Sequel 'Jodoh Si Ketos', ini kisah tentang Kevin, sahabat Galang.
Sebuah janji telah terucap ketika Kevin kecil. Dia berjanji akan menikahi seorang gadis yang menjadi teman masa kecilnya kelak saat mereka sama-sama dewasa. Kendati sampai sekarang, Kevin belum juga menemukan gadis itu namun Kevin sangat percaya bahwa mereka akan berjodoh.
Dalam proses penantian yang panjang ini, Kevin dilema dengan perasaannya yaitu harus memilih antara teman SMA nya atau gadis masa kecilnya.
Lantas siapa yang akhirnya akan Kevin pilih? Lalu bagaimana dia bisa menemukan gadis kecilnya hanya dengan mengandalkan sebuah gantungan kunci bakiak sebelah kanan?
Yuks simak kisahnya disini!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finap04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Lo jangan becanda dong, Vin!" sangkal Amir.
"Dosa Lo hal begituan dibuat becandaan." timpal Galang.
"Karena gue tau itu dosa makanya gue gak becanda." sahut Kevin.
Galang dan Amir sampai menganga mendengarnya, belum benar-benar percaya. Amir beringsut mendekati Amir, begitu pun Galang, pindah duduk ke samping Amir, jadi mereka bertiga duduk bersama di sofa panjang.
"Tapi kenapa?" tanya Galang.
"Kita udah Gak sejalan lagi." jawab Kevin.
"Ah gue gak percaya gitu aja. Selama ini gue liat rumah tangga Lo baik-baik aja." imbuh Amir.
"Apa yang kalian liat belum tentu sesuai." timpal Kevin.
"Tapi kok Lo main cerai-cerai gitu aja sih? Terus Tiara gimana?" selidik Galang.
"Tiara yang meminta perceraian ini." balas Kevin. Dari setiap ucapannya terlihat kekecewaan. Sorot matanya seperti berkaca-kaca, menampung banyak buliran bening yang sewaktu-waktu bisa meluncur bebas.
"Serius Lo, Tiara yang minta buat cerai?" kepo Amir.
"Iya. Ternyata selama ini Tiara konsumsi pil pencegah kehamilan padahal dia tau gue pengen banget punya anak, ditambah lagi Tiara jadi workholic." ungkap Kevin.
"Hampir setiap hari dia pulang malam sampai buat ngelakuin kewajiban aja selalu tidak bisa. Awalnya gue gak masalah tapi lama kelamaan makin jengah. Gue selalu meminta dia buat resign dan kita serius ikut program hamil tapi Tiara selalu menolak. Semalam gue gak sengaja nemu pil itu dari tasnya." Kevin bercerita sambil menatap ke depan. Tanpa sadar buliran bening menetes. Hatinya masih sesak, kecewa, marah jadi satu.
"Dia juga meminta gue buat nyari wanita lain kalo gue pengen punya anak." lanjutnya. Mata Galang dan Amir hampir copot mendengarnya. Sungguh mereka tidak menyangka.
"Terus apa yang sekarang akan Lo lakuin?" tanya Amir. Dia ikut merasakan kepedihan sahabatnya.
"Gue mau pindah kerja ke perusahaan kakek yang di Cina." Kevin mengusap pipinya yang basah. Keputusannya sudah bulat. Kevin akan melupakan kesedihannya dulu disini.
"Bagaimana dengan Tiara?" tanya Amir lagi. Kevin menggeleng.
"Entahlah. Mungkin dia akan terus mengejar karirnya tanpa ujung." jawab Kevin.
"Ini semua gak sepenuhnya salah Tiara sebab gue juga terlalu memaksakan dia buat punya anak padahal dia belum siap. Hati gue yang terlalu egois tanpa memikirkan dia." sambung Kevin.
"Sudah, kalian mungkin hanya butuh sendiri dulu untuk meredam ego masing-masing." Galang mengusap punggung Kevin.
"Jujur, gue iri sama pernikahan kalian yang seakan tidak ada masalah apapun. Pernikahan yang gue impikan bahkan sudah kandas." lirih Kevin sendu. Amir maupun Galang sangat merasakan kesedihan Kevin.
