Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Warisan Jemari yang Menulis

Angin pagi yang membawa sisa-sisa embun bulan September berhembus lembut menyapa permukaan kaca jendela ruko kecil di kawasan distrik utara, mendaratkan pendar kesejukan yang menenangkan ke dalam ruangan kerja minimalis Lin Meiying. Di atas meja kayu berwarna putih bersih, layar komputer jinjing masih menyala redup, menampilkan draf naskah bab penutup yang telah ia selesaikan dengan cucuran air mata kelegaan pada malam sebelumnya. Hari ini adalah hari pertama di mana novel fisik pertamanya di bawah nama pena Aksara Handini resmi dipajang di etalase toko-toko buku nasional, menandai babak baru dalam hidupnya sebagai seorang penulis mandiri yang berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Namun, di tengah keheningan pagi yang khidmat itu, ponsel di sisi meja tiba-tiba berdering nyaring, memecah kesunyian ruangan dan meninggalkan getaran aneh yang merayap cepat ke dalam dada Meiying. Pesan singkat misterius tanpa nomor pengirim yang masuk beberapa saat lalu masih terpampang nyata di layar, menampilkan kalimat yang tidak mungkin diketahui oleh siapa pun di dunia ini kecuali oleh sosok suami yang telah berpulang ke pangkuan keabadian. Jemari Meiying yang hendak meraih cangkir teh herbal mendadak membeku di udara, sementara degup jantungnya berpacu kencang tak beraturan, mencairkan kembali setiap benteng pertahanan rasional yang telah ia bangun susah payah selama berbulan-bulan.

Ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong yang diselimuti oleh kabut kebingungan dan kerinduan yang teramat sangat, bertanya-tanya apakah takdir sedang mempermainkan kewarasannya atau memberikan sebuah keajaiban yang melampaui batas nalar manusia. Tanpa sadar, ia bangkit dari kursi kayunya, melangkah gontai menuju jendela depan yang menghadap langsung ke arah jalan raya, mencari-cari sosok bayangan berjas hitam di antara kerumunan pejalan kaki pagi yang sibuk berlalu-lalang. Tidak ada siapa pun di sana—hanya deru kendaraan kota dan pantulan sinar matahari yang menyilaukan mata, seolah menegaskan bahwa dunia berjalan normal sementara dunianya sendiri tengah jungkir balik oleh sebuah teka-teki abadi.

"Ibu... apa ada yang salah?" suara lembut Chen Anqi memecah lamunan Meiying, membuat wanita itu terperanjat kecil dan segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar.

Bocah perempuan berusia enam tahun itu berdiri sambil merapikan tali ransel merah mudanya, menatap sang ibu dengan kerutan cemas di dahi kecilnya. Meiying menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar putrinya tidak menangkap badai emosi yang tengah berkecamuk di dalam dadanya. Ia tersenyum hangat, melangkah cepat mendekati Anqi, lalu berjongkok untuk merapikan kerah baju seragam sekolah putrinya dengan jemari yang masih sedikit bergetar halus.

"Tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Meiying lembut, suaranya diusahakan selicin mungkin agar terdengar tenang. "Ibu hanya... terharu melihat buku kita akhirnya sampai di toko buku hari ini. Ayo, kita berangkat sekarang sebelum Sekretaris Han datang menjemput."

Anqi mengangguk ceria, melompat kecil penuh antusias, sama sekali tidak menyadari badai batin yang tengah melanda ibunya. Tak lama berselang, suara ketukan sopan terdengar di pintu depan ruko, menandakan kedatangan Sekretaris Han yang tepat waktu seperti biasa. Meiying membimbing putrinya keluar, menyerahkan Anqi ke dalam pengawasan pria paruh baya yang setia itu, namun sorot matanya tidak bisa berbohong ketika ia menatap Sekretaris Han lebih lama dari biasanya.

"Ada apa, Nyonya Meiying? Apakah ada hal lain yang mengkhawatirkan Anda pagi ini?" tanya Sekretaris Han dengan nada prihatin, menangkap ketegangan yang tersirat jelas di garis wajah wanita di hadapannya.

Meiying menggeleng pelan, menyimpan rapat pesan singkat misterius itu di dalam saku mantelnya tanpa berniat membaginya. "Bukan apa-apa, Pak Han. Hanya sebuah kejutan kecil di pagi hari. Terima kasih atas semua bantuan yang Anda berikan selama ini untuk keluarga kami."

Setelah kendaraan yang membawa Anqi meluncur pergi meninggalkan halaman ruko, Meiying memutuskan untuk tidak langsung kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil tas tangan kecilnya, mengenakan sepatu datar, dan berjalan kaki seorang diri menuju toko buku besar yang terletak di sudut blok jalan utama distrik tersebut. Udara pagi terasa begitu segar, namun pikirannya terus melayang pada kata-kata di layar ponsel: “Buku yang bagus, istriku. Teruslah menulis di bawah cahaya matahari.” Kalimat itu menggunakan diksi yang khas, susunan huruf yang persis sama dengan gaya penulisan Chen Guowei semasa hidup, serta panggilan kesayangan yang tidak pernah diucapkan oleh orang lain kepada dirinya.

