Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakrawala Technopark
Desir angin pagi menyapu permukaan panel-panel kaca raksasa di lantai paling atas Kusuma Advanced Research Center (KARC). Mentari pagi baru saja memunculkan sisi jingganya di balik garis horizon timur ibu kota, memantulkan bias cahaya keemasan yang berkilauan di atas lantai marmer putih bersih ruang kerja utama.
Rian berdiri di dekat dinding kaca panorama dengan kedua tangan terlipat di dalam saku celananya. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya, namun atmosfer di sekitar tubuhnya terasa jauh lebih jernih dan tenang dari hari-hari sebelumnya. Seolah-olah setiap molekul udara di dalam ruangan tersebut bergerak tunduk mengikuti irama napasnya yang sangat teratur.
Cklek.
Pintu geser otomatis terbuka. Maya melangkah masuk membawa map laporan harian dan sebuah cangkir keramik berisi teh hijau hangat. Langkah kakinya terhenti sejenak ketika ia merasakan suasana ruangan yang terasa begitu berbeda—lebih segar, lebih lapang, seakan beban gravitasi di dalam ruangan itu berkurang separuh.
"Selamat pagi, Rian," sapa Maya ramah, berjalan mendekati meja konsol dan meletakkan cangkir teh di dekat siku pemuda itu. "Kau sudah berdiri di sana sejak jam berapa? Penjaga malam bilang lampu ruangan ini bahkan tidak pernah dimatikan semalaman karena sistem memindai siklus energi secara mandiri."
Rian membalikkan badannya perlahan, menatap Maya dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Waktu malam dan pagi hari hanyalah transisi rotasi bumi terhadap matahari, Maya. Tubuh manusia tidak memerlukan istirahat total jika kesadaran batinnya telah terhubung sempurna dengan sumber energi semesta."
Maya mendengus geli, menggelengkan kepalanya pelan sambil membuka map laporan di hadapannya. "Kau selalu punya jawaban filosofis untuk setiap kebiasaan anehmu. Tapi biarlah, karena hasil eksperimen kita pagi ini memang luar biasa. Coba lihat layar utama."
Maya menekan beberapa tombol di papan ketik konsol. Layar holografik transparan langsung memancarkan grafik kurva linier yang stabil tanpa ada fluktuasi sedikit pun.
"Generator termoelektrik skala makro yang kita pasang untuk uji coba di zona industri pinggiran kota semalam mencetak rekor efisiensi tertinggi sepanjang sejarah," lanjut Maya dengan nada antusias yang tak dapat disembunyikan. "Pihak kementerian energi dan Profesor Wiratman sudah mengirimkan surat elektronik resmi pagi ini, menyatakan bahwa model ini siap diadopsi sebagai standar jaringan listrik nasional mulai kuartal depan."
Rian melirik sekilas ke arah layar holografik tersebut, lalu mengangguk tenang. "Angka-angka itu hanyalah validasi formal dari hukum fisika yang sudah bekerja sejak awal. Yang terpenting bukanlah pengakuan kementerian, melainkan bagaimana teknologi ini benar-benar membebaskan masyarakat dari ketergantungan energi kotor."
"Dan berkat runtuhnya jaringan faksi Bramasta kemarin, tidak ada lagi pihak korporasi korup yang mencoba menghalangi distribusi proyek ini," tambah Maya, menarik kursi dan duduk di hadapan meja konsol. "Omong-omong, apa agenda utama kita hari ini? Apakah ada pertemuan lanjutan dengan para investor?"
"Tidak ada pertemuan formal hari ini," jawab Rian ringan, mengambil cangkir teh hijau hangatnya dan meneguk sedikit cairan tersebut. "Kita akan melangkah ke tahap selanjutnya: pengujian spektrum frekuensi resonansi kuantum tingkat lanjut di laboratorium bawah tanah."
Sementara itu, di sebuah fasilitas tahanan sementara kejaksaan agung di pusat kota, suasana pagi terasa sangat kontras dengan kemegahan technopark KARC.
Bramasta duduk di atas bangku beton dingin di dalam sel isolasi berukuran sempit. Pakaian formal berjas mahal yang biasa ia kenakan kini telah berganti dengan baju tahanan berwarna oranye kusam. Rambutnya tampak acak-acakan, dan matanya menyiratkan kelelahan mental yang luar biasa.
