Takdir memang akan selalu membawamu pada jalannya, mau sejauh apa kita berpisah, mau sebanyak apapun orang yang kita temukan, aku akan selalu menemukan kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baiq Olivia_D, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pertemuan
Pukul 21:30 WITA. Bunda menutup warung makan lebih cepat dari biasanya. Bi Siti juga setelah membantu Bunda menutup warung langsung pamit untuk pulang. Bunda selesai membuat bubur beras untuk Ale. Bunda kemudian.membawa bubur tersebut menuju kamar Ale.
Bunda melihat putri sulungnya itu terbaring lemah di kasur. Bunda meletakkan bubur tersebut di atas meja belajar Ale kemudian bunda menuju kasur lalu duduk dan mengelus - elus kepala putrinya itu. Ale yang sadar seseorang tengah mengelus kepalanya langsung terbangun. Dia membuka mata pelan dan mendapati bunda tengah duduk di sampingnya.
"Bunda ..." lirih Ale pelan.
"Sudah bangun, Nak?" tanya Bunda.
Ale kemudian mengangguk pelan.
"Makan dulu yuk ... Kaka harus minum obat. Bunda sudah membuatkan bubur hangat," ucap Bunda sembari membantu Ale untuk duduk.
Bunda menyuapi Ale bubur dengan penuh kasih sayang.
"Sudah mendingan kakak?" tanya Bunda sembari menyuapi bubur pada Ale.
Ale kemudian mengangguk, "Demamnya sudah turun," jelas Ale sembari memegang keningnya.
"Syukurlah. Sekarang habisin buburnya dulu ya terus minum obat lalu Kaka bisa tidur lagi," ucap Bunda.
Ale kemudian mengangguk sekali lagi. Dia menghabiskan bubur yang disuapi bunda lalu setelahnya meminum obat yang juga telah Bunda siapkan.
Selesai menyuapi Ale, Bunda kemudian meninggalkan Ale sendirian untuk beristirahat. Tak sedikitpun Bunda ingin menyinggung masalah Bagas karena dia masih prihatin dengan kondisi putrinya yang masih belum fit.
Setelah Bunda keluar kamar, Ale tidak langsung tidur. Ale belum mengantuk karena dirinya sudah terlalu lama tidur dari tadi. Ale duduk di atas ranjang dengan pikiran yang masih tentang Bagas. Tiba - tiba matanya tertuju pada boneka kelinci yang diberikan Bagas.
Ale turun dari ranjang, menghampiri boneka kelinci itu lalu mengambilnya. Ale melihat jendela kamarnya yang belum ditutup. Dia kemudian berjalan menuju jendela kamar membawa boneka kelinci itu.
Niat hati ingin menutup jendela kamar namun sapaan angin malam lembut karena di belakang sawah membuat Ale mengurungkan niatnya. Dia menarik kursi yang ada di samping jendela lalu memutuskan untuk duduk disana sambil memperhatikan boneka kelinci putih itu.
Ale berkata, "Agas ... maafin gue ya. Gue jahat ya Gas? gara - gara gue lo jadi kecelakaan, gara - gara gue lo terbaring di rumah sakit. Dan parahnya gue gabisa apa-apa disini ... bahkan buat jenguk lo aja gue gabisa hiks," Ale menangis lagi.
Memang se sensitif itu hatinya. Zodiak pisces memang begitu, kan kebanyakan?.
Ale terdiam sebentar, memutar cara bagaimana agar ia bisa menemui Bagas. Tiba - tiba terlintas di pikiran Ale.
"Besok pagi kan gue ga sekolah, gue bisa diam - diam ke rumah sakit ketika jam sekolah karena pasti Stevy tidak akan ada di rumah sakit! Papa Bagas pasti juga sibuk bekerja. Iya, iya bener! besok pagi gue bakalan ke Rumah Sakit." Katanya bersemangat sambil menutup jendela kamarnya.
Alhasil Ale lebih memilih untuk memaksakan dirinya tidur, karena besok pagi harus ke rumah sakit diam - diam. Agar tubuhnya bisa lebih fit untuk pergi ke rumah sakit. Ale meletakkan kembali boneka kelinci itu sambil berkata,
"Tungguin gue besok pagi ya gas, lo harus sadar!" Ia kemudian lekas mematikan lampu dan kembali memaksakan diri untuk tidur.
...----------------...
