Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Rafa Part2
Hari demi hari kondisi Rafa semakin memburuk batuk dan penyakit lambung yang tak kunjung sembuh, membuat Rafa semakin lemah.
"Ayah, aku ingin pulang. Aku sudah terlalu lama disini"
Kata Rafa dengan suara lemahnya.
"Aku ingin berkunjung ke rumah baru bunda, tiara dan adrian". Tambahnya lagi.
Ayah Dirga tersentak dengan permintaan Rafa yang mendadak.
"Ayah akan bawa kamu, tapi kamu haru sembuh ya. Lanjutkan hidup kamu Nak. Ayah masih disini, untuk kamu dan Ayah juga masih butuh kamu Nak".
Ayah Dirga menarik nafas sesak dan berat namun tetap memberi semangat untuk anaknya yang masih terbaring lemah.
"Ayah, setelah dari pemakaman nanti. Aku janji, aku akan sembuh aku akan melanjutkan hidupku. Kita akan tinggal berdua seperti dulu lagi"
Ucap Rafa penuh keyakinan sambil menatap Ayahnya.
"Baiklah, sekarang kamu makan dulu, minum obat dan istirahat. Ayah akan minta izin dokter untuk membawamu pergi ke makam besok pagi".
Mata Rafa berbinar mendengar kalimat Ayah Dirga yang penuh janji. Rafa makan sedikit demi sedikit meski terasa tak enak, ia memaksakan diri karna janjinya pada Ayah Dirga.
__
Pagi hari, Rafa bersiap untuk pergi berziarah ke makam orang yang ia cintai setelah ia mendapat izin dari dokter.
Rafa mengunjungi makam ibunya terlebih dahulu.
"Bunda, ini Rafa dan Ayah datang. Bunda apa kabar disana? Maaf ya Bun, Rafa jarang mengunjungi Bunda"
Rafa menaburkan bunga diatas pemakaman Ibunya.
"Bunda pasti senang, kamu sekarang berkunjung Nak". Suara Ayah Dirga serak menahan sesak.
"Rafa akan sering kesini sekarang, Bunda. Rafa akan melanjutkan hidup Rafa untuk kalian"
Air mata Rafa menggenang, dan tanpa bisa ditahan air matanya jatuh.
"Bunda, Rafa pergi dulu ya. Rafa harus mengunjungi Tiara dan Adrian. Menantu dan cucu Bunda." Kalimatnya begitu menyesakan untuknya.
Pak Dirga mengusap bahu anaknya, menguatkan serta memberi ketenangan.
"Sudah, Nak. Kita ke makamnya istri dan anakmu ya. Ayah, akan mengantarmu"
Rafa mengangguk lalu mengusap air matanya.
Ayah Dirga menatap makam istrinya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Ayah nemenin Rafa dulu, ya. Nanti Ayah main kesini lagi". Ucap ayah Dirga dalam hati.
Ayah Dirga mendorong kursi roda Rafa menuju makam Tiara dan Adrian.
Rafa yang menatap batu nisan istri dan anaknya hatinya terasa diiris, sesak dan membuatnya gemetar, tangisnya pecah tanpa suara bahu Rafa bergetar hebat menangis dalam diam.
"Tiara, aku kangen" Suaranya pecah diakhir kalimat. Tubuhnya bergetar menangis didepan batu nisan istri dan anaknya.
Pak Dirga mengusap bahu anaknya, membiarkan Rafa menghabiskan sisa kesedihan yang entah kapan habisnya.
"Adrian, ini Papa, Nak. Papa kangen"
Rafa mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Ia mencoba tegar dan mengikhlaskan kepergian anak istrinya.
"Aku mau lanjutin hidup, tapi aku gak bakal bisa lupain kalian. Aku akan sering datang kesini jengukin kalian".
Rafa kembali terisak, membayangkan kehidupan selanjutnya tanpa Tiara dan Adrian. Namun, disampingnya, Ayah Dirga selalu menemaninya memberi kekuatan seperti yang Rafa lakukan saat bundanya meninggalkan mereka.
"Ayah, aku kangen mereka" Tangisnya semakin pecah.
"Iya, Nak" Ayah Dirga memeluk putra satu-satunya itu. Ayah Dirga merasa sesak melihat Rafa memiliki nasib yang sama dengannya, sama-sama menyandang status duda di usia yang seharusnya sedang membangun rumah tangga harmonis dengan kehadiran putra pertamanya.
_____
Rafa kembali ke rumah sakit, kesehatannya kembali menurun dengan batuk yang tak kunjung sembuh.
"Rafa, harus sembuh ya. Status kita sekarang sama. Sama-sama duda" Ledek pak Dirga membuat senyum tipis Rafa terukir di bibirnya.
"Apaan sih ayah?" Candaan ayahnya membuat senyumnya masih terukir.
"Duda harus keren, gak boleh lemah. Kita sudah membuktikan kalo kita bisa setia dengan satu wanita disaat wanita itu hidup dengan kita".
Pak Dirga menyemangati anaknya, sambil menyuapi bubur ke Rafa.
"Mereka juga sudah buktikan, mereka mencintai kita sampai akhir hayatnya".
Sambung Rafa, membuat dada Pak Dirga terasa dihantam batu besar. Namun senyumnya mengembang meski ada genangan tipis dimatanya.
"Iya, kamu harus sembuh. Nanti, siapa yang habisin uang Ayah? Mana uang ayah banyak banget lagi" Candaan Ayah Dirga membuat Rafa seperti kembali ke masa kecil.
