“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: yang penting mama sembuh
Aku fokus bekerja, hanya terdiam saat menjadi bahan pembicaraan mereka.
Proyek Kota Bandung sudah hampir selesai. Semuanya sudah beres, aku akan langsung melaporkannya kepada Kevin agar proses penyerahannya bisa segera dilakukan.
Aku melangkah menuju ruangan Kevin.
"Hai, sayang. Sedang apa?" sapaku, suasanaku terasa dingin dan kaku.
"Aku mau minta tanda tangan untuk proyek Bandung, semuanya sudah selesai."
"Baik, sini aku tanda tangani."
"Oke! Aku pamit dulu ya."
"Kok wajahmu cemberut sekali, Alya? Ada apa?"
"Aku tidak kenapa-napa, Kevin."
"Sepertinya kamu berbeda dari biasanya."
Alya langsung pergi meninggalkan Kevin. Biasanya kami sangat dekat, namun sekarang aku menjaga jarak.
"Alya kenapa ya?" batin Kevin, ia bingung dengan sikapku.
"Aneh sekali perempuan ini, perasaannya berubah-ubah. Apakah dia sedang datang bulan? Emosinya jadi tidak stabil." pikir Kevin.
Kevin pun merasa bingung. Apa kesalahanku ya? Tadi pagi perasaannya masih baik, kok tiba-tiba berubah begitu?
Suara WhatsApp berdering
Ting Ting...
Tiba-tiba pesan masuk dari Mama.
"Kevin, cepat pulang ke rumah utama. Nenekmu sedang berkunjung ke sini, dia ingin bertemu denganmu."
"Baik, Mah. Nanti Kevin ke sana."
Ada apa ya? Kok tiba-tiba Nenek berkunjung? Aneh sekali.
Apakah Mama dan Papa sedang membicarakan sesuatu hal penting?
Kevin berpikir sejenak—tidak, mustahil... sepertinya bukan begitu.
Namun, hati kecilnya tetap merasa gelisah. Ia teringat sikap orang tuanya yang tidak setuju dengan hubungannya bersama Alya, serta rencana perjodohan dengan Jessica yang sempat diungkit.
"Semoga Nenek datang hanya untuk berkunjung biasa, bukan untuk ikut campur urusan pribadiku," batinnya.
Kevin melirik ke arah meja kerja Alya yang terlihat kosong—gadis itu masih menjaga jarak dan terlihat dingin. Ia menghela napas panjang.
"Selesai urusan di rumah utama nanti, aku harus bicara baik-baik dengan Alya. Aku tidak bisa biarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut," tekadnya.
Ia segera membereskan berkas, lalu bergegas menuju rumah besar keluarga Mahendra dengan perasaan campur aduk.
Waktu pulang kantor pun tiba. Biasanya Alya dan Kevin pulang bersama, namun kali ini Alya sengaja mengabaikan Kevin.
"Alya, ayo kita pulang bareng."
"Tak usah, Kevin. Aku mau pulang ke rumah untuk menjenguk Ibuku."
"Baiklah, kalau begitu suruh Dion menemanimu ya."
"Baik, Kevin. Aku berangkat duluan ya."
"Dion, jaga Alya dengan baik."
"Baik, Tuan."
Kevin menatap punggung Alya yang menjauh dengan perasaan tertinggal. Ia sadar gadis itu masih menutup diri dan menjaga jarak. Di sisi lain, Alya sebenarnya berat hati, tapi rasa rendah diri dan takut bertemu keluarga besar Kevin membuatnya memilih menjauh dulu.
Alya berangkat bersama Dion menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, ia melihat kondisi ibunya sudah mulai membaik. Menurut keterangan dokter, ibu akan pulih sepenuhnya dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Akhirnya Mama bisa sembuh... Aku sangat menyayangimu, Mama.
Hati Alya yang sempat sesak dan penuh keraguan perlahan terasa lebih lega. Di hadapan ibunya, ia merasa menemukan tempat beristirahat yang sejati—segala rasa tidak percaya diri dan ketegaran perlahan luruh, berganti harapan baru. Ia menggenggam tangan ibunya dengan lembut, berdoa agar kesembuhan itu datang dengan cepat.
Sementara itu, Dion menunggu dengan hormat di luar ruangan, memastikan keamanan Alya sebagaimana perintah Kevin.
Alya masih berada di ruang rawat ibunya. Hatinya terharu—Kevin sungguh baik, ia menyediakan kamar VIP dan perawatan terbaik untuk ibuku.
"Bagaimana kabar Ibu?"
"Alya... kamu ke sini sama siapa?"
"Aku sendiri, Bu."
"Itu siapa yang mengantarmu? Bukankah Kevin?"
