Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Datang Dari ALLAH

Cinta Datang Dari ALLAH

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eva Anisa

"Aku rela Allah mengambil semua dariku. Harta, keluarga, maupun kekasih, tapi aku hanya minta satu, jangan ambil iman yang sudah tertanam di diriku." Sabil.

Gadis remaja yang harus berjuang menjadi seorang muslimah untuk dirinya sendiri. Ia berpura-pura di depan mamahnya yang menginginkan ia untuk mengikuti keyakinan mamahnya.

Sabil juga rela melepas semua kenikmatan yang ada pada dirinya hanya karena satu alasan, bahwa ia ingin menjadi seorang muslimah sejati. Hingga suatu ketika setelah ia menutup auratnya, di situlah masalah akan dimulai, dari mamahnya dan keluarga besarnya yang menentang keputusannya.

Guncangan batin Sabil pun kembali diuji saat ia tahu bahwa laki-laki yang ia cintai ternyata menikah dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Anisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31| Perpisahan

Setelah tadarus Al-Qur'an, Azam beranjak tidur. Meskipun kedua matanya belum kantuk, tapi ia tiduran di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Saat Azam hendak memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata bibi Nini menelponnya. Azam pun segera menjawab panggilannya.

"Assalamualaikum." Ucap Azam.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu." Jawab bibi Nini.

"Apa kabar bi?" Tanya Azam.

"Harusnya aku yang tanya kabar kau. Bagaimana kabarmu di tanah air?"

"Alhamdulillah, baik."

"Kedengarannya kurang baik, hehehehe. Kapan kau balik ke Mesir? Paman kau sudah rindu katanya."

Azam tersenyum mendengar suara bibi Nini dan paman Husein yang berada di Mesir.

"Insya Allah, besok malam lah aku pulang."

"Yang benar?"

"Iya, bibi."

"Hey, kalau Aslam sudah menikah, kau kapan? Apa tidak ada gadis Indonesia yang kau ajak ta'aruf?"

Azam menghela nafasnya, "bukannya tidak ada bi, tapi belum ada."

"Ya sudahlah, kau datang ke sini! Nanti aku carikan gadis Indonesia yang sedang menimba ilmu di Mesir, oke!"

"Iya."

"Ya sudah, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."

Azam menaruh ponselnya di meja belajar lalu ia membuka gorden kamarnya dan memandang ombak pantai yang cukup tenang malam itu. Ia mengingat kembali wajah lugu seorang Sabil yang saat itu sedang tertidur pulas, dan ia juga tersenyum mendengar kembali suara Sabil terbata-bata saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Azam menarik nafas dalam-dalam, "kalau memang kau jodohku, kita akan bertemu di suatu hari nanti." Gumamnya.

Di sepertiga malam Azam bangun dari nikmatnya tidur, lalu ia mengambil wudhu dan bermunajat kepada Allah. Selepas itu, ia mengambil Al-Qur'an dan membacanya hingga waktu Subuh.

"Assalamualaikum." Ucap seorang bapak-bapak yang berpapasan dengan Azam hendak masuk ke dalam masjid.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu." Jawab Azam tersenyum.

"Sudah berapa lama ini bapak tidak mendengar suaramu azan?"

"Tadi pagi saya baru sampai dari rumah sepupu saya pak." Jawab Azam.

"Oh, iya, ada yang mau bapak bicarakan sama kamu selepas shalat Subuh nanti." Kata bapak itu.

"Kalau gitu kita shalat Subuh dulu pak." Ucap Azam maju ke depan untuk memimpin shalat Subuh berjamaah.

Saat Azam sedang zikir, tiba-tiba si bapak itu duduk di sebelahnya sehingga Azam membuka kedua matanya dan menoleh kepada si bapak yang ingin berbicara kepadanya.

"Nak Azam, sudah punya calon istri?" Tanya bapak itu pelan.

Azam tersenyum pada si bapak yang ia belum ketahui namanya itu, "belum pak." Jawab Azam.

"Saya punya anak, dan dia minta dicarikan calon suami pada saya, tapi kebanyakan yang datang ke rumah itu, tidak terlalu..."

"Soleh?" Azam memotong ucapan si bapak.

Si bapak tersebut hanya tersenyum malu saat perkataannya ditebak oleh Azam.

