Indonesia
NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas / Penyesalan Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31— Nama Besar Yang Hilang.

Setelah penolakan Keira, Arsen akhirnya memutuskan berhenti menghubungi mantan istrinya. Ia tidak bisa terus berharap kepada seseorang yang sudah menutup pintu untuknya, sementara kondisi Wijaya Group semakin mengkhawatirkan. Jika ingin menyelamatkan perusahaan, ia harus mencari jalan lain.

Pagi itu, Arsen meminta Mario menyiapkan daftar mitra bisnis yang selama ini memiliki kerja sama dengan Wijaya Group. Ia berencana menemui mereka satu per satu untuk mempertahankan kontrak sekaligus mencari peluang proyek baru.

“Kita tidak bisa hanya duduk menunggu keadaan membaik,” katanya ketika Mario menyerahkan daftar tersebut. “Atur pertemuan dengan mereka. Aku akan datang langsung.”

Mario mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan keraguan. “Baik, Pak. Saya akan menghubungi mereka hari ini.”

Arsen berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya masih bisa diperbaiki. Wijaya Group telah berdiri selama bertahun-tahun. Mereka memiliki pengalaman, aset, dan jaringan bisnis yang seharusnya cukup untuk bertahan tanpa bantuan Keira.

 

Perusahaan pertama yang dikunjungi Arsen adalah PT Suryatama Niaga, salah satu mitra distribusi yang telah bekerja sama dengan Wijaya Group selama hampir empat tahun sejak awal berdirinya perusahaan itu.

Direktur perusahaan itu, Hendra Santoso, menerimanya di ruang rapat. Namun, setelah mendengar penjelasan Arsen mengenai rencana kerja sama baru, Hendra hanya menggeleng pelan.

“Maaf, Pak Arsen. Untuk sementara, kami tidak bisa menerima tawaran Anda.”

Arsen mengernyit. “Boleh saya tahu alasannya? bukankah kerja sama kita selama ini berjalan cukup baik.”

“Memang benar. Namun, kondisi Wijaya Group sekarang sedang tidak stabil. Kami harus mempertimbangkan risiko sebelum menandatangani kontrak baru.”

“Kami masih memiliki aset dan kemampuan untuk memenuhi kewajiban. Kekalahan tender kemarin tidak berarti perusahaan kami tidak bisa dipercaya.”

Hendra tersenyum tipis, tetapi tidak terlihat terpengaruh. “Saya mengerti Anda ingin mempertahankan perusahaan. Namun, ada satu hal yang mungkin selama ini tidak Anda sadari.”

“Apa itu?”

“Kami bersedia bekerja sama dengan Wijaya Group karena menganggap perusahaan Anda memiliki hubungan baik dengan KA Grup.”

Arsen terdiam.

Hendra melanjutkan tanpa mengubah nada bicaranya. “Dahulu, kami beberapa kali mempertimbangkan untuk mengurangi kerja sama karena ada sejumlah persoalan dalam pelaksanaan kontrak. Namun, Tuan Daren mendatangi kami dan meyakinkan bahwa Wijaya Group memiliki dukungan dan kredibilitas yang baik.”

“Jadi, selama ini Anda bekerja sama dengan kami hanya karena KA Grup?”

Arsen merasa wajahnya memanas melihat lawan bicara nya mengangguk tegas. Ia datang dengan harapan mendapatkan dukungan dari mitra lama, tetapi justru mengetahui bahwa reputasi yang selama ini dibanggakannya ternyata tidak sepenuhnya berdiri atas kemampuan perusahaannya sendiri.

“Apakah Anda tidak ingin mempertimbangkan kembali keputusan ini?” tanyanya, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Jika kondisi perusahaan Anda sudah lebih stabil, kita bisa membicarakannya lagi.”

Arsen tidak punya pilihan selain mengakhiri pertemuan itu.

