Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu yang Datang Mengetuk
Embun pagi masih menempel di pucuk-pucuk daun ketika Kenzie Al-Ghazali melangkah keluar menuju teras samping istana perbukitan. Cangkir keramik berisi kopi hitam panas digenggamnya erat, sementara pandangannya menerobos kabut tipis yang menyelimuti lembah hijau di bawah sana. Kehidupan yang ia jalani selama beberapa bulan terakhir terasa begitu damai, seolah garis takdir telah menutup rapat seluruh lembaran kelam masa lalunya.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika dering ponsel satelit khusus di saku jaketnya bergetar nyaring sebuah perangkat komunikasi yang sengaja ia simpan khusus untuk jalur darurat lamanya.
Kenzie mengernyitkan dahi. Ia mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat layar hitamnya menampilkan deretan angka sandi tertutup. Dengan ibu jari yang sedikit menegang, ia menggeser tombol panggilan.
"Bicara," ucap Kenzie dingin, nada suara baritonnya langsung berubah tajam, kembali memancarkan wibawa sang mantan penguasa dunia hitam.
"Selamat pagi, Boss... Atau haruskah saya memanggilmu Tuan Philantropis sekarang?" sebuah suara serak di ujung telepon menyapa dengan nada sinis yang langsung dikenali Kenzie.
Jantung Kenzie berdenyut lebih cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kewaspadaan instingtif yang langsung melonjak ke level tertinggi. Suara itu milik Victor Vance, seorang gembong sindikat kriminal lintas negara asal Eropa timur yang dulu sempat menjadi rekan bisnis sekaligus pesaing berat Kenzie sebelum ia memutuskan beralih haluan.
"Victor," sebut Kenzie penuh penekanan, rahangnya mengeras. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan nomor ini? Dan untuk apa menghubungiku? Aku sudah keluar dari permainan itu."
Di ujung sambungan, Victor terkekeh dingin. "Keluar? Oh, Kenzie... dunia kita tidak semudah itu untuk ditinggalkan hanya dengan mendirikan yayasan amal dan memakai kemeja koko putih. Ada satu urusan lama yang belum tuntas saat kamu membubarkan jaringan di pelabuhan utara dua tahun lalu. Barang itu masih ada di tangan anak buahmu, dan sekarang... anak buahku sedang memantau kediaman barumu di perbukitan."
Ancaman terselubung itu langsung menghantam kesadaran Kenzie. Target mereka bukan lagi harta atau bisnis gelap, melainkan tempat di mana ia membangun istana kedamaian bersama istrinya.
"Dengar, Victor," desis Kenzie dengan ancaman maut yang terucap rendah namun sangat mematikan. "Jika kamu atau satu saja orangmu berani menginjakkan kaki di kawasan ini, atau berani menyentuh keluargaku... aku pastikan perbatasan ini menjadi kuburan massal kalian."
Klik. Kenzie langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanpa menunggu jawaban. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang mendidih.
Di dalam kamar utama, Aisyah Humaira yang baru selesai menunaikan salat dhuha merapikan sajadah dan khimarnya. Ia merasa ada yang berbeda dari gerak-gerik suaminya sejak tadi pagi. Ketika ia melangkah keluar menuju ruang keluarga, ia mendapati Kenzie sedang berdiri membelakangi pintu dengan kedua tangan mencengkeram tepi meja kayu, bahunya tampak tegang.
Aisyah mendekat secara perlahan. Dengan penuh kelembutan, ia menyentuh pelan lengan suaminya.
"Mas..." panggil Aisyah lembut. "Ada apa? Wajahmu tampak tegang sekali pagi ini. Apakah ada masalah dengan yayasan?"
Kenzie terkejut kecil. Ia segera berbalik, menyembunyikan kilat kemarahan di matanya dan menggantinya dengan senyuman tipis yang dipaksakan untuk menenangkan sang istri. Ia merangkul pundak Aisyah, menarik wanita itu kedalam dekapannya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya sedikit urusan lama administrasi yayasan yang harus diselesaikan," bohong Kenzie halus. Ia tidak ingin ketenangan jiwa istrinya terganggu oleh ancaman dari masa lalu yang belum tentu berani bertindak gegabah di siang bolong.
Aisyah mendongak, menatap lekat-lekat manik mata hitam suaminya di balik cadarnya. Sebagai istri yang sangat peka, ia tahu suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, ia memilih untuk tidak mendesak, melainkan mendoakan dalam hati agar Allah senantiasa melindungi suaminya dari segala marabahaya.
"Apapun masalahnya, sandarkanlah pada Allah, Mas," bisik Aisyah tulus. "Aku selalu mendoakanmu."
Kenzie mengecup kening istrinya lama, merasakan ketenangan sesaat sebelum ia harus mengambil tindakan tegas.
Sepuluh menit kemudian, Kenzie melangkah turun menuju ruang kerja bawah tanah rahasia istana—ruangan yang tadinya berfungsi sebagai pusat komando pengamanan sebelum dialihfungsikan. Di sana, Vito sudah berdiri siaga di depan meja monitor pengawas CCTV keliling perbukitan.
"Boss, sensor perimeter luar kita mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan di jalur pendukung utara," lapor Vito langsung, menyerahkan sebuah tablet portabel kepada atasannya. "Tiga unit kendaraan taktis tanpa identitas terlihat berhenti di pos pantau lama, menurunkan beberapa orang bersenjata."
Kenzie menatap layar monitor dengan tatapan tajam setajam elang. Insting militernya kembali hidup sepenuhnya. Victor tidak main-main dengan ancamannya.
"Mereka mengira aku telah melemah karena hidup tenang," ujar Kenzie dingin, suaranya bagai bisikan maut dari kegelapan. "Vito, aktifkan sistem pertahanan darurat istana lapis kedua. Siapkan seluruh personel pengamanan elit kita. Jangan biarkan mereka mendekati radius satu kilometer dari bangunan utama."
"Siap, Boss!" jawab Vito tegas, matanya memancarkan kesiapan penuh. "Kita habisi mereka sekarang?"
"Belum," cegah Kenzie sambil mengangkat tangannya. "Pantau gerak-gerik mereka. Aku ingin tahu siapa dalang lokal yang menjadi penghubung Victor masuk ke wilayah ini. Kita mainkan strategi bertahan, lalu kita pukul balik telak di malam hari."
Di balik ketenangan istana perbukitan yang megah, badai masa lalu kini mulai merayap naik, menguji sekali lagi ketangguhan iman, cinta, dan kesetiaan yang telah dibangun oleh Kenzie dan Aisyah. Pertarungan antara bayangan hitam yang mencoba kembali dan cahaya hijrah yang kokoh kini resmi dimulai.
Mantap 🤭🤭