Indonesia
NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan sisa bias jingga kemerahan yang perlahan-lahan larut dalam pekatnya malam. Langit Desa Kertajaya malam itu tampak bersih tanpa awan, dihiasi kerlip bintang-bintang kecil dan bulan sabit tipis yang menggantung rendah.

Suasana desa berangsur-angsur senyap, menyisakan suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun warga serta deru sesekali kendaraan bermotor dari jalan raya utama.

Di depan pintu besar bangunan balai desa, Raka, Bayu, dan Dimas berdiri berdampingan. Di tangan Raka, sebuah senter baterai berukuran sedang memancarkan cahaya putih terang yang membelah kegelapan halaman belakang.

Sementara di belakang mereka, Mira melangkah dengan anggun, gaun ungunya menyapu pelan lantai semen halaman yang mulai berembun.

"Sumpah ya, ngambil job malam-malam begini rasanya kayak lagi dihukum kerja sosial sama negara," gerutu Bayu pelan sambil merapatkan jaket parasut kumalnya.

Ia menyorotkan pandangan ke arah bangunan utama balai desa yang tampak sunyi dan gelap gulita. "Pak RT ini ada-ada saja. Kenapa nggak nyuruh warga gotong royong siang tadi sekalian?"

Dimas yang membawa karung sampah kosong dan sapu lidi melirik Bayu sekilas dengan wajah datar. "Siang tadi kan warga sibuk urusan ladang dan warung. Makanya tugas pembersihan gudang arsip ini dilempar ke kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya yang siap siaga 24 jam."

"Iya, siap siaga karena isi dompet kita tinggal koin duaan," timpal Bayu pasrah.

Di hadapan mereka, sebuah bangunan terpisah berukuran sekitar empat kali enam meter berdiri agak menjorok ke belakang kompleks balai desa. Itulah bangunan gudang lama yang dimaksud Pak RT tempat penyimpanan arsip kertas lapuk, perabot kantor rusak, dan tumpukan kardus-kardus tua peninggalan kepengurusan desa dari puluhan tahun lalu.

Pintu kayunya yang bercat hijau kusam tampak tertutup rapat, digembok dengan gembok berukuran besar yang sudah berkarat di bagian lingkarannya.

Raka merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah anak kunci besi tua berukuran agak besar yang tadi sore diberikan oleh Pak RT. Dengan napas sedikit tertahan, Raka melangkah maju mendekati pintu gudang.

"Udah, nggak usah pada tegang begitu. Kita ke sini cuma buat beresin kardus sama nyapu debu, bukan mau uji nyali," ujar Raka menenangkan kedua temannya, meskipun ia sendiri bisa merasakan aroma apak dan lembap yang menguar pekat dari celah-celah pintu kayu tersebut.

Kring... klotok...

Raka memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok yang berkarat. Setelah diputar dua kali dengan sedikit tenaga, gembok itu terbuka dengan bunyi klik yang nyaring di tengah kesunyian malam.

Raka menarik gembok tersebut, lalu mendorong daun pintu kayu gudang perlahan-lahan.

Krieet...

Suara deretan engsel tua yang berkarat berderit nyaring, memecah kesunyian malam dan menghasilkan embusan angin dingin bercampur debu tebal yang langsung menyapa wajah mereka berempat. Raka mengangkat senternya, mengarahkan cahaya putih terang ke dalam ruangan gelap gulita di balik pintu.

Seketika, sorot lampu senter menampakkan isi di dalam gudang. Tumpukan kardus arsip yang menguning berbaris rapi hingga menyentuh dinding, kursi-kursi kayu patah yang ditumpuk-tumpuk di sudut ruangan, serta lemari arsip besi tinggi berkarat yang pintu kacanya sudah retak separuh.

Seluruh lantai semen tertutup lapisan debu tebal yang tampak jelas mengepul setiap kali angin malam bertiup masuk.

Mira melangkah masuk lebih dulu melewati pintu, mengibaskan sebelah tangannya di depan hidung dengan ekspresi jijik yang kentara. Ia meneliti ruangan sempit itu dengan tatapan menilai.

"Tempat ini bahkan cukup tua untuk membuat pakaian bangsawan kehilangan wibawa," komentar Mira dengan suara berbisik ringan, memutar tubuhnya perlahan di dalam ruangan. "Bau apak dan debunya benar-benar membuat tempat ini terasa sangat tidak layak huni."

"Makanya, kalau nggak tahan sama baunya, Mbak Mira boleh tunggu di luar sambil ngitung bintang di langit," sahut Bayu dari ambang pintu, masih ragu-ragu untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan berdebu itu.

"Enak saja! Aku adalah pengawas jalannya proyek ini!" sanggah Mira sewot, menoleh tajam ke arah Bayu. "Mana mungkin seorang direktur pemasaran membiarkan para pekerjanya bermalas-malasan di dalam ruangan gelap?"

"Udah, masuk aja kalian berdua. Jangan malah ribut di depan pintu," ajak Dimas tenang, melangkah masuk duluan sambil membawa sapu dan karung sampah. Ia langsung mulai menyapu bagian dekat pintu yang dipenuhi sarang laba-laba.

Raka mengikutinya dari belakang, menutup pintu kayu agak longgar agar udara luar bisa masuk mengurangi bau apak, lalu meletakkan senter di atas sebuah meja kayu tua yang ada di dekat tumpukan kardus.

"Oke, target kita jelas: pindahkan kardus arsip lama yang sudah hancur ke dalam karung sampah, tumpuk kursi patah di sudut barat, dan sapu bersih debunya. Selesai itu, uang dua ratus ribu fix jadi milik kita."

