Mereka bilang hal yang paling membahagiakan adalah ketika bertemu dengan takdir yang dinamakan 'Mate'. Tapi bagiku satu kata itu adalah sebuah kesialan yang tiada akhir.
Dua pengkhianatan sudah cukup untuk membakar sesuatu di relung hatiku yang dinamakan Cinta dan ku pastikan pada takdir bahwa tidak akan ada lagi Mate ketiga, keempat ataupun seterusnya.
Namun Moon Goddess memberikan lelucon lain dalam hidupku. Dia mempertemukan ku dengan seseorang yang mana hanya dengan tatapan matanya mampu membuatku diam tak berkutik, meski otakku berkata tidak namun hati ku tak bisa menyangkalnya.
Dia adalah tadir ku. Dan ku pastikan ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Takkan ada lagi takdir yang lain.
"I AM A WOLF. AND SHE IS MY MOON."
_____________
jangan lupa klik like dan vote ya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masayupuspa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31 - Stealing
Dhuar! Brak!
Disaat yang bersamaan terdengar suara gaduh dari luar Pack House membuat Lucas kalang kabut di tengah situasi yang tidak terkendali itu sedangkan Kawanan Balck Moon segera berlari ke luar melihat apa gerangan yang terjadi mereka khawatir jikalau sebuah serangan dari musuh tiba-tiba datang kemari.
Ethan mendengar samar samar suara gaduh dari luar Pack House nya dan ia sadar bahwa itu adalah sebuah serangan, Ethan tak bisa berbaring lemas seperti ini. Dengan bersusah payah ia mencoba menguasai dirinya dan berdiri kembali namun sia-sia belum sempat ia melangkahkan kakinya dirinya kembali tumbang.
Jantungnya seakan di remas kuat Ethan menarik nafas tersenggal-senggal, melihat Alphanya sedang dalam kondisi yang buruk Lucas memberi isyarat untuk pergi keluar dan membantu yang lain dari serangan. Ethan menatap nanar sekitarnya penglihatannya seakan kabur saat ini. Meski begitu untuk kedua kalinya dengan bantuan Lucas Ethan berhasil berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu utama dan kekacauan terlihat di mana mana.
"Aro?” Panggil Ethan sekali lagi namun tak ada jawaban. Sialan apa yang terjadi saat ini batinnya.
Portal sihir teleportasi terbuka, itu adalah aula utama dari Pack house milik Golden Pack. Sammuel, Elle, dan Irina. Sebelumnya mereka berteleportasi di mansion Klan Walcott tapi hanya ada Jack dan Rose disana, mereka sudah menunggu kedatangan Sammuel. Belum sempat Sammuel bertukar kata dengan Jack dan Rose sebuah cahaya begitu terangnya bewarna merah pekat terlihat dari arah dimana Golden Pack berada. Otak Sammuel masih belum memproses apa maksud dari situasi mengejutkan itu namun Irina segera berteriak.
"Sial segelnya sudah hancur! Sammuel kita harus cepat atau Alona benar-benar akan kehilangan eksistensi dirinya!" Irina dengan cepat membaca mantra sihir nya membuka portal dimensi ke tempat dimana cahaya itu muncul. Dan disinilah mereka berada. Irina segera berlari menghampiri Ethan yang terduduk lemas dengan tangannya yang terus menekan dadanya erat seakan dirinya sulit bernafas saat ini. ‘Ikatan Mate’ batin Irina, tidak salah lagi sosok itu menyerap energy kehidupan dari Ethan jika begini ia akan mati.
"Minggir! Biarkan aku…" Irina segera berlutut menyamakan posisi dirinya dan Ethan, ia meletakkan tangannya di dada Ethan selagi Ethan masih tergagap mencoba bernapas mata Irina berubah menjadi putih, bibirnya mulai meramalkan mantra yang ia yakini cukup kuat untuk memutus sementara hubungan Ethan dengan Alona guna menyelamatkan nyawanya.
