Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Sesiopat

Suami Sesiopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Identitas Tersembunyi / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna why

Nada Rosselind Pengacara muda berbakat harus terjerat pernikahan dengan CEO Erik Austhin. Pria dingin yang tidak pernah merasakan rasanya jatuh cinta.

Tanpa disadari itu adalah pertemuan kedua setelah sembilan tahun berlalu. Pernikahan sukses yang dilalui membuat Erik tidak ingin orang lain atau sesorang dari masa lalu merenggut keluarga harmonisnya.

Manusia baik-baik saja belum tentu jalan yang dilalui akan mulus. Lantas mungkinkah manusia bermasalalu kelam kemulusan akan terus menghampiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna why, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Sesiopat Bab 32

"Katanya ... tidak ada sahabat pria, wanita tanpa melibatkan perasaan," ucapnya bergemuruh, menyembunyikan gurat khawatir di dada. Matanya tenggelam mengamati warna coksu bertutup hitam di genggaman. Tumbler coffee shop dini pagi tadi.

Dengan langkah tenteram Jo bertanya, "Menurutmu, apa begitu?"

Wanita berkuncir kuda itu tidak menjawab, selain menyelakan bertatap wajah dengan Jonathan, pria berkulit putih pucat terang bak rembulan. Dihiasi senyum Stefani yang menggantung, sebagai kartu kuning supaya berpikir sendiri.

Jo masih setia menarik langkah dengan diam membisu sebelum akhirnya memutuskan membuka suara. "Jangan cemas aku tidak seperti itu."

Stefani tergelak untuk tidak tersenyum, nyatanya ia dominan sakit dari pikiran. Kini, langkah kakinya semakin mantap, berjalan beriringan dengannya, Jonathan Akaryaning. Meninggalkan taman yang sering dijadikan rest area orang-orang.

Lengan lentiknya menarik secuil kemeja putih milik Jo. "Nada, 'kan itu?" Pandangannya terpaku di mobil hitam berkilat plat B yang di sisinya kedapatan rivalnya tengah membungkuk berbicara dengan seseorang, layaknya bercengkrama dengan sopir taksi driver.

Jo pun ikut terpikat apa yang wanitanya lihat, pendengarannya nanar dengan hunjaman pertanyaan Stefani.

"Tebakanku dia suaminya, ah kupikir Nada menikahi pria kejam. Nyatanya pemilik ACRO itu sayang istri juga," gumamnya. Stefani memilih mengomentari dari kejauhan, tempat poster 'main hakim sendiri berujung tindak pidana. Ingat dan jangan bangga! Hasil korupsi bukan rezeki.' Tulisan bercetak tebal bertengger di depan pintu masuk.

"Bukan'kah kamu belum pernah bertemu Tuan Erik ya Jo, sejak awal mereka berumah tangga?" Pandangan Stefani terasa enggan berpaling.

"Mau samperin?" tanyanya konyol.

"Atau harus'kah kita menunggu disini? Atau—"

Suaranya terpotong di udara, lengannya diseret tiba-tiba. Ia dibawa masuk ke lantai verifikasi.

"Jo! Ada apa?!"

"Lepas Jo! Lepas, kamu menyakitiku!"

Jo tetap tuli.

"Kamu membuatku takut, Jonathan!" Stefani mulai memekik, membuat Jo menyudahi pemaksaan padanya.

Langkah gusar Jo tercekat, kakinya seperti dipaku oleh perkataan Stefani. Pintu lift yang terlanjur ia buka mendadak tertutup kembali.

"Sengaja kamu Jo? Kamu menghindar dari Nada atau malahan ... suaminya?" lirih Stefani di pangkal kalimat, matanya yang menghunus tidak menutup kecurigaan pada pria bergaya klasik.

"Masuk!" bentak Jo tak peduli dengan jabatan.

Hingga Stefani tersentak, hatinya berdesir sakit saat bentakan yang dahulu kembali melintas di ingatan. Situasi yang lengang membuat siapapun tidak mendengar kebisingan keduanya. Langkah Stefani terlanjur menurut, ia berdiri mematung memandangi tombol angka tujuan mendarat. Ia pasrah akan dibawa ke mana.