"Oh, Kevin tidak mengantar, Bu. Dia sedang sibuk dengan pekerjaan."
"Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja."
"Syukurlah, Alya. Ibu kira kalian sedang bertengkar."
"Tidak kok, Bu. Hubungan kami baik-baik saja."
"Baguslah. Jangan sampai bertengkar, itu tidak baik."
"Iya, Bu."
"Oh iya, kata dokter Ibu sudah mulai pulih. Nanti kalau sudah izin, Ibu bisa pulang dan ikut Alya."
"Alhamdulillah, Nak."
Alya tersenyum menyembunyikan rasa sesak. Ia tak ingin ibunya cemas, jadi memilih menutupi jarak yang sedang terjadi antara dirinya dan Kevin. Ia bersyukur kesehatan ibunya membaik, menjadi satu-satunya penenang di tengah kekalutan hatinya.
Setelah menjenguk Ibu, aku langsung pergi mengambil obat yang dibutuhkannya.
Tiba-tiba aku merasa seperti diikuti. Ada yang seolah-olah memperhatikanku dari jauh, namun saat aku menengok ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa.
Apakah hanya perasaanku saja ya? batinnya.
Aku pun kembali berjalan menuju ruang rawat Ibu.
Hati Alya sempat berdebar tidak tenang. Perasaan was-was itu masih tersisa, meski ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin hanya pikirannya yang sedang tegang karena masalah di kantor dan hubungannya dengan Kevin. Ia tidak tahu, apakah benar hanya perasaan, atau ada mata yang diam-diam memantaunya—mungkin orang suruhan .
Tiba-tiba, pria yang tadi mengikutinya segera menghubungi seseorang.
"Nona, wanita itu sedang berada di rumah sakit."
"Apa urusannya di sana?"
"Saya sempat mendengar pembicaraan—ibunya sakit parah, sekarang sedang dalam masa pemulihan."
"Baik... Bagus. Hubungi saya segera jika mendapat informasi terbaru."
"Baik, Nona."
Di ujung telepon, Jessica tersenyum licik mendengar laporan itu. Informasi ini menjadi senjata baru baginya—kelemahan Alya kini terbuka. Hati Alya yang tenang di ruang rawat sama sekali tidak tahu, bahwa keberadaan dan kondisi ibunya sedang dipantau untuk rencana jahat.
Alya... apa kau masih sanggup bersaing denganku?
Kau tak mau mengalah dan pergi, ya?
Kalau begitu, bagaimana jika aku mulai menyakiti orang-orang terdekatmu?
Jessica yang duduk di dalam mobil hanya tertawa lebar, penuh kelicikan dan kemenangan.
Tawanya terdengar dingin dan mengerikan di dalam mobil yang tertutup. Ia merasa memegang kendali penuh—mengetahui kelemahan Alya, yaitu ibunya yang sedang sakit lemah, membuatnya punya rencana jahat yang lebih mudah dijalankan. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Jessica memandang ke luar jendela dengan tatapan tajam.
Kali ini, aku akan pastikan kau jatuh sejatuh-jatuhnya, Alya. Mari kita mulai permainannya sekarang.
Jessica melaju pergi mengendarai mobilnya dengan penuh ambisi jahat.
Niatnya sudah bulat. Di balik kemudi, senyum liciknya tak luntur sedikit pun. Ia merasa memegang kendali penuh atas takdir Alya—mengetahui kelemahan terbesar gadis itu ada pada ibunya yang sedang lemah di rumah sakit. Langkah jahatnya sudah disusun, dan Alya sama sekali tidak menyadari bahaya yang semakin mendekat.
Alya kembali masuk ke ruang rawat ibunya.
"Bu, mari diminum obatnya ya. Semoga Ibu cepat pulih, supaya kita bisa tinggal bersama lagi."
"Iya, Alya. Terima kasih ya kamu sudah merawat Ibu."
"Kamu juga harus jaga diri baik-baik, Nak. Ibu sudah tua, rasanya tak bisa lagi melindungi mu seperti dulu."
"Iya, Mama. Jangan khawatir soal aku. Yang terpenting Mama sembuh, aku sudah sangat bahagia."
"Iya... terima kasih, Alya. Kamu anak yang baik."
Sang Ibu tersenyum lemah, lalu memeluk putri tunggalnya dengan penuh kasih sayang.
Pelukan itu terasa begitu tulus dan menenangkan. Di sana, di dalam dekapan ibunya, segala beban batin, rasa rendah diri, dan ketakutan Alya perlahan luruh. Ia merasa terlindungi, meski di luar sana bahaya diam-diam sedang mengintai. Tidak ada yang tahu betapa berharganya momen sederhana ini,