Saat mantra selesai dibaca cahaya biru berpendar di sekeliling Ethan dan Irina, semua orang mengambil langkah mundur mencoba memberi ruang. Lalu beberapa detik kemudian ledakan energy kecil terjadi cahaya tersebut perlahan memudar dan Ethan kembali bisa menguasai dirinya. Sedangkan kondisi Irina sedikit buruk memutuskan ikatan jiwa sepasangan mate bukanlah hal yang mudah darah segar mengalir dari hidung Irina sebagai efek samping dari manteranya yang dengan cepat ia seka.
"Kau tak apa nak?" Tanya Irina memastikan. Ethan masih berusaha menguasai dirinya, kepalanya berdenyut dan terasa berputar putar. Dan Aro? ia masih tak dapat merasakan kehadiran wolfnya satu itu.
"Apa yang.." belum sempat Ethan bertanya Lucy mendobrak pintu ruangan dengan kasar hingga terlepas paksa dari posisinya, ia memegang perutnya yang mengucurkan darah. Sammuel terkejut melihat putrinya terluka seperti itu dan lukanya tidak beregenerasi. Oh tidak Alona! Batin Ethan dan apa yang dikatakan Lucy semakin membuat Ethan tercekat.
"Alona! sosok itu mengambil alih tubuhnya dan dia kabur!" ucapnya.
"Alpha, cepat kejar dia dan tandai dia sebagai milikmu. Jika tidak jiwa serigala mu dan Alona akan benar-benar lenyap.” Tegas Irina, tanpa pikir panjang dengan cepat Ethan berdiri mengabaikan kepalanya yang masih terasa berputar-putar, ia memang tak merasai keberadaan Aro tapi sisa kekuatan wolf itu masih ada bersama Ethan. Itu berarti Aro masih ada di dalam sana.
Betapa tercengangnya Ethan saat melihat halaman utama beberapa kawanan tergeletak dengan luka yang serius bahkan ibunya turut membantu beberapa kawanan yang terluka. Ethan berlari dengan cepat menghampiri wanita yang di panggil sebagai ibu itu memeriksa tubuh ibunya sekilas melihat apakah ia terluka.
"Aku tak apa.. pergilah cepat bawa pasangan mu kembali dengan selamat.” Ethan menggeram marah ia berlari secepat mungkin yang ia bisa. Ethan berlari mengikuti aroma mate dari tubuh Alona yang tak lagi terasa memikat seperti sebelumnya namun masih bisa ia kenali sebagai aroma dari pasangannga. Sejenak ia mengingat si penyihir itu membacakan suatu mantera dan setelah nya sesuatu dari relung hatinya seakan terlepas. Ikatannya dengan matenya.
Ethan memaki lagi, ia takkan melepaskan matenya semudah itu. Tidak! ini yang terakhir kalinya, ia tak ingin menjadi un-mated wolf lagi. Ditengah pengejarannya aroma tubuh Alona semakin pekat terasa oleh indra penciumannya hanya sejenak kemudian kembali memudar tak ingin kehilangan jejak Ethan semakin mempercepat larinya. Sisa kekuatan Aro takkan bertahan lama. Hingga kemudian bayangan tubuh wanita yang sangat ia kenali terlihat dari kejauhan.
"ALONA!" wanita itu semakin mempercepat larinya meski tak bisa ia pungkiri sesuatu di relung hatinya bergetar saat namanya di sebut oleh pria tersebut, tubuhnya di kuasai jiwa lain namun hati nya tetap melekat pada pria itu.
"BERHENTI ATAU KAU AKAN MERASAKAN AKIBATNYA!" Ancam pria itu, Ethan mengira matenya akan mengabaikan apa yang dikatakan Ethan tapi ternyata diluar dugaan! Sosok itu seketika menghentikan langkahnya membuat Ethan semakin cepat melangkahkan kakinya menghampiri sosok itu. Sepuluh meter jauhnya, Lima meter, dan semakin dekat ketika tangan Ethan nyaris saja menyentuh bahu gadis itu secara tiba-tiba gadis itu berbalik dan menghadiahi wajah tampan Ethan dengan bogem mentahnya.
