Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 - Paradoxa (Part 2)

Malam ini, jejeran awan hitam menutup rapat cahaya bulan. Gerimis yang awalnya turun perlahan lambat laun berganti menjadi hujan deras. Di ruang tamu yang hangat, Ibu Kinan duduk santai di atas sofa, fokus menjahit robekan kecil pada bagian lengan baju Kinan.

Sementara itu, Kinan duduk di sampingnya, punggungnya bersandar pada sandaran sofa. Layar laptop yang menyala terbuka di pangkuannya, menampilkan dokumen tugas kuliah yang sudah setengah rampung. Sesekali jemarinya mengetik beberapa kata, lalu berhenti ragu. Matanya tak jarang menatap ke arah luar jendela tiap kali guruh dan kilatan petir menyambar di langit malam.

“Bagaimana kuliahmu, Nak?” tanya ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari jarum dan benang di tangannya.

"Alhamdulillah lancar semua, Bu,” jawab Kinan pelan sembari menoleh menatap ibunya. “Meski tugasnya jauh lebih banyak ketimbang pas masih SMA, tapi secara keseluruhan menyenangkan kok, Bu. Temen-temen di kampus juga baik-baik.”

Ibunya mengangguk pelan lalu tersenyum kecil. “Syukurlah kalau gitu. Yang penting kamu selalu bisa jaga diri baik-baik. Jangan mudah ikut-ikutan hal yang tidak baik. Dunia perkuliahan itu beda jauh sama zaman SMA dulu.”

Kinan hanya tersenyum tipis mendengar semua itu, lalu memilih diam. Nasihat serupa sudah berulang kali terucap dari mulut ibunya. Ia mengerti bahwa maksud ibunya baik dan demi kebaikannya sendiri, namun di sisi lain, ada rasa sesak yang perlahan menumpuk—merasa dirinya bukan anak kecil lagi yang segala halnya harus selalu didikte.

Seminggu kemudian, langit di atas kampus mulai beranjak kelabu, seolah tahu betul isi hati Kinan yang tengah melangkah lesu menyusuri trotoar kecil di sisi parkiran. Ia memeluk erat beberapa buku tebal di dadanya, tetapi pikirannya melayang entah kemana.

Tak jarang teman-temannya mengajak Kinan untuk bernyanyi bersama di tempat karaoke seusai kuliah, atau sekadar nongkrong di kafe-kafe kekinian. Namun, ia selalu teringat pesan ibunya. Padahal jauh di dalam hatinya, ia juga ingin merasakan kebebasan seperti remaja seusianya.

Kinan pernah sekali memberanikan diri menerima ajakan teman-temannya, yang berujung pada rentetan ceramah panjang dari sang ibu hanya karena pulang hingga malam.

Fokus matanya terlepas sepenuhnya saat kakinya terus melangkah tanpa sadar, hingga ia tak menyadari sebuah mobil melaju pelan mendekat dari tikungan jalan kampus.

Sreeeeeet!

Decitan rem beradu tajam dengan aspal menyayat hening, disusul suara klakson pendek yang mengejutkan. Kinan tersentak, tubuhnya refleks mundur bagai orang linglung, membuat genggaman tangannya terlepas dan buku-buku di pelukannya berhamburan berserakan ke jalan. Jantungnya berdegup tak karuan—bukan sekadar karena terkejut nyaris tersenggol, melainkan karena tumpukan beban pikiran yang menyerangnya bersamaan sore itu.

Pintu pengemudi sedan merah itu terbuka. Seorang cowok turun dari dalamnya, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga ke siku dengan senyum tenangnya terasa amat bertolak belakang dengan detik menegangkan yang barusan terjadi.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya lembut sembari membungkuk dan memungut salah satu buku milik Kinan yang tergeletak.

Kinan hanya mengangguk pelan, masih berusaha menenangkan desah napasnya. Ia mendongak tipis, mengulurkan tangannya meraih bukunya kembali tanpa mau menatap terlalu lama paras cowok di hadapannya itu.

Entah mengapa, dari cara cowok itu menatapnya menghadirkan rasa tak nyaman yang membuat Kinan refleks mundur selangkah. Namun, ia memilih tuk diam. Benaknya mendadak berkecamuk. Cowok di hadapannya ini bukanlah ayahnya, bukan pula siapa-siapa. Hanya orang asing yang belum ia kenal—seorang kakak tingkat yang Kinan bahkan lupa namanya.

“M-maaf, aku yang salah… gak liat jalan dan kurang hati-hati,” gumam Kinan pelan dengan pandangan mata tertuju pada sampul buku, berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Romi.

"Gak kok, harusnya aku juga lebih pelan lagi bawa mobilnya,” sahut Romi berusaha menenangkan Kinan yang tampak salah tingkah dan enggan menatapnya. “Namaku Romi. Kamu pasti lagi banyak pikiran ya? Jalan kaki sambil ngelamun itu bahaya banget. Ngomong-ngomong, namamu siapa? Dan kamu semester berapa?"

“Kinan. Semester satu,” jawab Kinan singkat. Jemarinya sibuk merapikan tumpukan buku di pelukannya. Tak ada senyum manis. Tak ada pula binar penasaran di matanya. "M-maaf sekali lagi."

Kinan mendongak sekilas untuk mengangguk pelan, lalu segera berbalik melangkah meninggalkan Romi yang berdiri terdiam memandangi punggungnya.

Romi sempat memperhatikan raut wajah Kinan sejenak. Ia tak menahan langkah cewek itu maupun berkata apa pun. Ia hanya melirik saat Kinan mengangguk pamit dan berjalan menjauh. Romi perlahan tersenyum tipis dan justru merasa semakin tertarik kepada Kinan. Selain dari parasnya yang natural, sikap dingin dan acuh Kinan memercikkan tantangan baru; Kinan adalah tipikal cewek yang belum pernah berhasil ia taklukkan sejauh ini.

Beberapa minggu kemudian…

Malam itu suasana rumah terasa begitu tenang. Layar televisi menyala dengan volume rendah, sekada menjadi latar suara di ruang tamu. Kinan melangkah pelan dari arah kamarnya, lalu duduk di ujung sofa, mengamati jemari ibunya yang sedang melipat tumpukan baju.

"Bu..." ucap Kinan tiba-tiba.

Ibunya hanya menoleh, mengangkat sebelah alisnya sedikit.

"Kinan mau minta maaf soal yang kemaren hari, ya, Bu. Nada bicara Kinan waktu itu udah agak terlalu berlebihan," tutur Kinan sembari menundukkan kepala. Meski tidak sampai membentak, Kinan tahu bahwa nada bicaranya hari itu mungkin sempat melukai hati ibunya.

Jemari ibunya berhenti melipat baju. Wanita itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan sebelum tersenyum tipis. "Ibu juga minta maaf, ya, Nak. Kadang... Ibu terlalu keras kepala. Seharusnya tak apa-apa kalau kamu sesekali mau keluar main sama teman-teman, asalkan kalau bisa jangan sampai malam. Ibu harap Kamu bisa mengerti maksud ibu."

Kinan mengangguk kecil. Ada jeda sejenak ketika keheningan mengisi kembali seluruh ruangan. Namun kali ini, itu bukan keheningan yang canggung—melainkan jeda tenang yang memberi ruang untuk hati mereka saling memahami dan mendekat kembali.

Setelah beberapa saat hening, Kinan kembali membuka suara. "Besok Kinan kayaknya bakal pulang agak malam, Bu. Di kampus ada acara malam apresiasi buat mahasiswa baru dan aku jadi salah satu panitianya."

Ibunya mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangan meraih dan mengusap lembut jemari anaknya. “Ibu doakan semoga besok acaranya lancar. Nanti usahakan jangan pulang terlalu larut malam, ya. Bahaya anak cewek pulang sendirian malam-malam.”

Kinan tersenyum, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih lega. “Iya, Bu. Makasih. Nanti Kinan usahakan.”

Kemudian Kinan memeluk ibunya erat, sebelum akhirnya beranjak melangkah kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, ia membuka ponselnya dan mengecek ulang deretan pesan di grup chat panitia.

Di balik pintu kamarnya, setelan pakaian yang akan dikenakannya besok sudah tergantung rapi. Besok mungkin bukan hari yang besar, namun bagi Kinan, malam itu adalah lembaran awal dari cerita baru yang belum ia tahu akan membawanya ke mana.

Keesokan harinya, Gedung Kesenian kampus mendadak riuh dan meriah. Acara malam apresiasi berlangsung meriah, bertabur lampu panggung dan alunan musik. Seluruh mahasiswa baru dari Fakultas Sastra tampak duduk rapi memadati deretan kursi. Sebagian sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel, sementara sebagian lainnya asyik menikmati pertunjukan seni di atas panggung.

