Indonesia
NovelToon NovelToon
8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / CEO / Tamat
Popularitas:97.2k
Nilai: 5
Nama Author: jovinka_ceva

Menjadi seorang walikota dengan status duda ternyata tidaklah mudah bagi seorang Prawira Hadinata. Ditambah masa lalunya yang kelam terpaksa membuat Wira menjalani masa jabatannya sebagai "Walikota Boneka".

Karena terdesak untuk memenangkan hati investor dan bersaing dengan mantan istrinya, Wira terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ajeng, seorang wanita asing yang baru saja ditemuinya.

Demi memenuhi tujuan masing-masing, keduanya sepakat untuk bekerjasama hanya pada jam kerja Pemkot Carang Sewu yakni setiap pukul delapan pagi sampai empat sore.

Lalu bagaimana ceritanya jika Wira tiba-tiba tahu bahwa istri kontraknya ternyata adalah anak presiden yang sedang melarikan diri? Dan apakah Ajeng sanggup menerima masa lalu Wira yang mengerikan?



Notice!!!
Cerita ini FIKTIF belaka. Sama sekali tidak berhubungan dg sejarah & instansi manapun.

Para penggemar cerita berbobot, yuk merapat!!

jangan lupa tinggakan LIke & KoMEN kalian yak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jovinka_ceva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerja! Kerja!

Wira kembali teringat perkataan Galang ketika menemaninya membereskan masalah Tegar waktu itu.

“Lang, apa sudah ada kabar soal Pak Edi? Kapan dia akan dibebaskan? Berapa jaminan yang mereka minta?”

“Lapor Pak! Pak Edi akan diadili dan ditahan.”

“Bukannya Pak Rega sudah ke kantor polisi?”

“Benar Pak, Pak Rega memang datang ke kantor polisi sesuai permintaan Bapak. Tapi bukan untuk membebaskan Pak Edi, melainkan memberikan kesaksian yang memberatkan Pak Edi.”

“Sial! Keterlaluan banget tuh orang.”

“Apa ada yang perlu kami lakukan, Pak?”

“Jangan! Kalian tidak boleh terlibat dalam masalah ini. Tetap bersikap normal seperti biasanya. Jangan memicu kecurigaan apapun dan tetap awasi dia!”

“Baik, Pak.”

***********

Sore itu, Ajeng duduk termenung di dalam kamarnya, memikirkan kembali kenapa ia sampai berbuat sejauh itu hanya demi uang yang tidak seberapa, jabatan yang semu dan status yang palsu. Ia meringkuk di atas kursi sambil meneggelamkan wajahnya ke dalam lengannya. Ia seolah lupa siapa dirinya dan untuk apa dia berada di sana.

Ajeng tahu bahwa ia sudah cukup puas menikmati semua kebebasan yang diinginkannya. Tapi sekarang, ia malah merasa enggan untuk kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya. Terlebih lagi harus menikahi orang yang tidak dikenal dan dicintainya.

Hari berlalu dan rasa penasaran orang-orang terhadap Ajeng juga semakin besar. Isu tentang latar belakang Ajeng dan hubungannya dengan Wira jadi kian melebar kemana-mana. Ajeng bahkan tidak sengaja mendengar para pegawai yang mempertanyakan kenapa Ajeng dan Wira tidur di kamar terpisah.

(Apa kamu ngga mau ninggalin dia karena cinta?)

Pertanyaan Dito itu terus saja terngiang-ngiang di telinga Ajeng. Ia sendiri penasaran dengan jawabannya. Untuk seorang gadis bangsawan dan terdidik seperti Ajeng, terlalu tidak masuk di akal untuk mencintai orang asing yang baru saja dikenalnya. Dengan dalih dan alasan apapun itu sungguh tidak masuk akal. Apalagi mereka bersama hanya karena ikatan kontrak pernikahan yang semu dan penuh kepura-puraan.

Tapi semakin hari, bukan amarah ayahnya yang justru ditakutkan Ajeng, melainkan hari dimana ia harus pergi meninggalkan Wira dan berpisah untuk selamanya. Ajeng merasa tidak memiliki tujuan hidup lain setelah itu. Entah apa yang dipikirkannya, tapi semua rencana yang ada di benak Ajeng dipenuhi dengan nama dan kehadiran Wira.

“Ini gila.” Gumam Ajeng sambil memukul-mukuli kepalanya sendiri. “Lo ngga boleh sebego ini Ajeng. Sadar! Sadar! Wira itu bukan siapa-siapa elo dan dia ngga ada perasaan apa-apa sama elo.”

Ajeng bangun dan beralih ke tempat tidur. Tidak seperti biasanya yang selalu saja punya acara untuk bersenang-senang setelah jam kerjanya berakhir, sore itu Ajeng hanya ingin menenggelamkan dirinya di tumpukan bantal sambil meratapi betapa bodoh dan malangnya ia sekarang.

“Ngga Jeng! Lo ngga boleh kaya gini! Lo harus kuat dan lo harus profesional. Lo hanya perlu berbuat yang terbaik untuk banyak orang sampai saatnya lo pergi.” Ujar Ajeng menyemangati dirinya sendiri.

“Ngga masalah kalau besok pelarian lo berakhir. Lo tetap harus kasih yang terbaik buat mereka. Mereka harus inget kalau lo pernah ada dan memberikan banyak manfaat untuk mereka.” Ajeng kembali meyakinkan dirinya sendiri.

