Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Aku tahu, Andi... Aku sudah tahu semuanya!" potong Ranti sambil terisak-isak, meremas jemari Andi. "Pengacara Hendra sudah cerita... Alya itu Ratu Mafia, Andi! Dia yang punya Yayasan Alisya yang membekukan semua aset kita!"
Andi terbelalak, matanya melotot menatap langit-langit kamar steril. Rasa takutnya melumpuhkan seluruh syaraf tubuhnya.
"K-kita... kita harus lapor polisi, Andi! Dia melukai warga sipil! Dia main hakim sendiri!" seru Ranti ketakutan.
"Nggak bisa, Ranti! Polisi pun nggak akan berani menyentuh dia!" kata Andi frustrasi.
"Tapi...Dan dia bilang... dia bilang ini baru peringatan. Jika kita mengganggunya lagi atau dia akan melenyapkan kita sekeluarga tanpa sisa!" Ranti menelan ludah dengan susah payah, suaranya tercekat di tenggorokan.
Mendengar hal itu, Andi merosot pasrah ke bantalnya. Pandangannya mendadak kosong.
Dulu suka menghina Alya, kini berganti dengan keputusasaan yang amat dalam.
Pintu ruang steril mendadak terbuka pelan.
Seorang pria berjas hitam rapi, salah satu anak buah kepercayaan Leon, melangkah masuk dengan membawa sebuah map dokumen hitam.
Kehadirannya yang tenang namun memancarkan aura intimidasi membuat Ranti dan Andi seketika bungkam ketakutan.
"Tuan Andi Gunawan," sapa pria berjas itu bernada dingin tanpa ekspresi.
"K-siapa kamu?!" tanya Andi dengan suara gemetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia meletakkan map hitam itu di atas meja samping ranjang Andi, lalu membukanya.
"Ini adalah surat perjanjian pengakuan utang dan pelepasan seluruh hak aset atas nama Anda dan Nyonya Ranti kepada Konsorsium Yayasan Alisya," kata pria itu datar. "Madam Alya masih bermurah hati membiarkan Anda bernapas dan dirawat di rumah sakit ini. Tanda tangani dokumen ini sekarang juga."
"G-gimana kalau saya menolak?!" bisik Andi mencoba bertahan meski nyalinya sudah menciut.
Pria berjas itu menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin.
"Madam Alya berpesan... jika Anda menolak menandatanganinya hari ini, beliau tidak keberatan untuk menambah daftar jari yang harus dipotong malam nanti."
DEG!
Ranti langsung menyambar pena di atas meja dan menyodorkannya ke tangan kanan Andi yang gemetar.
"Tanda tangan, Andi! Tolong tanda tangan sekarang juga!" jerit Ranti histeris, ketakutan setengah mati. "Aku nggak mau kamu kenapa-napa lagi! Aku nggak mau mati!"
Dengan jemari yang bergetar hebat dan air mata penyesalan yang menetes membasahi kertas dokumen, Andi menorehkan tanda tangannya di atas materai. Penjualan seluruh hartanya resmi berganti pemilik dalam hitungan detik.
Pria berjas itu menyambar map tersebut, merapikannya, lalu menunduk tipis.
"Keputusan yang bijaksana, Tuan Andi. Selamat menikmati sisa hidup Anda sebagai rakyat biasa," kata pria itu dingin, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Andi memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi takdir hidupnya yang kini telah hancur berkeping-keping.
Mereka yang dulu membuang dan menginjak-injak Alya karena dianggap miskin, kini justru harus hidup di bawah telapak kaki Alya.
"Habis sudah kita Andi! Kenapa hidup ku sial begini!" teriak Ranti sambil mencengkam erat rambutnya dengan kuat.
Andi hanya terdiam membisu, tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Ini semua gara-gara kau Andi, sejak kenal dengan mu hidup ku sial terus!" teriak Ranti geram.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...