Kinan lebih banyak berada di belakang layar—mengatur konsumsi, mengecek rundown, hingga memastikan seluruh alur acara berjalan lancar. Meski napasnya kerap tersenggal lelah, sesekali ia mengulas senyum melihat teman-temannya tertawa riang menikmati malam itu. Di balik peluh dan kesibukannya, ada rasa bangga yang pelan-pelan tumbuh di dada Kinan. Malam itu, ia merasa jadi bagian penting dari sesuatu yang besar.

Saat pukul sepuluh malam, seluruh rentetan acara sudah berakhir. Riuh tepuk tangan dan gelak tawa perlahan memudar seiring berkurangnya mahasiswa yang berjalan pulang.

Para panitia mulai sibuk mengangkat serta merapikan perlengkapan acara, sementara Kinan masih telaten memunguti sisa-sisa kemasan konsumsi hingga tangannya terasa pegal dan lemas. Dengan napas terengah pelan, ia akhirnya duduk menyandarkan punggungnya di kursi—merasakan lelah yang luar biasa, namun diselimuti rasa bangga.

Tiba-tiba, sebuah botol air mineral dingin terulur tepat di depan wajahnya.

“Capek banget, ya?”

Kinan tersentak kecil lalu seketika mendongak. Di hadapannya berdiri Romi tersenyum manis yang terkesan begitu ramah. Ia duduk di kursi tepat di sebelah Kinan, ikut menyandarkan punggungnya dengan santai.

“Aku perhatin kamu kelihatan lelah banget, tapi masih bisa tetap senyum manis dari tadi. Gak banyak lho orang yang bisa begitu pas capek kayak gini,” tutur Romi halus, menatap lurus ke mata Kinan dengan binar terpesona yang sengaja ditunjukkan.

Kinan meraih botol itu, lalu memaksakan sebuah senyum kecil yang canggung, mengangguk pelan. Ada perasaan asing yang mendadak muncul di batinnya saat menyadari bahwa kehadirannya yang biasanya tak mengundang perhatian kini mendadak diperhatikan begitu intens. Bukan sekedar dianggap sebagai panitia semata, melainkan sebagai sosok cewek yang dinilai berharga atas usaha kerasnya.

“M-makasih…”

Hanya kalimat itu sanggup terucap, namun senyum tipis di wajah Kinan tak lagi bisa disembunyikan. Berkat keterlibatannya sebagai panitia, Kinan memang mulai lebih sering berinteraksi dengan Romi. Meski demikian, berlawanan dengan mahasiswi lain yang kerap terang-terangan mencari perhatian di hadapan Romi, Kinan tetap menjaga jarak dan bersikap biasa.

Beberapa saat kemudian, area parkiran di samping gedung acara mulai lengang dan benar-benar hampir kosong. Terpaan angin malam berhembus dingin hingga menusuk ke tulang, memaksa Kinan melipat kedua tangannya di dada. Pandangannya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan deretan angka yang menunjukkan waktu sudah hampir menyentuh pukul sebelas malam.

Kinan baru saja menuntaskan tugasnya membereskan perlengkapan panggung, sementara mayoritas panitia lain sudah beranjak pulang beberapa saat yang lalu.

Di suasana yang sunyi, derap langkah kaki mendekat ke arahnya membuat Kinan menoleh. Romi, dengan jaket hitam yang ia kenakan dan senyuman khasnya, melangkah keluar dari bayang-bayang pintu gedung utama.

“Loh, Belum pulang kamu? Tinggal sendirian aja?” tanya Romi. Suara yang tenang terdengar sedikit bernada bera di tengah keheningan malam yang makin larut.

Kinan mengangguk pelan, menyisip rasa gugup yang mendadak hadir. “I-iya, Kak. Barusan yang lain baru aja pulang. Ini aku juga mau pulang.”

Romi menatap motor milik Kinan yang hanya tersisa di area parkir sejenak, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Kinan. “Rada bahaya lho, cewek malem-malem naik motor sendirian, apalagi udah jam segini. Kalau kamu gak keberatan… aku bisa ngikutin dari belakang pakai mobil. Biar lebih aman aja sampe ke rumahmu. Gimana?”

