Tak lama setelah resmi berpisah, kehidupan oliv dan barra mulai berputar kembali dengan cara yang tak terduga. Sebuah petunjuk kecil—sebuah gejala, sebuah hasil tes, atau sebuah pengakuan yang tak sengaja—membawa mereka kembali berhadapan dengan kenyataan pahit: satu malam itu telah menghasilkan konsekuensi permanen yang akan mengikat mereka kembali, bukan lagi dalam kontrak kertas, melainkan dalam takdir yang tak terhindarkan.
Bisakah mereka memperbaiki kesalahan yang terjadi di luar kendali mereka? Dan, apakah "kesalahan fatal" itu justru akan membuka tabir perasaan tersembunyi yang selama ini mereka sangkal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nukamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Teks
Sepanjang akhir pekan dia mengabaikan pesanku yang terkirim di malam sabtu, dan sekarang baru di balas hanya dengan kata "baik pak" batin barra agak kesal. Dengan raut wajah yang masih cemberut barra kembali membalas pesan dari oliv
"Baru membalas setelah 3 hari ?"
"Ini kan urusan pekerjaan pak, saya baru membalasnya karena akhir pekan tidak terhitung hari bekerja" balas oliv dalam pesan teks
"Anda mengirim pesan seperti mengirim paket ya."
"Iya, itu benar. Urusan pekerjaan akan saya selesaikan di hari biasa. Jika anda ingin pengiriman tepat waktu, tolong kirim pesan di hari biasa sebelum jam 3 sore" balas oliv
"Tidak maksud saya bulan peketnya, tapi balasan pesan yang tepat waktu" balas oliv lagi.
Seketika barra pun tertawa keras, suaranya bahkan suaranya sampai terdengar dari luar ruangan.
"Kalau dia bilang begitu, aku akan coba memancingnya, dan liat apa yang akan dia balas nanti" gumam barra sambil tersenyum tipis, ja pun segera mengirim sesuatu lewat pesan pada oliv.
"Baik, pesan saya terima dan akan saya proses" balas oliv.
"Rasanya aku seperti bisa melihat, ekspresinya dari pesan ini" ucap barra kembali tertawa.
Rasanya seperti waktu-waktu membosankan yang menyesakkan sekarang telah pergi dan mengalir lancar.
"Kau adalah orang yang menyenangkan nona oliva, sampai-sampai aku ingin membuatnya terus berada di sampingku" ucap barra sembari menatap ponselnya, tampak sekali wajah merona dengan senyum manis di bibirnya.
Menit dan jam pun berlalu tak terasa sudah setengah hari kesibukan oliv di?kantor berlalu.
"Kalau begitu rapat ini kita akhiri sampai disini saja, terima kasih sudah bekerja keras!" Ucap ketua rapat mengakhiri rapat siang itu.
"Ah .. rasanya aku tidak pernah selelah ini" keluh oliv sembari menghela nafas
"Iya bu, rasanya pekerjaan hari ini tidak ada habisnya" sahut pak arif
"Bu oliv, ini bahan dari saya. Anda boleh menjadikannya sebagai referensi tanpa berdiskusi dulu dengan saya" ucap cindy dengan gelagatnya yang sok paling oke.
"Bukannya tadi saya sudah bilang untuk mengirimkan bahannya lewat email" jawab oliv.
"Kalau ku kirimkan lewat email, apa anda akan menyalin semuanya? Lagi pula bisa dirapikan sendiri sekaligus belajarkan, sudah ya!" Ucapnya menjengkelkan.
"Bilang saja kalau kau malas merapihkan bahan dari pak ketua, lalu kau melemparkan pekerjaanmu padaku" gerutu oliv.
"Bu oliv" panggil arif
"Ya? Ada apa?" Ucap oliv seraya menoleh
"Ada yang ingin saya katakan"
"Iya katakan saja"
"Saya agak malu untuk mengatakannya karena ini masalah pribadi. Semoga saja anda tidak begitu terkejut karena sebenarnya sejak pertama bertemu dengan nona oliv saya sudah suka .."
Brak .. tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka keras, dan membuat percakapan antara mereka berdua pun terhenti. Dan saat kedua orang itu menoleh ternyata yang ada di depan pintu adalah direktur barra.
"Asisten olivia, bukankah ada yang harus anda berikan pada saya?" Ucapnya
"Ya?"