Ethan seketika terpental ke samping dan jatuh ke tanah dengan keras. Mereka kini berada di sisi timur perbatasan wilayah Golden Pack beberapa mil di depan sana ada bukit yang langsung berhadapan dengan laut. Sosok itu hendak melarikan diri lewat sana. Tapi tubuhnya mengkhianati keinginan sosok itu. Ia membenci ini. Mendapati Ethan berada dalam jangkauannya ia mendadak tak ingin pergi menjauh. Kenapa? Batinnya. Bukankah ia kini yang memegang kemudi dan bukan Alona tapi kenapa tubuhnya berkata lain dari apa yang diperintahkan nya.
"Damn Mate, aku lebih suka tangan itu memegang kuas catnya ketimbang melakukan kekerasan semacam ini." Ucap Ethan. Mendengar kata mate membuat hati sosok itu mencelos. Ini salah. Tubuhnya mencintai pria di depannya. Dan sosok itu tak suka hal ini ia ingin menjadi dominan dan menguasai kesadaran dan tubuh ini secara penuh atas kendalinya ia bukan sekedar kekuatan semata ia adalah sebuah jiwa. Ia tak ingin dilenyapkan.
"Aku bukan matemu, Alona mu sudah tiada.” Warna mata yang begitu merah semerah darah taring menghiasi bibirnya tubuhnya begitu pucat seperti mayat. Mengitari Ethan yang masih terduduk di tanah seraya mengatur nafasnya tubuhnya semakin melemah semakin lemah Ketika ia berada dalam jarak jangkauan Alona yang kini di kuasai jiwa keduanya. Seakan nyawanya di sedot keluar secara paksa rasa sesak itu kembali datang meski tidak begitu menyakitkan seperti sebelumnya.
"Kau dilindungi sihir Alpha, sayang sekali seharusnya kau tak sadarkan diri sekarang lalu secara perlahan menyusul Alona di alam sana, dan kekuatanku akan sepenuhnya sempurna.” Pada umumnya Vampire menghisap darah makhluk hidup lain untuk bertahan hidup dan memulihkan kekuatannya namun Alona terlahir berbeda dia sosok itu tidak membutuhkan darah melainkan jiwa seseorang. Ia menghisap jiwa seseorang untuk mempertahankan eksistensinya dan kekuatannya dan inilah yang membuat mereka berbahaya ia bisa menghisap energi kehidupan setiap orang yang berada dalam jangkauannya bahkan sesama Vampire sekalipun.
Ethan mencoba merasai keberadaan Aro dan energi kehidupan Aro semakin menipis. Di tengah kepanikkannya Ethan teringat akan ucapan penyihir asing sebelumnya.
‘Alpha, cepat kejar dia dan tandai dia sebagai milikmu. Jika tidak jiwa serigala mu dan Alona akan benar benar lenyap.’ Ethan menggeram pelan menandai. Ia harus memberikan symbol Mate pada Alona untuk menekan eksistensi sosok itu dan melenyapkannya.
Sejenak fikirannya berkelana jauh kebelakang dan entah kenapa ia teringat dengan ramalan Enchantres dulu saat ia menarik paksa Ethan kedalam ilusinya. Ketika Ethan menyentuh Alona tak berapa saat kemudian ia terjatuh lemas tak berdaya sosok itu semakin kuat dan meninggalkan Ethan. Lalu perkataan dari Penyihir gelap itupun kembali terngiang di kepala Ethan secara tiba-tiba.
...***...
..."Semakin kau menyentuhnya kau semakin dekat dengan kematianmu."...
...***...
mohon kelanjutan ceritanya
thank you 🥰
orang aja lagi perang gitu 😁🤣
ceritanya bagus thor.. plot nya jg menarik.. gak bertele2..
cm tanda sambung dalam kalimat aja thor yg perlu di perbaiki peletakan koma (,)dan typo sedikit.. msh wajar..
semangat terus berkarya thor..
thanks for your lovely novel..
alur crita tidak membosnkan.
aq maraton bacax..
#I'm A Special Girl