Kinan sempat terdiam ragu, menimbang tawaran itu dalam benaknya. Namun, ucapan Romi memang ada benarnya—jalan menuju rumahnya relatif sepi jika dilewati larut malam. Tatapan Romi yang tampak tulus perlahan meluluhkan hati Kinan. Meski kecanggungan masih menyelimuti mereka, keheningan malam yang makin pekat membuat Kinan enggan untuk menolak kebaikan tersebut.

“Y-ya… gak apa kalo Kak Romi mau,” jawab Kinan pelan diiringi anggukan pasrah.

Romi kembali tersenyum manis. “Oke. Nanti kamu tinggal jalan duluan aja. Pelan-pelan aja, gak usah ngebut.”

Saat Kinan mengenakan helm dan menyalakan mesin motornya, perasaannya bercampur aduk. Di antara rasa lelah dan cemas, mendadak muncul ada satu benih asing yang diam-diam menyelinap ke dalam hatinya: sebuah rasa nyaman dan terbesit rasa untuk percaya.

Sejak kejadian malam itu, seiring waktu berjalan, Kinan dan Romi menjadi kian sering terlihat semakin dekat. Hubungan yang mulanya hanya sebatas obrolan chat dan panggilan telepon formal terkait urusan himpunan fakultas, lambat laun, bergeser menjadi makin intim.

Kehadiran Romi tak lagi sekadar sosok kakak tingkat, melainkan seseorang yang kian spesial. Romi tak jarang sengaja berdiri menyandarkan tubuhnya di koridor kampus, menanti Kinan keluar dari ruang kelas untuk mengajaknya makan siang bersama, atau sekadar menonton film terbaru di bioskop.

Kinan yang polos dan belum pernah merasakan perhatikan sedemikian intens dari seorang cowok—perlahan-lahan mulai terbuai oleh pesona yang Romi hadirkan.

Beberapa teman jurusan seangkatan Kinan—bahkan dari jurusan lain—mulai memperhatikan kedekatan mereka yang makin hari makin intens. Tak bisa terelakkan, gosip dan bisik-bisik hangat pun beredar di seantero fakultas. Namun, Kinan tak pernah menanggapi desas-desus itu secara serius. Ia hanya membalas dengan tersenyum kecil tiap kali ada yang menggodanya.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Kinan membenarkan: ada benih perasaan yang perlahan tumbuh di sana. Sesuatu yang mengisi ruang hampa di hatinya dan membuatnya tak lagi merasa sendirian.

Sudah lebih dari dua bulan sejak momen kedekatan mereka itu dimulai. Kinan yang mulanya selalu menjaga jarak, kini mulai terbiasa dengan rentetan perhatian manis dari Romi. Meski intuisi hatinya sesekali berbisik ragu, tiap obrolan di antara mereka selalu terasa ringan, manis dan menyenangkan.

Lalu, hari itu, tanggal 9 Maret, ketika langit siang perlahan meredup tertutup awan, Kinan tengah berbaring santai di tempat tidurnya. Suara dering ponsel memecah keheningan kamar. Ia meraih ponsel di atas meja dan melirik layarnya. Sebuah senyum kecil seketika muncul saat mendapati nama Romi tertera di sana. Tanpa mengulur waktu, ia segera mengangkatnya.

“Halo, Kak?” sapa Kinan riang.

“Halo, Kin. Besok sore kamu sibuk atau ada acara gitu gak?” tanya Romi di seberang telepon.

“Emm.. gak ada, sih. Kayaknya longgar,” jawab Kinan sembari beranjak duduk di tepi tempat tidur. Tanpa sadar ia mencondongkan tubuh ke depan, seolah jarak bisa di antara mereka bisa terpangkas hanya dengan perubahan posisinya. “Emangnya kenapa, Kak?”

“Aku mau ngajak kamu jalan,” ucap Romi.

“Besok, ya?” tanya Kinan sembari menaikkan sebelah alisnya, lalu senyum penasaran mendadak tersirat. “Emm… bisa, kok. Mau kemana emangnya?”

“Rahasia,” sahut Romi cepat, terdengar helaan napasnya menahan tawa. "Pokoknya besok aku jemput kamu jam empatan. Oke?"

Kinan terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk, walau ia tahu Romi tak mungkin bisa melihat gesturnya. “O-oke.”

Begitu sambungan telepon tertutup, Kinan terkekeh pelan. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu kembali berbaring santai. Ia tak mau terlalu ambil pusing membayangkan akan seperti apa besok, tetapi senyum lebar enggan luntur dari wajahnya. Entah kenapa, menanti hari esok terasa begitu lama.

