Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syukuran Kecil 31.
Aroma semangkuk mi ramen instan dengan taburan keju cheddar parut dan potongan sosis memenuhi seluruh penjuru dapur rumah minimalis itu.
Tidak ada katering mewah, tidak ada dekorasi balon, juga tidak ada gaun pesta. Di atas meja makan kayu yang bersih, hanya ada dua mangkuk mi yang mengepul hangat, dua kaleng soda dingin, dan selembar kertas putih berlogo SMA Pancasila.
Di bagian kanan atas kertas tersebut, angka 98,7 tertulis besar dengan spidol merah tebal, lengkap dengan keterangan di bawahnya: Peringkat 1 Paralel Nilai Ujian Tengah Semester.
Mona menatap lembar kertas itu dengan mata berbinar-binar. Senyumnya tidak luntur sejak ia melangkah masuk ke dalam rumah setengah jam yang lalu. Rasa lelah, sesak di dada, dan sisa-sisa air mata yang sempat menggenang selama satu minggu terakhir mendadak menguap tanpa bekas.
"Masih mau dipandangi terus? Mi kamu keburu lembek nanti," suara berat beraksen tenang memecah keheningan dapur.
Affan berjalan mendekat sambil membawa dua buah sendok dan sepasang sumpit.
Remaja laki-laki berusia delapan belas tahun itu mengenakan kaus rumahan longgar berwarna hitam, Ia meletakkan alat makan itu di samping mangkuk Mona, lalu ikut duduk di kursi seberang.
"Biarin. Saya masih gak percaya kalau kertas ini beneran nyata," sahut Mona, suaranya sedikit serak namun penuh dengan letupan kebahagiaan. Ia menoleh ke arah Affan. "Rasa pengin saya laminating terus saya tempel di jidat cewek-cewek gengnya Selly besok pagi."
Affan terkekeh pelan. Ia menarik mangkuk mi miliknya, lalu mengaduknya perlahan agar keju di atasnya meleleh sempurna. "Jangan kekanak-kanakan. Membungkam orang-orang kayak mereka itu gak perlu pakai fisik. Cukup tunjukkan kalau spekulasi mereka tentang kamu itu salah besar."
Mona terdiam sebentar, mengingat kembali memori pahit beberapa hari kebelakangan. Hari di mana rahasia besar mereka—pernikahan di bawah umur yang diatur oleh kedua keluarga akibat amanah mendiang kakek mereka—terbongkar ke seluruh penjuru sekolah.
Seketika, hidup Mona di sekolah berubah menjadi neraka. Bisik-bisik miring terdengar setiap kali ia melewati koridor. 'Palingan hamil duluan', 'Pantesan Affan mau, dinikahin paksa pasti gara-gara kecelakaan', 'Kasihan Affan masa depannya rusak gara-gara cewek malas kayak Mona'. Kata-kata itu berputar di kepala Mona seperti kaset rusak, membuatnya hampir menyerah dan ingin mogok sekolah.
Namun, Affan tidak membiarkannya jatuh. Malam itu juga, di meja makan yang sama ini, Affan menarik buku-buku paket Mona yang tebal. Laki-laki itu menatap mata Mona dalam-dalam dan berkata, 'Mereka pikir kamu beban buat saya. Jadi, ayo kita buktiin kalau istri saya bisa jadi nomor satu di sekolah ini.'
Selama empat hari berturut-turut menjelang UTS susulan dan pengumuman nilai, Affan menjelma menjadi guru privat paling kejam sekaligus paling sabar. Ia merangkum rumus Fisika, mengajari Mona logika Matematika hingga larut malam, bahkan membuatkan teh hangat saat Mona mulai menangis karena frustrasi dengan soal-soal Kimia.
"Makasih ya, Mas," ucap Mona tulus. Di rumah, ia masih sering bolak-balik memanggil Affan dengan sebutan Mas.
"Kalau bukan karena begadang bareng kamu sambil dengerin omelan kamu tentang rumus trigonometri, saya mungkin udah mutusin buat home schooling sekarang."
Affan menatap Mona, kilat bangga terpancar jelas dari kedua matanya yang biasanya sedingin es. Ia mengacak rambut Mona pelan dengan tangan kirinya yang bebas. "Itu hasil kerja keras kamu sendiri, Sayang. Saya cuma ngarahin. Otak kamu itu pinter, cuma kamunya aja yang keseringan malas dan lebih milih lihat Carmen sama main mobile legends daripada baca buku."
"Ih, menjiwai banget ya ngejeknya!" Mona mengerucutkan bibirnya, namun sedetik kemudian ia tertawa. Ia mengambil sumpitnya dan mulai menyantap mi ramen buatannya. "Tapi serius deh, Mas. Kamu harus lihat muka Selly tadi pas lihat peringkat paralel di mading. Mukanya langsung sepet banget, kayak orang abis nelan kelereng! Dia yang biasanya bangga banget dapet peringkat tiga, langsung buru-buru pergi pas lihat nama saya, Hahaha."
"Yaitu lah balasan muka sombong, akhirnya malu sendirikan saking pedenya?" Affan terkekeh pelan, menyuap mi ke dalam mulut.
"Iya dong! Malu ditanggung sendiri, 'Aduh, maaf ya, ternyata yang katanya nikah jalur kecelakaan ini otaknya gak ikutan celaka.' Gitu!" Mona memperagakan ekspresi sombongnya yang dibuat-buat, membuat Affan hampir saja tersedak soda yang baru didekatkannya ke mulut.
Tawa Affan pecah. Suara tawa yang renyah dan lepas, jenis tawa yang hanya pernah ia tunjukkan di dalam dinding rumah kecil ini, jauh dari pandangan ratusan pasang mata murid SMA Pancasila yang mengenalnya sebagai sosok formal dan kaku.
"Kamu ini ya, dendaman banget ternyata," ujar Affan sambil menggeleng-gelengkan kepala, mengusap sudut bibirnya yang basah karena tawa.
"Bukan dendam, Mas. Ini namanya pembalasan yang elegan," ralat Mona bangga. Ia mengangkat kaleng sodanya ke udara. "Untuk keberhasilan kita membungkam mulut-mulut beracun di sekolah!"
Affan tersenyum tipis. Ia ikut mengangkat kaleng sodanya, membenturkannya pelan dengan milik Mona hingga terdengar bunyi dentingan khas. "Untuk istriku yang pintar. Pertahankan nilainya, karena semester depan saya enggak mau turun pangkat jadi guru privat gratisan lagi."
"Dih, perhitungan banget sama istri sendiri!"
Malam itu, di bawah pendar lampu dapur yang temaram, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Rumor buruk itu mungkin belum sepenuhnya hilang, namun di dalam rumah ini, di antara mangkuk mi instan dan tawa yang saling bersahutan, Mona tahu ia punya pelindung terbaik yang akan selalu membantunya menghadapi dunia.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan