"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 31 Ke Bali
Kaia terus meremas kedua jemarinya di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Sudah hampir lima jam ia berada di rumah barunya di Sidemen.
Rumah itu berdiri di tengah hamparan sawah bertingkat. Udara pegunungan terasa sejuk. Angin menggerakkan dedaunan kelapa, sementara suara gemericik air dari kolam renang kecil di halaman belakang terdengar menenangkan.
Kolam yang sengaja dibuat Hardja. Khusus untuk Ocean dan Sea. Mengingat itu membuat dada Kaia kembali sesak.
Kakeknya memang sudah tiada. Namun setiap sudut rumah ini masih dipenuhi jejak kasih sayangnya.
Namun keindahan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Kaia.Matanya berkali-kali melirik jam dinding.
Satu jam lagi, pesawat yang membawa Ocean, Sea, dan Mbak Rini akan mendarat di Bali. Ia ingin sekali ikut menjemput.
Namun Fadlan melarangnya.Menurut sang ayah risikonya terlalu besar. Semakin sedikit orang yang terlihat bersama kedua anak itu, semakin kecil kemungkinan keberadaan mereka terlacak.
"Tenang, Kai." Suara lembut Farida membuyarkan lamunannya. Lansia itu keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat.
Ia duduk di samping cucunya, lalu menggenggam pelan tangan Kaia yang terasa dingin. "Papamu sudah mengatur semuanya.
Meganthara tidak akan tahu."
Kaia menatap wajah neneknya. "Tapi... Nek. Sampai sekarang aku masih takut ada seseorang yang mengenali mereka. Takut semua rencana Papa gagal."
Farida mengusap punggung tangan Kaia perlahan. "Kalau dulu kamu sendirian menghadapi semuanya... Kali ini tidak. Ada Papa. Ada Nenek."
Menjawab, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar.Nama Neo muncul di layar.
"Nek... aku angkat telepon dulu."
Farida mengangguk sambil tersenyum tipis. Kaia berjalan menuju teras samping rumah.
Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang.
Menjawab Telpon 📱
..."Ya, Neo."...
..."Udah sampai Bali?"...
..."Sudah. Baru sekitar lima jam. Kamu belum tidur?"...
...Neo terkekeh pelan. "Belum....
...Kamu tidak lagi memikul semuanya sendiri."...
...Kalimat sederhana itu membuat mata Kaia kembali memanas. "Belum sempat ia Aku nunggu kabar kalian. Kalau Ocean sama Sea sudah mendarat, baru aku bisa tidur tenang."...
...Kaia menoleh ke langit sore yang mulai berubah jingga....
..."Satu jam lagi mereka sampai.Aku malah makin deg-degan."...
...Neo terdiam beberapa saat.Lalu berkata pelan, "Tarik napasdulu. Semua akan baik-baik saja. Elio masih sibuk mencari ke luar negeri. Dia tidak akan menyangka kamu justru kembali ke Indonesia."...
...Kaia mengembuskan napas panjang. "Semoga..." ...
Sementara di Bandara Ngurah Rai, Bali, Fadlan berdiri di ruang tunggu khusus kedatangan. Wajahnya tetap tenang seperti biasa.
Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Namun sorot matanya terus bergerak mengamati setiap sudut ruangan.
Beberapa pria berpakaian kasual berdiri berjauhan. Tak ada yang tampak mencolok. Padahal mereka adalah orang-orang kepercayaannya.
Semuanya berjaga tanpa menarik perhatian. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik. Pesawat seharusnya sudah mendarat.
Beberapa menit kemudian... Pintu otomatis terbuka. Seorang pramugari keluar lebih dulu. Disusul para penumpang.
Lalu dua sosok kecil berlari sambil menyeret koper mungil bergambar dinosaurus dan putri kerajaan.
"Opaaaa!" Suara keduanya menggema di ruang tunggu.
Fadlan langsung menoleh. Ekspresi dingin di wajahnya benar-benar runtuh. Senyum hangat mengembang begitu saja.
Ia berjongkok, membuka kedua lengannya. Ocean dan Sea langsung menabrak pelukannya.
"Pelan-pelan..." gumamnya sambil tertawa kecil.
Namun kedua bocah itu justru memeluknya semakin erat. "Kangen, Opa..." Ocean lebih dulu bersuara.
Sea ikut mengangguk cepat. "Sea juga kangen..."
Fadlan mengusap kepala keduanya bergantian. "Opa juga. Sangat rindu."
