Indonesia
NovelToon NovelToon
DOKTER CINTA

DOKTER CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Dokter / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ind_Chris

Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.

Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.

Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.

Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Satu

Sudah dua hari berlalu dan Lia terus terlelap sepanjang malam sehingga dokter Adi tidak bisa berinteraksi dengannya sama sekali. Dokter Adi duduk di kursi kayu sambil terus memandangi tubuh Lia yang terlelap.

"Apa yang terjadi padamu sebenarnya, Lia?" gumam dokter Adi pelan.

"Dokter." panggil suster Rina pelan. Ia tampak terkejut karena dokter Adi masih berada di kamar Lia padahal jam kerjanya sudah lama berakhir. Dokter Adi menoleh ke arah suster Rina sesaat tapi kemudian pandangnnya kembali ke mata Lia yang tertutup rapat.

"Dokter belum pulang?" tanya suster Rina basa-basi. Dokter Adi menggeleng pelan.

"Sudah dua hari Lia seperti ini." ucap dokter Adi pelan.

"Aku penasaran, apa yang membuatnya seperti ini?!" lanjutnya.

"Tapi kalau siang Lia bersikap seperti biasa, dok." terang suster Rina.

"Setiap malam dia seperti ini, aku sudah mencoba membangunkannya tapi dia tetap saja seperti ini." ungkap dokter Adi.

"Seperti ada yang memberikannya obat tidur." terka dokter Adi. Ia terus memandangi wajah Lia, sementara itu suster Rina memperhatikan sikap dokter Adi pada Lia. Sesaat suasana menjadi sangat hening.

Dokter Adi menghela nafas panjang, akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari wajah Lia.

"Aku mau meminta bantuanmu." ucap dokter Adi pelan.

"A.. apa itu?" tanya suster Rina.

"Tolong awasi apa yang Lia lakukan sepanjang hari, perhatikan apa yang ia makan dan minum." Suster Rina hanya terdiam sambil menatap wajah dokter Adi.

"Kumohon!" pinta dokter Adi. Dokter Adi beranjak dari tempatnya duduk dan meraih tas kerjanya yang tergeletak di ranjang Lia.

Dokter Adi berdiri di hadapan suster Rina, perlahan tangannya membelai pipi suster Rina dengan lembut. Ia tersenyum manis di hadapan wanita kesayangannya itu. Suster Rina menatapnya.

"Bagaimana dengan waktu satu minggu yang kamu minta itu?" tanya suster Rina tiba-tiba. Dokter Adi terkejut mendengar pertanyaan suster Rina barusan.

"Kamu yakin ingin aku menghentikan semuanya ini?" ucap dokter Adi balik bertanya. Suster Rina mengangguk pelan, matanya terus menatap dokter Adi seakan memaksa dokter Adi untuk menjawab pertanyaannya segera. Dokter Adi menghela nafasnya.

"Baiklah." ucap dokter Adi. Ia menundukkan kepalanya seakan tidak rela kalau perjuangannya harus berakhir hanya sampai di sini.

"Baiklah bagaimana maksudmu?" Suster Rina memaksa dokter Adi untuk memberikan jawaban yang jelas padanya. Dokter Adi menatap suster Rina.

"Aku terlalu mencintaimu, Rin!" bisik dokter Adi. Ucapan dokter Adi itu membuat suster Rina tersentak.

"Walaupun aku sangat ingin menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik, tapi aku akan menuruti apa yang menjadi keinginanmu." terang dokter Adi. Ekspresi wajahnya benar-benar menampakan kalau ia kecewa kalau perjuangannya harus terhenti sampai di sini.

"Aku akan mempersiapkan dan membereskan semuanya, minggu depan aku tidak akan bertanggung jawab pada Lia lagi." Dokter Adi menatap wajah suster Rina dengan seksama.

