Blurb :
Seseorang yang pernah hancur cenderung menyebabkan kehancuran pada orang lain.
Aku pernah mendengar kalimat itu, akan tetapi aku lupa pernah mendengarnya dari siapa. Yang jelas, aku tahu bahwa pepatah itu memang benar adanya. Aku yang pernah dihancurkan oleh rasa terhadap seseorang, kini telah menghancurkan rasa yang orang lain berikan terhadapku.
Aku sungguh menyesal karena telah membuat dia terluka. Oleh karena itu, aku menulis semua ini. Dengan harapan suatu saat dia akan membacanya dan mengetahui bahwa aku pun mempunyai perasaan yang sama.
Meskipun mungkin sudah sangat terlambat.
Hai, Lelaki yang Telah Kupatahkan Hatinya, tulisan ini untukmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. I'm Done
Pernahkah kau merasa hatimu melawan logika dan tidak ada satu pun dari keduanya yang mau mengalah? Mereka membuatmu linglung, plin-plan, ragu-ragu, dan entah apalagi istilahnya. Pada satu saat kau merasa sangat bahagia diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang kau cintai lagi, kesempatan yang tidak pernah kau sangka akan ada. Namun, satu detik kemudian, logika mulai membolak-balikkan perasaanmu; apakah dia ada di sini untukku? Apakah dia masih mencintaiku? Dan dia menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak mungkin. Dia di sini untuk orang yang dia anggap teman, kakakmu. Tidak mungkin untukmu. Setelah apa yang kau lakukan padanya, tidak mungkin dia masih mencintaimu.
Dulu, aku pernah menyatakan bahwa aku sudah mengerti penyebab semua keadaan dan perasaan ini; semua karena kesalahan ada di pundakku. Sedikit demi sedikit sudah kucoba terima akibatnya. Sedikit demi sedikit perasaan sudah mulai dipengaruhi logika. Sedikit demi sedikit aku berhasil meyakinkan hati kalau perasaan ini akan berakhir ketika waktunya tiba. Walaupun sulit awalnya, sedikit demi sedikit hati mulai berdamai dengan logika saat itu.
Saat itu, saat Alex tidak ada di sini. Dan sekarang keberadaannya berhasil memporak-porandakan pertahanan yang sudah kubangun sangat lama. Sejak detik pertama aku melihatnya ada di ruang tengah dua hari yang lalu. Ya Tuhan.
Hanya butuh satu detik untuk membuat hati dan otakmu bertengkar lagi setelahnya. Butuh dua hari untuk menahan perasaan dan melihat Ghani yang mulai tak sabar dengan ke-plin-plan-anku. Butuh beberapa jam setelah peristiwa “menangis karena langit terlalu cerah malam ini” hingga aku bisa memutuskan untuk meminta Ghani menemaniku berbicara dengan Alex. Kemudian aku mencoba menyusun rencana; apa saja yang akan kukatakan pada lelaki itu besok, itu pun kalau aku mempunyai keberanian untuk mengatakannya.
Me : Besok Alec mau gak ya diajakin jalan biar aku bisa ngomong sama dia?
Ghani : you’ll never know if you don’t try
Me : Wish me a good luck then
Dan aku sepertinya akan selalu butuh Ghani untuk menjadi suporter setiaku. Dan aku hanya butuh satu kesempatan lagi untuk menyudahi perasaan selama empat tahun ini. Now or never.
Berulang kali aku mengetik pesan, berulang kali pula aku menghapusnya. Ayolah, Kayra. It won’t hurt you more. Lagian ada Ghani di sini.
Oke. Aku segera mengetik kalimat yang terlintas di benakku dan seketika menyentuh tanda kirim tanpa berpikir.
Me : Lex, give me the last chance
Me : there’s something I need to say to you
Me : 3 PM at The Cafe
Me : Ghani will take you there
Sent.
Oh. My. God. No turning back. Aku segera mengirimkan pesan untuk Ghani lagi.
Me : Ghan, besok temenin aku ngomong sama Alex
****
Hari Minggu.
Walaupun besok adalah hari diadakannya resepsi kedua dari pihak keluarga kami, tidak banyak hal-hal yang perlu dilakukan di rumah karena acara akan digelar di sebuah aula kota. Mama hanya harus melakukan final checking sedangkan Papa dan keluarga besar berada di rumah untuk berbincang-bincang. Sementara itu, para Teletubbies melakukan perjalanan ke Batusangka menemani Rindu menjemput papanya. Dan aku berhasil mangkir dengan alasan mengurus beberapa keperluan. Iya, keperluan perasaan.
Semenjak bangun tidur aku tidak berhenti mengawasi waktu. Sekarang baru pukul sepuluh, masih ada lima jam lagi. Baru pukul sebelas kurang lima, masih ada empat jam lima menit lagi. Ah, sudah pukul dua belas, tinggal tiga jam lagi. Genta serta keponakan yang lain bahkan tidak berhasil mengalihkan perhatianku. Sebentar sebentar aku mencuri pandang pada jam yang ada di dinding. Ya Tuhan, aku gugup sekali. Ghani yang sedang asyik main bersama Genta pun mungkin bisa merasakan kegugupanku.
“Sabar, Tante Kakay, everything will be fine,” ledeknya sambil meneruskan kegiatan bersama anak-anak itu. Dia bahkan tak memandangku saat mengatakannya.
Sebuah dering di ponsel menghentikan observasiku pada jam dinding. Bang Rian.
Tumben pengantin baru telepon. Aku menjawabnya pada deringan ketiga. “Ya, Bang?”
“Dek, kamu lagi di mana?” Terdengar suara Bang Rian di seberang. Dia terkesan tergesa-gesa.
“Di rumah, kenapa emangnya, Bang?” Aku dan Ghani saling bertukar lirikan.
“Ghani masih di rumah, kan? Aku mau minta bantuan kalian, nih.” Bang Rian masih terdengar tergesa-gesa, akan tetapi ragu-ragu di saat yang bersamaan.
“Apa, Bang?” Kok aku jadi ikutan enggak enak gini juga, ya?
“Alex harus balik sampai Jakarta sore ini, Dek. Pesawatnya berangkat jam tiga. Aku enggak bisa anter dia ke bandara, makanya aku mau minta bantuan Ghani. Aku enggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Abang minta maaf banget, Dek.”
Penerbangan jam tiga. Janji jam tiga. Dia harus sampai di Jakarta sore ini juga.
Then there’ll be no last chance. We’re very done. I’m done.
To be continued ....
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️