"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Happy reading
❄️❄️❄️
Di bawah langit malam Azkia mengendarai motornya membela jalan yang renggang. Sementara Karl tadi tidak ikut karena pria itu menggunakan taksi untuk pulang. Azkia sendiri harus pergi ke rumah mertuanya untuk menjemput anak-anaknya yang mungkin sudah menunggunya.
Pintu rumah utama dibuka oleh pelayan, membuat Azkia melangkahkan kakinya masuk kedalam."Anak-anak di mana mbak?" Tanya Azkia saat dia sudah berada di dalam.
"Ada di kamar nyonya, non."
"Bisa minta tolong antarkan saya di kamar nyonya Zafina."
"Boleh non. Mari." Pelayan perempuan itu mengarahkan Azkia ke lift. Setelah menekan tombol lantai tiga, lift itu bergerak.
"Ini kamarnya non." Ucap pelayan itu setelah mereka sampai di depan pintu berwarna putih.
Di lantai atas hanya ada empat pintu yang berarti hanya ada empat ruangan yang entah ruangan apa saja.
"Terima kasih mbak."
"Iya sama-sama non." Jawab pelayan itu setelah itu berlalu meninggalkan Azkia.
Sebelum masuk ke dalam, Azkia mengetuk pintu itu terlebih dahulu setelah mendapatkan jawaban dari dalam barulah ia melangkah masuk.
"Loh Az, kenapa kamu kesini." Tanya Zafina terkejut saat melihat menantunya itu.
"Aku mau jemput anak-anak Bu." Jawab Azkia agak bingung dengan wajah terkejut dari Zafina.
"Jangan bilang Arkanza tidak memberitahukan mu, kalau hari ini anak-anak nginap di rumah ibu?"
"Dia tidak ada memberitahukan ku Bu." Jawab Azkia karena tidak ada pemberitahuan sama sekali dari Arkanza."Pria itu pasti ingin mengerjaiku lagi." Batin Azkia geram dan tanpa sadar tangan nya ikut terkepal.
"Anak itu memang. Padahal dia sendiri tadi yang menelepon ibu kalau anak-anak hari ini di suruh nginap di sini dulu karena dia ingin berdua saja denganmu." Jelas' Zafina tentu membuat Azkia terkejut tapi berusaha terlihat tenang."Dia memang suka seperti itu. Atau gini aja, kamu nginep saja disini karena dari disini ke rumah kamu butuh setengah jam nanti kamu hubungi saja Arkanza." Lanjut Zafina.
"Iya Bu." Azkia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Arkanza yang sengaja' tidak disimpan tapi dia arsipkan.
"Jangan menghindari tugas Anda dengan menginap di rumah ibu saya nona Azkia. Ingat walaupun anak-anak menginap di sana, tugas Anda tetap berlaku." Ucap Arkanza padahal Azkia belum memberitahukan maksudnya.
"Cenayang kali ini orang, masa tau pembicaraan ku dengan ibunya." Batin Azkia menatap ponselnya dengan kesal.
"Saya tidak mau tau, anda sudah ada di rumah dengan waktu empat puluh menit jika kurang entah hukuman apa yang akan anda dapatkan nona Azkia." Ucap Arkanza di sela-sela itu dia menambahkan ancamannya. Tentu berhasil membuat Azkia kesal.
"Sayang, apa kata Arkanza." Tanya Zafina.
"Pria menyebalkan itu menyuruhku pulang Bu, entah rencana apa lagi yang buat selanjutnya untuk membuat ku sengsara." Decak Azkia yang hanya bisa ia keluarkan dalam hatinya tanpa bisa berbicara langsung."Aku harus pulang Bu, karena dia menungguku." Jawab Azkia tersenyum terpaksa.