Setibanya di depan toko buku besar berlantai dua itu, Meiying mendapati etalase kaca bagian depan dipenuhi oleh poster promosi besar yang menampilkan sampul buku berlatar belakang siluet mahoni dengan tulisan mencolok: Aksara Handini — Bayang-Bayang Mahoni. Sejumlah pengunjung tampak berdiri di depan etalase, tertarik membaca sinopsis buku tersebut, sementara beberapa petugas toko sibuk menyusun tumpukan buku fisik di atas meja pajang khusus bestseller.

Meiying melangkah masuk ke dalam ruangan toko buku yang berpendingin udara sejuk. Aroma khas kertas baru dan tinta cetak langsung menyapa indra penciumannya, memberikan ketenangan instan yang menenangkan saraf-saraf kepalanya yang tegang. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong rak sastra fiksi, hingga matanya menangkap susunan rapi buku karyanya sendiri terpampang megah di jajaran terdepan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengulurkan jemarinya, menyentuh permukaan sampul buku tersebut—merasakan tekstur cetakan timbul dari judul yang ia rangkai dari air mata dan kepedihan masa lalu.

"Buku ini luar biasa menyentuh hati," suara seorang wanita muda pengunjung toko mendadak terdengar dari sebelah rak, berbicara kepada temannya sambil memegang salah satu eksemplar novel tersebut. "Aku membacanya sampai menangis semalam. Rasanya seperti menyelami kisah nyata tentang cinta seorang pelindung yang rela berkorban dalam diam, tanpa pernah meminta balasan apa pun dari dunia."

Temannya mengangguk setuju. "Benar. Penulisnya menggunakan nama pena Aksara Handini, tapi gaya bahasanya sangat matang, seolah ia benar-benar pernah hidup di dalam bayang-bayang intrik korporasi berdarah dingin itu."

Mendengar pujian tulus dari para pembaca asing di hadapannya, dada Meiying bergemuruh hebat. Kebanggaan dan kelegaan bergelung menjadi satu di dalam hatinya. Ia bukan lagi Lin Meiying yang rapuh, perempuan miskin yang gemetar ketakutan di sudut kontrakan kumuh; ia kini adalah seorang pengarang yang suaranya didengar oleh ribuan orang. Namun, di balik rasa bangga itu, bayangan wajah Lu Jingyan dan surat peninggalan Guowei kembali berkelebat silih berganti di dalam kepalanya, memperkuat keyakinan batinnya bahwa ada rahasia besar alam semesta yang belum sepenuhnya terungkap ke permukaan.

Ia memutuskan untuk membeli satu eksemplar buku pertamanya itu, membayarnya di kasir dengan selembar uang kertas yang ia sisihkan dari hasil royalti digital pertamanya. Setelah menerima kantong kertas berisi buku tersebut, Meiying berjalan keluar dari toko buku, berniat kembali ke ruko untuk melanjutkan bab naskah berikutnya. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat ia melewati sebuah gang sempit di sisi gedung perkantoran tua tak jauh dari sana.

Di ujung lorong gang yang remang-remang, di bawah naungan bayangan dinding beton yang terlindung dari teriknya matahari pagi, sesosok pria tinggi berbalut mantel hitam panjang tampak berdiri membelakanginya. Postur tubuh tegap itu, cara pria tersebut merapikan kerah mantelnya, dan yang paling mencolok—aroma samar parfum mahoni yang terbawa oleh hembusan angin gang—membuat aliran darah Meiying mendadak mendingin seketika.

Jantung Meiying berhenti berdetak selama sepersekian detik. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tanpa sadar, ia melepaskan genggaman tangannya dari kantong kertas, melangkah maju perlahan memasuki mulut gang yang sunyi, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata yang mengabaikan seluruh logika sehat di dalam kepalanya.

"Tunggu..." bisik Meiying tertahan, suaranya nyaris hilang ditelan deru angin kota. "Siapa di sana...?"

Pria berjas hitam itu menghentikan langkahnya yang hendak berbelok ke tikungan gang. Ia tidak langsung membalikkan badan, namun postur bahunya tampak menegang kaku, seolah tengah menahan gelombang emosi yang luar biasa besar di balik punggungnya. Bau khas kayu manis dan mahoni semakin pekat menguar di udara sempit tempat mereka berdiri, membangkitkan seluruh memori masa lalu yang selama ini terkunci rapat di dalam jiwa Meiying.

Meiying mempercepat langkahnya, merentangkan tangannya gemetar, hendak menyentuh ujung mantel pria misterius tersebut sebelum sosok itu benar-benar melangkah pergi dari hadapannya. "Lu Jingyan... ataukah itu kau, Guowei...?" teriaknya lirih, air mata kembali tumpah membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah.

Pria itu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya, mengangkat wajahnya untuk menghadapi Meiying di bawah temaram cahaya redup ujung gang. Namun, apa yang ia lihat—atau justru sosok yang berdiri di hadapannya—membuat napas Meiying terhenti total, sementara matanya membelalak lebar dalam keheningan yang mematikan.

Di hadapannya, bukan sosok Lu Jingyan yang ia kenal, melainkan seorang pria asing berwajah paruh baya berparut tipis di pelipis yang menatapnya dengan senyuman dingin sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat berstempel rahasia.

"Nyonya Lin Meiying," ucap pria asing itu dengan suara serak yang mengerikan. "Tuan besar kami telah menunggu kedatangan Anda selama tiga puluh tahun di ujung jurang kebenaran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!