Noura terbangun dari tidurnya. Tapi, alih-alih berada di tahun 2020, ia malah kembali ke tahun 2014, dimana ia masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Seakan semuanya belum cukup memusingkan, saat Noura bersekolah, muncul seseorang yang seharusnya tidak bersekolah di sana.
Orang itu adalah Tsuyoshi Asahina. Member dari anggota band Diversity, yang populer di tahun 2020.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natassa Putri R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Luis membaik. Walaupun ia tidak datang ke sekolah, seminggu kemudian ia mengirimiku pesan.
Luis: Hallo, Daisy Buchanan :D
Noura: Astaga, panggilan apa itu?
Luis: Kau kan suka The Great Gatsby.
Noura: Lalu siapa Jay Gatsby nya? Dan, bagaimana kabarmu?
Luis: Tentu saja aku Gatsby :p
Noura: Kau tidak cocok jadi Gatsby. Kau belum jawab pertanyaanku tentang kabarmu.
Luis: Satu-satu, Daisy. Kau suka sekali membombardir orang dengan pertanyaan.
Noura: Tentu saja, karena Gatsby disini sedikit menyebalkan, jadi ia dihadiahi (banyak) pertanyaan.
Luis: Aku baik-baik saja. Oh, ya. Kau bilang aku tidak cocok menjadi Gatsby, tapi aku juga tidak mau menjadi tokoh lain, Nick Carraway, misalnya.
Noura: Benarkah? Syukurlah. Dan, kenapa tidak? Nick bukan tokoh yang buruk.
Luis: Ya, tapi dia bukanlah love interest nya Daisy.
Noura: Tidak apa. Daisy itu kalau boleh aku katakan, dia brengsek. Dia tidak pantas bersama Gatsby. Gatsby deserves better.
Luis: Memang benar.
Noura: Tapi?
Luis: Tidak ada tapi-tapi, kok :p sampai jumpa besok di sekolah!
Luis berbohong. Dulu, sewaktu kami sering mengobrol, kata-kata Memang benar. di ujungnya selalu ada kata tapi. Agak sedikit membingungkan untuk orang lain. Tapi, memang begitu kebiasaan Luis.
Noura: Pasti ada tapi di belakangnya. Itu kan kebiasaan mu.
Luis: Masa?
Tampak jelas bahwa ia tidak akan menjawab.
Noura: Kau benar sudah tidak apa-apa? Kenapa besok sudah mulai bersekolah?
Luis: Iya, Daisy. Jangan cerewet-cerewet.
Noura: Aku ini perhatian, bukan cerewet.
Luis: Hehe, iya. Begini, aku butuh asupan melihat cewek-cewek.
Noura: Wah, genit, ya.
Luis: Wkwkwk. Yah, mau bagaimana. Soalnya di rumah hanya ada perempuan seumuran Mama :(
Noura: Hahaha. Ah, Winona tidak menjenguk?
Luis: Ada. Hanya Winona, kalau begitu.
Noura: Jahat sekali melupakan teman masa kecil.
Luis: Mau bagaimana lagi. Soalnya cewek yang sering aku pikirkan hanya ada satu orang.
Aku takut cewek yang di maksud adalah aku. Bukannya mau geer, aku hanya tidak melihat Luis dekat dengan cewek lain. Aku tidak mau dia terus-menerus memikirkan aku. Itu tidak baik untuknya, dan aku juga ikut merasa bersalah.
Luis: Heyyy lama sekali balasnyaaa.
Noura: Mata sudah lima Watt :p jangan banyak pikiran. Ayo, istirahat lagi.
Luis: Wah, sudah merem, ya Ra. Siaaap Bu Dokter👍
***
"Baiklah, kalau begitu sekian untuk hari ini." Aku menutup kegiatan klub sastra. Hari ini kami membahas buku Bumi Manusia, setelah itu kami mendiskusikan kegiatan yang akan dilaksanakan pada perayaan bulan bahasa, sebelum berdiskusi lagi dengan pihak OSIS.
Aku meregangkan tangan dan kaki. Setelah klub sastra, lanjut lagi di klub tari. Biasanya klub tari tidak latihan di hari ini, tapi karena akan ada lomba basket antar sekolah. Klub tari kontemporer otomatis merangkap menjadi cheerleader.
Setelah seluruh anggota klub berpamitan dan saling bertukar sapa, Winona masuk ke laboratorium bahasa. Sosoknya yang seperti dewi menarik perhatian teman-teman yang berjalan menuju pintu keluar.
"Hai, Win." aku menyapa. "Tumben sekali main kemari."
Winona tersenyum simpul. Wajah cantiknya masih tetap menampilkan keangkuhan. "Memangnya nggak boleh?"
Untungnya aku sudah mengetahui sifat Winona yang satu ini. Jadi aku masih bisa bersabar. "Boleh. Lagipula aku nggak ada teman mau ke ruang latihan."
