“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
•••
Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya nomor antrian Giselle dan Jio dipanggil, tempat ini benar-benar terkenal sampai-sampai untuk mendapat satu set meja harus menunggu pelanggan lainnya selesai terlebih dulu.
Jio memesan gelato rasa milk strawberry juga beberapa pastry yang ada dalam daftar menu–menyamakan dengan pesanan Giselle.
Tak lama pesanannya sampai, Giselle langsung melahap gelato tersebut sembari bergumam enak di setiap suapannya.
"Kau menyukainya?"
Giselle mengangguk, "Tapi aku lebih menyukaimu, ternyata kau juga bisa bersikap manis padaku ya."
"Pelan-pelan makannya, kau bisa tersedak."
Jio turut menikmati gelatonya sembari asik memperhatikan Giselle, hingga seseorang dari arah belakang Jio menghampiri mereka dan menyapa.
"Giselle?"
Giselle mendongak melihat seorang pria berdiri di samping mejanya, "Siapa?"
"Sudah kuduga kau tak mengingatku, aku Sean. Kita pernah pacaran setahun yang lalu."
Jio mengernyit melirik pria itu, sedikit bingung akan suasananya, sedang Giselle hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Oh, sudah mantan kan? Dia pacarku," Tunjuk Giselle dengan dagu ke arah Jio.
"Dia atlet boxing, kau bisa celaka jika menggangguku." Terang Giselle.
Sean mengendikkan bahu melirik Jio yang duduk bersandar seperti tengah menonton drama, lalu kembali memandang Giselle.
"Santai saja. Aku hanya menyapa, lagipula aku tahu siapa kau, hubungan kalian pasti tidak akan bertahan lama sama seperti biasanya."
Giselle menatap tajam.
"Biar kami yang putuskan sampai di mana hubungan kami berlangsung." Jio angkat bicara.
Sean terkekeh, "Rupanya kau belum mengenalnya dengan baik. Hati-hati kau hanya dimanfaatkan dan setelahnya kau akan dicampakkan."
"Dengan senang hati, bukankah kau sendiripun bangga pernah memiliki hubungan dengannya? Jadi urus saja urusanmu."
"Kau dengar? Pergi, jangan merusak suasana." Tambah Giselle.
Sean mengangguk remeh, kemudian menepuk pundak Jio.
"Semoga beruntung."
Pria itu meninggalkan keduanya yang saling pandang.
Giselle tersenyum melihat ekspresi jengkel di wajah Jio yang kentara, mungkin prianya itu tak lagi gengsi menunjukkan perasaannya terhadap Giselle.
"Yang ke berapa?" Tanya Jio.
Giselle agak bingung atas pertanyaan Jio, "Dia atau kau?"
Jio mendengus membuat Giselle tertawa, "Aku lupa, lagipula saat itu aku hanya bermain-main. Sejauh ini mereka semua sama.”
“Hanya kau yang berbeda."
Jio hanya menatapnya dalam diam, keraguan akan Giselle sekilas muncul dalam benaknya. Apa gadis itu juga hanya bermain-main dengannya.
"Aku tahu kau meragukanku tapi aku juga tak bisa memintamu untuk mempercayaiku, itu terserah padamu."
"Aku percaya apa yang ingin aku percaya, masa lalumu bukan apa-apa bagiku."
"Kalau begitu jangan ragukan aku."
"Kita lihat saja nanti."
Giselle berdecak melihat Jio yang tersenyum jahil padanya.
•••
"Masuk dan istirahat yang cukup."
"Kau tidak mau menginap?"
Keduanya kini berada di depan pintu apartemen Giselle, gadis itu sedang berusaha mengulur waktu, membujuk Jio agar tinggal lebih lama bersamanya.
"Aku harus kembali untuk latihan."
"Baiklah, hati-hati."
Giselle membiarkan Jio pergi setelah memberi ciuman singkat yang diterima Jio dengan baik. Giselle masuk setelahnya, membaringkan tubuh di ranjang segera.
