Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Sedangkan para demit berdiri membuat formasi lingkaran untuk menjaga mereka dari incaran Mbah Jati dan juga Iblis Kalajengking.
"Sekarang duduk bersila dan saling berhadapan," titah Nawang Wulan lagi.
Keduanya mengangguk patuh, dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nawang Wulan.
Baru saja ia akan memejamkan kedua matanya untuk memulai ruwatan, tiba-tiba Sundel Bolong muncul terlambat, dengan bibir merah menyala, sebab menggunakan lipstik milik Bi Inah, asisten rumah tangga bertugas memasak di rumah.
"ASTAGHFIRULLAH! ITU APAAN?!" pelik Rayyan yang terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Buto Ijo melotokan matanya.
"Sssst. Jangan berisik! Di Sundel ganjen," ucap Buto Ijo mengingatkan Farhan agar tidak berisik.."
Farhan mengusap dadanya yang terasa berdebar dengan kencang.
Kemudian menoleh ke arah Mamanya. Nawang Wulan menggelengkan kepalanya. "Diam aja, Nak. Fokus ruwatan." pesannya lagi
Dalam hati Farhan menggerutu. "Sejak kapan Sundel Bolong dandan menor?" umpatnya dengan kesal.
Ia sepertinya lupa, kalau ada kata istilah, ia harus terbiasa jantungan.
Nawang Wulan menghadap gentong yang berukuran cukup besar dan terbuat dari tanah liat.
Air itu diambil oleh Rayyan dari sumber pusaran air di sungai dan di percaya dapat menjadi penghilang sengkolo.
Wanita berwajah cantik yang menolak untuk tua itu mengambil sebuah mangkuk keramik berwarna putih, dan didalamnya terdapat kembang melati, kembang mawar, dan juga kembang kenanga.
Ia menaburkan kembang telon tersebut ke dalam gentong air, kemudian membaca mantra.
Tak lama, ia menghidupkan lilin, lalu membakar kemenyan bercampur dupa. Kedua benda itu mengeluarkan asap berbau menyengat di udara.
Saat bersamaan, angin bertiup, dan membuat lilin yang di pasang Nawang Wulan bertiup ke arah selatan, dan hampir padam.
Buto Ijo dan juga Pocong pasang badan. Mereka mengendus aroma anyir darah yang berasal dari Iblis Kalajengking.
"Dia datang, dan berniat ingin membatalkan acara ruwatan," ucapnya dengan tatapan mata yang di edarkan.
"Aku mengendus aromanya dari selatan. Kita cari kesana, dan yang lain jaga," ucap Pocong.
"Aku ikut," Siluman Kera datang dan ikut dalam barisan.
Para demit yang lainnya mengangguk. Lalu berjaga untuk mencegah serangan Mbah Jati yang berniat memanipulasi.
Sementara itu, Nawang Wulan sedang menggunting rambut Kasih dan juga Farhan sebagai syaratnya.
Potongan rambut itu ia masukkan ke dalam kendi. kemudian membaca mantra dengan bibirnya yang bergerak tipis.
Kemudian kembali ke gentong, dan mengambil gelas dari kaca. Lalu mengambil.dua gelas untuk di berikan kepada Lasih dan juga Farhan.
Saat mereka akan meminumnya, sebuah hantaman dari ekor kalajengking yang menggagalkan ruwatan tersebut.
Traaang!
Gelas terlempar ke atas paving block, dan pecah berantakan.
Buto Ijo sedang menuju sepatan, melihat ekor panjang itu seperti terus bertambah
Siluman Kera mengambil tombak di pinggangnya, dan menghantam perut Kalajengking.
Craaaash!
Ujung tombak mengenai perutnya, dan merobek dengan cukup dalam.
Cairan.pekat berwarna hitam keluar dengan deras.
Mbah Jati melesat, sembari mengayunkan kerisnya, dan menghujam ke arah Siluman Kera.
Craaash!
Sebuah hujaman tepat di pinggang Siluman Kera, dan membuatnya sempoyongan.
Buto Ijo menarik tombak yang tertancap di perut Iblis Kalajengking. Ia ingin menyerang Mbah Jati.
Tetapi Iblis Kalajengking yang sedang terluka parah melibaskan ekornya, dan membuat Buto Ijo terpental.
Braaaak!
Buto Ijo terpental.