Dadanya menghangat.Empat tahun lalu...
Ia melepas putrinya ke Slovenia. Hari ini, ia memeluk dua alasan terbesar Kaia tetap bertahan hidup.
Di belakang mereka, Mbak Rini berjalan sambil tersenyum lega. Dua bodyguard yang mengawal sejak Slovenia mengikuti beberapa langkah di belakang sambil membawa koper-koper besar.
Fadlan berdiri. Satu tangannya menggenggam tangan Ocean. Tangan satunya lagi menggenggam Sea. "Ayo. Kita pulang."
Sea mendongak polos."Opa... Bali itu Indonesia ya?"
Fadlan tersenyum kecil."Iya. Mulai hari ini... Bali adalah rumah kalian."
Ocean langsung bersorak kecil. "Belalti kita akhilnya punya lumah di Indonesia!"
Fadlan mengangguk pelan.
"Iya. Dan Opa akan memastikan rumah itu menjadi tempat paling aman untuk kalian."
Dengan pengawalan yang telah diatur rapi, mereka berjalan keluar bandara tanpa menarik perhatian siapa pun.
***
Sudah dua bulan Kaia dan kedua anaknya menetap di Bali. Ocean dan Sea mulai beradaptasi dengan kehidupan baru mereka.
Udara hangat Indonesia yang semula membuat keduanya mudah berkeringat, kini tak lagi menjadi masalah.
Setiap pagi, tawa mereka memenuhi halaman rumah yang dikelilingi hamparan sawah hijau khas Sidemen.
Farida pun akhirnya benar-benar mewujudkan impiannya. Setelah kepergian Hardja, ia memilih menetap bersama Kaia dan kedua cicitnya.
Hari-hari yang sempat terasa kosong kini perlahan dipenuhi kembali oleh suara tawa Ocean dan Sea yang tak pernah habis energinya.
Sesekali Kaia memandang sang nenek yang tengah tertawa melihat tingkah si kembar. Dadanya terasa hangat. Keputusannya pulang ke Indonesia, ternyata bukan keputusan yang salah.
"Kamu yakin sudah nggak perlu bodyguard lagi, Kai?" Suara Farida memecah lamunannya.
Kaia mengangguk sambil menelan potongan sandwich lebih dulu. "Kalau di resort, Kaia lebih banyak di ruang kerja, Nek. Paling cuma rapat sama manajer atau ngerjain proyek freelance. Bodyguard lebih baik tetap fokus jaga rumah."
Menurutnya rumah itu jauh lebih penting. Di sanalah Ocean dan Sea berada yang lebih memerlukan penjagaan.
Farida mengangguk pelan."Ya sudah... Tapi sepertinya Papa kamu masih khawatir kalau mau lepas kamu sendiri tanpa penjagaan."
Kaia tersenyum kecil. "Nanti biar Kaia aja yang jelasin. Besok kan weekend. Papa pasti ke sini."
Farida ikut tersenyum. "Sepertinya sekarang Fadlan sudah nggak bisa jauh dari kedua cucunya."
Kaia terkekeh pelan. "Bukan cuma karena Ocean sama Sea. Papa juga tahu Nenek tinggal di sini."
Farida hanya menggeleng sambil tersenyum. Pandangan Kaia kemudian beralih kepada kedua anaknya yang masih sibuk menikmati sarapan.
Ocean sedang menyusun potongan buah sesuai warna favoritnya. Sedangkan Sea asyik membuat bentuk wajah lucu dari roti dan potongan stroberi.
"Sayang... Sebentar lagi Miss Amel datang. Kalian sudah siap belajar?"
Dua kepala kecil itu langsung mengangguk kompak. "Iya, Mama!"
Kaia memang belum memasukkan Ocean dan Sea ke preschool. Usia mereka yang baru tiga tahun masih ia manfaatkan untuk belajar di rumah melalui kegiatan bermain yang terarah.
Miss Amel datang beberapa kali dalam seminggu untuk memberikan stimulasi sesuai usia mereka.
Belajar mengenal huruf dan angka lewat permainan. Melatih motorik halus melalui menggambar dan menyusun balok.
Bercerita menggunakan buku bergambar, bernyanyi, hingga sesi berenang ringan untuk melatih keberanian, keseimbangan tubuh, dan perkembangan sensorik keduanya.
Bagi Kaia... Yang terpenting bukan seberapa cepat anak-anaknya bisa membaca. Melainkan memastikan mereka tumbuh bahagia.
