamu sekarang?"

Hening lagi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Namun tiba-tiba, dari arah pintu kaca terdengar suara yang sangat ia kenal — suara yang selama ini ia rindukan namun tak berani ia harapkan.

"Kak Yena..." panggil suara itu lembut namun jelas.

Yena menggeleng pelan, senyum getir terukir di bibirnya. Saking kangennya aku sama dia, sampai-sampai aku berhalusinasi mendengar suaranya sekarang, batinnya sedih.

"Kakak..." panggil suara itu lagi, kali ini lebih dekat dan lebih nyata.

Yena tersentak. Tubuhnya menegang. Ia mendongak cepat — dan di sana, berdiri seorang anak laki-laki dengan tubuh,tinggi,berkulit putih dan berwajah tampan. adalah Juvan.

"Ju... Juvan?" Yena bergumam tak percaya, matanya membelalak, kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia tak berani berkedip, takut bayangan itu lenyap seketika.

"Iya, Kak. Ini aku... Juvan," ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca menatap gadis yang ada di hadapannya itu — gadis yang selama sebulan penuh ia rindukan setiap detiknya.

Tak butuh waktu lama. Tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya, tanpa mempedulikan apakah ini mimpi atau kenyataan — Yena langsung berdiri dan berlari mendekat. Kedua lengannya melingkar erat ke pinggang remaja itu, memeluknya sekuat tenaga seolah tak akan pernah melepaskannya lagi. Wajahnya menekan ke dada bidang Juvan, menghirup napas dalam-dalam aroma yang begitu ia rindukan.

Juvan tertegun sejenak, namun seketika itu juga kedua lengannya melingkar erat ke punggung Yena, memeluknya balik dengan kekuatan yang sama — bahkan lebih erat.

"Kak Yena..." suaranya bergetar di sela isak tangis yang tertahan. "Aku di sini... aku datang... maafkan aku... maafkan aku karena baru datang sekarang..."

Yena menggeleng kuat di pelukannya, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah membasahi kaos putih Juvan.

"Juvan... Juvan..." hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, berulang-ulang, sebut namanya seperti doa yang paling tulus. "Kamu nyata kan? Kamu beneran ada di sini?"

"Aku nyata, Kak. Aku beneran ada..." Juvan mengusap punggung Yena dengan lembut, menenangkan gemetar yang merambat ke seluruh tubuh gadis itu. "Dan aku nggak akan pergi lagi. Nggak akan pernah."

Malam itu, di dalam toko kue yang sepi dan hangat, di antara aroma manis yang tertinggal — dua hati yang selama ini terpisah oleh kebohongan, rasa takut, dan kesalahpahaman akhirnya kembali menyatu. Seolah tak ada jarak yang pernah memisahkan mereka, seolah tak ada hari yang terlewat tanpa saling merindukan. Karena pada akhirnya, rasa cinta yang tulus selalu menemukan jalan pulang.

Pelukan itu tak terasa berakhir. Menit demi menit berlalu, namun tak satu pun dari mereka berniat melepaskan. Yena masih memeluk erat pinggang Juvan, wajahnya tersembunyi di dada remaja itu, Sementara Juvan, kedua tangannya tak lelah mengusap punggung Yena dengan lembut.

"Maafin aku..." bisik Yena di sela isak tangisnya, suaranya terasa pecah. "Maafin aku ya, Juvan... sudah menyuruhmu menjauh... sudah menghindar darimu... padahal aku... padahal aku setiap hari berharap kamu datang... berharap kamu ada di depanku..."

Juvan perlahan melepaskan pelukannya sedikit.

"Jangan minta maaf, Kak..." ucapnya pelan namun tegas. "Aku yang harusnya minta maaf. Aku bodoh... aku terlalu cepat menyimpulkan semuanya sendiri. Aku lihat Kakak bersama pria lain... aku pikir Kakak sudah memilih dia... aku pikir aku cuma orang asing yang tak pantas ada di dekat Kakak. Padahal Kakak... Kakak menjauh karena takut aku kenapa-napa kan?"