"Kak Rissa memangnya kemana?"
"Hey, kau bisa memanggil Rissa dengan embel-embel 'Kak'. Kenapa denganku kau tidak pernah begitu?" Sergahku.
Bukannya menjawab, ia malah melayangkan pandangan ke arah koleksi buku-buku di laboratorium sastra. Koleksi disini tidak terlalu lengkap, tapi cukup banyak. Aku geleng-geleng kepala. "Rissa sedang sakit. Jadi hari ini dia tidak ikut latihan."
Winona hanya ber-ooh ria. Dia terdiam sejenak. Aku memperhatikan di sela-sela aku membereskan barang-barangku.
"Sebenarnya aku kesal padamu." Katanya muram.
"Memangnya aku kenapa?" Aku membela diri. Sejak pembicaraan kami yang terakhir, aku tidak pernah mengobrol lagi dengan Winona. Ketika latihan cewek itu bahkan menganggapku tidak ada. Jadi kapan aku sempat membuatnya kesal?
"Luis selalu saja bicara tentang kau. Kau, kau, dan kau. Ia selalu melihatmu." Nada bicaranya naik. Ia melirikku kesal.
Ternyata itu. "Jadi aku harus bagaimana?" Aku paham akan perasaan Winona terhadap Luis. Sudah menyukai seseorang sedari kecil, tentu perasaan itu bukanlah hanya sekadar rasa suka. Lebih dari itu. Ada ikatan di antara mereka yang lebih kuat.
"Itu juga yang membuat aku kesal. Walaupun kau sudah bersama pacarmu, tetap saja Luis tidak bisa melupakanmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin aku memaksakan perasaannya padaku."
"Mungkin tidak tahu diri jika aku meminta hal ini padamu. Tapi, tetaplah bersabar berada di dekatnya. Kau adalah salah satu teman yang paling dekat dengan Luis. Ditambah kalian sudah dekat sejak kecil. Aku yakin lambat laun ia akan melihatmu. Sosok yang selama ini ada di sampingnya."
Ia terdiam sebentar. "Pasti. Kalau itu juga tidak usah kau ingatkan lagi." Jawabnya ketus.
"Terima kasih, ya, Winona." Kataku tulus.
"Hmm." Ia tidak melihatku. Tapi aku bisa melihat bahwa raut wajahnya melembut.
Aku tersenyum kecil. Selesai berberes, aku mengaitkan tanganku pada Winona. Hanya ingin membuatnya sedikit kesal. Anehnya, ia tidak melepaskan.
"Ah, choreo hari ini agak sulit. Pasti akan lama bagi kita untuk berlatih." Ia mengeluh.
Aku setuju. "Pasti kita pulang sedikit lebih lama hari ini."
"Padahal aku ingin bertemu Luis hari ini." Ia mengeluh. Aku dan Tsuyoshi sebenarnya berencana yang sama dengan Winona. Sepertinya rencana kami harus diundur dulu. Daripada bertemu Winona disana dan membuatnya mengamuk.
Namun ia malah mengejutkanku dengan berkata, "Kau ikut denganku, ya hari ini. Kerumah Luis."
"Eh? Serius tidak apa-apa? Aku dan Tsuyoshi memang ada berencana seperti itu tadinya."
Winona mengangguk. "Supaya Luis tampak lebih ceria."
Aku terenyuh melihat Winona yang rela melihat orang yang ia cintai bahagia dengan cara seperti ini. Winona barangkali masih sangat muda, lebih muda dariku. Tapi ia menjadi dewasa dalam sekejap mata. Bahkan dulu, ia merelakan Luis denganku. Ia merelakan Luis sebanyak dua kali.
"Winona, jadi temanku, ya?"
Wajahnya berubah ngeri. Lalu, disambut dengan tawa tertahan. "Nggak mau. Nanti kalau kita berteman, Luis jadi sering-sering melihatmu."
Aku cemberut. "Kita jadi frenemy saja." Usulnya ceria.
Aku tersenyum. Walaupun Winona berkata begitu, aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa ia benar-benar menganggapku sebagai temannya kali ini.
***
Luis tidak jadi sekolah hari ini. Mamanya melarang, karena walaupun tampaknya Luis sudah lebih baik, kekhawatiran itu tetap ada. Jadi mamanya memastikan agar keadaan cowok itu benar-benar baik hari ini, lalu memperbolehkannya sekolah keesokan harinya. Luis tentu saja tidak senang akan keputusan ini. Ia sudah bersungut-sungut sejak kedatangan kami tadi.
"Ah, senangnya ada kalian." Ia bersyukur. "Kalau tidak aku akan merasa bosan sekali hari ini."
"Erik dan yang lain tidak jadi kesini?" Tanya Winona.
"Sudah keburu pulang, malahan. Kalian yang kelamaan datang." Komentar Luis.