"Baju saya"
"Oh, iya saya membawanya, tunggu sebentar ya pak!" Olivia pun segera bergegas pergi untuk mengambil kardigan milik barra yang sudah ia siapkan di meja kerjanya. Sementara olivia pergi, barra menatap tajam ke arah arif yang masih berdiri membeku di ruangan itu.
"Kau, ikut aku sebentar"
"Baik pak"
Entah apa yang membuat pak arif jadi diam sejak oliv tinggal bersama barra di ruangan itu, diam-diam oliv memperhatikan wajah pria itu yang tampak kurang nyaman, oliv pun sedikit heran dengan wajahnya yang lumayan tertekan itu.
"Terima kasih pak direktur"ujar oliv sembari menyodorkan paper bag yang berisi kardigan berwarna abu muda itu.
"Loh, saya kan saya sudah bilang tidak perlu di cuci. jadi, apa flu anda sudah sembuh?"
"Iya, sudah"
"Syukurlah"
"Oh iya, pak arif ikut ke ruangan saya dengan membawa peralatan anda, karena sepertinya anda harus memperbaiki langsung desain outletnya"
"Baik pak"
Dan beberapa jam berlalu arif pun kembali dengan wajah lesu dan berjalan sedikit agak sempoyongan.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya oliv
"Iya, tentu, saya tidak apa-apa. Ternyata pak direktur benar-benar orang yang detail, saya tidak menyangka akan mendapatkan kelas khusus selama dua jam, hahaha .."ujarnya dengan wajah yang terlihat kelelahan.
Keesokan harinya saat jam istirahat makan siang olivia pun pergi keluar sendiri dari kantor. Siang itu dia ingin menikmati suasana berbeda dengan menyeruput es Amerikano di taman kantor. Namun tak berselang begitu lama datanglah seseorang yang ingin bergabung dengannya.
"Maaf menganggu, bolehkah saya duduk di sini?" Ucap rekan arif dengan kedua tangan penuh membawa sebuah sandwich dan minuman.
"Iya silahkan" ucap oliv sembari menggeser posisi duduknya.
"Ini untuk anda ?" Ucapnya sembari menyodorkan sepotong sandwich yang terlihat sangat enak.
"Iya terima kasih, lain waktu biar saya yang traktir anda makan" ucap oliv menerima dengan senyuman.
"Baiklah saya tunggu kabar baik itu" balas arif ikut tersenyum.
"Omong-omong nona oliv, ada yang ingin saya tanyakan"
"Iya, tanyakan saja"
"Ini soal ucapan saya tempo lalu, anda belum mengatakan apa-apa pada saya"
"Hah?"
"Itu loh, perkataan saya waktu itu di ruang rapat"
Haah .. ternyata itu bukan semacam rasa kagum pada rekan kerja ya?, batin oliv
"Anu, itu .. jadi" ucapnya seraya berjalan mundur agak menjauhi arif
"Aduh!!" mendadak kedua kaki oliv lemas dan hampir terjatuh.
"Eh!! Anda tidak apa-apa?!"
"Iya, sebaiknya kita bicarakan sambil duduk saja" ajak oliv
Akhirnya mereka pun duduk di sebuah ayunan taman, terlihat wajah oliv agak tidak nyaman dengan pertanyaan yang sedikit menyingung perasaan hatinya.
"Maaf pak arif, saya pikir anda hanya bercanda saat mengatakan hal itu"
"Tidak bu, siapa yang akan bercanda dengan kata-kata seperti itu, bu oliv kan cantik sepertinya anda tidak tau fakta itu ya"
"Tidak kok saya tahu, saya itu cantik"
"Pffft .. iya anda memang cantik, karena itu anda juga mempesona"
"Ah tidak, saya tidak cantik, lihat ini, saya sudah punya kerutan di sini"
"Ahahaha, makanya saya sangat suka memperhatikan anda, semakin dilihat semakin menarik dan banyak dari sisi anda yang keren, karena itu saya semakin suka dengan anda, yang pasti saya benar-benar menyukai anda bu oliv"
Apa anak-anak zaman sekarang memang seperti ini, mereka cukup berani dan tanpa ragu menyatakan perasaannya. Wah .. sulit kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan pada anak sepolos ini?. Batin oliv (Padahal mereka cuma beda 2 tahun, pemikiran oliv saja yang terlalu jauh)
Berbeda dengan ekspresi arif yang tampak berbinar-binar, raut wajah oliv justru memperlihatkan kesan tak nyaman dengan ungkapan perasaan arif padanya.
Aku tidak boleh sampai melukainya, tapi tetap harus menekankan batasan. Batin oliv lagi