Karena kepolosannya Masayu Wulandari harus menelan pil pahit, ia harus menjalani kehamilannya di usia 15 tahun, dimana teman-temanya masih meraih mimpi, ia harus mengubur mimpinya.
Namun menikah muda karena sebuah insiden, membawa dampak yang sangat buruk bagi Ayu dan Dimas serta keluarga mereka. Apa yang akan Ayu lakukan, menggugurkannya atau menjalani kehamilannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpio Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Besok , ketika kamu sudah sampai disini. Kamu absen disini ya. Terus ingat jari yang kamu tempelin disini adalah jari telunjuk kanan kamu. Soalnya kalo pakai jari lain, bisa tertolak aksesnya” ujar Ibu Nina menjelaskan.
“Baik Bu, terima kasih atas penjelasannya.”
“Iya sama-sama, selamat bergabung ya, semoga kamu bisa betah di perusahaan ini” ujar Ibu Nina ramah.
Setelahnya Ayu pamit dan pulang dari kantor tersebut. Ayu sangat senang sekali, akhirnya ia dapat kerja dan bisa membelikan Dela kue ulang tahun di ulang tahunnya nanti.
Ayu pulang dengan menggunakan ojol. Karena tadi ia satu motor dengan Ibu Munah. Ibu Munah tidak pulang bersamanya karena Ibu Munah langsung berkerja. Ayu hanya memberitahukan Ibu Munah lewat WA jika ia sudah di terima kerja dan bisa mulai berkerja besok.
Ayu sampai di rumahnya. Ia melihat Dela sedang bermain di luar dengan neneknya. Ayu menghampiri keduanya.
“Assalamualaikum Bu” Ayu langsung mencium tangan dengan takzim.
“Walaikumsalam, kamu udah pulang. Gimana tadi hasil interviewnya. Kamu diterima?” tanya Ibu Lisa penasaran.
“Diterima Bu, Alhamdulillah. Besok aku udah disuruh masuk. Aku masuk jam enam pagi. Jam enam pagi udah sampai kantor buat absen” ujar Ayu menjelaskan dengan senang sekali.
“Alhamdulillah rezekinya Dela. Yudah besok jangan sampai telat. Yudah yuk kedalam , udah waktunya makan siang” ajak Ibu Lisa.
Setelah itu Ayu menggendong Dela dan membawanya masuk ke dalam.
***
“Sibuk banget Pak Bos sepertinya” ujar Gani jahil kepada Adrian yang sedang memeriksa berkas.
“Ada apa kesini?” tanya Adrian to the point.
“Mau minta tanda tangan, lu kayaknya semenjak mantan istri lu meninggal. Lu jadi gila kerja. Lu enggak mau nikah lagi?” tanya Gani penasaran.
“Enggak minat, gue mau fokusin untuk bantu kakak gue dulu. Soalnya dia udah nyerahin perusahaan ini sama gue. Dia lagi dirawat di rumah sakit karena jantungnya semakin parah” Adrian langsung memberikan berkas yang tadi Gani kasih kepadanya. Karena berkas tersebut sudah ia baca dan ditanda tangani olehnya.
“Oh, terus nasibnya cewek yang pernah lu beliin baju hamil gimana?” tanya Gani penasaran.
“Gue enggak tahu keberadaan dia sekarang dimana. Yudah gue mau kerja lagi. Lu enggak usah kebanyakan tanya ama gue. Udah kayak lambe turah” usir Adrian kepada Gani supaya meninggalkan ruangannya.
“Iya..iya makasih ya bos, saya pamit” setelah itu Gani keluar dari ruangan Adrian.
***
“Apa Bapak ada wali yang nungguin Bapak disini?” tanya salah satu perawat yang merawat Batara.
“Tidak ada suster, memang ada apa?”
“Tidak ada apa-apa pak. Saya permisi dulu” ujar perawat tersebut dan meninggalkan ruangan Batara.
Batara akhir-akhir ini kondisi tubuhnya semakin menurun. Ternyata Batara selama ini mengidap kelainan jantung. Namun, ketika ia menghadapinya anak dan istrinya malah meninggalkannya.
Batara baru mengetahui jika selama ini istrinya berselingkuh dibelakangnya dengan seorang gigolo dan anaknya Gio pun juga menjadi gigolo.
Batara sedih kenapa keluarganya bisa sehancur ini. Disaat ia sakit seperti ini yang menemaninya hanyalah sepi.
Batara dibawa ke rumah sakit oleh pelayannya, karena jatuh pingsan di ruang tamu. Setelah itu ia dilarikan ke rumah sakit. Pelayannya memberitahukan kepada Adrian jika ia dirawat di rumah sakit.
Adrian yang mengurus semuanya. Adrian juga sudah menyerahkan perusahaan milik oranr tuanya kepada Adrian. Karena hanya Adrian satu-satunya keluarga yang ia punya dan tidak meninggalkannya.
Batara menghubungi pengacaranya Pak Bayu untuk menemuinya di rumah sakit. Batara akan mengubah isi warisannya.
Bayu pun sudah sampai di depan ruangan Batara. Ia masuk dan duduk di sofa di dalam ruangan perawatan Batara.
Bayu langsung memberikan draft isi warisan kepada Batara. Batara pun membaca satu-satu point yang ada di dalam surat warisan tersebut.
“Pak Bayu, saya mau seluruh harta saya jatuh kepada Monalisa dan anaknya Masayu. Untuk Sandra dan Gio berikan saja rumah yang ditempati oleh saya sekarang. Jika mereka protes, laporkan saja mereka ke polisi. Karena saya sudah kecewa sekali kepada mereka berdua” ujar Batara kecewa terhadap anak dan istrinya.
“Tapi maaf pak, Monalisa dan Masayu itu siapa?”tanya Bayu kepada Batara.
“Mereka istri dan anak saya juga. Mereka sudah saya sia-sia kan selama belasan tahun. Mungkin harta yang saya berikan kepada mereka tidak bisa membuat mereka memaafkan saya. Saya tau, saya terlalu zalim kepada mereka. Jadi saya akan mengganti isi dalam surat warisan saya dengan nama mereka” ujar Batara lemah.
“Baik pak, nanti saya akan merubah isi warisannya dengan nama yang Bapak inginkan. Saya permisi dulu Pak. Juga semoga Bapak cepat sembuh” ujar Bayu sopan.
“Terima kasih Pak Bayu.”
Setelah itu Bayu pergi meninggalkan ruang perawatan Batara.
***