"Pernikahan kita tidak selamanya tanpa masalah kok, pasti ada aja masalahnya cuma bagaimana kita menyikapinya saja." ucap Amir.
"Bahkan gue kehilangan anak sebelum gue tau bahwa dia sudah hadir." Kevin kembali mengingat waktu Tiara keguguran. Tanpa bisa dicegah air matanya kembali lolos. Entahlah, Kevin menjadi rapuh seperti itu.
"Sabar. Kita emang gak bisa bantu masalah Lo tapi kita akan selalu dukung apapun keputusan yang baik buat Lo." ujar Galang yang diangguki oleh Amir.
"Terimakasih. Kalian emang sahabat baik gue." Kevin berusaha menampilkan senyumnya.
Amir merangkul Kevin terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Galang. Cukup lama mereka berpelukan. Tidak ada gengsi bagi mereka untuk menyalurkan sebuah perasaan terlebih ini adalah sebuah dukungan untuk sahabatnya.
"Sore ini gue mau langsung berangkat ke Cina." beritahu Kevin setelah pelukan mereka terlepas.
"Secepat itu?" tanya Galang.
"Iya. Gue ingin menenangkan diri juga." jawab Kevin.
Galang dan Amir paham betul. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka yang berada diposisi Kevin, akankah lebih baik atau lebih buruk.
"Sampaikan salam gue buat anak-anak kalian. Gue gak bisa ketemu mereka dulu." imbuh Kevin.
"Setiap gue ketemu Cyra atau Asha, obsesi dalam diri gue buat punya anak semakin membuncah, dan gue gak bisa kontrol itu." jelasnya.
"Iya gak papa. Nanti gue sampein pada mereka." Tukas Amir.
"Lo bisa anggap mereka anak Lo, kok. Gue gak akan larang Lo lagi kalo mau cium-cium Cyra." imbuh Galang.
"Terimakasih!" Kevin tersenyum pada kedua sahabatnya.
Setelah puas berbincang, curat dengan nasib pernikahannya, Kevin undur diri untuk bersiap berangkat ke Cina.
Siang sudah berganti malam. Tiara masih berkutat dengan pekerjaannya padahal sudah pukul 9 malam.
Krek Krek Krek!
Tiara melonggarkan otot-ototnya yang terasa kaku sebab seharian ini dia sangat sibuk bahkan tidak sempat makan siang.
Tangan Tiara merogoh HP yang sedari tadi tersimpan di dalam tas. Dilihatnya begitu banyak panggilan dari Shabita. Tiara tidak bisa mendengarnya karena HP itu di silent, dia lupa mengatur ke mode dering.
Perlahan Tiara membuka aplikasi chat yang terdapat chat dari Shabita. Matanya melebar denag mulu mengatup, kepala menggeleng, tangan bergetar.
["Kevin ke Cina sore ini. Kata Galang gak tau kapan kembali lagi"]
Begitulah isi chat dari Shabita yang membuat Tiara menangis saat ini. Dari semalam dia bahkan tidak menghubungi Kevin dan sekarang Kevin malah meninggalkannya.
Tiara kembali mengatur napasnya supaya tidak kalut. Jarinya mengotak-atik mencari kontak Kevin kemudian dipanggil tetapi sayang sekali nomor Kevin tidak aktif. Berkali-kali Tiara mencoba tetap tidak aktif.
"Ah mungkin Kevin masih dalam perjalanan." pikir Tiara berusaha tenang.
"Besok aku harus menghubunginya lagi." ucap Tiara.
Wanita itu terus berusaha berpikiran positif, besok dia optimis bisa menghubungi Kevin. Tiara sangat yakin.
Karena kerajaannya belum selesai, Tiara kembali melanjutkan kerajaannya padahal pikirannya sudah tidak fokus lagi namun Tiara tetap melakukan itu hingga pukul 11 malam.
lanjut lg dooongs thoorrr 😁
lanjuuuuttt tthooorrrr 😍
mudah2an si gita ga akan macem2 🤭
kyanya bakalam bnyk halangan rintangan neh cerita kevin dan tiara
mudah2 tiara yg jd temen kecil kevin 😍
kasian amat tiara 😰
lanjuuuuuttt thoorrrr 😍