•••
Hari pertandingan final telah tiba.
Jio bersiap di backstage bersama Yoshi, Bagas, juga Giselle yang turut serta menemaninya.
"Ingat ucapanku kemarin." Ucap Giselle pada Jio sebelum ketiganya keluar menuju ring.
Jio tak mengizinkan Giselle untuk menonton secara langsung, sebagai gantinya Yoshi akan melakukan panggilan video yang terhubung dengannya.
Jio tak ingin Giselle berdesakan dengan pria-pria di luar sana meski ada Yoshi juga Bagas yang akan menjaganya.
Beberapa menit sebelum pertandingan dimulai pintu backstage kembali terbuka, Giselle kira Jio kembali karena melupakan sesuatu, namun yang dilihatnya adalah seorang pria berjalan mendekatinya.
"Siapa kau?"
Pria itu tersenyum, "Aku?”
“Hito Hendrawan, teman Jio." Ucap pria itu mengulurkan tangan.
Giselle menjabatnya ragu. Nama pria itu terdengar tak asing baginya, entah di mana ia pernah mendengarnya.
"Giselle, Pacar Jio."
Hito mengenggam tangan Giselle erat, pada saat itu Giselle tahu ada yang tidak beres. Ia menarik kembali tangannya segera setelah melihat tatapan menelisik yang Hito berikan padanya.
Hito menyeringai, "Apa Jio sudah berlatih dengan benar? Ada banyak orang bertaruh ingin menyaksikan kekalahannya."
Hito mendekat membuat Giselle mundur selangkah untuk menjauh darinya, ia baru menyadarinya pria ini bukan teman Jio seperti yang dikatakannya.
Giselle menatap tajam dan mendekat ke arah pintu.
"Pergi! Ini pintu keluarnya, kalau kau tak tahu!"
Hito mendekat lalu berhenti diambang pintu, melirik Giselle menelitinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kau dan kekasihmu sama-sama menarik." Ucapnya kemudian berlalu.
Tak lama ponselnya bergetar panggilan masuk dari Yoshi terlihat di layarnya, wajah Jio yang tersenyum padanya menjadi pembuka.
"Kau masih bisa tersenyum? Aku khawatir setengah mati di sini."
Dilihatnya Jio semakin melebarkan senyumannya, mata pria itu bahkan berubah menjadi bulan sabit.
/"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."/
Giselle percaya namun mengingat ucapan Hito tadi membuatnya merasa tak tenang, berbagai pikiran negatif melintasi benaknya.
"Tepati janjimu."
Jio mengangguk, setelahnya wajah Yoshi dan Bagas muncul.
/"Giselle, Jio harus bersiap. Aku akan arahkan angle kameranya ke arah ring, jadi selamat menonton."/ Ucap Yoshi.
"Baiklah."
Suasana di arena ring lebih ramai dari terakhir kali Giselle ke sana, mungkin karena ini pertandingan final jadi lebih banyak orang yang datang untuk bertaruh pada jagoannya masing-masing.
Pertandingan dimulai oleh wasit yang memanggil para petarung satu persatu, nama Jio disebutkan pertama disusul nama petarung yang membuat Giselle terbelalak kaget mendengarnya.
"Dia Hito Hendrawan yang itu?" Gumam Giselle.
Salam hormat pembuka dilakukan Jio dan Hito sebelum memulai pertandingannya, Hito menyeringai pada Jio yang menaikkan alisnya.
Hito berbisik saat keduanya saling hormat.
"Giselle? Boleh juga."
Rahang Jio mengeras, ia melirik ke arah kamera ponsel Yoshi di sudut ring seolah ia sedang melihat Giselle di sana.
‘Apa yang kiranya dilakukan Hito padanya, tapi bukankah Giselle baik-baik saja tadi?’
Tak lama kemudian Jio pun mengerti, Hito menggertaknya.