 

Hasil yang sama kembali ia dapatkan ketika menemui perusahaan konstruksi yang telah menjadi mitra Wijaya Group selama tiga tahun terakhir.

Direkturnya, Budi Hartawan, bahkan tidak berusaha menyembunyikan keraguannya.

“Pak Arsen, saya akan berbicara terus terang. Kami tidak ingin terlibat dalam masalah keuangan perusahaan Anda.”

“Perusahaan kami masih mampu menjalankan kontrak.” Arsen berusaha meyakinkan.

“Kalau begitu, buktikan melalui laporan keuangan yang jelas. Karena kami tidak akan mempertaruhkan uang kami hanya untuk sesuatu yang sia-sia."

Arsen menahan rahangnya yang mulai mengeras. “Saya datang untuk membicarakan peluang baru, bukan meminta belas kasihan.”

“Kalau begitu, Anda seharusnya datang membawa proyek yang menjanjikan, bukan hanya nama Wijaya Group.”

Ucapan itu membuat Arsen terdiam. Padahal sebelumnya orang ini menyambutnya dengan penuh hormat. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?

Budi kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Jujur saja, Pak. Kami dulu mau bekerjasama dengan Wijaya group karena kalian memiliki dukungan dari KA Grup. Tapi sekarang kan sudah tidak? Dan berita yang terakhir kali kami dapatkan perusahaan Anda kalah tender dari Mahendra Corp, kami harus menilai ulang semuanya.”

“Hubungan kami dengan KA Grup tidak ada kaitannya dengan kemampuan perusahaan menjalankan proyek.”

"Tidak ada hubungannya bagaimana? memangnya selama ini kalian bisa berdiri sendiri? Tidak. Wijaya berdiri karena adanya KA. Kalau sekarang KA yang memiliki modal besar saja meragukan Wijaya, apalagi kami?”

Arsen meninggalkan gedung tersebut dengan langkah berat. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa nama Wijaya yang selama ini dibanggakan keluarganya ternyata tak ubahnya sebuah cangkang kosong.

Namun, ia tak ingin menyerah.

 

Menjelang sore, Arsen sudah mengunjungi enam perusahaan. Tidak satu pun memberikan komitmen baru. Sebagian menolak secara halus, sementara yang lain terang-terangan meremehkan kondisi terkini Wijaya group.

Pertemuan terakhir hari itu menjadi yang paling menyakitkan.

Direktur sebuah perusahaan pemasok yang telah bekerja sama dengan keluarganya selama tiga tahun menerima Arsen dengan sikap dingin. Setelah mendengar penjelasannya, pria itu tertawa kecil.

“Terus terang saja, Pak Arsen. Kami dulu berani mengajukan kerjasama dengan perusahaan Anda karena kami melihat keberadaan KA Grup di belakang Wijaya. Sekarang, kalau KA saja mundur, apa yang mau kami jadikan pertimbangan?”

Arsen mengepalkan tangan di bawah meja. “Apakah sekarang Anda menganggap semua pencapaian kami tidak berarti?”

“Sebenarnya saya tidak tega mengatakan begitu. Tetapi bagus jika Anda sadar diri.”

Ucapan pria itu terasa seperti tamparan yang menghantam keras harga diri Arsen. Pria itu tidak lagi membalas. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah mengambil keputusan.

Setelah pertemuan berakhir, ia masuk ke mobil dan meminta sopir mengantarnya kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, ia memandangi gedung-gedung yang dilewati tanpa benar-benar memperhatikan jalan.

Satu per satu, kalimat para direktur tadi kembali terngiang di telinganya.

Mereka bekerja sama karena KA Grup. Mereka percaya karena KA Grup. Mereka mempertahankan kontrak karena menganggap Wijaya Group memiliki dukungan KA Grup.