"Ma..." Sea mengangkat wajah. "Nanti Sea boleh pelgi ke pantai?"
Kaia tersenyum geli mendengar logat cadel putrinya. "Kemarin kan baru dari pantai. Besok lagi ya kalau Opa datang."
"Ouuhh..." Sea langsung mengembuskan napas panjang. "Itu masih lama..."
Ocean tiba-tiba meletakkan gelas susunya. "Kalo gitu kita telepon Opa aja, kalo kita yang minta, Opa pasti nggak nolak."
Kaia dan Farida saling berpandangan. Keduanya tak mampu menahan tawa.
"Dasar kalian..." gumam
Kaia sambil menggeleng. Ia berdiri, meraih tas kerjanya. Kemudian mencium punggung tangan Farida dengan hormat. Setelah itu bergantian mengecup kening Ocean dan Sea.
"Mama berangkat dulu ya. Jangan bikin Miss Amel capek."
"Siap, Mama!" Kedua bocah itu menjawab bersamaan.
Kaia melangkah keluar rumah. Udara pagi Sidemen menyambutnya. Titik embun di ujung daun, sementara sinar matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan.
Ia baru beberapa langkah ketika Marcus, salah satu bodyguard, ikut berjalan di belakangnya. "Marcus." Kaia menghentikan langkah. "Kamu tetap di rumah saja ya."
Marcus tampak ragu. "Tapi nanti Tuan Fadlan..."
"Aku yang akan bicara sama Papa. Nggak apa-apa. Ocean dan Sea lebih membutuhkan penjagaan dibanding aku."
Marcus akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Non."
Kaia membuka pintu mobilnya. Meletakkan tas di kursi penumpang. Lalu menyalakan mesin. Mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan halaman rumah.
Di kaca spion, Kaia masih sempat melihat Marcus berdiri di depan gerbang bersama beberapa petugas keamanan lainnya.
Rumah itu tetap dijaga selama dua puluh empat jam. Tempat paling aman... Bagi dua malaikat kecilnya.
Sementara itu... Di bandara Soekarno-Hatta mulai dipadati calon penumpang sejak pagi.
Elio duduk di ruang tunggu keberangkatan dengan setelan kemeja putih dan celana hitam. Sebuah kacamata hitam menutupi sorot matanya yang tampak lelah akibat kurang tidur.
Di tangannya tergeletak map berisi laporan operasional cabang Opaline Skin Center di Bali. Beberapa minggu terakhir, cabang itu mengalami serangkaian masalah.
Mulai dari keluhan pasien yang meningkat, pergantian dokter spesialis secara mendadak, hingga audit internal yang membuat Maika memintanya turun tangan langsung.
Awalnya Elio enggan pergi. Baginya, mencari Kaia jauh lebih penting daripada mengurus administrasi klinik. Namun sebagai putra keluarga Meganthara, ia tidak punya banyak pilihan.
Ponselnya bergetar. Nama orang kepercayaannya muncul di layar. Elio segera mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana?"
"Tim kami menemukan beberapa petunjuk baru, Tuan." Suara di seberang terdengar pelan. "Kemungkinan besar Nyonya memang sempat berada di Eropa."
Jantung Elio berdetak sedikit lebih cepat. "Negara mana?"
"Kami masih mendalaminya. Tapi jejaknya mulai terlihat."
"Terus cari. Sedetail mungkin. Jangan sampai Papa mertua mencium kalau kita mulai mendekati keberadaan Kaia." Nada suaranya tetap tenang. Namun jemarinya tanpa sadar menggenggam ponsel semakin erat.
"Baik, Tuan. Kami akan berhati-hati."
Panggilan berakhir. Elio menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mengembuskan nya perlahan.
Empat tahun, ia mencari perempuan yang pernah ia sakiti. Empat tahun pula ia hidup dengan penyesalan yang tak pernah benar-benar hilang.
Ia tidak tahu... Apakah Kaia membencinya. Apakah perempuan itu sudah membuka lembaran hidup baru. Atau...
Masih mengingatnya. Namun yang ia yakini, ia harus menemukannya, apa pun risikonya.
"Attention, passengers on flight GA-412 to Denpasar. Boarding will begin shortly."
Suara pengumuman dari pengeras suara membuyarkan lamunannya. Elio berdiri.
Meraih koper kabin di samping kursi. Lalu melangkah menuju gerbang keberangkatan.
**********
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara