Indonesia
NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kecil di Bukit Kuning

Mereka melangkah kembali ke area perkemahan dengan langkah santai. Suasana siang yang makin hangat diiringi hembusan angin sepoi-sepoi membuat area rumput itu terasa begitu damai.

Sesuai janji, Wafa langsung masuk ke dalam tenda utama untuk beristirahat. Pintu tenda sengaja dibiarkan terbuka lebar agar gulungan angin segar tetap bisa masuk, sekaligus memudahkan yang lain untuk mengawasi Wafa yang perlahan mulai terlelap.

Di luar tenda, Owen mengambil gitar akustik yang dibawanya dari rumah. Ia mendudukkan diri di atas alas matras, memangku gitarnya, lalu mulai memetik senar secara perlahan.

"Asoyyy! Bang Owen mau konser nih!" celetuk Malik seraya menarik kursi lipat.

"Lagu apa nih, Bang? Yang sedih apa yang joget?" tanya Javin antusias.

"Yang santai-santai aja, biar yang tidur di dalam makin nyenyak," balas Owen tersenyum. Jemarinya mulai memainkan nada-nada lagu santai.

Seketika, suara petikan gitar Owen diiringi nyanyian sumbang namun ceria dari Rafa, Javin, Sean, dan Malik memecah keheningan siang. Lily dan Ell ikut bertepuk tangan pelan di sudut matras.

"Rafa, suara kamu itu fals-nya melampaui batas wilayah!" sahut Jaya yang baru saja keluar dari tendanya sambil mengucek mata, memancing tawa heboh dari semua orang.

"Ah Papi enggak tahu seni! Ini tuh teknik vokal screaming lembut!" elak Rafa tak mau kalah.

Di tengah gelak tawa dan celotehan heboh Rafa. Tatapan Jaya tertuju pada Lily yang duduk tenang di sudut matras sambil tersenyum tipis. Jaya melangkah mendekat, lalu menepuk pelan pundaknya.

"Ly, sini yuk duet sama Papi," ajak Jaya lembut, memotong perdebatan absurd Rafa tentang teknik vokal. "Mumpung Bang Owen lagi pegang gitar."

Lily sempat tertegun kaget, menunjuk dirinya sendiri. "Loh, Lily, Pih? Nanti kalau suara Lily jelek gimana?"

"Enggak ada yang jelek, ayo dong! Udah lama kan kita enggak nyanyi bareng?" bujuk Jaya penuh semangat seraya menarik tangan Lily pelan untuk berdiri di sampingnya.

Owen yang paham langsung mengubah ketukan petikan gitarnya, beralih memainkan intro lagu bertempo sedang yang manis dan familier di telinga mereka. Jaya memulainya lebih dulu dengan bait pertama, suaranya yang berat dan hangat langsung mengalun merdu membelah angin siang perkemahan.

Lalu, giliran Lily yang masuk di bait berikutnya. Suara Lily terdengar begitu jernih, lembut, dan sangat merdu. Berpadu sempurna dengan vokal Jaya.

Harmoni suara ayah dan anak itu mendadak mengubah suasana riuh di perkemahan menjadi begitu hangat dan memukau.

Semua orang seketika bungkam, terpaku mendengarkan. Rafa yang tadinya mau protes langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan mata berbinar.

"HORRE! Kak Lily sama Papi keren bangettt!" teriak Ell bersorak gembira, bertepuk tangan paling kencang sambil melompat-lompat kecil di atas rumput.

"Lagi, Pih! Lagi, Kak Lily!"

Di sudut lain, Javin dan Malik tampak benar-benar terpesona. Javin tersenyum tipis tanpa sadar, menatap Lily tanpa berkedip sedikit pun, terkesima oleh kelembutan suara dan binar bahagia di wajah gadis itu.

Sementara Malik yang duduk duduk di kursi lipat hanya bisa terpaku, matanya tak lepas memandangi Lily dengan rona kagum yang amat jelas tercetak di wajahnya.

"Gila... adem banget suaranya Kanjeng Mami," bisik Sean takjub sambil menyenggol lengan Malik. Malik hanya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulus tanpa sanggup mengalihkan pandangannya dari Lily.

Melihat atmosfer perkemahan yang mendadak romantis setelah duet Jaya dan Lily, Malik membusungkan dadanya. Ia membetulkan posisi duduknya, bersiap mengumpulkan keberanian untuk mengajak Lily bernyanyi bersama.

