Indonesia
NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan bambu

Ruangan itu kembali sunyi. Pertanyaan Bima tentang Bayu dan Rasyid masih menggantung di udara.

Bagaimana jika keduanya masih hidup?

Bagaimana jika mereka hanya merasa baru beberapa hari berada di dalam hutan?

Tidak ada seorang pun yang berani memberikan jawaban. Arga yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.

"Pak Rahman."

"Iya?"

Arga tampak berpikir sejenak sebelum bertanya.

"Di sekitar sini... ada hutan bambu?"

Pak Rahman mengernyit.

"Hutan bambu?"

Arga mengangguk.

"Iya. Yang cukup luas. Bukan sekadar beberapa rumpun bambu."

Pak Rahman langsung menggeleng.

"Setahu saya tidak ada."

Arga terdiam.

"Benar-benar tidak ada?"

"Di sekitar desa ini tidak ada hutan bambu."

Pak Rahman kemudian bersandar.

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

Arga menatap Bima sebentar.

"Karena waktu saya tersesat dulu, saya keluar dari hutan bambu."

Bima langsung memperhatikan. Arga melanjutkan.

"Saya tidak berada di hutan itu selama berhari-hari. Saya hanya tersesat sekitar tiga hari. Setelah itu saya menemukan hutan bambu pagi hari mengikuti jalan lalu keluar dari hutan bambu sore hari dan menemukan kebun kopi warga."

Pak Rahman mengangguk perlahan.

"Dan kamu lihat batas kebun kopi dan hutan bambu itu?"

"Setelah warga menemukan saya, saya pingsan pak. Saya tidak ingat itu." Arga mencoba mengingat.

Arga menoleh kepada Bima.

"Berbeda dengan mas Bima."

Bima mengangguk.

"Saya merasa berputar di hutan sekitar empat hari, di hari kelima menemukan hutan bambu. Sore hari, sepanjang malam saya melewati hutan bambu itu. Dan pagi hari akhirnya hutan bambu selesai berganti pohon-pohon besar. Lalu menemukan jalan."

Dedi menyela,

"Tapi lima hari bagi kamu sudah lewat tiga puluh tahun berlalu."

"Iya."

Arga menghela napas.

"Itu yang membuat kesamaan kita."

Ia menatap Bima.

"Kita sama-sama keluar dari hutan bambu."

Bima terdiam.

Pak Rahman mengangguk.

"Jadi satu-satunya kesamaan kalian..."

Arga menjawab,

"Hutan bambu."

Bima mengangguk.

"Dan suara langkah."

Arga langsung menoleh.

"Iya."

Dedi memandang keduanya.

"Jadi kalian berdua sama-sama mendengar suara itu?"

Arga mengangguk.

"Tapi saya tidak tahu apakah suara itu mengikuti saya sejak awal atau hanya muncul di bagian tertentu."

Bima menyandarkan punggungnya.

"Saya juga tidak tahu."

Pak Rahman kemudian teringat sesuatu.

"Sebentar." Beliau menatap Arga.

"Waktu kamu ditemukan beberapa minggu lalu..."

Arga mengangguk.

Pak Rahman melanjutkan,

"Kakimu terluka karena tusukan bambu, bukan?"

"Iya."

"Dan itu sempat menjadi pertanyaan warga."

Arga tampak bingung.

"Kenapa?"

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Karena tidak ada hutan bambu di sekitar sini."

Arga terdiam.

Pak Rahman menjelaskan,

"Ketika kamu ditemukan, warga melihat luka di kakimu. Bentuk lukanya memang seperti terkena bambu yang patah atau runcing."

Beliau menunjuk ke arah luar.

"Tapi di sekitar lokasi kamu ditemukan tidak ada hutan bambu."

Arga menatap kakinya sendiri.

"Saya tidak tahu."

"Kami awalnya berpikir mungkin kamu tersesat terlalu jauh." Pak Rahman menghela napas.

"Gunung ini cukup luas. Jadi kami mengira mungkin ada bagian hutan yang memiliki rumpun bambu. Kami hanya belum pernah menemukan lokasinya."

Bima tiba-tiba berkata,

"Berarti selama ini kita menganggap hutan bambu itu memang ada di dekat kampung ini, ternyata tidak ada?."

Pak Rahman mengangguk.

"Begitulah. Tidak ada yang tahu di mana."

"Tidak."

Arga menatap Bima. Bima menatap balik. Keduanya seperti sedang menghubungkan dua potongan cerita yang selama ini berdiri sendiri.

Arga keluar dari hutan bambu.

Bima juga keluar dari hutan bambu.

Namun tidak ada hutan bambu yang diketahui warga di sekitar wilayah mereka.

Dedi menggeleng perlahan.

"Jadi bagaimana kalian bisa masuk ke tempat yang bahkan tidak diketahui keberadaannya?"

Tidak ada jawaban.

Pak Rahman kembali membuka buku catatan.

"Kita belum bisa memastikan hutan bambu itu berada di gunung ini."