Lengan berotot Jo menekan angka empat, lantai layanan penegak keadilan dalam rumah tangga.

Perasaan Stefani yang selalu melempem seperti kerupuk membuatnya tidak bisa melawan. Ia buntu. Jemari lentik nganggurnya terasa digenggam oleh sesuatu yang menjadikannya melayang, hembusan napas menyapu area kulit, kenyal bak boba hangat. Memberi kecupan bermakna yang sulit dijelaskan, kecupan itu membekas sampai ia geli hati.

"Jangan risau, hanya kamu ... tidak ada yang lain," katanya pelan, hidung sempurna Jo ia tempelkan di telinga beranting yang tidak tertutup surai hitam. Membuat aliran darah merah dan putih tersumbat, Jo merayunya.

Senyumnya merekah kembali, ia tergelitik mengecup pipi seorang pria dihadapannya itu. Imbasnya, puncak kepalanya berantakan oleh ulah Jo.

"Gantian!"suruhnya manja nan mendayu.

Jo mendekatkan kembali di wajah Stefani, seolah ia akan kembali menggodanya. Namun tubuh rampingnya terhuyung akibat dorongan tenaga dalam Jo yang kuat.

"Astaga—"

Stefani kalang kabut, pintu lift terbuka. Menampilkan sejumlah pekerja yang menyaksikan aksinya. Entah mereka melihat tindakan keduanya, ia berharap tidak ada yang berprasangka seperti dalam pikirannya. Hubungan ini harus rapat.

"Ma–maaf Pak Jo, sa–saya tidak sengaja," ucapnya memandangi tumpahan kopi dan baju Jo yang bersih secara bergantian. Salah satu penonton dan penumpang di ruang lift geleng kepala karena sikap Stefani yang ceroboh menumpahkan minuman bernoda.

......................

"Sekitar ...." Nada berpikir sejenak.

"Sembilan malam, aku tunggu," putusnya yakin, setelah menatap jam mungil dipergelangan tangan berbalut plaster.

"Mm, apa terlalu larut?" tanya Nada berbicara tak enak hati.

"Tidak masalah, tetap akan kujemput," tangkas Erik menggenggam setir kemudi, mengunci tatapan mata bening berair agak sayu.

"Segitu dulu, sampai jumpa kembali," pamit Nada menutup pintu.

"Oh ya hampir lupa, temui aku di lantai tiga nomor satu," imbuhnya membuka kembali daun pintu mobil. Kemudian Erik melenggang pergi, setelah menolak tawaran Nada untuk memperkenalkan sahabat kerjanya. Jo maupun Miaw.

......................

Jepretan flash kamera menyorot di wajah tampan bak pangeran pelit senyum, beberapa Fotografer memusatkan ke arah tanda tangan pengesahan akuisisi perusahaan tambang. Tertulis di bawahnya Erik Austhin, Chief Executive Officer 'CEO' 'Pejabat Tertinggi Eksklusif' Austhin Group.

"Selamat Tuan, saya mengaku kalah." Pria paruh baya mengulur tangan untuk berjabat secara resmi di depan awak media.

Dengan gagah Erik menyambut, tidak terlukis di wajahnya meski seutas senyum.

"Saya relakan dan percayakan perusahaan ini pada Anda, Tuan Erik," ujar Wijaya pemilik tambang batu bara terbesar yang hampir jatuh bangkrut.

Seseorang mendekat ke arahnya, tidak lain Dava Pangestu. Dava membisikkan sesuatu.

Lelaki gentle yang terus dibebani oleh Erik, kini ia seorang Manager perusahaan baru ini, tetapi tak menutup kemungkinan ia tidak lagi ditugaskan yang aneh-aneh oleh sang majikan.

"Kalau aku menolak, bagaimana?" lirih Erik.

"Akan lebih baik diwawancara, Pak."

"Suruh jangan sekarang!" titah Erik menatap sekilas para Wartawan yang memaksa menerobos masuk.

Dava mengangguk, meninggalkan acara peresmian untuk mengantarkan pesan pada Security.

Saat duduk bersama di meja bundar berisikan aneka sajian, Keduanya saling bertukar pikir mengenai ekspansi. Wijaya merasa nyaman dan menguntungkan bila ia bisa meraih hati pemuda ini, pikirnya.

"Walaupun terlambat saya turut berduka atas kepergian Lucas," ucap Wijaya yang telah kehabisan pembicaraan, ada sesuatu yang harus ia sampaikan.

"Itu sudah berlalu, saya hanya ... meminta untuk jangan dikenang kembali."

Wijaya tertawa sumbang, seolah ia pura-pura tidak tahu tentang skandal keluarga Austhin yang kini, hanya tersisa satu orang masih hidup seperti sebatang kara.

"Kalau Rosma—"

Erik sesumbar, membunyikan sendok di piring dengan keras. Membuat Wijaya yang bertabiat melangit tersentak.

"Tuan, setelah pembagian saham selesai. Besar harapan kita tidak lagi berurusan," tegas Erik. Dia mengiris daging dengan kasar, seolah dia sedang mengoyak mulut pria tua itu. Hingga Wijaya menelan saliva dengan susah payah kala pisau stainless merobek sadis sebuah daging merah.

"Ah ... sepertinya saya sudah keterlaluan. Namun ada satu yang mungkin Anda belum tahu," kata Wijaya, ia kembali mengumpulkan nyali yang hampir pudar.

Erik berhenti dari kesibukan, dia memandangi pria di depannya dengan serius.

"Ibu Anda itu sahabat karib saya," terangnya.

Tunggu, bukankah Erik pernah bercerita pada Adi kalau dia sudah tidak lagi mempunyai orang tua? Lalu siapa Rosma? Apa dia belum terus terang dengan Nada, istrinya?

Wijaya lantas tersenyum penuh telah menaklukan seorang psikopat berdarah dingin, pikirnya. Hingga setelah ia menyebut mantra itu, Wijaya bercerita panjang lebar mengenai Rosma. Sampai-sampai Erik hanyut dengan pria tua itu.

"Tuan, saya mempunyai seorang putri."

Lalu, apa urusanku?

Erik tersenyum miring.

"Jika Anda berkenan, Anda boleh mengencani putri saya."

"Saya tahu Anda sudah beristri ... tapi tak masalah bukan bermain api sedikit?" tawarnya, di matanya tidak ada keraguan untuk mengorbankan anak sendiri.

Erik masih setia mendengarkan, bisa jadi dia sedang mempertimbangkan tawaran.

"Jangan khawatir, pertemuan Anda dengan putri saya akan saya lakukan sesegera mungkin," imbuh wijaya sangat yakin.

Erik masih diam memikirkan hal itu, mungkinkah Erik terbesit untuk bermain api dan menerima tawaran berlian bagi pria yang berhidung belang? Bukankah lelaki mapan yang dicari adalah harta, takhta, wanita? Lalu apa putusan Erik? Dia benar-benar akan mendua dari Nada?

1
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
🌹 buat author
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
bisa wae mas e, bercandanye😂
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
/Grin//Grin//Grin/
tri
et dah Erik, mesra dikit knp, kaku bget 😄😄😄
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
1bab dulu, besok balik lg hehe
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
1iklan
Utayiresna🌷
masa jelek?? biasanya Kata orang kalau jelek berarti bagus 😍
Utayiresna🌷
atas genteng
cie nada terposena ketampanan erik.. eh terpesona😂😆
nikah kontrak kah nada dengan erik
🌹mawar untukmu thor
Elok Oren 🤎
mau, bilang Erik 😅
Wahyu Adara
greget sumpah. Harusnya ditambah gini, "kamu pandai menjerat banyak lelaki, termasuk aku yang ikut terjerat."🤸‍♂️
🌹untukmu kak
Bilqies
aku mampir lagi Thor
Elok Oren 🤎
Nada kenapa minta pisah?
Jumli
meluncur 2 iklan dan 2 mawar merah 🌹 ya Thor semangat trus 💪
Jumli
supaya lebih wah dong, nad.
masa gitu aja nggak tau
Jumli
berarti di episode sebelumnya tadi itu Jonathan ya, Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!