Yena mengangguk lemah, air mata kembali menetes saat menyadari betapa bodohnya mereka berdua — saling menyakiti karena diam-diam saling melindungi.

"Aku takut, Juvan..." akunya dengan jujur, menatap lurus ke mata remaja itu. "Arga ancam aku... dia bilang kalau aku tak menjauhimu, dia akan menyakitimu lebih parah dari sebelumnya. Aku takut... aku takut sesuatu terjadi padamu gara-gara aku. Kamu masih muda... kamu masih punya masa depan yang cerah... aku nggak mau kamu hancur cuma karena terlibat sama aku."

Juvan tersenyum getir.

"Kak Yena..." panggilnya lembut namun dalam. "Masa depan apa yang cerah kalau di dalamnya nggak ada Kakak? Kalau kebahagiaan Kakak terancam, masa depanku juga terancam, Kak. Kita sama-sama terluka saat terpisah."

"Dan aku mau Kakak tahu... aku nggak takut sama mantan kakak itu. Aku nggak takut sama ancamannya. Yang aku takutin cuma satu — kehilangan Kakak. Itu saja."

Hati Yena terasa luluh seketika. Ia tak bisa menahan diri lagi, ia mendekat dan memeluk juvankembali — lebih erat dari sebelumnya, seolah ingin menyatukan seluruh jiwa dan raganya ke dalam pelukan itu.

"Juvan..." suaranya penuh keputus asaan namun juga penuh harapan. "Jangan tinggalkan aku ya... jangan pernah... aku butuh kamu..."

"Aku nggak akan pergi, Kak..." jawab Juvan tegas, menepuk lembut punggung Yena. "Aku janji. Mulai sekarang, aku nggak akan biarkan Kakak berjuang sendirian lagi. Aku akan lindungi Kakak. Dari mantan kakak, dari rasa takut, dari kesepian... semuanya."

Malam semakin larut, namun tak satu pun dari mereka memikirkan untuk pulang. Mereka duduk berdampingan di bangku kayu sudut toko, bahu mereka saling bersentuhan, tangan mereka saling menggenggam erat — seolah tak akan pernah melepaskan lagi. Yena menceritakan semuanya — ancaman Arga, rasa takutnya, rasa bersalahnya, dan bagaimana setiap malam ia merindukan sosok di sampingnya ini. Juvan mendengarkan dengan saksama, sesekali mengusap punggung tangan Yena dengan ibu jarinya, menyalurkan kekuatan lewat sentuhan itu.

"Maaf ya... selama ini aku bikin Kakak sedih..." ucap Juvan pelan saat Yena selesai bercerita.

Yena menatap wajah remaja itu — wajah yang masih terlihat muda, namun matanya memancarkan kedewasaan dan keteguhan yang tak dimiliki siapa pun yang pernah ia kenal sebelumnya. Di matanya, ia melihat kebahagiaan yang selama ini hilang.

"Kamu tahu, Juvan..." ucap Yena pelan, menatap manik mata itu lekat-lekat. "Sepanjang satu bulan ini... setiap kali aku melihat hal yang indah, hal yang manis... aku selalu teringat kamu. Dan aku sadar satu hal... aku nggak bisa hidup tanpa kamu."

Pipi Juvan memerah mendengar pengakuan itu, namun ia tak menunduk seperti biasanya. Ia justru menatap balik dengan senyum paling tulus yang pernah Yena lihat.

"Aku juga, Kak..." jawabnya jujur. "Setiap detik, setiap menit... hatiku selalu di sini — di samping Kakak."

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, namun kehangatan di dalam toko itu tak meredup sedikit pun. Malam itu, di antara aroma manis kue dan keheningan yang lembut, dua hati yang sempat terpisah akhirnya menyatu kembali — lebih kuat, lebih teguh, dan lebih berani dari sebelumnya. Karena kini mereka tahu: selama mereka saling memegang tangan, tak ada ancaman, tak ada jarak, dan tak ada kesalahpahaman yang mampu memisahkan mereka.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!