"Oke, setelah aku sembuh nanti aku akan habiskan uang ayah".
Tawa mereka pecah dengan suara pelan namun hangat seperti dulu.
Waktu terus bergulir, kesehatan Rafa membaik, kini ia kembali tersenyum ceria, batuknya kini sudah sembuh dan terlihat lebih segar meski badannya masih kurus. Rafa memutuskan kembali tinggal dirumah Ayahnya meski sesekali ia pulang ke rumah lamanya.
Hari ini Rafa pulang dari rumah sakit, sebelum ke rumahnya dia mengunjungi makam Bunda, Tiara dan Adrian. Dengan wajah yang cukup segar, meski kesedihan masih ada, rasa sakit masih terasa. Namun ia ingat dengan janji kepada Ayahnya untuk melanjutkan hidup dengan baik.
Satu tahun berlalu Rafa kini sudah lebih menerima dirinya, menerima kenyataan yang tak bisa ia sangkal. Ia kembali bekerja di kantor Ayahnya, sebagai penerus pimpinan ia lebih sibuk hingga ia lupa merawat dirinya.
Saat makan malam, Ayah Dirga melihat putranya yang terlihat kusam dan seperti tak terurus.
"Rafa... Kamu kapan terakhir potong rambut dan kumis?"
Tanya Ayah Dirga tiba-tiba.
"Nggak tahu lupa"
Jawaban Rafa singkat seolah tak peduli lagi dengan tubuhnya.
"Nak, sudah tiga tahun istri dan anakmu pergi. Dan kamu berjanji untuk melanjutkan hidup bukan?"
Suasana hening sesaat
"Kamu masih muda, segera lah cari pengganti. Agar kamu bisa benar-benar melanjutkan hidup. Benar-benar membenahi hidupmu, kecuali kamu bisa merawat dirimu sendiri".
Sambung Ayah Dirga lagi. Membuat Rafa berfikir dan melihat kondisi tubuhnya yang tak terurus.
"Aku akan cukur rambut besok" Sahut Rafa tanpa menoleh Ayahnya lalu dengan cepat menghabiskan makanannya lalu berdiri
"Aku ke kamar dulu Yah"
Ayah Dirga mengangguk, lalu dengan langkah santai Rafa meninggalkan Ayahnya dimeja makan menuju kamar.
Dikamar ia merenung, memikirkan bagaimana hidupnya setelah ini. Rafa melihat foto Tiara yang terpajang dinakas samping tempat tidurnya lalu mengambilnya mengusap foto itu dibagian wajah Tiara dengan ibu jarinya.
"Aku fikir mudah melanjutkan hidup tanpa kamu"
Bisiknya parau dengan sisa kesedihan yang tak pernah habis. Ia tidur sambil memeluk foto Almarhum istrinya hingga pagi.
____
Hari ini kantornya libur, Rafa memutuskan untuj mencukur rambut dan kumisnya, ia ingin merapikan dirinya dan mulai peduli dengan penampilannya.
Saat selesai potong rambut, ia membeli beberapa pakaian baru untuk memperbaiki penampilannya, lalu segera pulang dan menemui ayahnya.
Saat sampai di rumah, Rafa melihat Ayahnya sedang duduk santai di kursi pijat sambil memejamkan mata.
"Ayah, Rafa pulang"
Ayah Dirga membuka matanya perlahan dan melihat sosok anaknya yang terlihat tampan.
"Rafa? Kamu potong rambut?" Ayah Dirga segera berdiri dari duduknya menghampiri Rafa.
"Iya Ayah. Gimana, udah keren belum anak ayah yang duda ini?" Tanya Rafa sambil terkekeh sendiri.
"Kamu begini lebih keren, lebih rapih, seger keliatannya. Ini mah tinggak nyari ceweknya aja"
Gelak tawa mereka berdua memenuhi ruangan.
___
Hari-hari Rafa kini sedikit hangat, ia seperti benar-benar memulai hidup baru. Kata ikhlas memang mudah dikatakan namun prosesnya begitu tak mudah dijalankan.
Ia kini bisa lebih menerima statusnya menjadi duda, menerima kepergian anak istrinya meski masih ada luka dihatinya namun sedikit membaik.
"Aku hanya melanjutkan hidup, tidak untuk melupakan mu"
Ucapnya sambil menatap foto almarhum istrinya yang tengah mengandung. Foto itu ia simpan dikotak hitam, beserta cincin pernikahan mereka berdua.
Ia kini datang ke kantor lebih rapih dari biasanya, membuat Pak Dirga bangga padanya.
"Duda itu sudah mulai benar-benar bangkit"
Bisik Pak Dirga pada dirinya sendiri melihat anaknya memimpin meeting internal yang dilaksanakan dikantornya.
Hingga di hari libur tiba, Rafa merasa bosan dirumah dia memutuskan untuk berjalan-jalan sore mencari angin segar.
Mobilnya melipir ke parkiran taman, dia melihat banyak orang disana. Anak kecil berlarian, dan para pasangan muda yang sedang melakukan piknik kecil-kecila atau sekedar duduk di bangku taman.
Perlahan langkah Rafa masuk ke taman itu lalu duduk dibangku taman. Matanya menyapu sekeliling taman, hingga pandangannya berhenti menangkap bayi perempuan yang sedang belajar jalan dengan ibunya.
Saat bayi itu merangkak menuju Rafa, mulut mungilnya dengan spontan memanggilnya "Papah.."
Dan sejak bertemu bayi itu, Rafa selalu tersenyum dan ada perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada rasa ingin menyayangi anak itu.