Ia kemudian bangun dan mulai mengambil kertas dan pena, menulis materi yang ingin disampaikannya, menuangkan semua gagasan yang ia ingin semua orang dengar dan pahami.

“Gue Ajeng. Gue ngga perlu menunggu dan bergantung sama siapapun.” Gumam Ajeng sambil menulis ide-idenya di atas kertas.

Merasa tidak puas dengan tulisannya, Ajeng pindah ke ruang kerja Wira dan mulai menyusun makalah dengan mesin ketik yang ada di sana.

Ajeng berkali-kali melakukan revisi dan mengetik ulang makalahnya yang tidak bisa di delete, copy dan paste seperti ketika menggunakan komputer. Jadi dengan segenap kesabaran yang masih tersisa, Ajeng menulis lagi dan lagi, menghapu, lalu mengulang lagi dan lagi sampai ia merasa puas dengan apa yang dikerjakannya.

*****************

Wira baru saja pulang dan menanyakan keberadaan Ajeng kepada Bi Sumi.

“Bu Ajeng dari tadi di ruang kerja, Pak.”

“Makasih ya, Bi.”

Wira mengintip keberadaan Ajeng dan cukup tercengang melihat Ajeng bersedia bekerja di luar jam kerjanya. Wira kemudian mengetuk pintu dan meminta ijin Ajeng untuk masuk.

“Lagi ngapain Jeng?” tanya Wira ketika melihat kertas dan pita mesin bekas mesin ketik berserakan di lantai.

“Nanti aku beresin.” Celetuk Ajeng sambil terus fokus menulis.

Wira tersenyum lalu menggulung lengan kemeja panjangnya dan mulai memungguti kertas-kertas yang berserakan di lantai. Ia membaca potongan ide yang Ajeng tuangkan di sana dan sangat takjub mengetahui wawasan gadis tengil itu ternyata seluas dan sedalam itu.

Saking fokusnya menulis, Ajeng tidak sadar bahwa lantai ruang kerjanya sudah kembali rapi dan bersih.

“Diminum dulu, Jeng.” Ujar Wira sambil membawakan jus buah tanpa gula kesukaan Ajeng.

“Eh, Mas Wira. Bikin kaget aja.” Sahut Ajeng yang baru menyadari bahwa Wira sudah membantunya berberes dan bahkan membuatkan minuman untuknya.

Ajeng mengambil gelas yang disodorkan Wira, menyeruputnya sedikit lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Wira yang tidak ingin mengganggu, hanya duduk tenang sambil bersendekap di samping Ajeng dan mengamati semua yang gadis itu sedang lakukan.

Tak hanya yang Ajeng lakukan saja, tapi bagaimana ekspresi dan kecantikan Ajeng yang terpancar indah di matanya setiap kali gadis itu bicara dengan wajah berbinar dan penuh semangat mendiskusikan isi pikirannya dengan Wira. Juga bagaimana ia menggelung rambut panjangnya dan menusuknya dengan pensil yang tergeletak di meja. Semua hal kecil yang Ajeng lakukan membuat hati Wira bergetar dan senyum Wira merekah.

Setelah puas memandangi Ajeng yang menggeliat sambil menguap, Wira beranjak mandi dan beristirahat.

“Mas Wira mau kemana?”

“Mandi. Ikut?”

“Tunggu sampai aku selesai! Dikit lagi kok.”

Wira terpaksa kembali ke tempat duduknya dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, memperhatikan Ajeng, pemandangan paling indah di matanya, dengan seksama.

*****************

1
Ersa
🌹🌹🌹🌹
Ersa
alhamdullillah akhirnya Bara ketemu jodohnya
Ersa
Bukannya tobat malah mantan ibu negara bundir demi harkat martabat🤭
Ersa
kaaan feeling aku sing reader bener🤭. Selena inilah awal Mula penderitaan ajeng
Ersa
laahh bapaknya Bara si musuh dalam selimut. Politik: tdk ada teman yang ada adalah kepentingan
Ersa
suryo memutus hubungan dg ajeng mungkin krn ditekan. aku Masih negthink ke Selena akar muara dalang carut marut ini
Ersa
gak sabar pengen lihat raga menuai balasan
Ersa
Selena nih dalangnya🤔
Ersa
kakek nenek ini jgn2 dulu adalah pelayan dyah sekar (ibu ajeng)
Ersa
ibu negara tapi jahat
Ersa
alhamdullillah akhirnya restu Mr. President turun juga
Ersa
meski ajeng tdk beruntung memdapatkan cinta keluarga tirinya tetapi ajeng dicintai tulus omah Bara & Wira dgn cara serta pengorbanan masing2. semoga Bara bisa bertemu jodoh yg cinta & tulus padanya
Ersa
ini novel kereeennnn👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Ersa
Luar biasa
Sri Murtini
waah ini tokoh jail muncul knp nggk sadar sudah rebut suami orang masih jahat sama putrinya
Sri Murtini
kejamnya politik tega pd anak kandung
untung ajeng dan wira punya prinsip yg kuat.membangun masyarakat tanpa pamrih
Sri Murtini
lihat kpn wira beraksi aplg istri setia disampingnya. ayo wira tunjukan dirimu jgn mau di remehkan
Sri Murtini
semangat dito kau harus memperbaiki lingkungan spt ajeng wira. semangati kakek biar pjng umur
Sri Murtini
ngapain hayo pdhl saling urut krn kecapaian
Sri Murtini
woy mau ngapain kamu ke ajeng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!