Keesokan harinya, Kinan sudah berdiri menanti di halaman depan rumahnya. Ia tampil elegan mengenakan midi dress putih bermotif bunga-bunga kecil yang dipadukan dengan tas selempang kulit berukuran mungil. Makeup di wajahnya amat tipis dan natural, sekedar menyegarkan parasnya dan menambah rasa percaya diri. Sesekali jemarinya merapikan lipatan gaunnya, melirik ke arah jalanan, memastikan kehadiran seseorang.

Tak lama berselang, mobil SUV hitam—berbeda daril sedan merah yang biasa dikendarai Romi—berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Romi tak turun dari kursi pengemudi; ia hanya menurunkan kaca jendela di sampingnya.

Kinan menoleh ke arah ibunya yang tengah duduk di teras. “Bu, Kinan berangkat dulu, ya!” serunya berpamitan sembari mencium tangan sang ibu dengan tergesa, sebelum melangkah menghampiri mobil mewah tersebut.

Tanpa banyak kata, Kinan membuka pintu dan duduk di samping Romi. Mesin mobil kembali menderu, lalu perlahan melaju meninggalkan rumahnya di bawah langit sore yang mulai meredup.

Sudah hampir tiga puluh menit mobil itu membelah jalanan kota. Kinan menoleh sebentar mengamati wajah Romi yang tampak tenang dan fokus mengemudi, sebelum kembali menatap ke luar jendela. Jalan yang mereka lewati terasa kian asing dan tak pernah ia lewati sebelumnya.

“Kita mau ke mana, sih?” tanya Kinan, berusaha menata nada suaranya agar terdengar santai walau rasa penasaran kian memuncak.

Romi tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya ke depan. “Sebentar lagi juga sampe. Pokoknya sabar aja, ya.”

Dan benar saja, tak lama kemudian, mobil SUV hitam itu berbelok memasuki jalan kecil yang rindang dan berhenti di dekat sebuah area taman yang tersembunyi di balik deretan pepohonan. Tampak sebuah kafe hidden gem bernuansa alam—ukurannya tidak terlalu luas, namun dilengkapi kolam buatan berair jernih serta taman yang begitu indah.

Romi keluar lebih dahulu dari kursi pengemudi, lalu melangkah untuk membukakan pintu bagi Kinan. Saat Kinan menjejakkan kaki ke luar, Romi meraih dan menggandeng jemari Kinan dengan lembut, memperlakukannya bak seorang putri. Sensasi hangat dan perlakukan itu menghadirkan sesuatu yang belum pernah terbayangkan akan ia rasakan sebelumnya.

Suasana di sekitar kafe terasa sangat tenang. Hanya ada segelintir pengunjung yang terlihat—beberapa pasang sejoli yang sedang menikmati angin sore dan sebuah keluarga kecil yang duduk berpiknik di atas rumput. Kedamaian itu begitu menenangkan, sebelum area tersebut biasanya mulai dipadati pengunjung seusai maghrib.

Romi dan Kinan melangkah pelan menuju tepi kolam, lalu mengambil tempat duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap langsung ke permukaan air yang tenang. Kinan mengembuskan napas pelan yang tak disadarinya.

Suasananya begitu tenang, hangat. dan menghadirkan rasa nyaman.

Seiring waktu berjalan, alur obrolan mereka perlahan mengalir kian intim. Romi banyak berbagi cerita tentang masa kecil dan keluarganya, sesekali menyisipkan candaan yang berhasil membuat Kinan tertawa lepas. Di atas meja, sajian makanan dan minuman yang sebelumnya dipesan oleh Romi kini telah habis.

Ketika langit senja mulai meredup berganti remang malam, Romi merogoh tas kecil di sampingnya. Sebuah kotak beludru mungil berwarna merah marun ia sodorkan pelan ke arah Kinan.

"Aku gak tahu kamu bakal suka apa gak,” tuturnya lembut. “Tapi... aku ingin kamu menerima pemberianku ini.”

Kinan menatap kotak itu dengan sebelah alis terangkat heran. Ia buka penutup kotak tersebut dan menemukan sebuah liontin sederhana berbentuk bulan sabit dengan ukiran halus di sisinya. Bias cahaya sore yang tersisa memantulkan kilau elegan di permukaan logam tersebut.