Bima berkata,

"Tapi saya keluar dari sana dan menemukan jalan."

Arga menambahkan,

"Saya juga."

Pak Rahman menatap keduanya.

"Jalannya sama?"

Arga menggeleng.

"Saya tidak yakin."

Bima ikut menggeleng.

"Saya juga tidak tahu apakah itu jalan yang sama."

Pak Rahman mencatat sesuatu.

"Kalau begitu, besok kita mulai dari tempat kalian ditemukan."

Arga langsung menatapnya.

"Maksud Bapak?"

"Kita petakan kembali." Pak Rahman menutup bukunya.

"Lokasi Arga ditemukan. Lokasi Bima keluar. Jalur yang mereka ingat. Arah hutan bambu. Dan semua tempat yang pernah ditemukan jejak atau benda milik Bayu dan Rasyid."

Dedi mengangguk.

"Jadi kita mencari pola."

"Iya."

Bima menatap kamera Bayu yang masih berada di meja.

"Tapi bagaimana kalau mereka memang masih di dalam?"

Pak Rahman tidak langsung menjawab. Beliau memandang kamera itu beberapa detik.

"Kalau mereka masih hidup..."

Beliau mengangkat wajah.

"...kita harus menemukan mereka sebelum terlambat."

Arga menelan ludah.

"Dan kalau waktu di sana memang berbeda..." Bima menyambung,

"...kita tidak boleh berasumsi mereka sudah berada di sana selama tiga puluh tahun."

Pak Rahman mengangguk.

"Itu yang harus kita ingat."

Dedi mengerutkan kening.

"Jadi tiga puluh tahun yang dialami Bima belum tentu berarti Bayu dan Rasyid juga sudah kehilangan tiga puluh tahun?"

"Tepat."

Pak Rahman menunjuk Bima.

"Pengalaman Bima hanya membuktikan bahwa waktu bisa berbeda."

Beliau kemudian menunjuk Arga.

"Dan pengalaman Arga membuktikan bahwa tidak semua orang mengalami perbedaan itu."

Ruangan kembali hening. Dua pengalaman. Dua orang. Tempat yang sama-sama berujung pada hutan bambu. Tetapi waktu yang berbeda.

Pak Rahman akhirnya berdiri.

"Sudah malam."

Tidak ada yang membantah.

"Besok kita bicarakan lagi dengan kepala yang lebih jernih."

Mereka mulai beranjak. Namun sebelum semuanya bubar, Arga berhenti di dekat pintu. Ia menoleh kepada Bima.

"Mas Bima."

Bima mengangkat kepala.

"Ya?"

"Ketika kamu berada di hutan bambu..." Arga ragu sejenak.

"Apa kamu merasa sedang keluar dari hutan?"

Bima berpikir.

"Iya."

"Seperti benar-benar menemukan jalan keluar?"

"Iya."

Arga menatap lantai.

"Saya juga."

Bima mengernyit.

"Lalu?"

Arga mengangkat wajah.

"Berarti mungkin bukan hutan bambunya yang menjadi tempat kita tersesat."

Bima diam. Arga melanjutkan pelan,

"Mungkin justru hutan bambu itu adalah jalan keluarnya."

Tidak ada yang menjawab. Pak Rahman menatap Arga cukup lama. Kalimat sederhana itu justru membuat semua orang kembali berpikir. Selama ini mereka menganggap hutan bambu sebagai bagian paling misterius dari perjalanan mereka.

Tempat yang membuat mereka kehilangan arah.

Tempat suara langkah menghilang.

Tempat mereka akhirnya menemukan jalan.

Namun bagaimana jika selama ini mereka salah?

Bagaimana jika hutan bambu bukan tempat mereka kehilangan jalan...

melainkan tempat mereka dikembalikan ke dunia mereka?

Dan jika benar begitu...

maka pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting.

Di mana hutan bambu itu berada?

Bisakah memberi tahu semua pemilik barang-barang yang telah ditemukan agar mereka segera mencari hutan bambu agar bisa keluar?

Namun, Bagaimana caranya?

1
Seorang Awan Jenggot
Arga mana ?🤭
halwa diyah
/Scowl/
Seorang Awan Jenggot
lanjutttttttttttttttt
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Suci Fatana
bab yg nguras air mataku
Suci Fatana
haaah ikut deg deg an akuuu
Seorang Awan Jenggot
lanjutkan thor😍
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap Thor 👍
halwa diyah: Terimakasiiiih 😍
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Makin seru makin menegangkan...😍
halwa diyah: Selanjutnya kuusahakan buat lebih seru lagi kak. terimakasih dukungan nya
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap
halwa diyah: Terimakasih kak
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
cerita yg bagus, cuma kok sedikit yg berpartisipasi, kurang promo kali, sangat disayangkan ceritanya menggantung ga ada kelanjutan...

banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.

masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍
Suci Fatana: ceritanya aku sangat suka
total 4 replies
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!