Jika begitu cara bermainnya, maka Jio dengan senang hati menangkap umpan yang Hito lemparkan padanya dengan membiarkan Hito memukul wajah Jio terlebih dahulu.
Hito kira Jio lengah karena terusik akan ucapannya, namun tendangan rendah di kakinya berkata lain.
Jio masih sama fokusnya seperti biasa dan Hito tak mau membiarkannya. Pria itu memberi pukulan berulang pada perut Jio yang dibalas tak kalah keras oleh empunya.
Satu pukulan Jio layangkan mengenai rahang Hito yang membuat robekan pada sudut bibir pria itu.
Suara gemuruh penonton terdengar nyaring, sebagian meminta agar Jio segera menghabisi Hito, begitu sebaliknya.
Pukulan demi pukulan bertubi saling dilayangkan oleh keduanya, tapi bisa terlihat jelas siapa yang lebih unggul hanya dari lebam dan luka yang tergores ditubuh masing-masing.
Jio tak pernah mengalah barang sekali dalam hal bertarung, ia selalu mendapat kemenangan yang gemilang. Sebesar apapun tantangan yang lawannya beri, Jio akan membalas dengan sepenuh hati.
Kalau kata Yoshi, Jio membalas lebih besar dari yang ia terima dan itu fakta.
Dipukul sekali ia balas dua kali, Hito salah jika bermain licik seperti itu. Pria itu seharusnya tak memancing Jio untuk meluapkan amarahnya.
Giselle meringis kala melihat betapa beringasnya Jio menghajar Hito di sana, prianya itu seolah tak memiliki ampun untuk terus mematahkan langkah Hito yang mencoba melumpuhkannya.
Namun tetap saja Jio juga manusia biasa, serangan Hito masih bisa menyentuhnya dibeberapa bagian.
Jio pikir pertandingan ini akan berakhir dalam satu ronde seperti yang sudah-sudah, tapi agaknya dengan berlanjutnya ronde Jio tahu jika Hito tak bisa menerima kekalahan semudah itu.
Pria bermata runcing itu segera meluncurkan serangan membabi-buta setelah tanda ronde kedua dimulai, sorakan penonton turut mengiringi tiap aksinya. Tapi bukan Jio namanya jika tak langsung memberi balasan.
Di underground illegal memukul titik vital diperbolehkan karena itu Hito mulai mengincar titik di mana ia bisa melumpuhkan serangan Jio terhadapnya, namun Jio pun tak kehilangan akal untuk membalikkan keadaan.
Ia dapat membaca pergerakan Hito dengan mudah oleh sebab itu Jio lebih dulu menyerang rusuk kanan di samping ulu hati hyunjin dan mengenainya tepat, Hito tersungkur karenanya jika saja suasana di sana sepi kemungkinan suara patahan bisa terdengar.
Jio ingin segera mengakhiri pertandingan, pria itu memanfaatkan kesempatan untuk melayangkan pukulan yang membuat Hito tak lagi bisa melawannya.
Sorak-sorai penonton makin riuh melihat kejadian tersebut, beberapa orang yang bertaruh pada Jio melompat kegirangan atas putusan wasit yang menyatakan kemenangan jagoannya.
"Jio Pratama memenangkan pertandingan!"
Dari sudut arena Bagas berlari mendekati Jio lalu mengangkat sebelah tangannya ke udara, menyombongkannya pada penonton di sana. Yoshi pun turut serta.
Giselle yang menonton melalui ponsel turut senang karenanya.
Setelahnya Jio bergegas membuka sarung tangan, melompat turun dari atas ring dan segera menuju backstage.
•••
Di backstage Giselle telah menantinya dan memberi pelukan segera setelah melihat Jio kembali, Yoshi dan Bagas tersenyum melihatnya.
Jio sedikit meringis kala Giselle memeluknya erat, lebam di perutnya terasa ngilu saat tak sengaja tersentuh.
"Aku bilang jangan sampai terluka."
"Maaf. Apa aku akan dihukum karenanya?"
Giselle mengangguk, "Sudah pasti."
