Saat Cinta Harus Memilih, Saat itulah hati tak mampu lagi menopang beratnya luka tentang cinta.
Entah ada apa dengan diriku?
Dosa apa yang sudah kulakukan?
Sehingga aku selalu di hadapkan pada cinta laki laki beristri.
Tak pernah aku menawarkan sebuah rasa pada mereka, tak pernah sedikitpun terbesit menjadi perempuan ketiga dalam hubungan orang lain.
Namun seolah takdir terus mempermainkan kisah cintaku.
Haruskah aku berhenti dan menutup hati, agar tak lagi ada hati yang tersakiti dengan kehadiran diri ini.
"Lepaskan aku mas, kita tak mungkin menyatukan perasaan, karena ada Andini yang harus kamu jaga hati dan juga hidupnya. Maafkan aku, jika aku memilih mundur dan harus berhenti." kataku saat kami tengah duduk bersama meskipun dengan jarak beberapa meter di sebuah pelataran sekolah tempatku mengajar.
"Apa ini keputusan yang kamu ambil dari hatimu, Ra?
Percayalah!
Andini wanita yang paham agama, dia akan menerima kamu jadi madunya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hawa zaza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fahri bimbang
"Boleh dong, sayang.
Anak kamu, juga anakku sekarang.
Nanti belikan Adelia perhiasan, dia pasti senang." sahut juragan Pono sambil mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang.
"Ya ampun, mas!
Kamu makin bikin aku jatuh cinta sama kamu.
Makasih ya, sayang!" pekik Yunita senang. Dan dalam hatinya ingin segera menunjukan pada Fahri dan keluarganya, jika dirinya bisa bahagia dan hidup mewah lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Fahri menatap kosong ke arah luar jendela yang ada dirumahnya, sejak perceraiannya dengan Yunita, Fahri sengaja menutup diri dari wanita dan semaraknya dunia luar.
Fahri menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengembangkan usahanya.
Memasrahkan hatinya pada sang pemilik hati.
Meskipun hatinya sangat menginginkan Zahrani menjadi pendampingnya, namun Fahri tak ingin membuat wanita itu merasa tak nyaman, karena kejadian waktu itu, sungguh mampu membuat Fahri merasa bersalah, dan Zahrani sedikit memberi jarak padanya. Agar tidak ada isu miring perihal hubungan mereka.
Adelia jarang sekali pulang kerumah, dia lebih betah tinggal bersama nenek kakeknya. Adelia cucu satu satunya sehingga kasih sayang semua dilimpahkan padanya. Sedangkan Siska masih belum melahirkan, namun kandungannya sudah membesar.
"Mas!" Siska mengunjungi kakaknya, berniat untuk mengajak sang kakak hadir ke acara pernikahannya Niki, karena suami Siska sedang ada dinas keluar kota.
"Eh, kamu Sis!
Datang kok gak ada suaranya!" Fahri kaget, saat ada tangan yang menyentuh pundaknya, saat menoleh ternyata adik perempuannya.
"Siska sudah ngucapin salam kok, dan sudah berdiri disini dari sepuluh menit yang lalu.
Mas Fahri saja yang lagi ngelamun, jadi gak sadar kalau Siska ada di dekat, mas!
Ngelamun apa sih, mas?" Siska menatap kakaknya penuh selidik, namun Fahri hanya memasang wajah datarnya saja. Dingin kayak es batu.
"Gak ngelamun, hanya sedang memikirkan sesuatu. Sudah, gak usah kepo jadi adik!
Tumben kamu datang pagi pagi gini, ada apa?" Fahri menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada diruang tamu.
Menatap adiknya dengan wajah datarnya.
"Siapa juga yang kepo, lagian tanpa mas Fahri bilang pun, Siska tau kok, mas Fahri lagi mikirin apa dan siapa.
Hmmm, Pasti janda cantik depan rumahku, hayooo ngaku!" ledek Siska membuat Fahri mendelik dan membuang nafasnya kasar.
"Sudah, jangan di bahas. Bikin gak enak makan!" sahut Fahri ketus, membuat Siska tak bisa menahan tawanya.
"Makanya, buruan bergerak dong!
Nanti keduluan orang, nyesek lagi.
Jangan banyak pertimbangan dan memikirkan ucapan orang lain, kejar kebahagiaan kamu, mas!
Bapak, ibuk, aku bahkan Adelia mendukung mas Fahri kok, Zahrani itu perempuan langka, dia tangguh tapi juga begitu menjaga kehormatannya.
Lagian, mas Fahri sudah pantes kok nikah lagi, sudah berapa bulan sih, jadi duda?" sahut Siska yang bicara panjang lebar, Fahri hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan adiknya itu. Suka banget ngomporin kalau sudah urusan Zahrani.