Sedangkan di tempat lain, Rayyan memasang kembali lilin yang sudah padam, dan mengganti gelas yang pecah.
Ritual kembali dilakukan, dan akhirnya berhasil di minum oleh Kasih dan Farhan.
Setelah itu, keduanya akan di mandikan dari air gentong. Karena syarat pertama sudah selesai.
Ketika keduanya hendak di mandikan, tiba-tiba saja.
Duuuuuaar!
Atap balai retak, dan keluar asap hitam yang mengepul, sehingga membuat Kasih dan Farhan tersentak kaget.
Nawang Wulan menatap sejenak. Ia tahu, jika gangguan itu akan datang. Tetapi ia tak.ingin terkecoh begitu saja.
"Ayo... Kita lakukan ruwatan mandi Iblis Kalajengking tidak akan membiarkan ini semua selesai. Masih banyak tahapan yang harus kita lewati." Nawang Wulan menuntun Kasih untuk menuju gentong.
Suasana semakin sangat tidak kondusif, dan membuat mereka harus segera melakukannya.
BLAAAR!
Petir kembali menyambar atap dan membuat retakannya semakin lebar.
Para demit terlempar, dan mereka mengalami luka hangus. Saat bersamaan, wajah Mbah Jati muncul di hadapannya.
Tiba-tiba saja, Nawang Wulan berteriak kencang. Matanya sekejap hitam. Suaranya berubah sangat berat: "JANGAN SENTUH ANAKKU!"
Suaranya berubah menjadi angin yang sangat kencang. Mbah Jati langsung terpental.
Farhan menatap dengan wajah yang melongo. "Ma...?" ia merasa tak.percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
Nawang Wulan merasakan dadanya cukup sesak.
Apa yang baru saja di lakukannya membuat energinya terkuras. Ia mendadak ia langsung merasa lemas.
Nawang jatuh terduduk. Ia menarik nafasnya yang terasa berat. Kemudian memejamkan kedua matanya, dan kembali normal.
Rayyan datang menghampirinya. Dan Buru-buru menggendong. "Udah, kita sudahi dulu ritualnya." ia sangat begitu khawatir.
Nawang Wulan menggeleng pelan. "Ruwatan Sengkolo harus selesai malam ini. "
"Tetapi kamu terluka dalam!" Rayyan terlihat marah.
Nawang Wulan bergerak bangkit. Ia turun dari gendongan Rayyan. "Mereka harus segera dimandikan.
Dengan sisa tenaganya, ia memandikan keduanya, dan ritual.ruwatan kedua akhirnya selesai juga.
*****
Waktu memperlihatkan pukul dua belas malam. Para demit yang terluka sudah di obati lukanya oleh Rayyan.
Sedangkan Kasih sudah tidur di ruang kamarnya.
Farhan menghampiri Nawang Wulan yang sedang berbaring di atas matras ruang televisi.
"Ma... Itu tadi apa?" tanyanya dengan pelan, dan penuh penasaran.
Nawang Wulan memejamkan kedua matanya. "Mama hanya berdoa yang kencang. Dan mama juga kaget," jawabnya dengan pelan.
"Bohong." sangkal Farhan dengan cepat.
Rayyan datang dari arah belakang, dan mendengar semuanya. "Farhan, sudah. Jangan banyak tanya."
Farhan terdiam, meskipun hatinya bergolak. Ia merasa, jika sang mama menyembunyikan rahasia besar yang ia tidak diijinkan untuk mengetahuinya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja. Sebab setelah ruwatan kedua, kamu akan menikah siri dengan Kasih." Rayyan kembali mengingatkan puteranya.
Farhan tak menjawab. Hanya saja ia berjalan mundur, dan memilih untuk masuk ke kamarnya dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
Sedangkan Nawang Wulan dan juga Rayyan memilih masuk ke dalam kamar.
"Hampir saja ketahuan." bisik Rayyan dengan wajah panik.
Nawang Wulan merasakan sesak di bagian dadanya. Matanya berkaca, dan ia menangis dalam keheningan.
"Aku gak mau dia takut sama ibunya sendiri. Tapi kalau tidak beini, dia yang mati. Kutukan itu sudah menuju takdir yang mengikatnya,"
Rayyan ikut merasakan sesak di dadanya. "Kita bertahan sampai tujuh ruwatan selesai. Setelah itu baru kita cerita kedia, atau memilih mengubur rahasia ini sampai terkubur tanah."
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