"Pak, kesolehan seseorang itu hanya Allah yang tau. Kita sebagai manusia hanya mampu mengira-ngira dan takutnya justru terjadi fitnah." Ucap Azam.

"Tapi, nak Azam, mereka jarang sekali shalat di masjid, padahal satu kampung dengan saya."

Azam masih tersenyum mendengarnya, "mungkin mereka shalat di masjid yang lain, karena mereka terjebak di jalan mau pulang kerja." Ujarnya lagi.

"Saya kurang respek gitu nak Azam sama mereka. Lagipula, anak saya juga tidak menyukai mereka."

"Apa dari salah satu laki-laki itu sudah ada yang berta'aruf dengan putri bapak?" Tanya Azam.

"Belum."

"Suruh lah berta'aruf dulu pak, baru bisa menentukan suka atau tidak."

"Putri saya selalu menolak jika ada laki-laki yang datang ke rumah saya untuk berta'aruf dengannya."

Azam menghela nafasnya, "jadi, mau bapak gimana?"

"Saya mau nak Azam coba ke rumah. Siapa tau anak saya suka kalau dengan nak Azam." Pinta bapak itu.

Azam berpikir sejenak, "Baiklah, nanti jam 7 saya ke sana. Boleh minta alamat rumahnya pak."

"Ini, nanti tanya saja sama warga, rumahnya bapak Tono, pasti mereka kenal Semua."

"Insya Allah, nanti saya ke sana."

"Terimakasih nak Azam, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."

Azam pun meneruskan zikirnya.

Sekitar pukul setengah enam pagi, Azam berkemas hendak pergi menemui umi Sarah yang berada di rumah paman Rudi, yang tidak jauh dari villa paman Mansyur. Sebelum datang pamit pada umi Sarah, Azam menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah bapak Tono.

Dengan membawa tas besar, Azam pun sampai di depan rumah bapak Tono yang sangat megah. Azam pun menekan bel rumah dan dipersilahkan masuk oleh salah satu asisten rumah tangga bapak Tono.

"Nak Azam!" Kata pak Tono gembira kedatangan Azam di rumahnya.

"Assalamualaikum, pak."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu, ayo! Duduk nak Azam! Duduk!" Suruh pak Tono.

"Makasih pak." Azam menaruh ranselnya di lantai. Lalu dia pun duduk.

"Mudah kan nak Azam cari rumah saya?" Tanya pak Tono.

"Alhamdulillah, mudah pak." Jawab Azam.

"Oh, iya, saya akan perkenalkan putri saya, namanya Winda." Ucap pak Tono.

Tak lama keluarlah seorang perempuan mengenakan baju syar'i. Dari penampilan, putri pak Tono termasuk tipe Azam. Karena ia suka dengan perempuan yang berpakaian sesuai syariat Islam.

"Saya Azam." Azam pun memperkenalkan dirinya.

"Saya Winda." Ucapnya sambil tersenyum tipis.

"Saya ke sini ingin..."

"Menikahimu Winda." Potong wanita yang berusia sekitar 40 tahunan, ia adalah Weni, istri pak Tono.

Azam kelagapan saat mendengar ucapan Bu Weni pada putrinya. Apalagi kedatangan Azam hanya ingin bersilaturahim dengan keluarga pak Tono.

"Benar begitu mas Azam?" Tanya Winda tersenyum manis.

Azam diam sejenak memikirkan perkataan yang pas supaya keluarga pak Tono tidak kecewa kepadanya.

"Mas Azam mau ke mana? Kok, bawa tas sebesar itu?" Tanya Winda, sambil mengelus-elus perutnya.

"Saya mau balik ke Mesir." Jawab Azam.

"Berapa lama nak Azam?" Tanya pak Tono terlihat cemas.

"Saya ke Indonesia jika ada acara keluarga saja pak. Apabila tidak, maka saya akan di Mesir lebih lama. Karena saya sekolah sambil kerja di sana." Jawab Azam, menjelaskan semuanya tentang dirinya pada pak Tono.

"Aku tidak mau LDR pah." Bisik Winda sambil melirik Azam.

"Tapi, nak..."

"Pokoknya aku tidak mau! Lagipula apa Azam akan menerima aku apa adanya?" Kini suara Winda tidak selembut saat awal menyebutkan namanya pada Azam.

"Anak saya sebenarnya sedang hamil nak Azam." Kata pak Tono.

Azam ingin dengar kelanjutan perkataan pak Tono, sebelum ia mengambil kesimpulan.

"Suaminya meninggal saat usia kandungannya satu bulan." Sambung pak Tono.

"Oh, begini saja pak, saya akan bicarakan sama keluarga saya di Mesir. Emm, nanti saya telepon bapak." Kata Azam.

"Yang benar nak? Mudah-mudahan keluarga kamu mau menerima Winda apa adanya ya nak Azam."

"Iya, insya Allah,"

"Kalau begitu saya permisi pulang pak, Bu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Azam pun berjalan untuk mencari ojek dan meminta untuk diantarkan ke rumah paman Rudi. Setelah dapat, tukang ojek itu menanyakan Azam ingin kemana dan habis darimana. Ia pun menjawab pertanyaan tukang ojek dengan jujur.

"Pasti disuruh nikahkan anaknya pak Tono ya mas?" Tanya tukang ojek itu.

"Memangnya kenapa mas dengan anaknya pak Tono?" Azam bertanya balik.

"Sebenarnya Winda itu belum nikah mas." Jawab tukang ojek.

"Belum nikah? Tapi, pak Tono bilang kalau Winda sedang hamil." Kata Azam, ingin tahu lebih dalam tentang Winda dan keluarga pak Tono.

"Saya sih gak mau buruk sangka sama Winda ya mas. Tapi, dia itu hamil gara-gara pacaran sama cowok yang gak mau tanggungjawab. Nah, pakaiannya itu sekarang, disuruh oleh pak Tono, jadi kesannya biar jadi cewek baik-baik gitu lah mas."

"Astaghfirullah hal adzim," Azam tidak habis pikir mengapa pak Tono bisa membuat alasan yang tidak benar padanya.

"Bukankah banyak laki-laki yang datang ingin menikahkan Winda." Ucap Azam.

"Banyak juga karena orangtuanya kaya mas, kalau nggak sih, mana mau menikahi cewek seperti itu. Winda itu, pekerja malam dulunya, pas kecelakaan seperti ini aja, pak Tono dan istrinya tobat. Tapi, yah, Alhamdulillah lah, diberi hidayah sama Allah meskipun melalui jalan yang seperti itu." Kata tukang ojek panjang lebar.

"Kok, masnya tau banget ya sama keluarga pak Tono?" Tanya Azam.

"Saya itu, sepupunya Winda mas." Jawabnya.

"Oh, ya?!"

"Orangtua saya bangkrut akibat ditipu sama temannya pak Tono. Jadinya, saya cuma sampai SMP aja mas dan jadi tukang ojek."

"Oh, begini saja. Saya kasih alamat pesantren nanti kamu datang ke sana. Bilang sama mereka kalau kamu mau menuntut ilmu di sana. Pesantren itu milik saudara saya, di sana kamu akan diajarkan layaknya sekolah biasa, tapi juga dapat ilmu akhiratnya."

"Wah! Makasih mas, tapi saya gak punya biaya buat bayarnya."

"Masalah biaya tidak perlu kau pikirkan, lebih baik kau datang saja dulu. Bilang saya kawannya Azam."

"Mas namanya Azam? Saya Tedi mas."

"Berhenti di sini saja." Pinta Azam.

"Loh, bukannya masih jauh?"

"Dekat kok. Nih, alamat pesantrennya. Kamu datang ke sana, oke!"

"Baik mas, sekali lagi saya terimakasih."

"Sama-sama. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."

"Masih ada ya, cowok baik kayak mas Azam." Gumam Tedi masih melihat tubuh Azam yang berjalan menuju rumah Rudi.

Sesampainya di depan rumah paman Rudi, Azam memberikan salam supaya yang punya rumah keluar menyambutnya. Namun yang membukakan pintu adalah umi Sarah, ia segera memeluk Azam dan mempersilahkan masuk ke dalam rumah.

"Lihat! Siapa yang datang!" Kata umi Sarah pada pemilik rumah.

"Azam!" Ucap paman Rudi dan istrinya. Mereka begitu gembira melihat kedatangan keponakannya yang sudah lama tidak bertemu.

"Sudah besar dan makin tampan!" Puji Shanti, istri paman Rudi.

"Alhamdulillah, terimakasih bi." Kata Azam mencium punggung tangan kanan bibinya dan pamannya.