"Maaf, ya. Hari ini ada latihan." Winona tersenyum pada Luis. Siapapun yang bisa melihat, pasti bisa menyimpulkan betapa sayangnya Winona pada Luis. Tidak, orang yang tidak bisa melihat pun rasanya akan tetap bisa merasakan kasih sayang cewek itu terhadap Luis lantaran Winona memang terdengar setulus itu.
"Yah, kali ini memang aku maafkan." jawab Luis, tapi ia tersenyum lebar.
Tsuyoshi menyapa Luis. Mereka mengobrol ringan mengenai basket, olahraga, games, pokoknya hal-hal khas cowok seperti itu. Sementara itu aku dan Winona mengobrol dengan Mama Luis. Bi Ina menyiapkan camilan sehat untuk kami.
Hari ini menyenangkan sekali. Wajah Luis masih sedikit pucat dan kulitnya sedikit kekuningan, tapi di luar itu, keadaan nya baik-baik saja. Kami menonton film, main UNO, dan terakhir, bermain truth or dare. Saat itu kami sudah beranjak bermain di kamar Luis.
Kamar Luis masih sama seperti yang aku ingat. Kasur dengan bed cover berwarna navy, meja dan komputer, buku-buku bacaan di rak buku, majalah Nat Geo (aku berkomentar bahwa Luis lebih cocok masuk jurusan IPA), dan TV layar datar serta tumpukan CD film-film kesukaannya.
Kami sedang duduk di atas karpet empuk, Luis duduk di tempat tidur.
"Ayolah, apakah kita harus bermain truth or dare? Permainan kuno." Sahut Winona bosan.
"Harus. Menarik, bukan? Kalau tidak menarik, tidak mungkin setiap kali ngumpul, ada remaja yang memainkannya. Dan, aku rasa membosankan bermain truth or dare tradisional. Kali ini kita main truth or truth. Tidak ada pilihan selain menjawab pertanyaan dengan jujur." Luis bersemangat.
"Bagaimana kau tahu jika kami menjawab dengan jujur dan sebaliknya?" Sela Winona.
Luis mengangkat bahu. "Kita hanya bisa berharap orang ini menjawab dengan jujur. Disitulah seru nya."
"Aku biasanya bukan tipikal orang yang suka bermain permainan seperti itu, tapi untuk sesekali tidak apa." Jawab Tsuyoshi.
Luis beralih padaku. "Noura?"
Aku mengangkat bahu. "Aku oke oke saja."
"Baik, sudah diputuskan. Maaf Winona." Ia mengedip pada Winona.
"Terserah saja. Aku tidak takut." Jawabnya acuh tak acuh.
"Bagus, kalau begitu akan jadi seru."
Botol jus yang sudah selesai ku tenggak tadi dijadikan alat pemutar untuk menunjuk giliran. Putaran pertama menunjuk ke kursi kosong. Di putarlah lagi botol tersebut.
Giliran pertama adalah Tsuyoshi. Toples berisi kertas pertanyaan yang sudah kami buat sebelumnya di goncang, dan masing-masing tinggal menjawab pertanyaan tersebut. Mula-mula pertanyaan yang keluar hanya pertanyaan remeh, seperti hal memalukan apa yang pernah kalian lakukan? dan sebagainya.
Makin kemari, pertanyaan menjadi lebih serius. Heran juga, kemana kumpulan pertanyaan remeh dan lucu pergi?
Tiba di giliran Winona. Luis mengguncang sampai toples memuntahkan puntiran kertas berisi pertanyaan.
Senyum jail terlukis di wajah Luis. "Menarik. Tapi aku rasa kita tidak mendapat jawaban dari Winona."
"Apa pertanyaan nya?" Winona mencoba memanjangkan leher demi melihat pertanyaan di tangan Luis. Aku dan Tsuyoshi juga jadi penasaran.
"Sabar, Winnie the Pooh." Luis tersenyum geli. "Akan menarik kalau kami yang mendapat pertanyaan ini. Ah, tapi kalau Noura dan Tsuyoshi yang menjawab, akan mudah ditebak jawabannya."
"Bacakan saja pertanyaannya, jadi kami bisa tahu apakah jawabanku jadi tidak menarik." Kata Winona.
"Oke. Siapa cinta pertama mu?" Luis menoleh pada Winona. "Benar kan. Kau kan dulu suka pada Bang Xavier. Pasti dia cinta pertama mu, Winona. Aku juga menebak sampai saat ini kau masih suka padanya. Aku benar kan?" Luis nyengir.
Aku dan Tsuyoshi berpandangan. Luis benar-benar tidak peka.
Winona menunduk. Lalu ia mengangkat kepala dan langsung menatap Luis. "Kau salah, bodoh. Kau itu cinta pertama ku, Luis. Dan masih sampai saat ini."
aku aja masih mogok blm sampe sana😂. good luck thor lanjutkan 👍.
jngn lupa mampir juga ya kekaryaku hhe