"Mas, masih belum berani.
Takutnya, Zahrani tidak nyaman dan jadi ilfil sama mas!
Apalagi, Yunita pernah mempermalukannya di hadapan ibu ibu sini." curhat Fahri yang mengutarakan pikirannya.
"Insyaallah, Zahrani itu orang yang cuek, dia gak akan ambil pusing dengan yang begitu. Lagian semua sudah jelas kok, mbak Yunita saja yang terlalu drama." balas Siska yang terus memberikan semangat kada kakaknya agar segera mengutarakan perasaannya pada Zahrani.
"Iya, nanti akan mas coba. Doain ya!
Kamu belum jawab, ada apa datang pagi pagi begini?" kembali Fahri mengulangi pertanyaannya.
"Oh iya, aku mau minta tolong sama mas Fahri, anterin aku ke acara nikahannya Niki, Jan Mas Zaenal dinas keluar kota." sahut Siska mengutarakan maksud kedatangannya.
"Kapan, jam berapa?" Fahri menatap adiknya dan tersenyum saat matanya melihat perut yang sudah membesar, membayangkan jika itu Zahrani yang hamil, pasti akan sangat bahagia dan jadi moment paling berharga dalam kisah hidupnya.
"Apaan sih, mas?
Kenapa senyum senyum gitu lihat perutku?
Pasti lagi bayangin Zahrani yang hamil kan?
Cieee, ehm. Makanya buruan gas dong!" Siska ketawa meledek Fahri.
"Kamu ini. Mbok Yo kalau ngomong itu di rem!
Kalau orangnya denger gimana?
Gak pantes, bisa malu aku!" sungut Fahri yang mencebik ke arah adiknya yang masih terus menertawakan dirinya.
"Nanti sama Zahrani juga kok perginya.
Dandan yang ganteng dan wangi ya!
Siap siap belajar jadi bapaknya Aslan nanti disana, karena aku sama Zahrani mau nemenin Niki.
Gimana?" Siska Menaik turunkan alisnya, masih menggoda kakaknya.
"Gak masalah, siapa takut. Aslan anak yang pinter, juga gak pernah rewel. Nanti mau berangkat jam berapa?" tanya Fahri mengulangi pertanyaan yang sekian kalinya.
"Berangkat jam dua siang ya, Karena akadnya jam tiga sore, habis itu langsung resepsi. Niki gak mau nikah di gedung, dia mau dirumah saja." sahut Siska menjelaskan.
"Oke!
Oh iya, Niki suaminya orang mana?" Fahri mengalihkan obrolan, karena tau, adiknya pasti akan terus meledek kalau masih membahas soal Zahrani.
"Dapat orang solo, tapi kerjanya disini. Punya bisnis kuliner. Pemilik restoran kayu manis yang viral itu." sahut Siska sambil terus menatap kakaknya yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Kenapa, mas?
Mau segera punya istri lagi ya?
Buruan tembak Zahrani!
Atau mau aku bantu ngomong ke orangnya, hahahaa" Lagi lagi, Siska meledek kakaknya.
"Apa Zahrani belum ada yang deketin, Sis?
Aku kok minder. Secara hanya pegawai gaji rendah. Pasti yang menyukai dia pria berduit semua. Contohnya Samudra, terlihat masih mendamba Zahrani, dari kedua matanya dapat terlihat jelas. Meskipun samudra berusaha untuk menyembunyikan. Sebagai sesama lelaki, aku cukup paham arti tatapan sekolah dari mata Samudra pada Zahrani." Fahri mengungkapkan kegelisahannya, membuat Siska mencebik kesal pada kakaknya yang terlalu banyak berpikir dan berasumsi tanpa mau mencoba lebih dulu.
"Samudra istrinya baru melahirkan, dan Zahrani juga tidak ada perasaan kok ke Samudra. Lebih ke masalah pekerjaan saja, tapi ya itu, Samudra memang sengaja menjaga jarak, demi menjaga perasaan istrinya dan tak ingin membuat Zahrani terbebani. Mas Fahri kan tau sendiri, gimana sifat Samudra itu. Dia sangat pandai menyimpan perasaannya dan memilih mundur untuk kebaikan semua orang."
Fahri terdiam, memikirkan ucapan adiknya.
"Apa aku harus segera bicara sama zahrani, Sis?
Kalau dia menolak, gimana?
Aku belum siap kecewa untuk kedua kalinya." Fahri mengusap wajahnya kasar, teringat dulu pernah ditolak sama Zahrani saat dirinya jujur mengutarakan perasaannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️