Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Lauren
Malam turun perlahan di London.
Setelah meninggalkan Alexander Manor, Ralph duduk di dalam mobil dengan pandangan tertuju ke luar jendela.
Pikirannya masih sempat kembali kepada Emma.
Wajah polos istrinya pagi tadi.
Rambutnya yang berantakan.
Cara gadis itu marah ketika mengetahui dirinya berada di dalam kamar.
Ralph tersenyum kecil.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika mobil memasuki kawasan tempat tinggal keluarga Lauren.
Sudah lama ia tidak datang untuk acara seperti ini.
Tetapi ada satu janji yang tidak pernah ia lupakan.
Malam ini adalah peringatan ulang tahun Lauren.
Meski wanita itu telah tiada.
Di rumah keluarga Lauren, Andrea berdiri di depan cermin.
Rambut hitam panjangnya telah ditata dengan sempurna.
Gaun yang dikenakannya jauh lebih mewah daripada pakaian sehari-hari.
Potongannya elegan, tetapi cukup berani untuk menarik perhatian.
Ia memoles lipstik merah ke bibirnya.
Kemudian menatap pantulan dirinya sendiri.
Dari belakang, ibunya muncul.
"Kau terlihat cantik."
Andrea tersenyum.
"Terima kasih."
Ibunya memandang putrinya melalui cermin.
"Jangan membuat kesalahan malam ini."
"Aku tahu."
"Kita tidak sedang mencari masalah."
Andrea menghapus sedikit noda lipstik di sudut bibirnya.
"Aku juga tidak berniat membuat masalah."
Ayahnya yang sejak tadi berada di ruang keluarga ikut menyahut.
"Ralph datang karena Lauren."
Andrea terdiam.
"Jangan sampai dia merasa kau mencoba menggantikan kakakmu."
Senyum Andrea perlahan muncul.
"Aku tidak akan pernah bisa menggantikan Lauren."
Jawabannya terdengar begitu lembut.
Namun kedua orangtuanya tidak tahu bahwa di dalam hati Andrea...
justru itulah yang selama bertahun-tahun ia inginkan.
Bukan menjadi Lauren.
Melainkan mendapatkan apa yang pernah dimiliki Lauren.
Ralph.
Jauh sebelum kakaknya meninggal, perasaan itu sudah tumbuh.
Diam-diam.
Tersembunyi.
Saat Lauren masih berdiri di sisi Ralph, Andrea sudah memperhatikan pria itu dari kejauhan.
Dan ketika Lauren pergi...
perasaan itu tidak ikut mati.
Justru semakin kuat.
Kedua orangtuanya mengetahui hal tersebut.
Mereka juga tahu bahwa hubungan dengan keluarga Alexander pernah menjadi impian besar keluarga mereka.
Dulu, ketika Lauren masih bersama Ralph, mereka berharap pernikahan keduanya akan membawa keluarga ini semakin dekat dengan keluarga Alexander.
Namun Lauren meninggal.
Kemudian Ralph menikahi Ella.
Harapan itu seharusnya berakhir.
Tetapi Andrea tidak pernah benar-benar menyerah.
"Yang penting," kata ayahnya pelan, "jangan terburu-buru."
Andrea mengangguk.
"Aku mengerti."
Ibunya tersenyum.
"Biarkan dia yang datang mendekat."
Andrea menatap dirinya sekali lagi di cermin.
"Aku bisa menunggu."
Bel pintu berbunyi.
Andrea langsung menoleh.
Ayahnya bangkit.
Beberapa detik kemudian, Ralph memasuki rumah.
"Ralph."
Andrea menyambutnya dengan senyum hangat.
Ralph mengangguk sopan.
"Selamat malam."
"Terima kasih sudah datang."
"Aku sudah berjanji."
Tatapan Ralph kemudian beralih pada foto Lauren yang diletakkan di ruang keluarga.
Senyumnya menghilang.
Untuk sesaat, kenangan lama kembali memenuhi pikirannya.
Lauren.
Wanita yang pernah dicintainya.
Wanita yang seharusnya menjadi istrinya jika takdir tidak mengambilnya lebih dahulu.
Andrea memperhatikan perubahan ekspresi itu.
Ia tidak langsung mendekat.
Ia tahu lebih baik daripada siapa pun...
Ralph masih memiliki kenangan terhadap kakaknya.
Dan malam ini bukan waktunya untuk menghapus kenangan itu.
Justru sebaliknya.
Ia akan menjadi orang yang menemani Ralph mengenangnya.
"Ralph..."
Andrea menunjuk meja makan.
"Kami menyiapkan beberapa makanan yang dulu Lauren sukai."
Ralph menatapnya.
"Kau masih mengingatnya?"
Andrea tersenyum sedih.
"Dia kakakku."
Kemudian ia menundukkan kepala.
"Aku tidak mungkin melupakannya."
Ralph tidak menjawab.
Ia hanya berjalan menuju meja makan.
Andrea mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Untuk malam ini, ia tidak perlu membuat Ralph jatuh cinta.
Belum.
Ia hanya perlu membuat pria itu merasa nyaman berada di dekatnya.
Membuatnya mengingat Lauren.