Di atas meja kecil di depan selnya, tumpukan berkas dakwaan setebal ratusan halaman tergeletak begitu saja—memuat seluruh bukti transaksi ilegal, pencucian uang, dan upaya penyalahgunaan wewenang yayasan yang berhasil dilacak dan dibongkar secara otomatis oleh sistem digital yang dirancang oleh Rian.
Langkah sepatu bot pengawal penjara terdengar berderap mendekati selnya, disusul oleh suara kunci besi yang berputar nyaring.
"Bramasta! Kau mendapat kunjungan darurat dari tim kuasa hukum lamamu," ucap petugas penjara dingin, membukakan pintu jeruji besi lebar-lebar.
Bramasta mendongakkan kepalanya dengan susah payah. Namun, yang datang bukanlah pengacara pribadinya, melainkan seorang penyidik senior kejaksaan yang membawa sebuah map biru tebal.
"Bramasta, berdasarkan hasil audit forensik digital terbaru yang kami terima dari pusat data nasional semalam," kata penyidik itu dengan nada suara tegas tanpa kompromi, meletakkan selembar dokumen tambahan ke atas meja sel, "seluruh jaringan aset tersembunyimu di luar negeri telah disita sepenuhnya oleh negara. Berkas perkara ini akan segera dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi pekan depan. Kau tidak memiliki celah hukum lagi untuk menghindar."
Bramasta menatap dokumen tersebut dengan pandangan kosong. Tubuhnya bergetar pelan. Ia menyadari bahwa perlawanan apa pun sudah tidak ada artinya lagi. Di hadapan sistem kebenaran mutlak yang digerakkan oleh Rian, ambisi kekuasaan dan jaringan korupsi yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh berkeping-keping tanpa menyisakan apa pun.
Kembali ke Kusuma Advanced Research Center, jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang.
Di ruang laboratorium bawah tanah yang steril dengan dinding baja paduan khusus, Rian berdiri mengenakan jas laboratorium putih. Di hadapannya, sebuah tabung reaksi kristal kuarsa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang sangat lembut, berdenyut selaras dengan ritme detak jantungnya. Maya berdiri di balik panel kendali digital, memantau parameter suhu dan tekanan osilasi dengan konsentrasi tinggi.
"Rian, parameter medan magnet kuarsa sudah mencapai ambang batas sembilan puluh sembilan persen," kata Maya melaporkan dengan suara sedikit tegang namun terkontrol. "Apakah kita perlu mengaktifkan katup pelepas darurat?"
"Tidak perlu, Maya," jawab Rian tenang, suaranya terdengar begitu berwibawa dan menenangkan di dalam ruangan yang sunyi itu. "Tingkatkan frekuensi resonansi sebesar dua hertz lagi, dan biarkan sistem menemukan titik keseimbangannya sendiri."
Maya mengangguk, lalu mengetikkan perintah eksekusi pada panel kendali.
Hummm...
Suara dengung bernada rendah bergetar pelan di dalam ruangan. Pendaran cahaya keemasan di dalam tabung kristal kuarsa tiba-tiba membesar, memancarkan gelombang energi murni yang menerangi seluruh sudut laboratorium bawah tanah tanpa menghasilkan panas sedikit pun. Grafik di layar monitor membentuk garis lurus sempurna—menandakan bahwa pencapaian transmutasi energi tanpa disipasi telah berhasil diwujudkan secara nyata.
Maya mengembuskan napas panjang penuh kelegaan, lalu tersenyum lebar menatap Rian. "Berhasil! Kita berhasil mencetak rekor kestabilan energi kuantum yang belum pernah dicapai oleh laboratorium mana pun di dunia!"
Rian menatap pendaran cahaya keemasan di dalam tabung kristal itu sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ini baru permulaan, Maya. Sains adalah pintu gerbang yang tidak pernah memiliki ujung."
Di dalam rongga dadanya, inti energi Qi berputar dalam harmoni yang sempurna dengan alam semesta. Di dunia fana ini, Rian telah menaklukkan setiap tantangan, membuktikan kebenaran mutlak, dan mendirikan puncak peradaban ilmu pengetahuan. Namun, pandangannya menembus jauh melampaui dinding laboratorium, melintasi galaksi dan bintang-bintang di angkasa luar—menanti petualangan agung berikutnya di dalam samudra keabadian kosmik yang tak bertepi.