“Selamat ulang tahun, Kinan,” bisik Romi, nada suaranya terdengar kian dalam dan bersungguh-sungguh. “Aku gak bisa janji akan selalu jadi sosok sempurna buatmu. Tapi... aku ingin kamu beri kesempatan buatku jadi bagian dari hidupmu. Mulai hari ini.”

Kinan membeku sejenak. Bukan karena enggan atau ragu, melainkan karena dadanya mendadak terasa penuh—oleh kejutan yang tak disangka, rasa haru memuncak, dan buaian hangat yang belum pernah ia dapatkan dari cowok mana pun sebelumnya.

Senyuman tipis perlahan mengembang di wajah Kinan. “Iya,” bisiknya pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kinan merasa seperti dirinya benar-benar berarti. Seolah hatinya tak perlu bertahan sendirian lagi.

Seusai melewati momen yang amat indah itu, mereka memutuskan untuk beranjak pulang. Tepat saat azan maghrib berkumandang, mobil SUV hitam Romi berhenti perlahan di depan pagar rumah Kinan. Pendar lampu teras rumah menyala redup kekuningan, diiringi derik nyaring jangkrik mengisi jeda di antara mereka.

Romi menoleh ke arah Kinan, tersenyum lembut. “Makasih untuk hari ini, Kinan.”

Kinan mengangguk pelan dengan raut bahagia yang kentara dari matanya. “Harusnya aku yang bilang gitu, Kak. Makasih… buat semuanya hari ini.”

Belum sempat jemari Kinan menyentuh gagang pintu mobil, Romi mendekat memajukan tubuhnya dan mendaratkan kecupan singkat di kening Kinan. Sensasi hangat dan mendadak itu membuat Kinan seketika membeku—terkejut hingga tak sanggup untuk berkata-kata.

“Titip salam buat ibumu, ya,” ucap Romi, kembali menyandarkan punggungnya seolah tak terjadi apa-apa.

Kinan menunduk dalam, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. “I-iya… Kakak hati-hati di jalan.”

Dengan langkah tergesa, Kinan turun dari mobil dan menyeberangi halaman. Senyumannya terus masih bertahan di bibir, bahkan ketika pintu rumahnya telah tertutup pelan.

Hari ini menjadi salah satu lembaran paling spesial dalam hidupnya—hari dimana ia akhirnya merasa berhak mengecap sesuatu yang dinamakan cinta.

Di tengah malam yang makin larut, sorot lampu warna-warni di dalam club malam berdenyar liar mengikuti irama musik yang berdentum keras. Asap rokok tebal bertaut dengan aroma tajam minuman beralkohol. Di sudut ruangan yang remang, Romi bersandar santai di sofa, lengkap dengan sebotol minuman di atas meja dengan senyum tipis di wajah penuh kepuasan.

Seorang cowok berkemeja hitam—teman sejawatnya di kampusnya yang kerap menjadi partner in crime dalam urusan menaklukkan perempuan—melangkah mendekat sambil tertawa keras.

“Gimana, Bro? Si anak baru itu... udah makin lunak belum?” tanyanya penasaran, memungut gelas sloki lalu meneguk isinya hingga habis.

Romi mengangkat gelasnya, memutar-mutar cairan di dalamnya sebelum menyesapnya perlahan. “Please, lah,” cetusnya santai, “Kayak dapetin boneka di mesin capit.”

Temannya tergelak makin keras. “Cepet juga taktikmu. Kirain tipe-tipe yang ini bakal beda dari biasanya.”

Romi menyandarkan kepala ke belakang, menatap lampu di langit-langit club. “Sebentar lagi juga bakal bisa kunikmatin dia sepenuhnya. Dia cewek polos, gampang percaya sama omong kosong. Sekarang semuanya udah setengah jalan.”

Sebelum obrolan mereka berlanjut, seorang cewek bergaun pendek menerawang dengan makeup mencolok melangkah menghampiri sembari membawa sebotol minuman baru. Tanpa ragu, cewek itu langsung duduk di pangkuan Romi, melingkarkan lengan lehernya, lalu mencium pipinya.

“Coba minum yang ini juga, Sayang,” rengeknya manja.

Romi hanya tersenyum, memberi kerlingan penuh kemenangan pada temannya. “Liat aja, permainan baru aja dimulai,” bisiknya tajam sebelum tertawa puas begitu keras.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!