Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lonceng Emas, Jas Merah
Udara pagi di distrik finansial Shanghai terasa berbeda hari ini. Gedung Bursa Efek Shanghai yang megah berdiri kokoh, menjadi saksi bisu bagi ribuan perusahaan yang lahir dan mati setiap harinya. Namun pagi ini, karpet merah yang digelar di lobi utama dikhususkan untuk satu nama yang sedang menjadi sorotan seluruh negeri: PT Campus Relay.
Hari ini adalah hari "Initial Public Offering" (IPO) mereka.
Di dalam ruang VIP sebelum acara dimulai, ketegangan terasa begitu pekat. Chen Hao terus-menerus mondar-mandir sambil menggigit kuku, jasnya sudah kusut meski acara belum dimulai.
"Bos, gue mules banget sumpah," keluh Chen Hao, wajahnya sepucat kertas. "Ini beneran kita mau ngetuk lonceng? Kalau harga saham kita pas "open" malah anjlok gimana? Bisa serangan jantung gue."
Lu Feng, yang berdiri di depan cermin raksasa, sama sekali tidak terlihat gugup. Ia mengenakan setelan jas "three-piece" berwarna hitam legam yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di Milan. Rambutnya disisir ke belakang dengan sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak seorang CEO muda yang siap menaklukkan dunia.
"Duduk lo, Hao. Jangan bikin pusing," tegur Lu Feng santai sambil merapikan manset kemejanya. "Gue udah ngecek laporan "bookbuilding" dari Morgan semalem. Permintaan saham kita "oversubscribed" sampai dua belas kali lipat. Nggak usah norak."
Pintu ruang VIP terbuka. Semua mata langsung tertuju ke sana.
Lin Xiao melangkah masuk, dan napas Lu Feng seketika terhenti.
Berdasarkan tradisi bursa saham Tiongkok, mengenakan warna merah di hari IPO adalah simbol keberuntungan dan kenaikan harga saham. Lin Xiao mematuhi tradisi itu dengan cara yang sangat spektakuler. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna merah terang dengan potongan yang sangat elegan dan berani. Celana panjangnya membalut kakinya dengan sempurna, sementara kemeja sutra hitam di bagian dalam memberikan kontras yang mematikan. Lipstik merah menyala di bibirnya melengkapi aura sang Kepala Legal yang tidak tertandingi.
"Maaf aku terlambat, ada sedikit revisi di dokumen rilis pers terakhir," ucap Lin Xiao, berjalan menghampiri Lu Feng.
Lu Feng menatap wanita itu tanpa berkedip. Ia mengulurkan tangan, menarik pinggang Lin Xiao hingga tubuh mereka berdekatan, mengabaikan eksistensi Chen Hao yang langsung buang muka ke arah tembok.
"Sumpah, Yang," bisik Lu Feng, suaranya serak tertahan. "Kalau tau lo pakai baju seksi ini, gue mending batalin IPO-nya dan ngunci lo di kamar hotel seharian."
Lin Xiao memutar bola matanya, meski rona merah menjalar tipis di pipinya. Ia memukul dada Lu Feng pelan. "Jaga otak mesummu itu, Presiden Kang. Kita punya waktu sepuluh menit sebelum MC memanggil kita ke panggung utama."
Tepat pukul sembilan lewat dua puluh menit, pintu ganda menuju aula utama bursa saham terbuka.
Kamera media langsung membidik ke arah mereka. Kilatan cahaya "blitz" menyambar bertubi-tubi. Lu Feng melangkah dengan pasti, tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Lin Xiao. Mereka berjalan berdampingan melintasi karpet merah, membelah kerumunan investor, dewan direksi, dan jurnalis.
Di ujung aula, sebuah lonceng perunggu raksasa telah menanti.
MC acara memberikan sambutan meriah, menyebutkan angka valuasi perusahaan yang membuat banyak orang berdecak kagum. Kemudian, hitung mundur pembukaan pasar dimulai.
Sepuluh... Sembilan... Delapan...