"Sepertinya dia ingin menghabiskan waktu bersama mu tanpa di ganggu anak-anak. Habiskan lah waktu kalian berdua, rebut hatinya. Semoga saja hubungan kalian berjalan lebih baik setelah ini." Ucap Zafina terdengar senang dan mempercayai kalau putranya itu sedang berusaha untuk mendekati Azkia, tapi tanpa Zafina tau kalau kalau Arkanza tidak sebaik itu mau menghabiskan waktunya berdua-duaan dengan Azkia karena dibalik itu ada rencana lain yang sedang dia rencanakan."Percaya lah Azkia dia pria yang baik dan sangat romantis." Lanjutnya lagi dengan bibir mengukir senyuman.
Mendengar ucapan sang mertua, Azkia menghela nafasnya tanpa Zafina sadari."Andaikan saja ibu tau kalau putra ibu bukannya ingin menghabiskan waktu dengan ku, tapi ingin kembali menyiksaku. Apakah pujian ini masih bisa disematkan ke nama pria sialan itu." Ucap Azkia dalam hatinya yang tidak senang mendengar pujian untuk Arkanza.
"Kalau begitu aku ijin permisi Bu, Arkanza sudah menunggu di rumah." Ijin Azkia.
"Tentu sayang, hati-hati dijalan ya. Kalau kamu mau, ibu bisa menyuruh supir untuk mengantar mu."
"Tidak perlu Bu, aku pakai motor saja. Permisi." Jawab Azkia."Aku pulang bu."
"Iya sayang, hati-hati." Jawab Zafina tersenyum hangat.
Setelah berpamitan Azkia melangkah keluar dari kamar Zafina. Dengan terburu-buru dia menaiki lift.
"Bisa-bisanya waktu yang dia berikan ku waktu hanya empat puluh menit. Dikiranya aku Ini robot apa?" Dengus Azkia dengan terburu-buru menaiki motornya.
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, gadis itu membelah jalan yang tidak terlalu padat. Karena tidak terlalu padat membuatnya bisa menyalip dengan mudah hingga waktu yang dia butuhkan setengah jam kini hanya dua puluh menit saja.
Azkia menatap rumah itu yang terlihat sangat gelap tanpa ada tanda-tanda kalau ada orang di rumah itu.
"Kayak horor saja nih rumah nggak ada lampunya." Ucap Azkia. Karena kebetulan ia membawa kunci garasi, Azkia memutuskan untuk lewat garasi saja sekalian menaruh motornya.
Setelah memarkirkan motornya. Ia melangkah masuk kedalam rumah itu menggunakan pintu yang terhubung dengan garasi.
Saat masuk Azkia tidak melihat apapun karena rumah itu terasa sangat gelap, karena lampu didalam juga ikut mati membuat Azkia menghidupkan senter di ponselnya untuk mencari saklar lampu.
Lampu menyala tapi tidak dengan mata Azkia yang melotot saat melihat pemandangan didepannya.
"Apa yang terjadi dengan rumah ini, kenapa sangat kotor' dan berantakan seperti habis di rampok!" Ucap shock menatap ruangan tamu yang kotor oleh tanah serta barang-barang yang berhamburan ke lantai."Rumah ini nggak kerampokan? Kalau sampai iya!" Azkia berubah waspada, dia mengambil vas yang dan melangkah ke arah ruangan tamu yang hanya terhalang oleh sebuah rak berukuran besar.
Perlahan-lahan kakinya melangkah ke arah ruangan tamu, dan sesampainya di sana. Ruangan itu sama gelapnya dan hanya samar-samar cahaya yang terlihat dari lampu ruangan keluarga. Saat Azkia menghidupkan lampu itu matanya kembali melotot saat melihat ruangan itu sama berantakannya.
"Astaga, rumah ini memang benar-benar di rampok. Aku harus menelpon kepolisian." Saat tangan ingin menelpon nomor darurat, tiba-tiba saja Arkanza menelponnya.
"Tuan Arkanza, rumah anda—" perkataannya terhenti saat Arkanza memotong ucapannya. Dia mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Pria itu.
"Anda sudah melihat di ruangan tamu dan ruang keluarga bukan? Itu kejutan untuk anda.”
💧💧💧
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.
Salam manis dari author😉