Keesokkan harinya. Setelah selesai merapikan warung di bantu Bi Siti ... Bunda pun langsung bergegas membangunkan Ale dan membawakan bubur lagi untuk Ale.
"kakak ... sudah pagi, bangun dulu yuk! sarapan dan minum obatnya sekali lagi," kata Bunda sambil menaruh bubur lalu berlalu membuka gorden jendela di kamar Ale.
Ale yang kesilauan dengan sinar matahari langsung terbangun. Sama seperti kemarin malam, Bunda menyuapi Ale Bubur dan meminta Ale meminum obat.
"Bunda Ela mana? Berangkat sama siapa dia sekolah?" tanya Ale.
"Bunda sudah memesankan Ela Gojek. Jadi sudah diantarkan sekolah sama bapak gojeknya," jelas Bunda.
Ale pun mengangguk paham.
Setelah selesai menyuapi Ale, Bunda kembali menuju warung untuk membantu Bi Siti melayani pembeli. Warung Bunda memang tidak pernah sepi apalagi pagi-pagi begini sedang jamnya anak kos yang dapat jam kuliah pagi untuk sarapan sebelum ke kampus.
Ale melirik jam dinding ternyata sudah pukul setengah sembilan pagi. Dia mengingat rencananya kemarin malam yang ingin menemui Bagas. Segera dia mandi meskipun masih kurang sehat.
Beberapa menit kemudian sudah pukul 9:15 pagi. Ale pun langsung menelfon gojek. Dia meminta gojeknya menunggu di jalan raya saja karena jika di halaman rumah, nanti Bunda akan tahu dan akan marah. Ale melirik ke warung sebelum dia pergi, terlihat Bunda dan Bi Siti masih melayani pembeli. Ale diam-diam mengendap lewat pintu belakang keluar dari rumah lalu menemui gojek yang ia pesan.
"Mba Aleasyaza ya?" tanya Mas Gojek.
"Iya Mas," jawab Ale.
"Mau di antar kemana, Mba?"
"Rumah Sakit Provinsi."
Mas Gojek kemudian melajukan motornya. Beberapa saat kemudian sampai di rumah sakit provinsi.
"Berapa Mas?" tanya Ale.
"15 Ribu Mba," jawab Mas Gojek.
"Terimakasih ya," ucap Ale sambil menyodorkan uang.
Mas Gojek lalu menerima uang setelahnya langsung pergi dan Ale masuk ke dalam rumah sakit.
Saat ini dia tidak membawa apapun ke rumah sakit, niatnya hanya ingin menemui Bagas sebentar aja ... Untuk mengobati rasa penasarannya akan kondisi Bagas. Oiya, Ale ingat, Bagas sudah operasi, otomatis tidak lagi di ruang IGD.
Ale kemudian berjalan ke meja registrasi, bertanya ruangan Bagas dimana.
"Permisi Mba, ruangan atas nama Bagas yang kemarin operasi akibat kecelakaan," jelas Ale.
"Sebentar ... ada di ruang VIP Dahlia nomor 07 di lantai 2," ucap perawat yang ada di meja registrasi sambil membuka buku yang sepertinya adalah daftar nama pasien yang sedang dirawat di sana.
"Makasih," jawab Ale lalu pergi.
Ale menuju ke lantai dua menggunakan lift, dia sedikit tidak paham cara menggunakan lift namun untung saja ada satpam disana.
"Permisi Pak, saya mau ke lantai dua tapi saya tidak bisa pake lift ini .. mohon dibantu," ucap Ale.
Satpam yang bertugas kemudian mengaturkan Ale menuju ke lantai dua. Ale melihat dengan cermat cara satpam menekan lift dan menjelaskan padanya cara menggunakan lift agar nanti saat akan pulang dia bisa menggunakan lift.
"Terimakasih, Pak." Ucap Ale yang kini masuk ke dalam lift.
"Sama - sama." Ucap satpam tersebut.
Ale kemudian sampai di lantai 2. Dia membaca setiap ruangan yang ada disana berharap menemukan ruangan Dahlia nomor 07, setelah lelah mencari ternyata ruangan Dahlia itu berada di paling ujung.
Ale secara diam - diam masuk ke kamar Bagas memperhatikan takutnya dia bertemu Stevy atau Papanya Bagas namun saat masuk ruangan syukurnya tidak ada Stevy ataupun Papanya Bagas namun ada seorang perempuan tua disana ... Kira - kira dia siapa?.