Lu Feng mengambil pemukul lonceng yang dibalut pita merah. Ia tidak memegangnya sendirian. Ia menoleh pada Lin Xiao, menarik tangan wanita itu, dan memaksa Lin Xiao ikut menggenggam gagang pemukul itu bersamanya.
"Lu Feng, ini momenmu," bisik Lin Xiao panik, mencoba menarik tangannya. "Hanya CEO dan "founder" yang berhak memukulnya!"
"Perusahaan ini nggak bakal ada di sini kalau nggak ada lo," balas Lu Feng absolut, menatap lurus ke dalam mata Lin Xiao. "Kita pukul bareng, atau gue nggak bakal mukul sama sekali."
Lin Xiao tertegun. Hatinya bergetar hebat. Ia akhirnya mengangguk, mengeratkan genggamannya di atas tangan Lu Feng.
Tiga... Dua... Satu!
TENG! TENG! TENG!
Suara lonceng emas itu menggema ke seluruh penjuru gedung, disambut oleh tepuk tangan yang memekakkan telinga. Konfeti merah dan emas berjatuhan dari langit-langit. Di layar raksasa di belakang mereka, kode saham "Campus Relay" muncul dengan angka pembukaan.
Dalam hitungan detik, angka itu melesat naik. Lima persen... sepuluh persen... dan menyentuh angka batas atas harian sebesar empat puluh empat persen!
Sorak sorai meledak. Perusahaan itu resmi bernilai puluhan miliar yuan.
Di tengah hiruk-pikuk dan hujan konfeti, Lu Feng menarik Lin Xiao ke dalam pelukannya. Ia tidak mempedulikan ratusan kamera yang merekam mereka. Ia memeluk wanita berjas merah itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Lin Xiao.
"Kita berhasil, Ketua Kelas," bisik Lu Feng parau, air mata haru yang sangat langka menggenang di pelupuk matanya. "Kita menang."
Lin Xiao balas memeluk leher Lu Feng, menangis tanpa suara di bahu pria itu. Semua penderitaan, kurang tidur, ketakutan, dan ancaman dari Titan Freight kini terbayar lunas. Berandal yang dulu ia paksa untuk belajar matematika, kini telah resmi menjadi raja baru di pasar modal Tiongkok.
***
Di tempat lain, di sebuah ruang kantor yang sangat gelap di Beijing.
Wei Jian menatap layar televisinya yang menyiarkan langsung prosesi IPO Campus Relay. Gelas kaca di tangannya hancur berkeping-keping karena cengkeramannya yang terlalu kuat. Darah segar menetes dari telapak tangannya ke atas karpet mahal.
Napas taipan raksasa itu memburu. Matanya memerah melihat wajah Lu Feng yang tersenyum penuh kemenangan di layar.
Lima ratus juta yuan yang ia tawarkan minggu lalu kini terlihat seperti uang receh dibandingkan dengan valuasi pasar Campus Relay hari ini. Lu Feng tidak hanya menolaknya, pemuda itu baru saja menampar wajah Titan Freight di depan seluruh dunia bisnis.
"Bagus, Anak Muda. Sangat bagus," desis Wei Jian, suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. "Kau berhasil masuk ke bursa. Tapi ingat... semakin tinggi kau terbang, semakin hancur tulangmu saat kau jatuh. Perang ini baru saja dimulai."
Wei Jian mengambil ponselnya yang tidak terkena darah, menekan sebuah nomor rahasia.
"Halo," ucap Wei Jian dingin. "Jalankan rencana B. Hancurkan rantai pasokan mereka dari dalam. Aku ingin melihat harga saham mereka anjlok ke titik terendah minggu depan."
Panggilan dimatikan. Di balik kesuksesan gemilang yang sedang dirayakan oleh Lu Feng dan Lin Xiao di Shanghai, sebuah badai yang jauh lebih mematikan sedang mengintai dalam diam, siap untuk menenggelamkan "penthouse" lantai 45 mereka kembali ke dasar lautan.