"Apa Hito mendatangimu?"
"Bagaimana, kau mengetahuinya?"
Bagas dan Yoshi terkejut mendengarnya.
Jio mengangguk, "Ayo pulang."
•••
Di apartemen Giselle hendak mengobati Jio, mereka duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Dia suka mencari kelemahan lawannya dan memakai itu sebagai ancaman supaya dia bisa menang dengan cara licik." Jelas Jio membuka pembicaraan.
"Dia mengatakan bahwa dia temanmu jadi aku berpikir demikian, sebelum aku merasakan ada yang aneh dengan tatapannya."
"Apa dia menyakitimu?"
"Tidak, aku langsung mengusirnya segera setelahnya. Apa dia juga petarung yang handal sepertimu?"
"Iya. Tapi aku sudah pernah mengalahkannya."
Giselle mengangguk lalu meraih sekantong es batu untuk mengompres lebam di perut Jio.
Giselle mengangkat tangan yang memegang kompres, memerintah pria itu untuk membuka bajunya saat melihat raut bingung di wajah Jio
"Buka bajumu."
Jio yang mengerti kemudian membuka bajunya.
Lebam yang menggelap itu membuat Giselle meringis saat melihatnya, gadis itu dengan hati-hati mengompresnya.
"Aku masih tak mengerti kenapa kau masih melakukan hal yang dapat menyakiti dirimu. Kalau hanya sekedar hobi kau bisa mencari hal lain yang lebih menarik dan aman tanpa berakhir lebam dan luka begini."
"Ayahku tidak suka aku bermain boxing."
"Kau sengaja mencari masalah dengan Ayahmu?"
"Dia yang mencari masalah denganku, memang kau saja yang bisa memberontak?" Ledeknya pada Giselle.
Giselle yang kesal menekan kompresnya pada perut Jio yang lebam.
"Akh... sakit..." Rintih Jio.
Giselle berpura-pura tak peduli dan hendak meninggalkannya namun tertahan oleh Jio yang menggenggam tangannya.
"Mau kemana? Kau belum menyelesaikan tugasmu."
"Apa?"
Jio menarik tangan Giselle membuatnya kembali duduk.
"Kau lupa hukumannya?"
Giselle tersenyum kemudian mengalungkan tangan ke belakang leher Jio, mengusapnya sebelum menyatukan permukaan bibir mereka.
Giselle yakin Jiho dapat menghipnotis orang dari tatapannya, melihat bagaimana ia meluluhkan hati Giselle dengan lumatan lembut yang menyapa di tiap pangutan bibirnya.
Pria itu seolah tahu cara menjinakkannya.
Jio melepas pangutannya saat dirasa Giselle mulai kekurangan oksigen, nafas gadisnya tersengal akibat ulahnya sendiri.
"Kau tidak mau menginap saja malam ini?" Tanya Giselle.
Jio berpikir sejenak, "Tidak, tapi aku bisa tinggal sedikit lebih lama."
"Lalu kapan kita akan melakukannya?"
"Apa?"
"Tidur."
Giselle menjawab dengan santai membuat Jio tak habis pikir terhadapnya, ia sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan Giselle.
"Aku tidak akan melakukannya."
Raut kecewa terlihat jelas di wajah Giselle, "Kenapa?! Karina dan Yoshi bahkan sudah melakukannya."
Jio tergelak, "Setiap orang punya waktunya, tapi aku tak mau buru-buru. Hubungan kita masih terlalu dini untuk itu."
Giselle cemberut lalu kembali meraup bibir Jio, pria itu bergeming kali ini. Giselle mengecupnya lagi dan lagi, ia masih saja kagum akan pertahanan Jio.
"Kau hebat," Puji Giselle.
"Pria lain pasti sudah menerkamku pada kecupan pertama."
Jio mengacak rambut Giselle, "Sana tidur, aku pulang setelahnya."
Giselle memeluknya, "Temani aku."
•••Vienbluu (annavienbluu)