"Kak Lily, mau duet sama Malik enggak—"

"EH JAVIN! Sini lo, gantian main gitar!" potong Rafa kencang tanpa rasa bersalah, memotong ucapan Malik begitu saja.

Rafa menarik lengan Javin heboh. "Suara lo kan merdu tuh ala-ala vokalis band, pas banget duet sama adek gue! Ayo, gantiin Bang Owen!"

Malik yang baru saja membuka mulut langsung melotot menatap Rafa dengan muka datar, sementara Sean di sebelahnya berusaha setengah mati menahan tawa sampai bahunya bergetar hebat.

Javin yang mendadak ditarik hanya bisa tertawa canggung, namun matanya melirik ke arah Lily yang tersenyum malu-malu.

"Boleh deh," ujar. Ia menerima gitar dari Owen, mendudukkan diri di sebelah Lily, lalu mulai memetik nada-nada lembut yang begitu syahdu.

Petikan gitar Javin yang lihai berpadu sempurna dengan alunan suara lembut Lily, menciptakan harmoni indah yang mengalun manis di bawah naungan pohon pinus. Semua orang menikmati momen itu termasuk Malik yang meski sempat gigit jari, akhirnya ikut tersenyum tulus melihat tawa bahagia mengembang di wajah Lily.

---

Tak terasa kini Matahari tepat berada di atas kepala saat Jaya dan Owen selesai menyiapkan makan siang sederhana: nasi hangat dengan lauk kornet goreng dan telur.

Wafa yang sudah bangun dan tampak lebih segar ikut bergabung melingkar di atas matras. Suasana makan siang itu dipenuhi canda tawa dan saling rebutan lauk antar anak-anak.

Pukul 16.00, warna langit perlahan memudar menjadi keemasan. Angin sore berembus makin sejuk.

"Ayo! Sesuai janji, kita ke taman bunga sekarang!" seru Wafa bersemangat, melompat berdiri dari duduknya.

Semua orang bersiap-siap, namun Jaya tampak masih duduk bersandarkan tas ransel di dalam tenda, memegang ponsel dan laptopnya yang menyala.

"Pih, ayo! Nanti sunset-nya keburu habis!" panggil Wafa mengintip ke dalam tenda.

Jaya menatap anak-anaknya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Aduh, Papi kayaknya enggak bisa ikut ke taman bunga deh."

"Loh? Kenapa Pih?" tanya Lily mendekat.

"Ini, klien Papi mendadak minta file revisi proyek buat besok pagi. Papi harus standby buka laptop di sini, sinyalnya juga cuma bagus di dekat perapian ini," terang Jaya menghela napas pasrah.

Wafa langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan cengiran mengejeknya yang paling tengil. "Yeeee... Papi tua sok sibuk! Bilang aja mager kan, Pih? Muka Papi tuh udah muka-muka butuh rebahan lima jam lagi!"

"Heh! Enak aja kamu kalau ngomong!" sungut Papi Jaya berpura-pura melotot, walau akhirnya ikut tertawa. "Papi ini cari uang buat beli susu kalian ya!"

"Kalau memang itu alasan, ya udah, Papi di sini aja jagain tenda, awas kalau ada monyet lewat jangan dimusuhi ya!" ledek Wafa lagi seraya menjulurkan lidahnya.

"Wafa! Dasar anak nakal kamu ya!" omel Jaya tertawa seraya melempar bantal kecil ke arah Wafa, yang dengan sigap ditangkap oleh Sean.

Rombongan akhirnya berangkat menuju taman bunga kuning yang berada di balik bukit kecil, meninggalkan Jaya yang sibuk berduel dengan pekerjaan laptopnya.

Begitu mereka melewati tanjakan bukit, pemandangan luar biasa langsung menyapa mata.

Hamparan luas ribuan bunga liar berwarna kuning keemasan membentang sejauh mata memandang, bersinar semakin indah tersiram cahaya matahari sore.

"BAGUS BANGETTTT!" teriak Wafa histeris.

Tanpa membuang waktu Wafa langsung berlari kencang menuruni bukit, masuk ke tengah-tengah hamparan bunga kuning itu seperti bocah yang baru dilepas dari kurungan.

"WAF! WAFA! JANGAN LARI-LARI, NANTI CAPEK!" teriak Lily panik dari atas bukit.

"GUE BEBASSS! LILY, LIHAT GUE JADI LEBAH!" teriak Wafa dari kejauhan, merentangkan tangannya sambil berputar-putar di antara bunga-bunga.

"WAFA IH!" Lily yang gemas dan panik setengah mati langsung menyingsingkan sedikit rok kainnya dan berlari kencang mengejar adiknya.

"WAFA, BERHENTI ENGGAK LO! NANTI DADA LO SESAK LAGI!"

Karena terlalu fokus menatap Wafa dan berlari di tanah bukit yang licin bertanah gembur...

SRET!

"KYAA!"

Kaki Lily tersandung akar pohon liar. Tubuhnya hilang keseimbangan dan terhuyung jatuh ke depan.

Namun, sebelum tubuh Lily menghantam tanah, sebuah lengan kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya dari samping, menahan bobot tubuhnya dalam satu hentakan refleks yang cepat.

Greb!

Lily memejamkan matanya erat-erat, jantungnya berdegup kencang karena kaget. Namun yang dirasakannya bukanlah dinginnya tanah, melainkan dekapan seseorang. Saat Lily membuka matanya perlahan, wajah Malik berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Malik menatapnya dengan raut panik bercampur cemas.

"Lo enggak apa-apa, kak?!" tanya Malik cepat, suaranya sedikit parau karena kaget. Tangannya masih memegang erat pinggang dan bahu Lily.

Lily berkedip beberapa kali, napasnya terengah-engah. "E-enggak... enggak apa-apa. Makasih ya, Lik."

Malik perlahan menegakkan tubuh Lily kembali, memastikan gadis itu bisa berdiri dengan stabil sebelum melepaskan pegangannya dengan agak canggung.

"Makanya kalau jalan lihat bawah, Kak. Jangan panik dulu," gumam Malik pelan, berusaha menetralkan debar dada.

"Gimana enggak panik!" omel Lily seraya memegangi dadanya yang masih bertabuh kencang, lalu kembali menoleh tajam ke arah tengah taman bunga.

Wafa di sana malah melambaikan tangannya heboh sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat Lily yang nyaris jatuh.

"HAHAHA! KANJENG MAMI LILY JATUH! MAKANYA TAPI UNTUNGNYA ADA PAPI MALIK YANG NOLONGIN!"

"WAFAAAA! AWAS LO YA! BISA BERHENTI ENGGAK?! JANGAN MAIN TERLALU JAUH!" jerit Lily lagi dengan suara melengking, membuat Rafa, Javin, Sean, dan Owen di belakang mereka tertawa terbahak-bahak menyaksikan drama kejar-kejaran itu.

Napas Lily memburu, napasnya terengah-engah saat jemarinya berhasil meraup ujung jaket tebal Wafa. Dengan sisa tenaganya, Lily menarik adiknya itu hingga langkah Wafa terhenti tepat di tengah-tengah hamparan bunga.

"Dapet... lo..." bisik Lily terengah-engah, dadanya naik turun. "Dibilangin... jangan lari-lari, Waf..."

Wafa terkekeh pelan, menyerah dan membiarkan kakaknya memegangi lengannya. Mereka berdua perlahan mendudukkan diri di atas hamparan rumput di antara kelopak-kelopak bunga yang indah.

Lily menyandarkan badannya santai, memandangi lanskap indah di depan mata mereka.

"Tempatnya masih sama kayak dulu ya," gumam Lily pelan seraya memandangi lautan bunga kuning di sekeliling mereka.

Wafa mengusap kelopak bunga di sampingnya, mengulas senyum tipis yang hangat. "Iya, Mami pasti suka banget kalau diajak ke sini."

Lily menoleh pelan, menatap wajah adiknya dari samping. Sorot mata Wafa tampak begitu tenang, namun ada rasa sesak yang tak tertahankan mendadak menghimpit dada Lily. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Lily berbisik lirih dengan suara gemetar.

"Bisa enggak sih, Waf..." bisik Lily tertahan. "Lo hidup lebih lama?"

Wafa menatap Lily. Sorot matanya dipenuhi rasa kasih sayang yang begitu dalam, namun juga sebuah kepasrahan yang tulus. Laki-laki itu menyunggingkan senyum khasnya.

"Enggak, Ly," jawab Wafa pelan namun mantap, mencoba menyelipkan sedikit candaan hangat. "Kasihan Mami udah nungguin gue. Masa tiba-tiba gue enggak jadi datang... kan kasihan."

Air mata Lily yang sejak tadi ditahannya runtuh seketika, menetes membasahi pipinya. Lily tidak mampu membalas perkataan itu lagi. Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya di pundak Wafa, meresapi kehangatan bahu adiknya yang selalu menjadi tempatnya bersandar.

Wafa membiarkan kakaknya menyandarkan kepala di pundaknya, jemarinya terulur memegang jemari Lily yang dingin.

Di tengah keheningan emosional yang menyelimuti Lily dan Wafa, suara jeritan kencang Owen dari kejauhan tiba-tiba memecah keheningan sore itu.

"Wafa! Lily! Waktunya balik ke pinggir, yuk! Bentar lagi mataharinya tenggelam!" teriak Owen seraya melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

Wafa mengusap pelan jemari Lily. "Yuk, Ly. Nanti Bang Owen ngomel kayak Mak-Mak kalau kita kelamaan di tengah."

Lily mengusap sisa air mata di pipinya cepat-cepat, lalu mengangguk seraya mengulas senyum tipis. Mereka berdua perlahan bangkit, menepuk-nepuk celana mereka yang terkena rumput basah, lalu berjalan berdampingan kembali menghampiri rombongan yang menanti di pinggir taman.

Sementara menunggu Lily dan Wafa mendekat, Owen, Rafa, dan Javin tampak berjalan pelan menyusuri tepi taman. Rafa dengan antusias menunjuk-nunjuk beberapa sudut taman bunga, sibuk menjadi "pemandu wisata" dadakan bagi Javin yang baru pertama kali ke sana.

"Nah, Vin, lo lihat batu gede di sebelah sana?" tunjuk Rafa bersemangat. "Dulu pas gue umur delapan tahun, gue pernah sok-sokan naik ke situ terus akrobat. Akhirnya nyungsep ke semak-semak, alhasil dengkul gue robek sampai harus dijahit tiga!"

Javin tertawa geli membayangkannya. "Serius lo? Pantesan sampai sekarang dahi lo agak miring gitu."

"Heh! Itu beda kejadian ya, enak aja!" celetuk Rafa tak terima, memancing tawa Owen yang melipat kedua tangannya di dada.

"Rafa emang dari kecil yang paling banyak tingkah di sini, Vin," timpal Owen menggeleng-gelengkan kepala. "Dulu mami sampai geleng-geleng kepala tiap kali kita mudik atau main ke sini gara-gara rapot sama kelakuan Rafa."

Di sudut taman lainnya, Malik tampak sibuk sendiri. Laki-laki itu menunduk, dengan sangat hati-hati memetik beberapa tangkai bunga liar berwarna kuning yang mekarnya paling segar. Jemarinya yang biasanya memegang stang motor kini telaten merangkai tangkai bunga menjadi satu ikatan kecil yang rapi.

Matanya sesekali melirik ke arah Lily yang sedang berjalan mendekat, menyunggingkan senyum tipis yang sengaja ia sembunyikan.

Sementara itu, Sean tampak asik menenteng kamera digitalnya, mondar-mandir mencari sudut pengambilan gambar terbaik untuk mengabadikan padang bunga. Di belakangnya, Ell sibuk mengekor rapat seperti anak ayam mengikuti induknya.

"Bang Sean! Bang Sean! Fotoin bunga yang itu dong, baguss!" seru Ell menunjuk-nunjuk rumpun bunga di dekatnya.

"Sabar, Ell, satu-satu," sahut Sean tertawa seraya membungkuk mengarahkan lensa kameranya. "Coba kamu berdiri di sampingnya, gaya bebas!"

Ell langsung pasang pose dengan dua jari di pipinya, memamerkan senyum paling menggemaskan.

Cekrek!

"Mana, Bang? Lihat dong hasilnya! Awas ya kalau muka Ell kelihatan bulat!" tagih Ell seraya berjinjit menatap layar kamera Sean.

"Bagus kok, nih lihat. Estetik banget," puji Sean menepuk kepala Ell gemas.

Begitu Wafa dan Lily akhirnya sampai di tempat rombongan berkumpul, Malik melangkah santai menghampiri Lily. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan rangkaian bunga kecil yang baru saja dipetiknya.

"Nih kak."

1
Wawan
Salam kenal untuk Lily 💪✍️
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!