"Tapi kumohon, kabulkan permintaanku tadi. Aku hanya ingin tahu kenapa Lia seperti itu." pinta dokter Adi. Suster Rina mengangguk pelan. Dengan lembut dokter Adi mencium kening suster Rina dan kemudian beranjak dari kamar 208 itu.

...

Lia duduk di ranjangnya, matanya memandang jauh ke balik jendela. Beberapa kali ia tampak menghela nafas panjang.

"Lia." sapa suster Rina begitu masuk ke kamarnya. Lia menoleh ke arah suster Rina dengan perlahan.

"Waktunya minum obat." ucap suster Rina lembut sambil menyodorkan sebutir pil dan segelas air minum.

"Suster.." panggil Lia pelan. Suster Rina menatap Lia sambil tersenyum lembut.

"Apa doktet marah padaku?" tanyanya. Suster Rina tersentak.

"Tidak! Dokter tidak sedang marah padamu." jawab suster Rina.

"Lalu kenapa dia terus memberiku obat seperti ini? Obat ini membuatku mengantuk dan tidur sepanjang hari." Lia mempertanyakan alasan mengapa ia terus diberikan obat.

"Dulu dia pernah memberikanku obat seperti ini juga karena dia marah padaku." ungkap Lia, suaranya terdengar bergetar. Suster Rina menatap Lia dengan seksama, ia mengusap punggung Lia dengan lembut agar membuat Lia sedikit lebih tenang.

"Lia." panggilnya. Lia menatap suster Rina.

"Kamu percaya kan padaku?" tanya suster Rina. Lia mengangguk pelan.

"Obat ini akan membantumu agar tidak menderita lagi oleh perasaan." ungkap suster Rina.

"Aku sungguh menyayangimu dan tidak ingin kamu terluka lagi." terang suster Rina. Lia menatap kedua bola matanya.

Perlahan Lia meraih obat itu dan meminumnya. Suster Rina beranjak dan memeluk Lia dengan lembut.

"Obat ini akan membuatmu baik-baik saja." bisik suster Rina. Perlahan air matanya mengalir dari matanya.

...

Lia memperhatikan suster Rina keluar dari kamarnya dan mengunci kembali pintu kamarnya. Beberapa saat setelah pintu kamarnya terkunci kembali, ia mengeluarkan pil berwarna putih itu dari mulutnya. Ternyata ia tidak menelan pilnya tapi menyembunyikannya di balik lidahnya. Lia menggenggam pil itu di tangannya dan ia membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

...

Dokter Adi masuk ke dalam kamar 208 dengan perlahan. Ia duduk di kursi kayu seperti biasa sambil memandangi tubuh Lia yang tertutup selimut. Ia menghela nafas panjang melihat kondisi Lia.

"Hash!" desahnya kesal. Dokter Adi bangkit dari tempat duduknya dan menyingkapkan selimut itu dari tubuh Lia. Dokter Adi tampak sangat terkejut.

"Ka.. kamu!" serunya. Lia menegakkan tubuhnya dan duduk di ranjangnya. Ia menatap kedua mata dokter Adi dengan tatapan tajam.

"Aku pikir kamu tidur seperti kemarin." ucap dokter Adi pelan.

"Kenapa kamu ingin aku terus tidur? Katakan!" seru Lia marah.

"Aku?" tanya dokter Adi bingung.

"Kenapa kamu terus memberikan aku obat?" Ekspresi wajah Lia menampakan kalau ia sangat marah dan kecewa dengan sikap dokter Adi.

"O.. obat?" gumam dokter Adi pelan.

"Kalau kamu mau berhenti merawatku katakan saja, tidak perlu kamu membuatku tertidur sepanjang hari hanya untuk menghindariku!" jerit Lia. Wajah putihnya seketika berubah menjadi merah karena amarahnya memuncak.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" seru dokter Adi. Lia menatapnya tajam.