"Kau mau ke mana bawa tas besar seperti itu zam?" Tanya paman Rudi mengajak keponakannya untuk duduk bersamanya.

"Sebenarnya aku ke sini mau pamit. Aku harus kembali ke Mesir." Jawab Azam.

"Kenapa mendadak sekali sih nak?" Tanya umi Sarah.

"Semalam bibi nelepon katanya mereka kangen sama aku." Jawab Azam tersenyum.

"Hahaha, pandai merayu bibi dan pamanmu itu zam-zam." Kata paman Rudi.

"Kapan kau kembali ke Indonesia lagi?" Tanya umi Sarah.

"Belum tau mi." Jawab Azam pelan.

"Hey! Kau tidak begitu bahagia? Ada apa?" Tanya umi Sarah. Paman Rudi dan bibi Shanti hanya menjadi pendengar bagi mereka.

Azam diam sejenak, lalu memandang kedua mata umi Sarah dan menjawab bahwa ia baik-baik saja. Azam belum berani cerita tentang Sabil dan pertemuannya.

"Yakin kau tidak apa-apa?" Tanya umi Sarah penuh selidik.

"Iya umi. Ya sudah, aku harus ke bandara." Jawab Azam.

"Paman antar ya." Ucap paman Rudi.

"Iya paman. Umi, bi, aku pamit ya. Kalian harus jaga kesehatan."

"Iya." Jawab bibi Shanti.

Umi Sarah memeluk Azam, "kamu hati-hati ya. Kalau ada hal yang ingin kau ceritakan, bilang ke umi."

"Iya umi. Ya sudah aku berangkat, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."

Azam pun berangkat ke bandara diantar oleh paman Rudi. Mobil itu melaju dengan lancar, Azam hanya melihat ke arah jendela dan memandangi orang-orang yang sedang lalu lalang hendak melakukan aktivitasnya masing-masing. Dari keramaian kota, Azam tersenyum karena sudah bertemu dengan seorang gadis bernama Sabil.

Mungkin jika Azam tidak pulang ke Indonesia, ia tidak akan bertemu dengan gadis itu. Dan kali ini, jika ada kesempatan, Azam akan pulang ke Indonesia untuk menemui keluarganya dan mengharapkan pertemuan dengan Sabil terulang lagi.

1
dewi rofiqoh
Sarat dengan ilmu
Rasa sayang dan hormat pada orang tua, meski berbeda
dewi rofiqoh
Ceritanya Sarat dengan ilmu
❤muslimah❤
terharu 😭
Eva Anisa: Makasih ya udah baca ☺
total 1 replies
❤muslimah❤
wah.. sabil bakal patah hati nih
Hardila Suhardini
terus terang saya suka cerita nya mengajarkan betapa kita harus menyayangi orang tua,tidak melawan wlpn SDH disakiti tp ttp diam,mengajarkan kita sebagai umat Islam harus memegang teguh terhadap agama yang kita yakini sekrg,seperti saya menikah dgn lelaki berbeda agama,dan Alhamdulillah sy ttp memegang teguh agama saya,wlpn banyak klrg suami memohon kepd sy utk pindah agama,tp sy ttp PD pendirian sy,
mengajarkan kita bahwa jodoh kita itu ada dan harus sabar jgn berputus asa Krn kita sbg manusia diciptakan berpasang pasangan
dewi rofiqoh: Ceritanya Sarat ilmu
total 2 replies
Pin-Up Yang Elegan
Semangat ya, thor! Jangan lupa ambil komen yg positif dan membangun, ya
Eva Anisa: okeh☺
total 1 replies
LiveChic
Aduh aku sampe tahan napas baca beberapa bagian ceritanya. Excited banget
Eva Anisa: Jangan tahan napas nanti buang gas 😂
total 1 replies
Ibke Rafli
lanjut aq tunggu up nua thor😊😊
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Eva Anisa: okeh, nanti aku baca novelnya. Makasih buat like nya :)
total 1 replies
Madu Yang Luar Biasa
Kak jangan lupa jaga kesehatan, biar tetep bisa berkarya! Aku menunggumu~
Eva Anisa: aku juga menunggumu baca novel2ku ☺
total 1 replies
SnowySecret
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
Eva Anisa: okeh siaaap😁
total 1 replies
flower bean
Katanya galau itu obatnya cuma satu thor. Tungguin aja lanjutan cerita author. Kamu segalanya untukku, Thor *uhui
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!