Selama ini, Arsen selalu percaya bahwa nama Wijaya dibangun oleh kerja keras keluarganya sendiri. Ia membanggakan perusahaan itu, meremehkan orang-orang yang dianggap tidak memiliki kedudukan, bahkan menganggap Keira yang hanya wanita rumahan dan tidak pantas berdiri di sisinya. Kini, setelah Keira pergi, semua ikut pergi meninggalkannya.

 

Ketika Arsen tiba di kantor, Mario sudah menunggunya dengan beberapa laporan tambahan.

“Bagaimana hasil pertemuannya, Pak?” tanyanya hati-hati.

Arsen meletakkan tas di meja. “Tidak ada yang bersedia memperpanjang kerjasama.”

Mario menunduk. “Setelah kejadian waktu tender, saya sudah menduga sebagian mitra akan bersikap seperti itu.”

Arsen menarik nafas dalam. “Ternyata mereka dulu mau kerja sama dengan Wijaya karena KA Grup.”

“Saya malah awalnya tidak percaya bahwa KA adalah milik Bu Keira.” Mario mengepalkan tangannya sendiri mengingat dulu ia juga pernah meremehkan wanita itu, menganggap tidak pantas berdiri di samping bos nya.

Arsen tertawa hambar. “Ternyata yang selama ini kita banggakan sama sekali bukan milik kita.”

“Pak, kita masih bisa memperbaiki keadaan jika—”

“Jika apa, Mario?” potong Arsen. “Jika Keira bersedia membantu? Dia sudah menolak. Aku tidak bisa memohon lagi kepadanya.”

Akhirnya Mario memilih diam. Sejujurnya kalau dia menjadi Keira mungkin juga akan bersikap sama setelah semua perlakuan yang pernah ia dapatkan dari keluarga Wijaya.

Ponsel Arsen bergetar. Pesan dari rumah sakit masuk, mengingatkan bahwa sudah waktunya melunasi administrasi biaya perawatan ayahnya.

Arsen memejamkan mata sejenak. Ayahnya masih terbaring lemah. Sementara keuangan baik milik keluarga maupun perusahaan semakin mengkhawatirkan. Lalu bagaimana caranya ia membayar biaya perawatan ayahnya?

1
vania larasati
lanjut
Noey Aprilia
Keira mngkn mau mmafkn kslhn mreka d msa lalu,tp untk kmbli lg....
Soryyyy yeee......😛😛😛
Aditya hp/ bunda Lia
tidak akan bisa soalnya kamu tuh udah terbiasa terima beres ...tanpa kerja keras dulu
〈⎳ FT. Zira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Widiyarti
menyesalpun tiada guna Arsen...
Ilfa Yarni
tidak Ada Jln lain untukmu slain menerima nasib itulah karma yg hrs kau jalani karena kesombonganmu arsen
Lee Mba Young
nnti di kluarga santoso Clarissa di jadikan babu
Aditya hp/ bunda Lia: setuju semoga ajah ... kita mohon sama othor 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
oalah tibak e podo bangkrut e🤣🤣
Nurhartiningsih
gila sih ini
Lily
keluarga gila
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
inilah contohl orang2 yg tamak Akan harta dikira mereka beruntung tp malah buntung penasaran apa yg Akan dikatakan papa Clarissa ya perusahaanya jg mau bangkrut dia menikahkan anknya dgn arsen berharap bisa dimanfaatin ternyata arsen malah bankrupt duluan
Ayuk Witanto
Keira udah gak Sudi mungut sampah
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan pada mau enak mau senang tanpa berjuang ...
juwita
Arsen menghela nafas pendek.
juwita
yg penting tidak menceraikan carissa. mgkn itu yg di maksudnya ya mam
juwita
keluarga g bener semua saling memanfaatkan. tp akhirnya zonk semua🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan
udah tidur saja km arsen pasti capek🤣🤣
ryuka
makaaih banyak unt banyak up nya ya thorrrr 😍😍😍😍😍😍
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih juga atas dukungannya kak /Kiss//Pray/
total 1 replies
ryuka
penyesalan emang selalu datang terlambat arsen..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!