"Katakan apa yang terjadi dengan pelan-pelan agar aku bisa mengerti." pinta dokter Adi. Lia mengulurkan tangannya dan menunjukan pil yang dari tadi di genggamnya.

"Ini obat yang membuat orang terlelap sepanjang hari kan?!" terka Lia. Dokter Adi memperhatikan obat itu dan mengangguk pelan.

"Kenapa kamu memberikanku obat ini lagi? Bukankah kamu dulu pernah berjanji tidak akan memberiku obat lagi?" tukas Lia.

Dokter Adi sangat terkejut mendengar ucapan Lia barusan, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia menatap kedua mata Lia, begitu juga dengan Lia.

"Selama ini siapa yang membantumu meminum obat ini?" tanya dokter Adi lembut.

"Suster Rina." jawab Lia singkat. Sesaat suasana menjadi sangat hening dan mereka hanya saling memandang.

...

Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

Terima kasih 😘🤗🥰

1
IndChris
Luar biasa
arfan
up
Par Tini
autornya jahat kalau karakter Rina jahat kenapa di awal dia seolah wanita baik menyatukan pasangan kekasih bisa kok dgn cara baik2 tanpa ada unsur kejahatan Adi dan Lia bisa bersatu dan Rina bisa menerima dgn ikhlas,,, walaupun Rina jahat dia tetap seorang ibu yg baik utk anaknya dan q selalu menangis 😭 bila ada scene ibu dan anak itu
Par Tini
setiap membaca kisah suster Rina q tdk bisa membendung air mataku walaupun byk pembaca yg kasian dgn kisah Lia tp q salut dgn perjuangan suster Rina yg bisa berlapang dada menerima dan membesarkan anaknya sampai detik inipun Dina blm tau gimana awal dia sampai lahir ke dunia dan teman2 pasti tdk tau Rina korban pelecehan sampai menghasilkan anak,, untuk dr Adi apa yg di katakan ibumu benar adanya jgn menikahi Rina KL sdh tdk cinta jgn Krn mau menepati janji yg PD akhirnya menyakiti kalian berdua terutama Rina ..
Par Tini
sampai sini saya lebih tertarik dgn kisah suster Rina bagaimana dia melalui hidupnya membesarkan anak dari perkosaan itu tapi sayang dialog Rina sama anaknya seuprit
Lila
Sampai part ini…. Banyak hikmah yg bisa diambil.

Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
Salwa Aqila
udah mending meninggal ajh PK dokter ...
benci dokter Adi 😡
IndChris: waduh.. pemeran utamanya yg di benci.. 😅
total 1 replies
Salwa Aqila
benci sama dokter Adi ... 😡😡😡
Alfan Salim
sama" diperkosa sampek bingung mna yg pacarnya adi
lovetoon
wedding organizer kayaknya kerjanya lia
Queensha
akuu sukaa... bagus thor karya nya.. berdeda dg yg lain... ayo thor semangat utk nulis cerita selanjutnya...
lady El
itu alasan kenapa Lia jadi pasien spesial untuk suster rina karena dia juga pernah mengalami nya
Risna Wati
suka banget ceritanya.💖💖💖💖💖💖
IndChris: Terima kasih sudah suka karya ini..
total 1 replies
Risna Wati
💕💕💕💕💕
Aisyah Siregar
👍👍👍👍
Kim Yoona
sukaaaaaa...
Kim Yoona
aq suka karya mu thor beda dari novel kebanyakan.. semangat... trus berkaryaa💪💪
Kim Yoona: siap kak tapi nanti tak tabung dulu... nunggu agak banyak biar tdk terlalu lelah menunggu ... suka galau
total 2 replies
Kim Yoona
akhirnya bisa ketawa lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kim Yoona
apakah seperti ini korban pelecehan seksual... bknkah dia pernah merasakan diposisi disiksa orang lain.. knpa dia bisa setega itu
Kim Yoona
lia lbh bijak dlm menghadapi segala hal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!