Mendengar kata 'dua ratus ribu', semangat Bayu yang tadinya menciut mendadak naik drastis. Ia langsung melangkah masuk, menyingsingkan lengan jaketnya tinggi-tinggi. "Siap! Demi lembaran merah dua ratus ribu, debu setebal apa pun bakal saya babat habis malam ini!"

Pekerjaan pembersihan gudang pun dimulai. Suasana malam di balai desa yang tadinya sunyi kini diisi dengan suara gesekan sapu lidi, suara kardus-kardus tua yang digeser bergesekan dengan lantai semen, serta keluhan kecil Bayu setiap kali ia tidak sengaja menghirup debu tebal.

Raka dan Dimas bekerja dengan cekatan memilah kardus-kardus arsip. Sebagian besar kertas di dalam kardus tersebut sudah mulai melapuk dimakan usia, dipenuhi cap stempel kantor desa dari tahun sembilan puluhan yang tintanya sudah memudar menjadi kecokelatan.

Di sudut ruangan, Mira berdiri memperhatikan mereka bekerja. Meskipun awalnya ia hanya berniat mengawasi sambil melipat tangan di dada, lama-kelamaan sang putri jin merasa bosan hanya menjadi penonton.

Melihat Bayu sedang kesulitan mengangkat tumpukan kardus arsip yang cukup tinggi dan hampir runtuh ke lantai, Mira mendengus pelan.

Bayu ini benar-benar nggak punya teknik mengangkat beban yang benar, batin Mira menggelengkan kepala pelan dalam diam.

Tanpa disadari oleh Bayu, Mira menggerakkan jari telunjuknya dengan sangat halus. Tiupan angin gaib bertekanan kecil mengitari tumpukan kardus di tangan Bayu, menjaga agar kardus-kardus berat itu tetap seimbang dan tidak tumpah berantakan ke lantai.

Bayu, yang tadinya merasa tumpukan kardus itu tiba-tiba menjadi jauh lebih ringan dan stabil di tangannya, mengerjap kaget. Ia mendongak ke atas, lalu menatap tumpukan kardus di hadapannya dengan kening berkerut.

"Eh? Kok perasaan tadi berat banget ya, sekarang malah enteng kayak kapas?" gumam Bayu heran, melirik ke kanan dan ke kiri.

Dimas yang berdiri tidak jauh dari situ menanggapi tanpa menghentikan sapunya.

"Makanya, sering-sering olahraga malam, jangan cuma makan mi instan mulu, makanya tenaga bertambah."

"Bukannya nambah tenaga, ini mah kayak ada yang bantuin ngangkat," gerutu Bayu tidak yakin.

Di dekat meja kayu tempat senter diletakkan, Raka sedang memeriksa tumpukan arsip terakhir yang berada di bagian paling bawah dekat dinding. Saat ia menarik sebuah kardus berukuran sedang yang terselip di balik lemari arsip besi, kardus tersebut tersangkut pada sesuatu yang keras di lantai.

Raka mengerutkan keningnya. Ia membungkuk lebih dekat, menyorotkan cahaya senter ke bawah kardus. Di balik tumpukan kertas arsip yang mulai hancur, tampak sebuah benda pipih terbuat dari kayu jati tua berukir sederhana, tertutup debu tebal dan sarang laba-laba.

Benda itu tampak seperti sebuah kotak kayu kecil untuk menyimpan dokumen atau barang-barang berharga yang sudah lama terabaikan.

"Eh, Dim, Bay... Sini sebentar," panggil Raka dengan nada agak rendah, menarik perhatian ketiga temannya.

Bayu dan Dimas langsung meletakkan kardus yang sedang mereka pegang dan mendekati Raka. Bahkan Mira yang tadinya berdiri di sudut ruangan ikut melangkah mendekat, memposisikan dirinya di sebelah Raka untuk mengintip benda apa yang baru saja ditemukan.

"Ada apa, Ka? Jangan bilang lu nemu peti harta karun peninggalan zaman kolonial?" tanya Bayu antusias, berjongkok di samping Raka.

Raka mengulurkan tangannya, menyapu lapisan debu tebal di atas kotak kayu tersebut dengan ujung jarinya. "Bukannya harta karun. Tapi kotak ini... kayaknya sengaja disembunyikan di balik lemari arsip."

Raka mencoba mengangkat kotak kayu berukir itu. Ternyata kotak tersebut tidak terkunci. Dengan perlahan, Raka membuka penutup kotak kayu yang berderit pelan.

Cahaya putih dari senter menyorot lurus ke dalam isi kotak. Di dalamnya, tidak ada emas ataupun perhiasan mewah. Yang ada hanyalah sehelai kain beludru tua berwarna merah gelap yang sudah kusam, selembar surat berkop kantor desa tertanggal tahun 1987 yang tintanya sudah mulai memudar, dan sebuah bros kecil berbentuk bulan sabit perak yang tampak berkilau samar meskipun tertutup debu tipis.

Suasana di dalam gudang mendadak terasa jauh lebih hening. Angin malam yang berembus dari celah pintu kayu terasa sedikit lebih dingin dari sebelumnya, membuat bulu kuduk Bayu meremang seketika.

Mira menunduk dalam-dalam, menatap bros perak berbentuk bulan sabit di dalam kotak kayu tersebut. Sorot mata sang putri jin mendadak berubah tajam, tidak lagi menampilkan kesan iseng atau angkuh seperti biasanya. Ada kilatan keheranan dan ketegangan yang mendalam tersirat di balik manik matanya.

"Bros itu..." bisik Mira pelan hampir tanpa suara, begitu lirih hingga nyaris tertelan oleh deru angin malam.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!