Membuatnya melihat Andrea sebagai satu-satunya orang yang masih memahami sisi kehidupan Lauren yang telah hilang.
Sedangkan kedua orangtuanya mengamati dari kejauhan.
Tidak ada yang mengatakannya.
Namun mereka semua memiliki harapan yang sama.
Jika Lauren tidak bisa membawa Ralph ke dalam keluarga mereka...
mungkin Andrea yang akan melakukannya.
Dan malam ini...
permainan itu dimulai dengan kenangan seorang wanita yang telah tiada.
Makan malam berjalan cukup tenang pada awalnya.
Ralph duduk berhadapan dengan Andrea, sementara kedua orangtuanya berada di sisi meja.
Beberapa hidangan yang dulu disukai Lauren tersaji di hadapan mereka.
Andrea menuangkan minuman ke gelas Ralph.
"Lauren dulu paling suka hidangan ini."
Ralph melihat piring di hadapannya.
"Aku ingat."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Dulu dia selalu meminta tambahan."
Andrea tertawa kecil.
"Benar. Bahkan Ibu sering kesal karena dia tidak pernah mau menjaga pola makannya."
Ibunya ikut tersenyum.
"Dia memang begitu sejak kecil."
Percakapan perlahan berubah menjadi kenangan.
Tentang Lauren yang keras kepala.
Tentang kebiasaannya tertawa terlalu keras.
Tentang bagaimana ia pernah memaksa Ralph ikut berbelanja meskipun pria itu tidak menyukainya.
Ralph beberapa kali tersenyum mendengar cerita-cerita itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat lebih santai.
Andrea memperhatikannya.
"Kau masih ingat semuanya?"
Ralph menatapnya.
"Beberapa hal tidak mudah dilupakan."
Andrea tersenyum.
"Berarti ingatanmu masih bagus."
"Kenapa?"
"Karena aku pernah melihatmu lupa membawa payung ketika bersama Lauren."
Ralph terkekeh.
"Dia yang mengambil payungku."
Andrea ikut tertawa.
Suasana menjadi hangat.
Namun beberapa saat kemudian, Andrea mulai menyelipkan godaan kecil.
"Kalau Lauren masih ada, mungkin dia akan memarahimu karena terlalu serius."
Ralph mengangkat alis.
"Dia memang sering melakukannya."
Andrea mencondongkan tubuh sedikit.
"Kalau begitu, mungkin aku bisa menggantikannya untuk memarahimu."
Ralph langsung menatapnya.
Andrea tertawa kecil.
"Aku bercanda."
Ralph hanya menggeleng.
Ia tahu Andrea sedang berusaha mencairkan suasana.
Namun ia memilih tidak menanggapinya lebih jauh.
Kemudian ayah Andrea mulai berbicara.
"Ralph, sebenarnya kami agak malu membicarakan ini."
Ralph meletakkan gelasnya.
"Ada apa?"
Pria itu menghela napas.
"Rumah ini semakin terasa sempit."
Ibunya segera ikut mengeluh.
"Kami bertiga tinggal di sini, dan setelah Lauren tidak ada, banyak hal yang harus kami tanggung sendiri."
Ralph diam.
"Mobil Andrea juga mulai rusak."
Andrea segera menyela.
"Mobil itu sebenarnya masih bisa digunakan."
Ibunya menggeleng.
"Itu mobil lama Lauren dan modelnya juga ketinggalan."
Andrea menundukkan kepala.
"Mobil itu sudah menemaninya bertahun-tahun."
Ralph kembali terdiam.
Ia mengenal mobil tersebut dan Ralph yang membelinya.
Dulu Lauren sering menggunakannya.
Kini mobil itu diberikan kepada Andrea.
Ayah Andrea kembali berkata,
"Kami sebenarnya tidak ingin merepotkanmu."
Kalimat itu justru terdengar seperti pembuka untuk permintaan.
"Kalian keluarga Lauren," jawab Ralph tenang.
"Aku menghormati kalian."
Kedua orangtua Andrea saling melirik.
Ibunya tersenyum kecil.
"Kami tahu kau baik."
Ralph hanya mengangguk.
Ia memahami arah pembicaraan tersebut.
Namun ia tidak ingin memperpanjangnya.
Malam ini ia datang untuk Lauren.
Bukan untuk membicarakan uang.
Bukan pula untuk membahas urusan keluarga.
Andrea kemudian kembali mengambil alih percakapan.
"Ralph..."
"Hm?"
"Terima kasih sudah datang."
Ralph menatapnya.
"Aku memang sudah berjanji."
Andrea tersenyum.
"Aku tahu."
Tatapannya bertahan sedikit lebih lama.
Ralph menyadarinya.
Namun ia memilih mengalihkan pandangan kepada foto Lauren yang berada di ruang keluarga.
Ia datang ke tempat ini demi menghormati kenangan wanita yang pernah dicintainya.
Dan selama itu pula...
ia akan mendengarkan apa pun yang dikatakan keluarga Lauren.
Bahkan keluhan-keluhan kecil yang sebenarnya tidak ingin ia dengar.
Karena bagi Ralph...
mereka adalah keluarga Lauren.
Itu satu-satunya alasan ia masih duduk di meja makan malam itu.